Badanya cungkring, tingginya seratus tujuh puluh centi, rambutnya cepak tapi selalu ia tutupi dengan topi pet warna abu abu kesayangannya, gayanya santai dan kalem, tidak suka keributan dan selalu akrab dengan siapa saja bahkan orang yang baru ia kenal sekalipun.
Peno waluyo namanya, pemuda usia dua puluh tahun yang tinggal didesa rengginang kecamatan tumpi kabupaten wajik bersama kedua orang tuanya dan satu adik perempuan, bapaknya bernama Waluyo dan ibu bernama Murni sedangkan adiknya uang berusia sepuluh tahun bernama Peni.
Dia punya tiga sahabat bernama Maman, Dimin dan Eko, mereka satu umuran dan rumah mereka masih satu RT, dari kecil memang sudah terbiasa bersama sampai kini mereka beranjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Setianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 15
Set ketiga berjalan cukup singkat, Peno tiba tiba seperti mempunyai otak ganda, pak Wardi pun heran dan bahkan menuduh Peno sengaja membuat permainan menjadi tiga set.
Kini tinggal menunggu partai final yang akan dilaksanakan nanti setelah maghrib, Peno pun menghampiri teman temannya dan ternyata sudah ada pak Supri dan pak Basuki disana.
"kita sholat magrib dan makan dulu No!" ajak pak Supri.
"ya ayo, kita mau makan apa pak?" jawab Peno dan balik bertanya.
"makan nasi goreng, di depan stadion ada nasi goreng yang enak dan porsinya banyak!" ucap pak Basuki.
Lalu berenam jalan kaki menuju depan stadion untuk mencari makanan, sesampainya disana ternyata cukup ramai, peno minta ijin untuk kemasjid dulu.
"saya kemasjid dulu pak, tolong dipesankan satu porsi sedikit pedes!" ucap Peno lalu melangkah menuju masjid yang terletak.diseberang jalan.
Setelah sholat Peno langsung bergabung bersama yang lain makan dikedai nasi goreng depan stadion, "ini pesananmu No!" ucap pak Basuki menyodorkan sepiring nasi goreng kehadapan Peno.
Semua makan dengan lahap tanpa bersuara, setelah selesai makan Peno sendirian berjalan kedalam GOR, sedangkan yang lain berjalan kemasjid untuk sholat.
Peno duduk lesehan dilantai pelataran GOR dekat pintu masuk, sambil merokok dan menikmati segelas kopi yang baru saja ia beli, ia meraba raba liontin bandul kalungnya yang diberi oleh mbah Patma, ia merasa heran dan juga kagum.
"ini aneh, aku kaya punya banyak strategi main catur diotaku setelah tadi dadaku merasa dingin!" gumam Peno sambil membolak balik liontin itu.
"boleh aku ikut duduk?" tanya seseorang yang berdiri dengan jarak satu meter.didepan Peno.
Peno belum menjawab, wajahnya terangkat mencoba melihat siapa orang yang berkata didepannya itu.
Dilihatnya seorang pemuda dengan pakaian rapih , kemeja kotak kotak lengan pendek yang dimasukan kedalam celana jeans warna biru, sepatu hitam mengkilap, kulit putih seperti orang yang tak pernah terkena sinar matahari, kaca mata sedikit tebal dan berwajah seperti etnis tionghua.
"silahkan saja, tapi disini tak ada kursi!" jawab Peno sekenanya, pemuda itu pun ikut duduk lesehan disamping peno.
"kebalkan, namaku Mikel, aku lawanmu nanti difinal!" ucap Mikel memperkenalkan diri pada Peno sambil mengulurkan tangannya.
"aku Peno waluyo!" ucap Peno sambil menjabat tangan Mikel.
"Peno, apa tujuanmu ikut turnamen ini?" tanya Mikel tanpa basa basi bertanya pada Peno.
"tujuanya ya menang, dapat hadiah!" jawab Peno singkat, Mikel tersenyum mendengar jawaban Peno.
"bagaimana kalau aku kasih kamu uang sebanyak uang hadiah tapi nanti aku yang menang!?" ucap Mikel sambil menatap Peno.
Peno tidak langsung menjawab, matanya seketika tajam melihat kemata Mikel, dan ia mengambil nafas dalam," percuma aku dapat uang hadiah tapi tidak ada sportifitas didalamnya!" jawab Peno santai.
"bagaimana kalau dua kali lipat dari hadiah?" ucap Mikel belum menyerah masih meminta Peno untuk mengalah.
"he he he......., maaf, kita buktikan saja nanti siapa yang juara dengan cara apa adanya!" jawab Peno sambil cengar cengir.
Mikel merasa jengkel, sebab ambisinya untuk maju ketingkat propinsi masih harus mengalahkan Peno, tahun lalu ia juga gagal karena kalah dari lawannya, kali ini ia tak ingin gagal dengan cara yang curang, yaitu menyogok Peno agar mengalah, tapi sayangnya Peno tak tertarik dengan uang yang ia tawarkan.
Mikel bangkit meninggalkan Peno dengan rasa sedikit jengkel, kali ini ambisinya untuk masuk tingkat propinsi harus terhalang lagi.
Peno dengan santai masih duduk dan menghisap rokoknya memandangi tubuh Mikel yang menjauh, tak lama kemudian teman temannya datang bersama pak Supri dan pak Basuki.
Panitia memberi pengumuman kepada kedua finalis untuk masuk dan mempersiapkan diri dimeja yang sudah disediakan, para penonton sibuk mencari tempat duduk ditribun agar nyaman melihat layar monitor yang menampilkan gambar bidak catur.
Peno berjalan kearah meja dengan santainya, tangan kananya menggenggam botol air mineral yang tadi dibelikan pak Basuki, dimeja Mikel sudah duduk menunggu dengan tatapan tak bersahabat.
Peno duduk dengan perlahan, kedua tangannya ia letakan diatas meja, tatapanya dingin namun air wajahnya tenang, bibirnya sedikit mengukir senyum.
Panitia membacakan aturan sekali lagi dan ketika bunyi bel terdengar pemainan segera dimulai, Peno yang memegang bidak putuh jalan duluan, Mikel pun langsung mengikuti menjalankan bidaknya.
Dan entah bagaimana ceritanya Peno menjalankan bidaknya begitu cepat, setiap kali Mikel selesai meletakan bidaknya dan memencet tombol Peno langsung bergerak menjalankan bidaknya juga dan langsung memencet tombol, bagi para penonton yang melihat seperti tidak berfikir sama sekali, tapi bagi Peno ia merasa selalu bisa menebak langkah Mikel selanjutnya.
"ini gila, Peno jalannya cepat banget!" ucap pak Basuki yang melihat pergerakan bidak dari layar monitor.
"iya, apa ini kemampuan Peno yang sebenarnya ya, perasaan pas main denganku ia jalannya biasa saja!" tambah pak Supri.
"sepertinya Peno selalu bisa menebak kemana musuhnya akan melangkah!" kata Dadang menimpali.
"semoga saja Peno tidak sedang bermain ngawur!" kata Maman.
dihadapan Peno Mikel juga bergumam dalam hati, " gila si Peno, jalanya cepat banget, aku aja belum sempat mikir sudah diminta jalan lagi!" katanya dalam hati.
Dan dalam waktu kurang dari empat puluh lima menit Peno berhasil mengalahkan Mikel di set pertama, "break, lima belas menit istirahat, kita lanjutkan set kedua!" ucap panitia.
Peno dan Mikel berdiri tanpa suara meninggalkan meja permainan, Peno melangkah menuju teman temannya berada, sedangkan Mikel melangkah ketempat dimana timnya berada.
"No, kamu mainnya sedang tidak ngawur kan?" tanya Dimin sambil menyodorkan segelas kopi pada Peno.
"ya engga lah Min, buktinya aku menang!" jawab Peno singkat sambil menyeruput kopinya.
"memang lawannya segampang itu No, kok kamu jalanya cepat banget?" tanya pak Supri yang duduk disamping Peno.
"gampang pak, dia sebenarnya tidak jago, tapi hanya menang uang saja, aku yakin dari babak penyisihan dia selalu menyogok lawannya untuk mengalah!" jawab Peno dengan sedikit berbisik.
"menyogok!?" kata pak Supri bingung.
"iya pak, tadi saat sedang menunggu kalian didepan si Mikel itu mendatangiku dan menawarkan uang dua kali lipat dari hadiah asalkan aku mengalah dalam final ini!" kata Peno menceritakan kejadian saat Mikel datang mencoba menyogoknya agar kalah.
"wah, wah, parah juga ya, hajar saja No, jangan sampai tiga set!" ucap pak Supri geram.
"kenapa ga kamu terima No, kan lumayan itu!?" ucap Eko.
"tak!"
"aduhhhh, kenapa aku dijitak Man!?" kata Eko lagi sambil mengelus kepalanya yang sakit akibat jitakan Maman.
"kamu itu Ek, yang dipikir cuma duit, ini soal harga diri dan sportifitas!" kata Maman.
"he he he...., maap, kan cuma bercanda!" ucap Eko sambil nyengir.
Lima belas menit berlalu, panitia memanggil kedua finalis untuk kembali kemeja, Peno dengan langkah santainya menuju meja dan langsung duduk tanpa ekspresi apa pun, Mikel pun duduk dengan tubuh yang tegang.