Viola Denada Danuarta, itulah namanya, seorang gadis berparas cantik memiliki darah keturunan Belanda. Ia adalah anak kedua dari keluarga Danuarta yang cukup berpengaruh.
Namun, memiliki ekonomi yang serba berkecukupan tak bisa membuat seorang Viola bahagia. Karena ujian nya ada di kisah asmara nya.
Di kali kelima dia menunggu sang kekasih, tepatnya didepan kantor catatan sipil untuk mendaftarkan pernikahan, dia kembali di bohongi dan di hianati oleh sang tuanangngan.
Setelah dia memutuskan untuk melupakan segalanya tentang laki-laki itu dia malah mengalami kecelakaan hebat, pada akhirnya kecelakaan tersebut merenggut ingatan Viola selama tiga tahun terakhir, tak hanya itu dia juga di nyatakan lumpuh sementara.
****
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab#15
"a-aku, aku," Viola pun kebingungan harus berkata apa di hadapan Zehan.
"Dengan kaki yang lumpuh seperti ini kau masih nakal, berjalan keluar tanpa ijin Pandu dan papa mu," lirih Zehan.
Viola terdiam, dia menatap Zehan sekilas dan menatap kaki nya.
"Jika kau datang hanya untuk menghina ku, sebaiknya pergi saja, tolong jangan ganggu aku, aku datang ke sini hanya untuk menikmati Coffe yang di buat paman," kata Viola sambil menundukkan kepalanya.
Zehan terdiam, dia tidak menyangka kalau gadis polos itu akan mengira ucapan nya adalah hinaan.
"Aku tidak menghina, tapi itulah kenyataannya," sambung Zehan.
"Kau bukan siapa-siapa, jadi tolong jangan pedulikan aku," Viola yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya kini menatap Zehan dengan tatapan tajam.
"Gadis ini juga bisa marah ya?" batin Zehan sambil memperhatikan raut wajah Viola yang terlihat kesal.
"Aku memang bukan siapa-siapa, tapi kau adalah adik dari sahabat ku, jadi apakah menurut mu aku akan membiarkan mu berkeliaran seperti ini sendirian?" ucap Zehan membalas perkataan Viola.
"Aku tidak peduli, sebaiknya pergi dari sini kak Zehan, jika tidak, tolong pilihlah tempat duduk lain," kata Viola memaksa Zehan jauh dari nya.
"Paman! Segelas Capuccino!" ucap Zehan kepada pemilik caffe tersebut tanpa mengatakan sepatah kata pun lagi kepada Viola.
"Menyebalkan, kenapa kali ini dia benar-benar terlihat sangat menyebalkan," batin Viola geram.
"Ini Capuccino mu," ucap sang paman pemilik caffe tersebut kepada Zehan.
"Terima kasih," jawab Zehan singkat.
"Tuan muda Zehan, terima kasih sudah datang berkunjung ke tempat ku, sudah lama sekali kau tidak mampir ke sini, di mana Miko dan Pandu?" tanya sang paman dengan senyum terramah milik nya.
"Mereka sibuk di perusahaan masing-masing, jadi hanya aku yang datang," jawab Zehan.
"Baiklah, aku tidak akan menganggu kalian, silahkan," ucap laki-laki paruh baya itu dan kemudian berlalu pergi.
"Paman juga mengenalkan nya? Bahkan kak Miko dan kak Pandu?" batin Viola merasa bingung dengan situasi tersebut.
"Kau pikir hanya kau saja yang datang ke sini saat SMA? Itu bahkan lebih dahulu kami lakukan," lirih Zehan dengan suatu kecil.
Entah kenapa perasaan gugup Viola kini berubah jadi perasaan kesal, dia merasa Zehan cukup menyebalkan, tak hanya itu omongan nya juga pedas dan menusuk hati.
"Aku kira dia laki-laki yang berbeda, ternyata sama saja," batin Viola.
Sikap Zehan membuat Viola merasa bingung, pada awal pertemuan mereka dia melihat Zehan adalah orang yang cuek dan irit bicara, namun sekarang adalah pertemuan ketiga mereka, Viola mulai melihat sisi lain dari Zehan.
Namun yang tidak di ketahui Viola adalah, Zehan hanya menunjukan sikap seperti ini kepada nya.
"Gadis manja ini menatap ku seolah-olah aku adalah maling," batin Zehan yang menyadari hal tersebut.
"Rumor tentang dia yang suka sesama jenis tidak mungkin salah kan?" batin Viola lagi.
Waktu berlalu begitu cepat, tiga puluh menit sudah mereka duduk berhadapan namun tidak ada sepatah kata pun yang keluar lagi dari bibir masing-masing.
Sampai di mana Zehan berdiri dari duduknya dan kemudian menuju kasir cafe tersebut.
Setelah itu dia kembali lagi ke tempat Viola yang sedari tadi hanya menatap Coffe dan makanan ringan yang sudah tidak selera dia nikmati.
"Ayo pulang," ucap nya kepada Viola.
"Aku punya sopir yang menunggu ku," kata Viola tampa menatap Zehan.
Akan tetapi, belum sempat Zehan angkat bicara, pintu cafe tersebut kembali terbuka, terlihat sosok yang di takuti Viola masuk dan berjalan menghampiri mereka.
Wajah Viola seketika memucat karena sang kakak datang kepada nya, Viola menatap Zehan dengan tatapan kecewa karena dia berfikir Zehan lah yang mengadu kepada Pandu kalau dia sedang jalan-jalan sendirian.
"Kakak," ucap Viola sambil menudukan kepala nya.
"Viola kau, kau benar-benar tidak bisa di atur," ucap Pandu dengan wajah marah.
"Maafkan aku," tidak ada kata lain yang bisa di ucapkan Viola, dia tau betul bagaimana Pandu, Pandu tidak akan pernah menerima alasan apapun dari Viola saat sedang marah.
"Zehan terima kasih sudah membantu ku menjaga nya, aku akan membawa nya pulang," ucap Pandu sambil memegang kursi roda Viola.
"Ya," jawab Zehan sambil menatap wajah Viola yang saat itu sedang menunduk.
Zehan bisa melihat bulir bening itu jatuh dari kelopak mata Viola, dengan tangan mungil yang memegang lutut kecil itu.
Entah kenapa ada perasaan bersalah di hati Zehan, meskipun dia tidak melakukan kesalahan tapi hati kecil nya merasa bersalah.
"Tagihan sudah ku bayar, kau bisa membawa nya pulang," ucap Zehan singkat.
Pandu mengangguk dan kemudian membawa pergi Viola.
Beberapa menit kemudian ...
Isak tangis kecil terdengar di dalam mobil milik Pandu, Viola yang mendapatkan amarah dari sang kakak tak bisa menahan tangisannya.
Pandu yang melihat itu pun memutuskan untuk berhenti di pinggir jalan, agar bisa menenangkan Viola.
"Ayolah jangan menagis seperti anak kecil," ucap Pandu.
"Memang nya kenapa kalau aku lumpuh? Memang nya kenapa kalau aku tidak bisa berjalan? Haruskah kalian mengurung ku di mansion dan selamanya menjadi orang yang kesepian? Kau bekerja dan papa juga! Aku sendirian di mansion! Salahkah jika aku merasa bosan dan pergi keluar bermain?" Ucap Viola yang tak bisa menahan diri lagi.
Pandu yang mendengar itu seketika terdiam, dia menatap kaki Viola yang masih di perban sampai hari ini, hati kakak mana yang tidak hancur melihat keadaan sang adik yang dulunya adalah sosok sempurna tapi sekarang malah jadi cacat seperti ini.
"Viola, kami sudah kehilangan mu satu kali, kami tidak ingin lagi kehilangan mu untuk yang kedua kalinya, karena kau lumpuh, karena itu aku memperketat penjagaan ku untuk mu, aku tidak ingin kau pergi sendirian dan di ganggu oleh orang, bisakah kau memahami apa yang kami lakukan untuk mu!?" ucap Pandu fursatsi.
"Tapi aku manusia kak! Bukan hewan! Aku juga bisa merasakan kesepian, aku juga tidak mau jadi lumpuh! Aku juga tidak mau sepanjang hari duduk di kursi roda! Aku tidak mau!" kata Viola memukul-mukul kaki nya sambil terus menangis.
"Ya tuhan," ucap Pandu tak tahan dan kemudian menarik sang adik ke dalam dekapan nya.
"Tenang lah, ku mohon tenang, katakan kepada ku apa yang kau inginkan sekarang? Maafkan kami yang tidak bisa meluangkan banyak waktu untuk mu," lirih Pandu membujuk dengan lembut.
Viola mengelengkan kepala nya dia hanya menangis di dalam pelukan sang kakak.
"Tidak masalah jika kau ingin menangis, ayo keluarkan saja semua rasa sakit mu," ucap Pandu lagi.
Itulah yang di lakukan Viola selama beberapa menit kedepan. Setelah dia sedikit lebih tenang, Pandu pun membiarkan dia mengatakan apapun yang dia inginkan.
"Masih ada waktu satu jam sebelum kita ke bandara untuk menjemput papa, kau bisa pergi kemana pun yang kau mau, aku akan menemanimu," ucap Pandu.
"Aku ingin makan eskrim," ucap Viola yang kini sudah jauh lebih lega, dia bahkan sudah bisa tersenyum.
"Tapi ... Huh, baiklah, tapi tidak diijinkan untuk makan berlebihan," ucap Pandu sambil mengusap rambut sang adik.
Viola pun mengangguk dengan penuh semangat.
Pandu menyalahkan mesin mobil nya dan kemudian melaju dengan perlahan mencari toko eskrim.
Satu jam kemudian ...
Pandu dan Viola kini dalam perjalanan untuk menjemput papa nya ke bandara.
"Kak, sebenarnya rahasia apa yang kau sembunyikan dari ku?" ucap Viola sambil menatap Pandu yang saat itu sedang mengemudi mobil nya.
"Rahasia? Tidak ada rahasia," jawab Pandu sambil menoleh ke arah Viola sebentar dan kemudian kembali fokus dengan perjalanan mereka.
"Jujur saja, sejak ucapan mu malam itu aku, aku tidak bisa tidur dengan nyenyak," ungkap Viola lagi.
Pandu terdiam, dia kini mengerti apa yang di maksud oleh adik nya. Itu adalah perkataan Pandu seminggu lalu.
"Apakah kalian akan mengasingkan ku ke luar negeri untuk pengobatan dan pendidikan?" kata Viola memberanikan diri untuk bertanya.
Pandu seketika kembali menoleh, dia tidak menyangka adik nya akan berfikir demikian.
"Sudahlah, papa sudah akan kembali, kau hanya perlu mempersiapkan dirimu untuk beberapa hal, oh ya, tidak satupun dari perkataan kau tadi benar, lupakan dan jangan memikirkan nya lagi sampai papa kembali," ungkap Pandu.
Sementara itu, Viola yang menerima jawaban Pandu jadi semakin penasaran, tidak ada satupun yang benar dari tebakan nya, lalu apa itu?
Beberapa jam kemudian ...
Pandu kini tiba di bandara, sementara itu Viola tertidur pulas di dalam mobil, jadi dia hanya pergi sendirian untuk menghampiri sang papa.
"Di mana Viola? Bukan kah kau bilang dia juga ikut?" tanya papa Arman kepada Pandu.
"Ada di mobil, dia sedang tidur, ayo pa, kita segera kembali, aku khawatir meninggalkan nya terlalu lama di dalam mobil," ucap Pandu yang kemudian segera membawa koper papa nya ke mobil.
Mereka pun segera pergi menuju mobil pandu yang terparkir di tempat parkir, namun di sana Viola sudah membuka matanya, dia melihat papa dan kakak nya telah tiba dan segera masuk ke dalam mobil tersebut.
"Kenapa kau meninggalkanku sendiri di sini?" ucap Viola saat melihat Pandu.
"Maaf, aku tidak membangun kan mu," jawab Pandu sambil bersiap-siap mengemudi.
"Papa," ucap Viola dengan senyum terlebar nya.
"Putriku, kau sudah tidur begitu lama ya sampai ngiler seperti itu?" goda sang papa untuk membuat suasana hati Viola selalu baik.
"Mana mungkin," kata nya sambil mengelap sudut bibir.
"Masih menyangkal, oh ya aku lupa, dia yang sekarang kaan masih berusia sembilan belas tahun," kata pandu.
"Bisakah kalian untuk tidak merundung ku?" ucap Viola lagi.
"Aish, Pandu sudah lah, jangan menganggu nya, oh ya, ini adalah oleh-oleh untuk mu," kata sang papa memberikan dua paper bag kepada Viola.
"Wahhh, ini untuk ku? Semuanya?" kata Viola.
"Iya, ayo buka," kata papa Arman tak sabar ingin melihat reaksi Viola setelah mengetahui isi hadiah nya.
Sementara itu pandu mulai menyetir pulang ke mansion.
****
duuuh nona muda,mulut nya lho
😆😆😆😆
semua perhatian mu selalu di terima lain ma Viola...
Sabar ya Zehan...tunjukan terus niat tulus mu ma Viola,lama lama ntar vio luluh juga
sama pikiran kita Zehan 😆😆😆
Dulu dengan Liam kok cupu bener sampai bolak balik di kibulin