NovelToon NovelToon
Kelas Paus

Kelas Paus

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:23k
Nilai: 5
Nama Author: Chika cha

Cover by me.

Saat SMP Reani Sarasvati Ayuna pernah diam-diam jatuh pada Kadewa Pandugara Wisesa, sahabat kakaknya—Pramodya yang di ketahui playboy. Tapi bagi Kadewa, Rea cuma adik dari temannya, bocah kecil yang imut dan menggemaskan.

Patah hati saat Kadewa masuk AAL sambil menjalin cinta pada gadis lain dan kali ini cukup serius. Rea melarikan diri ke Jakarta, untuk melanjutkan kuliah dan setelahnya menetap dan berkarir disana sebagai encounter KAI, berharap bisa menjauhkan dirinya dari laut dan dari...

Kadewa..

Tujuh tahun berlalu, takdir menyeretnya kembali. Kadewa datang sebagai Kapten TNI AL yang lebih dewasa, lebih mempesona, dan lebih berbahaya bagi hatinya.

Rea ingin membuktikan bahwa ia sudah dewasa dan telah melupakan segalanya. Namun Kadewa si Paus yang tak pernah terdeteksi dengan mudah menemukan kembali perasaan yang telah ia tenggelamkan.

Mampukah cinta yang terkubur tujuh tahun itu muncul kembali ke permukaan, atau tetap menjadi rahasia di dasar samudra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tempat Bernama Kadewa

Ada jenis keheningan yang menenangkan, tapi ada juga jenis keheningan yang mencekik. Dan malam itu, di ruang makan kediaman Wisesa, keheningannya terasa seperti kawat berduri yang melilit leher Kadewa.

Hanya ada suara denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen mahal.

Ibu Ranti—Ibu Kadewa dan Panji duduk di tengah meja, di antara Panji dan Kadewa. Tangannya bergerak pelan memotong daging, sesekali menoleh ke Kadewa dan Panji dengan tatapan lembut.

Mas Panji duduk di hadapan Kadewa, wajahnya sedatar papan tulis. Sementara Kadewa duduk di hadapannya, berusaha menelan potongan steak yang rasanya seperti karet.

“Mas udah daftarkan kamu ke kursus persiapan SAT dan IELTS intensif di Jakarta,” suara Panji memecah kesunyian tanpa aba-aba. “Mulai bulan depan. Setiap Jumat sore berangkat, Minggu malam baru balik ke Surabaya.”

Garpu Kadewa berhenti di udara.

“Ibu… udah tahu?” tanyanya lirih. Pandangannya beralih ke perempuan paruh baya di sebelahnya yang berpakaian jilbab panjang tertutup.

Ibu Ranti menoleh, tersenyum kecil. Senyum penuh sayang.

“Ibu tahu, Le.” Nada suaranya lembut. Terlalu lembut untuk kabar sekeras itu.

“Mas,” Kadewa menatap Panji lagi, “ini baru mau masuk kelas tiga. Sekolah baru jalan berapa bulan. UN aja belum. Pendaftaran universitas juga masih lama.”

"Lebih cepat lebih baik, Pandu," balas Panji dingin, bahkan tidak menatap adiknya. "Mas nggak mau ada celah. Skor kamu harus sempurna supaya bisa tembus Imperial College atau National University of Singapore. Nggak ada negosiasi."

Ibu ikut menimpali, suaranya halus tapi tegas.

“Masmu benar, Le. Ibu nggak mau nanti kamu kelelahan karena semuanya menumpuk di akhir.”

Kadewa menoleh cepat. “Bu—”

Ibu menyentuh punggung tangan Kadewa sebentar. Hangat. Menenangkan.

“Ibu tahu kamu capek. Tapi ini bukan buat menyiksa kamu. Ini buat melindungi masa depanmu.”

Dan di situlah Kadewa merasa kalah.

Karena ia tidak sedang diserang.

Ia sedang dipeluk oleh keputusan yang tidak memberinya ruang bernapas.

“Terus hidupku?” suara Kadewa naik satu oktaf. “Kapan aku punya waktu buat bernapas? Sekolah, les, sekarang bolak-balik Surabaya—Jakarta? Kalian pikir aku robot?”

Panji meletakkan garpunya dengan pelan, tapi bunyi denting kecilnya terdengar seperti ledakan di ruangan itu.

“Robot nggak butuh biaya miliaran buat sekolah,” ucap Panji tajam. “Robot nggak dikasih mobil mewah sebagai hadiah. Mas ngelakuin ini supaya kamu siap. Kamu pikir Mas senang kerja dua puluh jam sehari demi jaga perusahaan yang Ayah bangun susah payah?”

“Panji,” tegur ibu pelan.

“Tapi Mas ngelakuin ini supaya nanti, saat kamu ikut andil di dalamnya, kamu nggak menghancurkannya cuma karena kamu terlalu sibuk main!” lanjut Panji tak memperdulikan teguran ibu mereka.

Ibu menatap Kadewa dengan serius.

“Le, dengarkan dulu Masmu. Jangan pakai emosi.”

Itu bukan teguran keras.

Tapi cukup untuk membuat Kadewa sadar bahwa ibu memilih ketertiban, bukan perasaannya. Selalu seperti itu.

"Aku nggak pernah minta jadi pewaris!" Kadewa berdiri, kursinya terdorong ke belakang hingga menimbulkan suara decit yang memilukan.

“Tapi itu takdirmu!” Panji ikut berdiri. “Dan takdir Mas! Kamu menikmati fasilitasnya, jadi kamu harus tanggung jawab sama bebannya!”

Kadewa tak membalas. Dadanya naik turun. Matanya melirik ibunya yang hanya diam, cemas, yakin ini jalan terbaik.

Ia memejamkan mata sesaat, lalu meraih kunci motor di atas meja dan berbalik pergi.

“Pandu! Jangan berani keluar dari pintu itu!” bentak Panji.

“Aku butuh udara, Mas,” jawab Kadewa tanpa menoleh. “Sesuatu yang nggak ada di rumah ini.”

BRAK!

Pintu depan terbanting keras.

Suara mesin motor trail Kadewa meraung memecah kesunyian malam di Surabaya Barat, melaju kencang tanpa arah, mencoba lari dari bayang-bayang kakaknya yang terasa semakin menjadi raksasa.

_________

Di sisi lain kota, Rea sedang gelisah.

Malam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih, tapi ia belum bisa tidur karena harus menghafal salah satu pelajaran. Ia juga baru saja menyelesaikan rangkuman catatan biologi yang semuanya harus di setor ke gurunya besok.

Mulutnya berkomat-kamit sibuk menghafal dan tiba-tiba ia terdiam begitu mendengar suara knalpot motor yang sangat ia hafal terdengar berhenti di depan pagar rumahnya.

Rea tersentak. Itu suara motor Kadewa.

Jantungnya langsung berdegup kencang.

Pram saja belum pulang dari rumah Joshua dan Kadewa malam-malam begini malah datang kesini?

Rea melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lebih. Tidak biasanya Kadewa datang selarut ini.

Rea mengintip dari balik jendela kamar lantai duanya. Di bawah sinar lampu jalan yang temaram, tepat di depan pagar ia melihat Kadewa menghentikan motornya, duduk di atasnya, kepalanya tertunduk di atas setir. Bahunya tampak layu.

Tanpa pikir panjang, Rea menyambar cardigan rajutnya dan turun ke bawah. Ia membuka pintu depan dengan hati-hati agar tidak membangunkan Baba dan Umma yang kemungkinan sudah tertidur.

"Mas?" panggil Rea pelan saat sudah sampai di depan pagar.

Kadewa mendongak. Helmnya sudah dilepas, ditaruh di atas tangki motor. Rambutnya berantakan terkena angin, dan matanya... Rea bisa melihat ada gurat kemarahan sekaligus kelelahan yang luar biasa di sana.

"Rea? Kok belum tidur?" suara Kadewa serak.

Rea mendekat, tangannya memegang besi pagar, menatap cowok itu dengan cemas. "Belum bisa. Mas kenapa ke sini? Ada apa? Mas Pram masih di rumah Ko Jojo. Coba Mas tel-"

"Boleh aku duduk sebentar di sini?" Potong Kadewa cepat sebelum Rea benar-benar menyelesaikan kalimatnya. Ia menatap wajah Rea, seolah sedang mencari sedikit ketenangan di wajah gadis kecil itu.

Rea tersentak sesaat lalu menganggukkan kepalanya pelan sebanyak dua kali. Ia pun membuka pagar, mempersilahkan Kadewa masuk dan duduk di anak tangga teras rumah membawa helmnya dan di letakkan di sampingnya. Rea ikut duduk di sampingnya, menjaga jarak, tapi cukup dekat untuk merasakan hawa panas dari tubuh Kadewa yang habis berkendara kencang.

"Mas berantem sama Mas Panji lagi?" tebak Rea hati-hati. Ia menoleh menatap wajah Kadewa dari samping.

Kadewa yang menunduk itu tertawa hambar. "Berantem itu kalau dua orang saling adu argumen, Re. Tadi itu lebih kayak Mas Panji lagi bacain vonis hukuman mati buat masa depanku."

Ia kemudian menceritakan soal kursus di Jakarta dan rencana kuliah yang semakin mencekik. Rea mendengarkan tanpa memotong. Ia bisa merasakan betapa sesaknya menjadi Kadewa yang punya segalanya, tapi tidak punya dirinya sendiri.

"Mas... capek banget ya?" tanya Rea pelan.

Kadewa menoleh, menatap Rea. Kali ini cukup lama.

Tatapan itu bukan tatapan seorang playboy yang biasa menggoda. Bukan pula tatapan santai atau jenaka yang sering ia pakai di depan teman-temannya. Itu tatapan seorang anak laki-laki yang terlalu lama memikul beban orang dewasa.

"Capek itu… kalau angkat badan," ucap Kadewa akhirnya, suaranya rendah. "Ini… udah kelewat capek."

Rea menggenggam ujung cardigan rajutnya sendiri. Ia ingin mengatakan sesuatu yang pintar. Sesuatu yang bisa membuat Kadewa merasa lebih baik. Tapi otaknya kosong.

Yang ada cuma rasa sesak melihat bahu Kadewa yang biasanya tegap, kini sedikit merosot.

"Mas… aku boleh jujur?" tanyanya ragu.

Kadewa mengangguk pelan.

Rea menarik napas. "Aku nggak ngerti dunia Mas. Soal bisnis, universitas luar negeri, tanggung jawab besar. Aku cuma anak SMP yang masih takut di hukum kalau PR nya gak siap."

Ia tertawa kecil, gugup. Lalu kembali membuka suara. "Tapi… kalau capek sendirian terus, Mas bisa sakit."

Kadewa terdiam.

Angin malam menyapu halaman, menggerakkan daun mangga di sudut pagar. Suasana hening, tapi kali ini bukan hening yang mencekik.

"Semua orang di rumah bilang ini demi kebaikanku," kata Kadewa lirih. "Ibu juga."

Rea mengangguk pelan. "Ibu Mas pasti sayang banget."

"Iya," sahut Kadewa cepat. "Makanya aku nggak bisa marah ke beliau."

Ia menyandarkan pinggangnya ke anak tangga. Menatap bulan yang tertutup awan tipis.

"Kalau aku marah, aku jadi anak durhaka. Kalau aku nurut, aku kehilangan diriku sendiri."

Rea menunduk. Kata-kata itu terlalu besar, tapi ia mengerti perasaannya.

"Mas…" Rea bicara semakin pelan, nyaris seperti bisikan. "Kalau lagi nggak kuat, nggak apa-apa kok… nggak jadi hebat sebentar."

Kadewa menoleh lagi. Alisnya berkerut. "Eh?"

Rea meringis kecil, merasa malu sendiri. "Maksudnya... Mas boleh capek. Boleh bingung. Mas kan manusia, bukan robot kayak yang Mas bilang tadi. Nggak semua hal di dunia ini harus Mas beresin sendirian malam ini juga, kan?"

Ia buru-buru menunduk setelah itu, takut kata-katanya terdengar sok dewasa.

Sementara Kadewa terdiam. Kalimat polos Rea justru menghantamnya lebih keras daripada bentakan Panji.

"Kamu tahu nggak, Re," ucapnya pelan, "kenapa aku lari ke sini?"

Rea menggeleng, menatap ujung sandalnya.

“Karena di rumah ini…” Kadewa menoleh ke belakang, ke arah bangunan yang selama ini menjadi tempat pelariannya. “Di sini aku boleh jadi Kadewa yang memang Kadewa. Bukan Kadewa Pandugara Wisesa calon pewaris perusahaan.”

Rea membeku. Jantungnya berisik lagi. Ada rasa hangat yang membuncah karena tahu bahwa kehadirannya atau setidaknya rumahnya adalah tempat aman bagi sang Paus.

“Oh…” hanya itu yang mampu keluar dari bibirnya.

Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa menit. Lalu kepala mereka sama-sama mendongak, menatap langit malam yang bertabur bintang yang tertutup awan-awan tipis, tenang dan jauh, seolah dunia lain yang tak menuntut apa pun.

“Re…” Kadewa kembali bersuara, memanggil gadis kecil di sampingnya.

Rea menoleh pelan. “Hm?”

“Kalau besar nanti…” Kadewa ragu sepersekian detik, lalu melanjutkan, “kamu mau jadi apa?”

Rea terdiam.

Pandangannya mengambang ke halaman depan yang remang, ke bayangan pagar, ke jalan kecil di depan rumah. Masa depannya masih terasa begitu jauh, kabur, dan belum punya bentuk.

“Apa kamu pengin jadi dokter forensik kayak Umma?” tanya Kadewa lagi, saat Rea tak kunjung menjawab.

Rea buru-buru menggeleng. “Nggak,” katanya jujur. “Aku penakut, Mas. Jadi dokter forensik kayak Umma nggak masuk daftar masa depanku.”

Kadewa terkekeh kecil.

Itu masuk akal sih.

Untuk ukuran gadis sekecil, selugu, dan seimut Rea jelas tidak cocok membedah misteri kematian seperti Umma Hasnah.

“Terus…” Kadewa menyandarkan sikunya di lutut, nadanya santai, “kamu mau jadi apa? Masinis kayak Baba?”

Rea kembali terdiam.

Kali ini lebih lama.

Ia menunduk, jari-jarinya saling mengait di pangkuan. Dulu sewaktu kecil, kalau ada yang menanyakan cita-citanya, jawabannya selalu sama. Ia ingin jadi masinis, seperti Baba Aditya.

Ia suka melihat Baba mengenakan seragamnya. Suka mendengar bunyi peluit panjang yang menggema sebelum kereta bergerak. Suka cerita-cerita tentang rel panjang yang menghubungkan kota ke kota.

Rea kecil sangat menyukai semua itu.

Itu cita-citanya saat berusia lima tahun.

Tapi sekarang…

Bayangan itu tidak lagi tinggal di kepalanya. Yang tersisa justru jadwal Baba yang sering tidak menentu, pulang larut, kadang pagi, dengan wajah lelah yang tak selalu sempat disembunyikan.

Perlahan, keinginannya memudar.

Bukan karena ia tak suka lagi. Tapi karena ia mulai mengerti harga yang harus dibayar.

“Aku…” Rea membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Kadewa tidak mendesak. Ia hanya menunggu, membiarkan keheningan itu bekerja.

Rea akhirnya mengangkat bahu kecil. “Belum tahu,” katanya pelan, hampir seperti mengaku salah. “Kayaknya… masih jauh.”

Kadewa tersenyum tipis. Bukan senyum mengejek. Tapi senyum seseorang yang mengerti.

“Gak apa-apa,” ucapnya ringan. “Nggak semua orang harus tahu masa depannya dari sekarang.”

Rea mengangguk. Lalu ia menoleh ke arah Kadewa. "Kalau Mas? Kalau gak jadi pengusaha kayak yang di mau Mas Panji, Mas mau jadi apa?" Ia membalik pertanyaan yang sama pada Kadewa.

Kadewa tidak langsung menjawab.

Ia tetap menatap ke depan, ke halaman yang diterangi lampu teras temaram. Garis rahangnya mengeras sedikit, seolah ada sesuatu yang sedang ia tahan agar tidak tumpah.

“Mas… mau jadi apa setelah lulus nanti?” ulang Rea pelan, nyaris takut pertanyaannya terlalu jauh.

Kadewa terkekeh kecil. Pendek. Hampa.

“Itu pertanyaan paling susah yang bisa kamu tanyain ke aku, Re.”

Rea terdiam, menunggu.

“Aku tuh…” Kadewa menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. “Dari kecil, semua orang udah sepakat aku mau jadi apa. Bahkan sebelum aku bisa milih.”

Ia melirik Rea sekilas. “Jadi kadang aku bingung… ini masih jawabanku, atau cuma jawaban yang aku hafalin terlalu lama.”

Rea mengernyit. “Emang jawabannya apa?”

Kadewa tersenyum miring. “Pewaris yang baik. Anak yang sukses. Adik yang nggak bikin malu keluarga.”

Rea menelan ludah.

Jawaban itu terdengar seperti daftar tugas, bukan mimpi.

“Mas nggak punya yang lain?” tanya Rea pelan.

Kadewa terdiam lagi. Kali ini lebih lama. Matanya naik menatap langit, seolah berharap menemukan jawaban di antara jutaan bintang-bintang.

“Ada,” katanya akhirnya. “Dulu.”

Rea spontan menoleh. “Dulu?”

“Iya,” Kadewa mengangguk kecil. “Aku pengin hidup biasa. Sekolah tanpa beban nama besar. Kerja karena suka, bukan karena harus. Punya waktu buat diri sendiri.”

Ia tersenyum samar, lalu lanjut bertanya. “Kedengerannya receh, ya, Re?”

Rea buru-buru menggeleng. “Nggak kok, Mas.”

Ia melirik Kadewa sesaat sebelum membuka mulutnya lagi. “Menurutku mimpi Mas buat jadi biasa itu keren, kok. Malah susah banget dilakuin sekarang.”

Kadewa menoleh cepat. “Kok susah?”

“Ya iya. Orang-orang kan lomba-lomba pengen jadi luar biasa. Mas malah pengen jadi biasa. Itu artinya Mas tahu apa yang Mas mau, cuma Mas lagi dipinjem dulu hidupnya sama Mas Panji.”

Kadewa tertawa lepas kali ini. Benar-benar tawa yang tulus, tanpa beban. “Hidupku dipinjem, ya? Lucu juga cara pikir kamu, Cil.”

Setelah mengatakan itu Kadewa tersenyum kecil lagi. Kali ini lebih hangat. Tidak ada nada menggoda. Tidak ada topeng playboy yang biasa ia pakai.

Kadewa lalu bangkit berdiri, meraih helmnya dan memakainya kembali.

“Makasih ya, Re. Kamu ternyata pendengar yang lebih baik daripada Pram yang taunya cuma main game sama balap motor.”

“E-eh! Mas mau pergi?” Rea ikut berdiri refleks. “Nggak mau nunggu Mas Pram dulu?”

Kadewa sudah menuntun motornya sedikit ke depan, lalu menaikinya. Mesin motor dinyalakan, suaranya menggeram pelan, tapi ia belum juga beranjak. Ia menoleh ke arah Rea dan menggeleng pelan.

“Nggak deh,” katanya. “Takut kemalaman. Takut bikin Ibu khawatir.”

Rea mengangguk kecil, meski ada rasa kecewa tipis yang tak sempat ia pahami. “Iya… Mas hati-hati.”

Kadewa mengangkat satu tangannya sebentar, melambai, gestur singkat, nyaris malas, lalu motor trail itu melaju pergi, menyisakan suara knalpot yang perlahan menghilang di ujung jalan.

Rea masih berdiri di teras cukup lama setelah itu.

Angin malam menyentuh wajahnya, membawa sisa-sisa hangat dari percakapan barusan. Kata-kata Kadewa berputar-putar di kepalanya, bercampur dengan tatapan lelah yang tadi sempat ia lihat.

Ia menekan dadanya pelan, menatap jalan kosong beberapa detik lebih lama, sampai yakin Kadewa benar-benar sudah pergi.

Malam kembali sunyi.

Tapi kali ini, sunyinya tidak mencekik.

Rea melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah pelan setelah menutup pintu pagar lebih dulu, lalu menutup pintu rumah tanpa suara. Di kamarnya, buku-buku pelajaran masih terbuka di atas meja belajar dan ranjangnya, catatan biologi belum ia sentuh lagi.

Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke depan.

Entah sejak kapan, kehadiran Kadewa mulai meninggalkan jejak yang sulit dihapus. Bukan dalam bentuk janji. Bukan juga harapan.

Hanya perasaan hangat yang tertinggal terlalu lama di dada.

Rea meraih buku diary nya dari laci meja belajar. Ia tidak menyalakan lampu utama, hanya lampu meja yang cahayanya kuning temaram. Tangannya sedikit gemetar saat mulai menorehkan tinta, seolah kata-kata yang ia dengar tadi terlalu berat untuk disimpan sendirian di dalam kepala.

Dear Diary,

Malam ini Mas Paus datang, tapi dia nggak kayak biasanya. Wajahnya kelihatan capek banget, kayak orang yang habis lari jauh tapi nggak sampai-sampai. Baru kali ini aku sadar, ternyata punya mobil bagus dan rumah mewah itu nggak bikin dia bahagia kalau dia nggak boleh milih jalannya sendiri.

Dia bilang, di sini dia bisa jadi 'Kadewa yang biasa'.

Aku sedih dengarnya. Sesuatu yang buatku gampang banget kayak main atau tidur siang, buat dia itu kemewahan yang nggak bisa dia beli pakai uang. Dia dipaksa jadi hebat setiap hari, sampai dia lupa gimana rasanya jadi remaja biasa.

Tadi aku bilang ke dia "Gak apa-apa kok nggak jadi hebat sebentar."

Semoga dia beneran denger. Aku nggak butuh dia jadi pewaris kaya atau orang sukses. Aku cuma pengen dia bisa napas lega. Mas Kadewa, kalau dunia ini terlalu berisik, rumahku selalu buka buat kamu duduk sebentar.

P.S: Kenapa dia harus manggil aku 'Cil' sih? Padahal aku kan udah kelas 3 SMP! Tapi... ya udahlah. Yang penting dia udah nggak kelihatan sesek sesudah ngobrol tadi.

Rea menutup bukunya pelan. Ia mematikan lampu meja, lalu bergelung di balik selimut, memejamkan matanya perlahan melukapan hafalan pelajarannya yang tertunda karena kedatangan Kadewa.

Malam itu, Rea tertidur dengan satu doa yang sederhana, doa untuk Kadewa.

Semoga kelak Kadewa menemukan samudra yang benar-benar diinginkannya, meski itu artinya Rea harus melihatnya berlayar menjauh.

1
Esti 523
bha ha ha ha ya ampun aq baca sambil guling2 ngakak bgt
Ghiffari Zaka
kok aq senyum2 sendiri ya bacanya??🤭🤭🤭 laaaah AQ jadi baper malahan,duh mas paus gombalnya buat AQ ikut cengar cengir padahal siapa. yg di gombali 🤭🤭🤭.
ah pokoknya author is the best lah👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
mey
makasih thor untuk upnya🥰🥰 I❤️U sekebon mawar🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Yani Sri
kopi untukmu kakak....
Lili Susanti
nyambung banget syg.....senyum2 sendiri dr awal sampai akhir baca nya ....yg rajin update ya..ku ksh gift nuch 😍
Niken Dwi Handayani
masih nyambung kok ...ini malahan lagi masa pdkt mas Paus 🤭🤭. Belum masuk yang tegang-tegang nich cerita nya
syora
cukup fokus ke si paus sm plakton
another story keep in save folder🤭
semangat thor gas pol
buat tmn mnyambut ramadhan
syora
nyambung
jgn coba" mlarikan diri xa 🤣
mey
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Esti 523
aq vote 1 ya ka syemangaddd
Esti 523
bagus bgt ceritanya,gak typo2
Esti 523
sekian purnama baru ketemu lg dgn novel yg reel bgt,gak typo2 good luc otor,syemangst
Chika cha: ada typo juga kak, tapi sebelum upload di cek dulu baru upload itu pun masih ada satu dua yang gak keliatan🤭
total 1 replies
falea sezi
jangan murahan re di gombalin gt aja km. uda basah yo heran deh jual. mahal donk di sakitin berkali kali. kok ttep oon meski dia g tau perasaan mu tp. dia penjahat kelamin
falea sezi
murahan
falea sezi
ini cerita nya emank bertele tele kah dr SMP dih lama amat thor
falea sezi
layu sebelum berkembang ya rea hiksss
falea sezi
sabar rea moga nanti ada cogan yg baik setia ya.. lupain cinta pertama yg jatuh pd orang yg salah
falea sezi
kok lucu gmbarnya
Nia nurhayati
dasar paus raja goombll kmu kadewaa
Ghiffari Zaka
di bab ini AQ benar2 gak bs kan men Thor,gak bs ngomong apa2 lagi,blenk AQ Thor karena fokus dan menghayati kata demi kata yg author tulis sehingga AQ merasa kayak bukan baca tp melihat suatu adegan di depan mata,sepertinya AQ ada di dlm situ buat nonton live,pokoknya cuman bisa bilang LUAR BIASA 👍👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!