NovelToon NovelToon
Run Lady Run

Run Lady Run

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:503
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Ia melangkah satu langkah maju, membuat Sybilla instingtif mundur hingga punggungnya menempel pada dinding.

"Tapi," lanjut Cyprian, matanya menyipit sedikit saat menatap gaun tidur Sybilla yang masih berantakan, "bagaimana kau akan menjelaskan perilakumu ini? Berlarian di koridor istana dengan pakaian seperti ini, seolah-olah kau lupa tata krama yang telah diajarkan padamu selama sepuluh tahun terakhir?"

Nada suaranya tenang, namun setiap katanya menghujam seperti pisau, mengingatkan Sybilla (dan Christina) akan betapa besarnya kesalahan yang baru saja ia lakukan di mata dunia bangsawan yang kaku ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Skyrosia

Sybilla (Christina) menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan sisa-sisa keberaniannya sebelum menyambut uluran tangan besar Cyprian. Saat jemarinya yang dingin menyentuh sarung tangan kulit sang Duke, ia merasa seperti sedang menyerahkan nasibnya pada badai yang tenang.

Mereka melangkah keluar kamar, menyusuri koridor yang kini diterangi oleh lampu-lampu kristal yang mulai menyala, memantulkan cahaya pada dinding-dinding marmer yang dipenuhi lukisan leluhur Davenport yang menatap mereka dengan angkuh.

Ruang Teh Aethelgard

Pintu ganda setinggi empat meter dari kayu ek hitam terbuka, menyuguhkan pemandangan yang membuat Christina nyaris lupa cara bernapas.

Ruang teh ini berbentuk oktagon dengan langit-langit kubah yang dilukis menyerupai rasi bintang Skyrosia. Jendela-jendela besar dari lantai hingga atap menampilkan pemandangan lembah Aethelgard yang mulai ditutupi kabut perak, memberikan kesan seolah ruangan ini melayang di atas awan.

Sesuai reputasi wilayah ini sebagai penghasil kristal, sebuah lampu gantung raksasa dari kristal biru abadi menggantung di tengah ruangan. Cahayanya tidak kuning, melainkan putih kebiruan yang sejuk, membuat kulit pucat Sybilla tampak hampir transparan bagai porselen mahal.

Di tengah ruangan berdiri meja bundar dari marmer putih yang urat-uratnya dilapisi emas murni. Di atasnya, perangkat teh porselen setipis kulit telur dengan motif bunga gypsophila...Bunga yang anehnya merupakan favorit nenek Christina di London, telah tertata rapi.

Udara di sini tidak lagi dingin. Perapian besar di sudut ruangan membakar kayu cedar yang mengeluarkan aroma maskulin dan hangat, bercampur dengan wangi teh Earl Grey yang kuat dan manisnya makaron lavender.

Di kursi utama, duduk seorang wanita dengan punggung tegak lurus, mengenakan gaun beludru hijau zamrud yang sangat kontras dengan rambut hitamnya yang disanggul ketat tanpa sehelai pun yang lepas. Matanya yang tajam bak elang segera tertuju pada Sybilla.

"Akhirnya kau turun, Sybilla," suara wanita itu dingin dan berwibawa. "Duduklah. Jangan biarkan Duke menunggumu lebih lama lagi. Kau sudah cukup banyak membuang waktu dengan... 'drama' danau itu."

Itu adalah Marchioness Ganesha, bibi Sybilla sekaligus pengawas etiket istana yang paling ditakuti.

Cyprian menarikkan kursi untuk Sybilla dengan gerakan yang sangat sopan namun terasa penuh tekanan. Saat Sybilla duduk, ia menyadari bahwa di seberang meja, ada satu kursi kosong yang masih menunggu tamu lain.

"Maafkan keterlambatan kami, Marchioness," ucap Cyprian santai sambil duduk di samping Sybilla. Tangannya yang besar kini dengan tenang meraih teko teh, namun matanya tetap tertuju pada pintu masuk. "Kurasa tamu kita dari Skyrosia sudah hampir sampai."

Tepat saat itu, suara kepakan sayap yang berat terdengar dari balkon luar, diikuti oleh embusan angin kencang yang menggoyang tirai-tirai sutra. Seekor kuda bersayap putih bersih mendarat di sana, membawa seorang pria muda berseragam militer biru tua yang tampak tergesa-gesa.

Christina mencengkeram rok gaunnya di bawah meja. Memori Sybilla berbisik: Ini adalah utusan khusus yang membawa dekrit pernikahan resmi.

Utusan berseragam biru tua itu melangkah masuk dari balkon dengan deru angin yang masih tersisa di jubahnya. Ia membungkuk hormat, lalu dengan gerakan mekanis yang kaku, ia meletakkan sebuah tabung silinder berbahan emas murni di atas meja marmer.

Suara denting logam yang bertemu dengan marmer itu terdengar seperti lonceng kematian di telinga Christina.

Tutup tabung itu dibuka dan gulungan perkamen kulit domba yang tebal terhampar di atas meja.

Meskipun perapian menyala hangat, ujung-ujung jari Sybilla mendadak membeku. Rasa dingin itu bukan berasal dari luar, melainkan dari sumsum tulangnya, seolah-olah seluruh darah dalam tubuhnya berubah menjadi es saat melihat segel lilin berwarna merah darah dengan lambang burung hantu Skyrosia.

Mata ungu Sybilla mulai berdenyut perih. Setiap huruf yang tertulis di dekrit itu, kalimat-kalimat hukum tentang penyerahan diri, penyatuan wilayah, dan kewajiban memproduksi pewaris, tampak bersinar dengan pendar biru elektrik yang sama dengan kupu-kupu di London. Cahaya itu seolah ingin mencungkil keluar ingatan lama yang terpendam.

Christina merasa paru-parunya mengecil. Setiap napas yang ia tarik terasa berat, seolah udara di ruangan itu berubah menjadi cairan yang menekan dadanya. Ia teringat kembali pada dinginnya air danau tempat Sybilla asli mencoba mengakhiri hidupnya. Rasa putus asa itu merembes masuk, bercampur dengan kesadaran Christina.

Tangan Sybilla yang berada di atas meja mulai bergetar hebat. Cangkir porselen di depannya berdenting pelan karena getaran meja yang dipicu oleh lututnya yang saling beradu di bawah sana.

"Lady Sybilla," suara Marchioness Ganesha memecah keheningan, tajam seperti silet. "Ambil penanya. Tanda tanganmu adalah segel terakhir yang dibutuhkan agar pernikahan ini sah secara hukum di bawah mata Dewa Aethelgard."

Cyprian, yang sedari tadi diam, memperhatikan jemari Sybilla yang memutih karena mencengkeram rok gaunnya. Mata emasnya menyipit, menatap saksama pada mata ungu Sybilla yang kini tampak berkabut.

"Apakah kau akan pingsan lagi, Sybilla?" tanya Cyprian. Suaranya rendah, namun kali ini ada nada menyelidik yang berbeda. Ia mengulurkan tangan, bukan untuk menyentuh, melainkan untuk menggeser pena bulu perak itu lebih dekat ke arah Sybilla.

Christina menelan ludah. Ia tahu, jika ia menandatangani ini, ia benar-benar akan kehilangan identitasnya sebagai gadis London selamanya. Ia akan menjadi tawanan di istana langit Skyrosia, terikat pada pria bermata emas yang menakutkan ini.

Tiba-tiba, pendar biru di matanya semakin kuat. Sebuah kilasan memori yang sangat singkat muncul. Sybilla asli tidak menceburkan diri ke danau karena takut pada pernikahan, melainkan karena ia melihat sesuatu di dalam dekrit itu.

Apa yang akan Christina lakukan?

Menjatuhkan cangkir teh untuk mengulur waktu?

Ketakutan yang melumpuhkan itu memuncak. Christina tahu ia tidak bisa sekadar lari. Dengan gerakan yang sengaja dibuat kikuk, ujung sikunya menyenggol cangkir porselen tipis di depannya.

Prang!

Cairan teh Earl Grey yang hangat tumpah, membasahi taplak meja marmer dan merayap menuju perkamen emas itu. Christina tersentak mundur, berpura-pura terkejut dengan napas yang memburu. "Maaf... tangan saya... saya lemas sekali," bisiknya dengan suara serak.

Namun, rencananya hancur seketika.

Cyprian tidak terkejut. Pria itu justru menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di depan dada, dan sebuah seringai tipis hampir tak terlihat namun sangat tajam, muncul di sudut bibirnya. Mata emasnya berkilat, seolah ia baru saja menonton sebuah pertunjukan teater yang amatir.

"Usaha yang menarik, Lady Sybilla," suara baritonnya merayap pelan, hanya bisa didengar olehnya. "Tapi teh tidak akan menghapus takdirmu. Pelayan akan membersihkannya dalam sekejap, dan penamu masih kering."

Tatapan itu adalah peringatan mutlak: Jangan bermain api denganku.

Marchioness Ganesha mendengus kasar, memberi isyarat pada pelayan untuk mengelap meja dengan kecepatan kilat. Sebuah pena bulu perak baru disodorkan kembali ke depan Christina. Kali ini, tidak ada jalan keluar.

Dengan jari-jari yang gemetar hebat hingga sendinya memutih, Christina menggenggam pena itu. Ia bisa merasakan sisa-sisa memori Sybilla asli yang menjerit di dalam kepalanya, penolakan yang begitu dalam hingga dadanya terasa sesak. Namun, di bawah intimidasi mata emas Cyprian, ia menunduk.

Gores.

Tinta hitam itu mengalir di atas perkamen kulit domba. Nama Sybilla Davenport terukir di sana dengan tulisan tangan yang miring dan tidak stabil, namun sah secara hukum sihir dan politik.

Begitu titik terakhir selesai diletakkan, sesuatu yang aneh terjadi.

Segel lilin merah darah di dekrit itu tiba-tiba berpendar biru elektrik. Rasa panas menjalar dari ujung jari Christina, merambat ke pergelangan tangan, seolah-olah sebuah rantai tak kasat mata baru saja mengunci jiwanya pada dokumen itu.

"Sudah selesai," ucap Marchioness Ganesha dengan nada puas yang dingin. "Selamat, Duchess Skyrosia. Kau kini bukan lagi milik Aethelgard."

Christina-tidak, sekarang ia adalah Sybilla..merasakan dunianya berputar. Identitas gadis London yang menyukai bunga gypsophila dan mengendarai motor tua terasa semakin menjauh, tenggelam dalam lautan memori bangsawan yang kelam.

Cyprian berdiri, tubuhnya yang tinggi menjulang menciptakan bayangan panjang yang menelan tubuh kecil Sybilla. Ia mengulurkan tangan, kali ini bukan untuk menawarkan bantuan, melainkan untuk menyentuh dagu Sybilla, memaksa gadis itu menatap langsung ke mata emasnya yang kini tampak lebih gelap.

"Pilihan yang bijak, Istriku," bisik Cyprian. "Bersiaplah. Kita berangkat ke Skyrosia malam ini juga. Badai di atas sana tidak suka menunggu."

Sybilla terpaku. Malam ini? Di tengah kondisi mentalnya yang hancur, ia harus naik ke pulau melayang di angkasa bersama pria yang baru saja melihat sandiwaranya gagal total?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!