"Di Perusahaan ini, saya adalah hukum. Hukum tidak mengenal kata MAAF" Adrian Bramantyo.
Adrian adalah CEO dingin yang hidup seperti robot. Kesalahan sekecil apapun adalah tiket menuju pemecatan dan berakhir menjadi pengangguran di black list semua perusahaan. Namun saat sistem logistik bernilai miliaran rupiah lumpuh, seorang admin gudang yang berantakan justru muncul sebagai penyelamat dengan buku catatan kumal yang dimilikinya.
Gisel Amara, gadis pemberani yang hobi mendumel, mendadak ditarik paksa menuju lantai 40 menjadi sekertaris pribadi Adrian yang merupakan "Beruang Kutub".
Akankah Gisel bertahan di ruangan bersuhu minus tanpa beku?
Atau Gisel yang akan mencairkan hati sang CEO yang sudah lama membeku di titik Minus?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mug Kucing Galak
Suasana di dalam mobil menuju kembali ke kantor terasa lebih dingin dari AC eksekutifnya. Adrian bungkam seribu bahasa, sementara Gisel sibuk mengelap noda oli di tangannya dengan tisu basah yang ia temukan di dasbor.
Begitu mobil berhenti di depan lobi, Gisel langsung melompat keluar.
"Duh, Pak Bos! Saya mau ke ruangan lama dulu. Mau ambil muk kucing galak kesayangan saya sama stok mi instan di laci. Barang-barang berharga itu nggak boleh ketinggalan di sana!"
Adrian tidak menjawab, tapi ia keluar dari mobil dan membuntuti Gisel dengan langkah lebar. Gisel yang merasa diikuti pun menoleh dengan heran.
"Pak, bentar saya mau balik ke ruang admin Gudang, ada benda jimat saya ketinggalan" ucap Gisel sekali lagi.
Tanpa melepas tangan Adrian yang menggandeng tangannya, Gisel justru membawa Adrian masuk kembali ke dalam gudang, menuju sebuah sudut yang tersembunyi di balik tumpukan peti kayu raksasa.
Ruang Admin Gudang B. Gisel membuka sebuah pintu kayu yang catnya sudah mengelupas. Di dalamnya terdapat ruangan sempit berukuran 3x3 meter yang pengap, namun tertata sangat rapi dengan caranya sendiri.
"Nah, selamat datang di markas besar Singa Gudang, Pak. Jangan kaget ya, di sini nggak ada kursi pijat atau pengharum ruangan otomatis kayak di lantai 40."
Adrian melangkah masuk dengan hati-hati. Kepalanya hampir menyentuh plafon ruangan yang rendah. Matanya menyisir setiap sudut.
Meja Kayu Tua; Penuh dengan tumpukan manifes yang dijepit rapi.
Dinding Penuh Tempelan; Ada jadwal piket, nomor darurat sopir, hingga foto tim gudang yang sedang tertawa makan tumpeng (ada foto Gisel sedang memegang paha ayam dengan belepotan).
Kipas Angin Berkarat; Yang berbunyi ngit-ngut-ngit-ngut setiap kali berputar.
Adrian menyentuh pinggiran meja yang berdebu. "Kamu bekerja di sini selama tiga tahun? Tanpa pendingin ruangan yang layak?"
"AC saya itu alami, Pak. Kalau panas ya buka jendela, kalau hujan ya dengerin musik 'atap seng'. Tapi di meja ini, saya tahu setiap baut yang masuk ke perusahaan Bapak. Di kursi reyot ini, saya jagain aset Bapak biar nggak dimaling atau salah kirim."
Gisel kemudian menunjuk ke sebuah sudut meja yang terdapat sebuah bantal kecil kumal dan sebuah mug bergambar kartun galak.
"Itu tempat saya 'ritual' setiap pagi. Minum teh tubruk sambil nyiapin mental buat marahin sopir yang ngeyel. Bapak tau nggak? Di ruangan sempit ini, saya ngerasa lebih jadi 'Bos' daripada Bapak di lantai 40."
Adrian berhenti di depan dinding yang penuh foto. "Kenapa?"
"Karena di sini nggak ada kepalsuan, Pak. Kalau saya marah, saya teriak. Kalau mereka seneng, mereka ketawa. Nggak ada yang perlu pasang muka datar cuma buat kelihatan berwibawa kayak Bapak."
Adrian terdiam lama. Ia menatap foto Gisel yang sedang tertawa lebar bersama Bang Jago dan Ujang. Di foto itu, Gisel terlihat sangat... hidup. Sesuatu yang jarang ia temukan di lingkungan eksekutifnya.
Adrian: "Jadi, meja ini yang membuat kamu begitu keberatan pindah ke atas?"
Gisel: "Iya. Meja ini saksi bisu gimana saya berjuang dari nol di perusahaan ini. Tapi ya sudahlah... sekarang saya kan sudah jadi 'tawanan' Bapak."
Adrian berbalik, menatap Gisel dengan intensitas yang berbeda "Saya tidak akan menghancurkan ruangan ini, Gisel. Biarkan ini tetap seperti ini. Anggap saja ini... 'kantor cabang' pribadi kamu. Tapi sekarang, ambil barang-barang yang kamu butuhkan. Kita kembali ke kantor pusat."
Mendumel sambil memasukkan mug galaknya ke dalam tas "Iya, iya... bawel amat sih Si Kulkas ini. Sabar napa!"
Saat Gisel sibuk membereskan mejanya, Adrian berdiri di ambang pintu, melihat ke arah gudang yang luas. Ia baru menyadari bahwa selama ini ia hanya melihat angka, sementara Gisel melihat manusia.
Gisel masuk ke ruangannya yang sempit dan berdebu. Ia mulai memasukkan barang-barangnya ke dalam kardus kecil: muk kucing galak, bantal leher motif macan, dan beberapa bungkus kopi saset.
Bicara sendiri sambil membelakangi pintu "Lagi pula di atas sana mana ada yang asyik diajak ngobrol. Isinya robot semua. Untung di bawah masih ada Agus yang bisa diajak bercanda..."
Muncul di ambang pintu, suaranya rendah dan mengintimidasi
"Jadi, fungsi Agus sekarang berubah menjadi penghibur pribadimu, Gisel?"
Gisel tersentak, hampir menjatuhkan muk kucingnya. Ia berbalik dan mendapati Adrian sedang bersandar di pintu kayu yang lapuk itu, melipat tangan di dada dengan tatapan tajam.
"Ih! Bapak ngagetin aja! Ngapain sih ngikutin saya sampai ke sini? Bapak takut saya kabur lagi ya?"
"Saya hanya ingin memastikan kamu tidak membawa aset perusahaan secara ilegal."
Mengangkat muk kucingnya ke depan wajah Adrian.
"Aset perusahaan mata Bapak peyang! Ini beli pake uang sendiri di pasar malam! Lagian, Bapak kenapa sih? Mukanya ditekuk terus kayak kertas gorengan. Masih marah gara-gara aku bolos?"
Adrian melangkah maju, masuk ke ruang sempit itu hingga Gisel terpojok di depan mejanya "Saya marah karena sekretaris saya tidak punya batasan profesional. Memeluk staf operasional di depan umum... itu memalukan."
Gisel mulai paham, senyum miringnya muncul. "Oalah... jadi ini masalah pelukan tadi? Ya ampun, Ian! Itu namanya team bonding! Aku sama Agus itu udah kayak kakak-adik. Kenapa? Bapak pengen dipeluk juga tapi gengsi?"
Adrian wajahnya memanas, tapi suaranya tetap berusaha datar "Jangan terlalu percaya diri. Saya hanya... tidak suka melihat kuman dari baju kerja staf gudang berpindah ke sekretaris saya. Itu tidak efisien untuk kesehatanmu."
"Alasan! Bilang aja cemburu. Ngaku nggak?! Kalau nggak ngaku, ini muk kucing aku bawa pulang, aku nggak mau balik ke lantai 40!"
Adrian terdiam sebentar, menatap mata Gisel yang menantangnya. Ia lalu merebut kardus berisi barang-barang Gisel dengan satu tangan, sementara tangan satunya memegang pintu agar Gisel tidak bisa lewat.
"Saya tidak cemburu. Saya hanya sedang menandai wilayah saya. Sekarang, bawa barang-barangmu ke mobil. Dan ingat satu hal, Gisel---"
"Apa?!"
"Mulai besok, jika kau masih datang ke sini tanpa seizin saya maka saya akan meruntuhkan gudang B ini, meskipun saya harus kehilangan triliunan rupiah saya. Termasuk untuk urusan 'bercanda' dengan lawan jenis sekalipun."
Adrian meninggalkan Gisel yang terpaku.
"Dasar Robot Kulkas 1000 pintu, gitu aja marah"
**
Di dalam mobil sedan mewah yang melaju tenang menuju pusat kota, suasana mendadak hening. Adrian melirik Gisel dari sudut matanya. Wajah gadis itu masih coreng-moreng; ada bekas debu semen di pipi kirinya dan noda oli tipis di dahi.
Adrian menghela napas, lalu merogoh saku jasnya.
Ia mengeluarkan sehelai sapu tangan sutra berwana abu-abu gelap yang disulam rapi di sudutnya. Aromanya sangat maskulin campuran sandalwood dan kemewahan.
Adrian menyodorkan sapu tangan itu dengan gerakan kaku "Ambil ini. Bersihkan wajahmu. Saya tidak mau klien di kantor mengira saya baru saja merekrut montir bengkel sebagai sekretaris utama."
Gisel menerimanya dengan mata berbinar "Wih, halus banget kainnya! Ini sutra ya, Pak? Duh, baunya juga enak banget, kayak bau... bau orang kaya yang nggak pernah punya cicilan."
Gisel memandangi sapu tangan itu sebentar, lalu ia menunduk. Bukannya mengusap pipinya, Gisel justru membungkuk dan dengan penuh semangat menggosokkan sapu tangan mahal itu keujung sepatu kets yang penuh lumpur kering dan noda solar dari gudang.
Sret! Sret! Sret!
"Nah, gitu dong! Sepatu tempur saya harus tetep glowing. Sayang banget kalau masuk kantor pusat tapi alas kakinya kotor begini. Wah, Pak! Sapu tangan Bapak sakti ya, langsung kinclong!"
Adrian membeku. Tangannya yang tadi masih setengah menggantung di udara perlahan mengepal. Ia menatap sapu tangan limited edition miliknya kini berubah warna menjadi cokelat kehitaman karena kotoran dari aspal gudang.
Suaranya rendah, menahan getaran amarah "Gisel... Kamu tahu apa yang baru saja kamu lakukan?"
Gisel mendongak polos, masih memegang sapu tangan yang sekarang sudah kumal
"Hah? Bersihin sepatu, Pak. Kenapa? Bapak mau juga? Sini, sepatu Bapak juga agak berdebu tuh kena tanah tadi. Biar saya sekalian semir pake ini."
Adrian menutup matanya rapat-rapat, memijat pangkal hidungnya "Itu sapu tangan dari Milan. Saya membelinya untuk wajahmu, bukan untuk sol sepatumu yang sudah tidak tertolong itu."
"Lho? Kan yang penting fungsinya buat bersihin kotoran, Pak! Wajah saya mah bisa dicuci pake sabun colek nanti di toilet. Tapi sepatu ini? Ini harga diri orang lapangan, Pak!"
Adrian terdiam, ingin marah tapi merasa sia-sia
"Saya rasa... memberikanmu barang mewah adalah sebuah kesalahan strategi. Kamu benar-benar tidak punya rasa hormat pada barang bermerek, ya?"
"Barang bermerek itu cuma benda, Pak. Yang penting kan kegunaannya. Lagian, Bapak cemburu sama sepatu saya ya? Kok mukanya makin serem?"
Adrian tidak menjawab. Ia hanya membuang muka ke arah jendela, mencoba mengatur napasnya agar tidak meledak saat itu juga. Di dalam hatinya, ia merasa kalah telak. Ia ingin bersikap romantis (meski gengsi), tapi Gisel justru menghancurkannya dengan kepraktisan ala gudang.
Suasana hening, hanya terdengar suara deru mesin yang sangat halus. Adrian sibuk dengan tabletnya, sementara Gisel memeluk tas kanvasnya yang berisi "harta karun" dari gudang: mug galak, bantal kecil kumal, dan sebuah stapler besar yang sudah agak karatan.
**
Pintu lift terbuka. Gisel melangkah keluar dengan jaket lapangan yang kini sedikit lecek dan sepatu yang terkena noda lumpur tipis. Ia langsung menuju meja sekretarisnya yang putih bersih dan minimalis, lalu mengeluarkan isinya satu per satu.
BRAKK!
Gisel menaruh Mug Galak bergambar kucing cemberut itu tepat di tengah meja marmer yang mengkilap.
Hadi muncul dari balik pilar, matanya langsung tertuju pada mug tersebut.
"Gisel... apa itu? Saya sudah menyiapkan set cangkir porselen Inggris di laci bawah untuk tamu dan keperluan Bapak."
Sambil menepuk-nepuk bantal kecil kumalnya agar empuk di kursi kerja baru.
"Ini namanya 'Mug Keberuntungan', Pak Hadi. Kalau saya nggak minum pake ini, ide-ide brilian saya nggak keluar. Lagian porselen Inggris Bapak itu terlalu licin, takutnya nanti saya lempar kalau lagi emosi sama si Bos Kulkas."
Hadi mendekat, melihat noda teh kering di pinggiran mug.
"Setidaknya, tolong dicuci. Dan bantal itu... baunya seperti... solar?"
"Itu bau kenangan, Pak Hadi! Bau kerja keras! Jangan sembarangan ya!"
Tepat saat itu, Adrian keluar dari ruangannya tanpa jas, hanya dengan kemeja putih yang lengannya digulung sesiku tampilan yang jarang sekali dilihat staf kantor pusat. Ia berhenti di depan meja Gisel, menatap mug kucing galak itu.
Adrian menatap mug itu datar.
"Kucing itu... ekspresinya mirip sekali dengan kamu saat saya suruh hapus blog tadi pagi."
Gisel mendumel sambil membereskan kertas "Bagus dong, biar Bapak selalu inget kalau sekretaris Bapak ini bukan robot yang bisa disuruh-suruh tanpa protes!"
Adrian menoleh ke arah Hadi "Hadi, biarkan saja. Selama dia tidak menaruh ban serep truk di atas meja ini, saya tidak keberatan."
Hadi membungkuk kaku "Baik, Pak Adrian. Tapi, Pak... ada tamu dari Global Logistics yang sudah menunggu di ruang tunggu VIP. Mereka ingin membahas kontrak baru."
Adrian melirik Gisel "Gisel, siapkan catatanmu. Bawa mug kucingmu itu kalau perlu. Saya ingin kamu ikut dalam pertemuan ini."
Gisel melongo "Hah? Pertemuan VIP? Pak, baju saya kotor, muka saya berminyak, rambut saya udah kayak sarang burung gara-gara kena angin gudang tadi! Masa saya ikut?"
Adrian berjalan mendahului menuju ruang rapat. "Mereka bicara soal data teknis. Saya tidak butuh model, saya butuh orang yang tahu bedanya kontainer 40 feet dengan 20 feet hanya dengan sekali lihat. Lima menit, Gisel. Jangan telat."
Gisel langsung grasak-grusuk mencari pulpen. "Tuh kan! Baru nyampe udah disiksa lagi! Bang Budi mana sih? Aku butuh kaca sekarang!"
Hadi memberikan sebuah cermin kecil dari sakunya dengan wajah tanpa ekspresi
"Gunakan ini. Dan saran saya, jangan bawa bantal itu ke ruang rapat." ucapnya lalu meninggalkan Gisel.
**
Ruang rapat VIP di lantai 40 adalah definisi dari kemewahan yang dingin. Meja kaca panjang, kursi kulit Italia, dan aroma pengharum ruangan yang mahal. Di satu sisi meja, duduk tiga perwakilan dari Global Logistics dengan setelan jas desainer yang sangat licin.
Di sisi lain, Adrian duduk dengan tenang, didampingi Gisel yang masih memakai jaket lapangan, kaos oblong, dan celana kargo, yang merupakan ciri khasnya sebagai orang lapangan.
Pak Darwin (Klien) tersenyum sombong sambil menggeser tabletnya.
"Jadi, Pak Adrian, kami menjamin bahwa fasilitas gudang baru kami di Surabaya bisa menampung 5.000 palet sekaligus dengan sistem double-deep racking. Efisiensi kami mencapai 98%."
Adrian hanya menyimak, wajahnya tidak terbaca. Ia melirik Gisel yang sejak tadi keningnya makin berkerut menatap data di layar proyektor.
Gisel tiba-tiba berdehem kencang, suaranya memecah keheningan.
"Permisi, Pak Darwin... Tadi Bapak bilang 5.000 palet di lahan seluas dua hektar itu?"
Pak Darwin Menatap Gisel dengan tatapan meremehkan. "Benar, Sekretaris... Gisel, ya? Itu standar internasional kami."
Gisel menaruh Mug Kucing-nya di meja dengan bunyi klak yang mantap.
"Standar internasional atau standar sulap, Pak? Saya baru dari gudang tadi pagi, dan saya tahu persis spek lahan di Surabaya yang Bapak maksud. Kalau Bapak pake double-deep racking dengan lebar lorong truk reach truck standar, maksimal Bapak cuma bisa masukin 3.800 palet. Itu pun kalau Bapak nggak butuh ruang buat manuver."
Suasana rapat mendadak beku. Adrian menyandarkan punggungnya, menatap Gisel dengan minat tinggi.
Pak Darwin wajahnya mulai memerah
"Maaf, Anda ini sekretaris atau arsitek gudang? Data kami sudah diverifikasi oleh sistem digital."
Gisel mendumel sambil mengeluarkan coretan di buku catatannya.
"Sistem digital Bapak mungkin lupa ngitung tiang penyangga bangunan yang ada di setiap jarak 6 meter di sana. Saya pernah ke lokasi itu pas masih jadi admin lapangan dua tahun lalu. Tiangnya gede-gede, Pak! Kalau Bapak paksain 5.000 palet, itu truk Bapak bakal nyangkut di tiang ke-tiga!"
Adrian menoleh ke arah pak Darwin, suaranya rendah dan tajam.
"Pak Darwin, sepertinya sekretaris saya menemukan celah yang cukup... fatal dalam proposal Anda. Tiang penyangga bangunan? Apakah Anda lupa memasukkannya dalam kalkulasi efisiensi 98% itu?"
Pak Darwin gagap, mulai mengelap keringat di dahi.
"E-itu... mungkin ada sedikit kesalahan input data, Pak Adrian. Kami akan segera revisi..."
"Jangan revisi datanya. Revisi kejujuran Anda. Saya benci orang yang menjual angka kosong kepada saya." Adrian berdiri, lalu melirik Gisel.
"Gisel, rapat selesai. Batalkan draf kontrak mereka."
Gisel sambil membereskan barangnya, menatap Pak. Darwin.
"Lain kali kalau mau bohong, jangan di depan orang yang pernah tidur di atas tumpukan palet itu ya, Pak. Malu-maluin!"
Setelah pintu ruang rapat tertutup, Adrian berjalan berdampingan dengan Gisel.
"Analisis yang bagus, Gisel. Kamu menyelamatkan saya dari kerugian investasi miliaran rupiah hanya dengan ingatanmu soal tiang bangunan"
Gisel mendumel sambil menyeruput teh dari mug-nya.
"Makanya, Pak... jangan cuma percaya sama layar komputer. Layar komputer nggak tau rasanya kepentok tiang pas lagi nyetir forklift. Lagian Bapak juga sih, mau aja dibohongin orang klimis kayak gitu."
Adrian berhenti berjalan, menatap Gisel dengan tatapan yang sedikit melunak.
"Mungkin itu gunanya saya punya sekretaris yang 'berisik' seperti kamu. Hari ini jangan pulang dulu setelah jam lima."
Gisel langsung pasang wajah curiga "Apa lagi?! Bapak mau nyuruh saya ngitung tiang di seluruh Indonesia?!"
"Bukan. Saya ingin kamu menemani saya makan malam. Ada beberapa hal tentang 'Sistem Logistik Manusiawi' yang ingin saya dengar lebih lanjut dari mulutmu yang tidak bisa berhenti bicara itu."
Gisel melongo "Makan malam? Bapak ngajak saya... kencan? Atau rapat di restoran?"
Adrian berjalan pergi tanpa menoleh "Anggap saja... sesi wawancara lanjutan untuk memastikan kamu tidak menulis hal buruk lagi di blog malam ini"
Gisel mendumel kencang di lorong "Dasar Bos Sinting! Modus aja mau dengerin curhatan! Padahal pasti mau nyiksa aku suruh bawa map laporan ke restoran! Bang Budiiii!!! Tolongin eikeee!!!"
to be continue