Leo Bagaskara, pria yang terobsesi dengan kekasihnya sendiri Sasha Wiratama. Harus menelan pil pahit sebuah kenyataan jika Sasha malah di jodohkan oleh keluarganya, gila nya lagi pria tersebut adalah kakak nya sendiri Levi Bagaskara.
Adreena, yang merupakan sahabat Sasha baru saja mengalami patah hati. Tunangan nya malah selalu memperhatikan teman masa kecilnya, bukan diri nya yang jelas-jelas calon istrinya.
Leo dan Adreena, sebelumnya memang saling mengenal namun keduanya terjebak oleh keadaan yang tidak pernah di sangka sebelum nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chariz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Lukman terlihat masuk ke sebuah perusahaan dengan membawa dokumen di tangannya. Ia merogoh ponsel di saku jas nya, kemudian melakukan panggilan.
" Dimana?" tanya Lukman.
"Aku di jalan, ayah. Kenapa?"
"Cepatlah datang ke perusahaan Wiratama, ayah tunggu di lobi"
"Baik, ayah"
Levi menutup panggilan nya, kemudian mempercepat laju mobilnya.
Saat tiba di perusahaan Wiratama, tampak ayah nya sudah menunggu di lobi perusahaan.
"Ayo kita langsung naik ke atas"
Lukman memimpin langkah menuju ruangan petinggi perusahaan.
"Ayah, sudah membuat janji" tanya Levi, ketika mereka berdua di dalam lift.
"Sudah"
Ting.
Lift terbuka, segera Lukman dan Levi menuju ruangan CEO setelah sebelumnya mengonfirmasikan kedatangan mereka pada sekertaris perusahaan.
"Silakan pak, tuan besar dan tuan muda sudah menunggu" seorang wanita muda, mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Terimakasih" ucap Lukman dan Levi bersamaan.
"Selamat pagi, tuan Agung dan tuan Edrick" Lukman membungkuk hormat dan tersenyum ramah.
Levi masih tetap berdiri, sesekali melirik ke arah wanita yang sedang duduk di atas sofa.
"Silakan duduk" Agung mengajak kedua tamunya untuk duduk di sofa.
"Terimakasih" Lukman duduk di ikuti oleh Levi.
"Perkenalkan ini cucu perempuan saya, Sasha Wiratama. Ayah nya meninggal saat masih kecil" suara nya perlahan pelan.
Agung menatap ke arah Levi "sejak saya bertemu dengan anak mu di pertemuan waktu lalu. Sejak saat itu, aku menginginkan nya untuk menjadi suami cucu ku. Tenang saja, aku akan menggelontorkan dana untuk perusahaan mu yang sedang mengalami kesulitan" ia mencoba meyakinkan.
"Baik, saya setuju" ucap Lukman sumringah.
"Ayah, Leo dan Sasha mereka sepasang kekasih" potong Levi.
Sasha mendongak, menatap pria di hadapannya. Dia kakak yang baik.
Ia yakin, dengan sifat kakak nya Leo yang seperti ini. Perjodohan ini masih bisa di batalkan.
"Oh ya?" Lukman baru tahu, putra keduanya itu cukup tertutup. Jika saja ia tahu, ia tidak akan buru-buru menyetujui.
"Tuan Agung, bagaimana kalau kita jodohkan nona Sasha dengan putra kedua saya" ucap Lukman, menundukkan wajahnya.
"Saya tidak suka di permainkan seperti ini. Dari awal yang saya inginkan untuk jadi suami cucu saya adalah Levi" geram Agung.
"Kakek, tenanglah" Edrick buru-buru menenangkan, ia khawatir kakek nya ini punya riwayat penyakit jantung.
"Sasha, apakah kamu tidak mau?" tanya Agung, menahan dada nya yang terasa nyeri.
Sasha buru-buru mengangguk "iya kek, Sasha hanya menyukai kak Leo"
"Bagus...bagus. Sekarang kamu pun bisa melawan kakek" Agung membungkuk terlihat kesakitan "Levi, selain pria yang mempunyai tanggungjawab dan integritas, dia juga pria dewasa yang bisa mengayomi. Bukan seperti Leo, dingin dan keras kepala. Kamu harus terus bersabar menghadapinya"
"Ahh" Agung berteriak.
Suara sirine ambulans menggaung di pagi hari, berhenti di sebuah perusahaan. Petugas segera mengeluarkan brankar, terlihat tubuh Agung di angkat oleh beberapa orang.
"Cepat angkat" ucap Lukman panik.
"Kakek, maafkan Sasha huhuhu" ucap Sasha, menangis sejak tadi.
Leo yang baru saja mewakili rapat di luar, baru saja tiba. Terkejut dengan situasi yang tampak kacau di area depan kantor.
Ia langsung menghampiri sang kekasih yang tengah menangis.
"Honey, ada apa?" Leo memeluk Sasha.
"Kak, kakek...." ia tidak bisa meneruskan kata-katanya.
"Tenanglah, tuan besar akan baik-baik saja" ia mengelus puncak kepala nya.
Levi yang melihat itu, sontak menundukkan kepala nya. Sikap nya sudah benar, ia tidak ingin berebut wanita dengan adiknya sendiri.