NovelToon NovelToon
Antagonis Pria Itu Milikku!

Antagonis Pria Itu Milikku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Identitas Tersembunyi / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Balas dendam pengganti / Mengubah Takdir
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Fasha mengamuk setelah membaca sebuah novel, bukan karena ceritanya buruk, tapi karena tokoh antagonis pria yang ia sukai, mati mengenaskan tanpa keadilan.

Tak disangka, Fasha malah mendapati dirinya telah bertransmigrasi ke dalam novel itu, tepat di tubuh gadis yang akan segera kehilangan suara… dan dijual sebagai istri pada pria yang sama.
Untuk mengubah takdir, Fasha hanya punya satu tujuan yaitu menyelamatkan Sander dari kematian tragisnya—meski itu berarti harus menikah dengannya terlebih dulu.

Karena kali ini, penjahat itu… adalah suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 - Apa Kamu Setuju Jika Aku Melawan Keluargamu?

Begitu sadar dari pikirannya yang ia rasa aneh, Sander langsung menatap Fasha dan berkata:

“Kamu cuma mengantuk.”

'Jawaban macam apa itu? Dasar menyebalkan.. Padahal tingkahku sudah selucu ini, tapi Sander tetap tidak tertarik?!'

“Bukan mengantuk, cuma sakit kepala. Sander, bisa peluk aku nggak?”

Tentu saja, pelukan itu tidak pernah terjadi. Fasha menerjang ke arahnya, tetapi meleset. Sander sudah lebih dulu bergeser, duduk menjauh darinya dengan jarak hampir dua meter. Bahkan Fasha tidak melihat bagaimana pria itu bisa bergerak secepat itu.

“Ini air.. cepat minum obatmu.”

Fasha mendengus pelan, menjawab, “Oh,” lalu dengan patuh menelan obatnya dengan air.

Setiap kali menyesap, matanya melirik ke arah Sander, seolah pria itu adalah dispenser obat ajaib yang hanya disediakan khusus untuknya.

Ia memikirkan cara mencairkan suasana dan menyelamatkan citranya di mata Sander, tanpa menyadari bahwa momen ini justru telah melembutkan hati pria itu sedikit demi sedikit.

Fasha memang tidak pernah benar-benar paham. Wajar saja jika dia selalu terbawa suasana saat menemukan sesuatu yang menyenangkan.

Tiba-tiba, pintu vila terbuka dan Bibi Wang berseru, “Oh!” saat melihat Sander duduk di sofa.

“Tuan, kenapa hari ini tidak bekerja?”

“Istirahat.”

“Baik, baik. Kalau begitu saya buatkan makan siang sesuai selera Anda.”

Fasha meletakkan cangkirnya, lalu pura-pura batuk dua kali.

“Sander, ini…”

Ia mengulurkan sebuah koin yang masih hangat karena lama digenggam.

Sander menatapnya bingung. “Untuk apa ini?”

“Sander, bagus sekali kamu mau tinggal di rumah dan menemani aku. Ini hadiah buatmu.”

Sebuah istilah langsung terlintas di benak Sander—pembayaran jasa.

Terkejut dengan pikirannya sendiri, ia mendesah pelan dan mulai memainkan koin itu, melemparkannya ke udara beberapa kali.

Koin itu selalu jatuh dengan sisi angka menghadap ke atas.

Lupakan saja, pikirnya. Akhirnya, ia memasukkan koin itu ke saku dan menerima penjelasan Fasha dengan enggan.

Saat makan siang, Fasha bertingkah seperti seorang hakim, mengawasi kecepatan makan Sander dengan saksama, siap menegurnya jika ia makan terlalu cepat.

“Fasha, setelah makan naik ke atas dan ganti baju. Ada yang ingin kubicarakan,” ujar Sander dengan nada serius.

Melihat ekspresinya, Fasha langsung gelisah. 'Jangan-jangan… dia mau mengusirku lagi?'

Lemarinya penuh dengan pakaian tren terbaru. Meski sudah bulan Mei, udara masih agak dingin, jadi Fasha memilih hoodie tipis.

“Sander, aku sudah siap.”

Sander mendongak dan melihat Fasha berjalan mendekat, hoodie dengan telinga kelinci yang bergoyang di setiap langkah, tampak aneh tapi menggemaskan.

“Fasha, apa yang akan kamu lakukan kalau aku menindak keluargamu?”

“Maksudmu melawan mereka? Ya, aku juga mau! Aku marah sekali, ingin menghajar mereka!”

Baiklah, Sander jelas terlalu banyak berpikir.

Fasha diperlakukan buruk oleh mereka, tentu saja dia tidak punya kesan baik.

“Kita hidup di negara hukum. Aku sudah melapor ke polisi.”

'Hah?'

Sejak kapan Sander jadi sepatuh ini pada hukum? Bukankah seharusnya dia tipe antagonis?

Tidak, tidak… memang begitulah sifat aslinya.

Fasha menyingkirkan pikirannya dan berkata serius, “Baik, biar polisi yang urus.”

“Jadi sekarang kamu harus ikut aku kembali ke rumah keluargamu.”

“Oke.”

Di perjalanan, Sander merasakan kegugupan Fasha. Ia mendengar gumaman kecil yang tidak terlalu jelas, tapi kepalan tangan gadis itu menunjukkan bahwa ia sedang berusaha menenangkan diri.

Pandangan Sander turun. Tangannya yang berada di atas lutut bergerak ke saku, mengeluarkan permen jeruk dan menyerahkannya pada Fasha.

“Ini. Belum kedaluwarsa.”

Mata Fasha menyipit bahagia. Ia menyandarkan bahunya ke bahu Sander sambil sibuk berusaha memecah permen keras itu.

Setelah cukup lama berjuang, ia mengeluh, “Sander, permennya keras banget. Gimana caranya bagi dua?”

“Begini.”

Sander seperti pesulap, tiba-tiba mengeluarkan satu permen lagi.

Fasha terkejut, lalu memegang tangan Sander dan menelitinya lama sebelum berseru, “Aku tahu! Ini trik sulap! Sander, kamu hebat banget!”

Trik yang bahkan hanya bisa menipu anak kecil—dan memang hanya Fasha yang akan mempercayainya.

“Makan saja.”

Takut Fasha menolak, Sander langsung membuka bungkus permen dan memasukkannya ke mulut Fasha.

Saat menarik tangannya, ujung jarinya tanpa sengaja menyentuh lidah yang hangat dan lembut, sebelum cepat-cepat menjauh.

Menghadapi tatapan polos Fasha, Sander menggenggam tangannya sendiri dan mengalihkan pandangan. Dia pasti sudah gila.

Fasha menempelkan permen itu di pipinya sambil tertawa kecil melihat bayangan Sander di jendela mobil.

Bukan karena Sander tak punya emosi—hanya saja orang-orang di sekitarnya tidak pernah cukup peduli. Tapi Fasha berbeda. Dia memakan permen yang diberikannya.

"Hehe, rasanya menyenangkan." ucap Fasha dengan senyum merekah.

“Tuan Sander, kita sudah sampai.”

Fasha, sang ratu drama, langsung berakting. Ia mencengkeram kursi dengan panik dan mundur dari pintu yang terbuka.

“Fasha, kemari.”

“Tidak!”

“Ada aku di sini. Jangan takut.”

Fasha tetap diam sampai permen terakhir meleleh di mulutnya. Tanpa sengaja, pandangannya jatuh pada lengan Sander yang terjulur santai.

“Kemarilah.”

Dengan hati-hati, Fasha mengulurkan tangan dan menggenggam telapak tangan Sander erat-erat. Dengan bantuannya, ia turun dari mobil, bahunya menempel pada bahu Sander.

Tinggi badan mereka terpaut sekitar sepuluh sentimeter. Saat mendongak, Fasha hanya bisa melihat rahang Sander yang menegang.

Jarinyanya bergerak pelan, menepuk tangan Sander dengan lembut.

“Sander, aku juga bisa melindungimu. Aku bisa melawan orang jahat. Jangan takut.”

Selama bertahun-tahun, ini adalah pertama kalinya Sander mendengar kalimat seperti itu.

1
hile sivra
pantes pas liat riwayat bacaan ada yang update tapi kok asing, ternyata ganti gambar sampul toh /Facepalm/
Lynn_: Udah terkontrak ka, jdi covernya ganti🙏😇
total 1 replies
hile sivra
haduuh tanggal 2 maret up nya, bisa 2 hari lagi ga sih thoorr/Scowl/
Lynn_: Makasih udah baca dan komen ya kak🙏
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!