Melalui surat-surat yang melintasi waktu 94 tahun, cinta tumbuh di antara dua orang yang tidak mungkin bersatu. Alina jatuh cinta pada keberanian Arya, dan Arya jatuh cinta pada harapan yang dibawa Alina.
Namun, sejarah mencatat bahwa Arya dijadwalkan untuk dieksekusi mati dalam waktu tiga bulan. Alina bertekad mengubah takdir itu. Dengan pengetahuan sejarahnya, ia mencoba menuntun Arya menghindari maut. Tetapi, setiap huruf yang ia ketik untuk mengubah masa lalu, mulai mengacaukan realitas masa kini.
Di tengah ancaman marsose Belanda di tahun 1930 dan memudarnya ingatan sejarah di tahun 2024, Alina dan Arya harus memilih: Menyelamatkan nyawa satu sama lain, atau menyelamatkan kemerdekaan bangsa yang mereka cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Sumpah Sang Pemuda
28 Oktober 2024. Pukul 03.00 WIB.
Rumah Tua Kakek, Dago Pakar, Bandung.
Rumah bergaya kolonial itu tersembunyi di antara pohon pinus yang rimbun. Kakek Alina sudah meninggal dua tahun lalu, jadi rumah ini kosong, berdebu, dan dingin. Tapi bagi Alina, ini benteng teraman.
Alina tidak tidur. Dia langsung membersihkan meja di ruang kerja kakeknya, meletakkan mesin tik Remington itu, dan menunggu.
Dia sudah mengecek arsip digital lewat ponselnya saat di jalan tadi. Sejarah mencatat: "Insiden kecil terjadi di belakang Gedung KJB, namun pasokan listrik aman."
Itu berarti Arya berhasil. Tapi tidak ada detail tentang nasib "penjaga" gardu itu.
Alina memasukkan kertas.
> Arya?
> Aku sudah sampai di tempat aman. Aku lolos dari mereka.
> Tolong jawab aku. Katakan kau baik-baik saja.
>
Hening yang menyiksa.
Alina mondar-mandir di ruangan itu. Dia menyeduh teh, tapi tidak diminum. Dia melihat foto kakeknya di dinding, berharap mendapat kekuatan.
Satu jam kemudian.
TAK.
Bunyi itu terdengar seperti musik surga.
TAK. TAK. TAK.
Ketikannya sangat lambat. Lemah. Tidak bertenaga seperti biasanya.
> A l i n a .
> S y u k u r l a h k a u s e l a m a t .
> L a m p u n y a n y a l a .
> S u g o n d o s e d a n g p i d a t o s e k a r a n g .
>
Alina mendekatkan wajahnya ke kertas. Dia melihat ada bercak noda kecokelatan di kertas itu, di dekat tulisan Arya.
Darah.
Darah yang sudah mengering. Darah dari tahun 1930 yang menembus waktu bersama tinta.
> Arya! Ada darah di kertasmu! Kau terluka?
>
> Hanya goresan kecil. Sabetan golok di lengan kiri.
> Jangan khawatir. Kawan-kawan Pandu sudah membebatnya dengan kain perca.
> Tapi rasanya agak panas. Dan kepalaku pusing.
>
Alina panik. "Goresan kecil" di tahun 1930 bisa berarti vonis mati. Belum ada antibiotik. Penisilin baru ditemukan Alexander Fleming tahun 1928 di Inggris, dan belum diproduksi massal apalagi sampai ke Hindia Belanda untuk pribumi miskin.
Infeksi. Tetanus. Gangren. Itu pembunuh nomor satu zaman itu.
> Arya, dengarkan aku. Luka itu harus dibersihkan dengan benar!
> Kain perca itu kotor! Lepas sekarang!
> Cari alkohol. Atau arak. Siram ke lukanya. Sakitnya bakal luar biasa, tapi itu membunuh kuman.
> Lalu cari madu. Oleskan madu murni ke lukanya sebelum dibalut kain bersih yang sudah direbus air panas.
>
Di sebuah kamar kos kumuh di Kwitang, Arya membaca instruksi itu dengan pandangan berkunang-kunang. Lengan kirinya berdenyut hebat, rasanya seperti dibakar api. Badannya menggigil demam.
Dia sendirian. Sarsinah tidak tahu dia di sini.
Arya tersenyum lemah. Nona Masa Depan-nya ini cerewet sekali. Seperti ibu-ibu.
> Siap, Dokter Alina.
> Saya punya sisa arak dari Glodok kemarin. Akan saya coba.
> Tapi tangan saya gemetar. Susah mengetik.
>
> Berhenti mengetik kalau begitu! Obati lukamu dulu!
> Aku tidak akan kemana-mana. Aku akan menunggumu di sini sampai kau sembuh.
>
Arya memaksakan mengetik satu kalimat lagi dengan jari kanannya yang masih sehat.
> Alina... besok tanggal 28 Oktober.
> Sumpah Pemuda akan dibacakan.
> Saya mungkin tidak bisa datang ke rapat hari kedua karena demam ini.
> Tapi tidak apa-apa. Saya sudah melakukan bagian saya. Lampunya menyala.
>
> Kau harus sembuh, Arya. Sejarah butuh saksi.
>
> Sejarah sudah punya saksi. Kau.
> Kau saksi saya, Alina.
> Selamat tidur. Doakan saya tidak mati konyol karena demam.
>
Mesin tik berhenti.
Alina tidak bisa tidur. Dia duduk memeluk lutut di kursi kakeknya, menatap mesin tik itu sepanjang malam.
Di luar jendela Bandung, fajar 28 Oktober 2024 mulai menyingsing. Hari Sumpah Pemuda.
Di Jakarta 2024, bendera akan dikibarkan, upacara akan digelar, pejabat akan pidato. Tapi bagi Alina, Sumpah Pemuda tahun ini bukan tentang seremonial.
Itu tentang seorang pemuda di tahun 1930 yang sedang tergolek demam di kamar kos sempit, dengan lengan bernanah, yang baru saja mempertaruhkan nyawanya agar sebuah gedung punya listrik untuk menyuarakan "Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa".
Alina mengambil ponselnya, memutar lagu Indonesia Raya instrumen biola WR Supratman (versi asli 1928).
Dia menangis sendirian di subuh itu, mendoakan kesembuhan kekasih beda waktunya.
...****************...
...Bersambung... ...
...Terima kasih telah membaca📖 ...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
menjalani hidup semestinya, dari berbagai peristiwa yang mendebarkan, heroik ,penuh welas asih kepada musuh bebuyutannya.
Legowo melepas rasa yang tak mungkin untuk bisa bersatu.
semoga takdir bisa mempertemukan ikatan kasih inu meski di keabadian kelak.
terimakasih thor, telah berkenan memberi suguhan novel yang begitu apik, memompa semangat, menderaikan airmata, senyum kelegaan dan keikhlasan , apa lagi yang mau di pinta : melihat yang tersayang hidup bahagia itu sdh cukup.
maturnuwun sanget thor
mengajarkan arti cinta tanpa keegoisan🙏
Datang2 bawa dendam, mari kita pulang dalam kekalahan
semoga keadaan menjadi lebih baik ,setelah van heutz tiada.
semoga ambisi cucu nya juga terkubur bersama kabar sang kakek yang telah tiada.
selanjutnya menata babak baru dalam kehidupan yang semoga saja lebih damai, aman dan tentram.
aamiin
satu untuk mengalahkan dan satu nya harus di kalahkan.
Memelihara rasa benci dan kesumat itu berat tuan heutz, semoga jiwamu nanti tenang disana.
ntah siapa yang akan menghembuskan nafas terakhirnya duluan,semoga dendam juga ikut terkubur bersama jasad masuk liang lahat.
"Legowo"
suasana kacau ,mencekam ,genting begitu nyata terbaca.
sukses selalu dengan karya mu thor.
kali ini adegan demi adegan yang detail memacu adrenalin pembaca, ikut larut dalam suasana yang lebih mendebarkan,betapa mereka ketakutan tapi semangat juang tetap membara dengan satu tujuan.
semoga bung miko ketika sampai Yogyakarta ,bisa selamat dari musuh bebuyutannya.
kegembiraan membuncah dalam dada...
haru biru serasa dalam hangat dekap mu.
airmata bahagia memuncak berderai seperti air terjun.
tangis bahagia ,dibingkai pertemuan.
andai suatu masa bisa bertemu sungguhan