Arcelia Virellia pernah menjadi putri yang hidup dalam kemewahan. Namun ketika bisnis keluarganya berada di ambang kehancuran, ia dijadikan alat transaksi melalui pernikahan politik dengan pewaris keluarga Ravert.
Pernikahan yang seharusnya menyelamatkan segalanya justru menghancurkan hidupnya.
Dihina keluarga suami…
Diabaikan oleh pria yang menjadi suaminya sendiri…
Dan ketika kematian misterius merenggut nyawa suaminya, Arcelia dituduh sebagai pembawa sial dan diusir tanpa belas kasihan.
Semua orang mengira hidupnya telah berakhir.
Namun tiga tahun kemudian, seorang investor misterius muncul dan mulai menguasai dunia bisnis elit kota. Tidak ada yang tahu identitasnya… sampai wanita itu kembali muncul dengan nama yang membuat masa lalu mereka bergetar.
Arcelia telah kembali.
Bukan lagi sebagai putri yang patuh…
Melainkan ratu yang siap menagih semua pengkhianatan.
Karena bunga mawar mungkin terlihat indah…
Tapi mereka lupa bahwa mawar selalu memiliki duri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Suara jam dinding terdengar pelan di kamar Arcelia.
Tik… tok… tik… tok…
Arcelia masih duduk di tepi tempat tidurnya, menatap jendela yang memantulkan bayangan wajahnya sendiri. Lampu kota di luar terlihat redup, seolah ikut merasakan berat yang sedang memenuhi pikirannya.
"...Aku tidak akan membiarkan keluarga kita jatuh."
Kalimat itu masih terngiang di kepalanya.
Ia menarik napas panjang lalu menjatuhkan tubuhnya ke kasur. Tangannya menutup mata sebentar, mencoba memaksa pikirannya berhenti bekerja.
Namun justru bayangan wajah papa, mama, dan kedua saudaranya terus muncul silih berganti.
Suara hatinya berbisik pelan. Kalau benar ada yang menjebak keluarga kita… siapa mereka?
Arcelia membuka matanya kembali. Langit-langit kamar terasa kosong… tapi pikirannya terasa penuh.
Pagi datang lebih cepat dari yang ia inginkan.
Alarm ponselnya berbunyi nyaring, membuat Arcelia mengerang pelan sebelum meraih dan mematikannya. Ia duduk perlahan, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
Udara kamar masih dingin. Ia berjalan menuju kamar mandi, menyalakan lampu yang langsung menyilaukan matanya.
Air dingin dari shower menyentuh kulitnya, membuat tubuhnya sedikit tersadar sepenuhnya. Ia membiarkan air mengalir lebih lama dari biasanya, mencoba menenangkan pikirannya.
Hari ini harus normal… setidaknya di luar rumah.
Ruang makan sudah ramai ketika Arcelia turun. Aroma roti panggang dan telur dadar memenuhi ruangan. Mama Mirella sedang mengatur piring, sementara Papa Alveron duduk membaca tablet dengan ekspresi serius.
Bang Kaiven duduk sambil mengetik sesuatu di laptopnya. Elvarin terlihat sibuk menuangkan sirup ke dalam susunya.
"Kakak! Kamu kesiangan," kata Elvarin ceria.
"Aku bangun tepat waktu Dek," jawab Arcelia sambil duduk.
Mama Mirella tersenyum lembut.
"Semalam tidur cukup Sayang?"
Arcelia mengangguk.
"Cukup Ma."
Meski sebenarnya ia tahu tidurnya tidak benar-benar nyenyak.
Papa Alveron tiba-tiba menutup tabletnya. Suara klik kecil itu membuat semua orang menoleh.
"Papa harus berangkat lebih pagi hari ini," katanya.
Nada suaranya tenang… tapi ada ketegangan tipis yang tidak bisa disembunyikan sepenuhnya.
"Rapat lagi Pa?" tanya Kaiven.
Papa Alveron mengangguk singkat.
"Beberapa investor meminta klarifikasi langsung."
Ruangan menjadi sedikit lebih sunyi.
Arcelia menunduk, memotong rotinya pelan. Suara pisau yang bergesekan dengan piring terdengar lebih keras dari biasanya.
Mama Mirella menepuk tangan pelan, mencoba mencairkan suasana.
"Elvarin, hari ini ada latihan basket, kan?"
"Iya" jawab Elvarin langsung bersemangat.
Percakapan kembali mengalir, tapi Arcelia bisa merasakan… semua orang sedang berusaha terlihat biasa saja. Dan itu justru membuat semuanya terasa lebih berat.
Perjalanan ke sekolah pagi itu terasa lebih ramai. Jalanan dipenuhi kendaraan, suara klakson bersahutan, dan para siswa terlihat bergerombol di gerbang sekolah.
Arcelia berjalan melewati lorong utama sambil memegang buku proyeknya. Beberapa siswa berbisik pelan ketika ia lewat. Ia tidak tahu apakah itu hanya perasaannya… atau memang ada sesuatu yang berubah.
Ia mencoba mengabaikannya.
Di kelas, kelompok proyek mereka mulai bekerja lebih serius. Dua anggota lain sibuk membuka laptop dan membicarakan pembagian jadwal presentasi. Arcelia sedang membaca data referensi ketika ia menyadari Kaelion duduk di seberangnya, menatap layar dengan ekspresi fokus.
"Aku sudah kumpulkan sebagian data statistik," katanya tiba-tiba.
Arcelia mengangguk.
"Aku sudah rangkum latar belakang topiknya."
Kaelion meliriknya sebentar.
"Kamu kerja cepat."
Arcelia mengangkat bahu kecil.
"Aku tidak suka menunda."
Ada jeda singkat. Tidak canggung… hanya tenang. Saat mereka berdiskusi, salah satu anggota kelompok membuka berita di ponselnya.
"Eh, kalian lihat ini?"
Ia memutar layar ke arah mereka.
Judul berita bisnis terpampang jelas.
"Perusahaan Virellia Group Diduga Mengalami Penurunan Stabilitas Kontrak."
Jantung Arcelia langsung terasa menegang.
Ia membaca sekilas isi berita itu. Kata-kata seperti ketidakpastian, tekanan pasar, dan keraguan investor muncul berulang. Tangannya menggenggam buku catatannya lebih erat.
Kaelion memperhatikan reaksinya.
"Kamu baik-baik saja?"
Arcelia mengangguk cepat.
"Itu cuma berita bisnis biasa."
Ia berusaha terdengar santai… tapi suaranya sedikit lebih pelan dari biasanya. Kaelion tidak berkata apa-apa lagi. Tapi tatapannya seolah mengatakan bahwa ia tahu itu bukan hal sepele bagi Arcelia.
Sepulang sekolah, Arcelia berjalan menuju gerbang dengan pikiran penuh. Suara siswa lain terdengar seperti latar belakang samar. Ia bahkan tidak sadar seseorang berjalan di sampingnya sampai suara itu terdengar.
"Berita itu… tentang keluargamu, kan?"
Arcelia menoleh.
Kaelion berjalan di sampingnya, tangan di saku celana, ekspresinya tetap datar.
Arcelia terdiam beberapa detik.
"...Iya."
Ia tidak tahu kenapa, tapi menyangkal terasa tidak ada gunanya.
Kaelion mengangguk pelan.
"Keluargaku juga pernah diserang rumor seperti itu."
Arcelia sedikit terkejut.
"Kamu tidak pernah cerita."
"Bukan sesuatu yang biasanya dibicarakan."
Jawaban itu terdengar sederhana… tapi entah kenapa membuat Arcelia merasa sedikit tidak sendirian.
Mobil keluarga menjemput Arcelia sore itu. Perjalanan pulang terasa lebih sunyi dari biasanya.
Saat ia memasuki rumah, suasana terasa berbeda. Tidak ada suara televisi. Tidak ada musik ringan dari dapur.
Bang Kaiven berdiri di ruang tengah, berbicara dengan Mama Mirella dengan nada suara yang lebih rendah dari biasanya. Begitu mereka melihat Arcelia masuk, percakapan itu langsung berhenti.
"Papa belum pulang Bang?" tanya Arcelia pelan.
Kaiven menggeleng.
"Rapatnya diperpanjang Dek."
Arcelia menelan ludah. Perasaan tidak nyaman kembali muncul… lebih kuat dari sebelumnya.
Malam semakin larut ketika pintu rumah akhirnya terbuka.
Papa Alveron masuk dengan langkah sedikit lebih lambat dari biasanya. Jasnya masih rapi, tapi ekspresi wajahnya terlihat lelah.
Mama Mirella langsung berdiri mendekatinya.
"Bagaimana Pa?"
Papa Alveron terdiam beberapa detik sebelum menjawab.
"...Ada pihak yang mencoba mengambil alih sebagian saham perusahaan kita."
Kalimat itu terasa seperti petir di ruangan.
Arcelia merasakan dadanya menegang.
Kaiven mengepalkan tangannya.
"Siapa Pa?"
Papa Alveron menggeleng pelan. "Mereka bergerak melalui perusahaan perantara. Jejaknya sengaja disamarkan."
Ruangan menjadi hening.
Arcelia menatap keluarganya satu per satu. Ia melihat kelelahan di wajah Papanya. Kekhawatiran yang disembunyikan Mamanya. Amarah yang ditahan kakaknya.
Dan untuk pertama kalinya…
Ia benar-benar menyadari bahwa keluarga mereka sedang berdiri di ambang badai besar. Arcelia menggenggam tangannya di pangkuan.
Suara hatinya kembali muncul.
Kalau aku hanya diam… aku tidak akan bisa melindungi mereka. Matanya perlahan mengeras, menatap meja ruang tamu.
Dan tanpa ia sadari… Langkah kecil yang akan ia ambil selanjutnya… bukan hanya akan mengubah hidupnya.
Tapi juga akan menariknya langsung ke pusat permainan kekuasaan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.
Suasana ruang tamu masih terasa berat setelah Papa Alveron menyampaikan kabar itu. Tidak ada yang langsung berbicara. Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan, seolah menghitung detik ketegangan yang menggantung di udara.
Mama Mirella duduk kembali dengan perlahan. Tangannya saling menggenggam di pangkuannya, sesuatu yang jarang Arcelia lihat dari Mamanya yang biasanya selalu tenang.
"Seberapa besar saham yang mereka incar?" tanya Bang Kaiven akhirnya.
Papa Alveron membuka kancing jasnya sebelum duduk.
"Belum besar… tapi cukup untuk membuat investor lain ragu." Nada suaranya datar, tapi Arcelia bisa mendengar kelelahan di baliknya.
"Kalau investor mulai goyah, perusahaan bisa kehilangan banyak kontrak," lanjut Bang Kaiven pelan.
Papa Alveron mengangguk. "Dan itu yang mereka inginkan."
Arcelia duduk diam, mendengarkan percakapan itu. Ia merasa seperti berada di ruang yang sama… tapi juga seperti hanya penonton.
Istilah bisnis, saham, investor, strategi… Semua terdengar asing, tapi dampaknya terasa sangat nyata.
Elvarin yang sedari tadi duduk di pojok sofa akhirnya membuka suara dengan hati-hati.
"Perusahaan kita… bakal tutup?"
Semua langsung menoleh ke arahnya. Mama Mirella tersenyum lembut, lalu meraih tangan anak bungsunya.
"Tidak Sayang," katanya tegas, tapi hangat. "Keluarga kita tidak mudah menyerah."
Elvarin mengangguk pelan, meski wajahnya masih terlihat cemas.
Malam itu makan malam berlangsung lebih sunyi dari biasanya. Suara sendok dan piring terdengar jelas di antara mereka.
Arcelia memperhatikan Papanya yang makan lebih lambat. Bang Kaiven yang beberapa kali membaca pesan di ponselnya diam-diam. Mama Mirella yang berusaha menjaga suasana tetap normal dengan sesekali menanyakan kegiatan sekolah.
Percakapan ringan itu terasa seperti usaha menahan sesuatu yang lebih besar agar tidak runtuh.
Setelah makan malam, Arcelia membantu Mamanya membereskan meja. Mereka bekerja dalam diam beberapa menit sebelum Mama Mirella akhirnya berbicara.
"Kamu memikirkan sesuatu Sayang."
Arcelia berhenti menyusun piring.
"...Kelihatan ya Ma?"
Mirella tersenyum kecil.
"Mama mengenalmu sejak kamu masih dalam kandungan Mama."
Arcelia menunduk sebentar. "Aku cuma… tidak suka melihat Papa dan Abang terlihat seperti itu."
Mama Mirella mengusap bahu Arcelia pelan. "Bisnis memang kadang seperti medan perang tanpa suara."
Kalimat itu membuat Arcelia terdiam.
"Tapi keluarga kita sudah melewati banyak hal sebelumnya," lanjut Mama Mirella. "Dan kita selalu bertahan… karena kita saling menjaga." lanjutnya
Arcelia mengangguk pelan.
Malam semakin larut.
Rumah mulai sunyi ketika semua orang kembali ke kamar masing-masing. Arcelia duduk di meja belajarnya. Buku proyek sekolah terbuka di depannya, tapi ia hanya menatap halaman yang sama selama beberapa menit.
Pikirannya terus memutar ulang percakapan ruang tamu tadi. Ada pihak yang mencoba mengambil alih saham… Ia menggigit ujung pulpen pelan.
Kalau mereka berani menyerang bisnis keluarga… mereka pasti sudah mempersiapkan semuanya. Arcelia menghela napas panjang lalu membuka laptopnya.
Ia tidak benar-benar tahu apa yang ia cari… tapi ia mulai mengetik nama perusahaan keluarganya di mesin pencarian.
Beberapa artikel berita muncul. Sebagian besar masih spekulasi, tapi ada satu hal yang membuat Arcelia mengerutkan kening.
Beberapa laporan menyebut adanya perusahaan investasi anonim yang mulai membeli saham dari perusahaan-perusahaan kecil yang bekerja sama dengan keluarganya.
"...Mereka menyerang dari pinggir dulu…"
Ia bergumam pelan.
Ketukan pelan terdengar di pintu kamarnya.
Arcelia menoleh.
"Masuk."
Bang Kaiven membuka pintu, bersandar di kusennya.
"Kamu belum tidur Dek?"
Arcelia menggeleng.
"Abang juga belum tidur."
Bang Kaiven tersenyum tipis lalu masuk dan duduk di kursi seberangnya. "Kamu cari tahu tentang berita itu?" tanya Bang Kaiven
Arcelia terdiam sebentar sebelum mengangguk.
Kaiven menatap layar laptopnya beberapa detik.
"Kamu cepat menangkap situasi."
"Aku cuma penasaran aja Bang."
Bang Kaiven bersandar di kursi, menghela napas. "Penasaran itu bagus… tapi bisa juga berbahaya kalau kamu terlalu dalam masuk ke masalah orang dewasa."
Arcelia menatap Abangnya lurus.
"Aku bagian dari keluarga ini."
Kaiven tersenyum kecil lagi. Kali ini lebih lembut.
"Iya ya Abang mengerti Dek."
Ia mengacak rambut Arcelia sebentar sebelum berdiri.
"Tapi kamu tetap harus fokus pada sekolahmu juga."
Setelah Bang Kaiven keluar, Arcelia menutup laptopnya perlahan.
Ia berdiri, berjalan ke jendela kamarnya. Kota masih terlihat hidup meski sudah hampir tengah malam. Lampu gedung-gedung tinggi berkelip seperti bintang buatan manusia.
Arcelia menyilangkan tangan di dadanya. Suara hatinya kembali muncul. Kalau aku ingin membantu… aku harus mulai memahami dunia mereka.
Ia menatap pantulan dirinya di kaca jendela. Tatapannya terlihat lebih tegas dibanding sebelumnya.
Di tempat lain…
Sebuah ruangan kantor yang hanya diterangi lampu meja terlihat sunyi. Tumpukan dokumen dan layar monitor memenuhi meja besar di tengah ruangan.
Seseorang duduk di kursi kulit hitam, memutar gelas minuman perlahan.
"Laporan perkembangan saham Virellia Group," kata seseorang di seberang meja.
Sosok itu menerima berkas tipis tanpa mengangkat kepala.
"Mereka mulai merasakan tekanan," lanjut suara itu.
Senyum samar muncul di wajah sosok tersebut.
"Bagus. Kita tidak perlu menghancurkan mereka sekaligus."
Ia membuka berkas itu perlahan.
"Buat mereka kehilangan pijakan… sedikit demi sedikit."
Lampu meja memantulkan bayangan wajahnya… tapi identitasnya masih tersembunyi dalam gelap.
Sementara itu, di kamarnya, Arcelia akhirnya berbaring.
Matanya menatap langit-langit, pikirannya masih berputar, tapi tekad di dadanya terasa semakin kuat. Ia tidak tahu siapa yang sedang menyerang keluarganya. Ia tidak tahu seberapa besar bahaya yang menunggu.
Namun satu hal ia yakin…
Ia tidak akan lagi hanya menjadi penonton dalam hidup keluarganya sendiri. Dan tanpa Arcelia sadari… Keputusan kecil yang ia ambil malam itu… akan menjadi langkah pertama menuju dunia yang jauh lebih kejam dari yang pernah ia bayangkan.
makasih udah mampir🙏
jangan lupa mampir juga di novel aku judul nya"Dialah sang pewaris"di tunggu yah....