NovelToon NovelToon
Rajawali Sakti Dari Pesisir Selatan

Rajawali Sakti Dari Pesisir Selatan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Dikelilingi wanita cantik / Identitas Tersembunyi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:12.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ebez

Jenar Karana harus mengejar para pembunuh yang telah mencelakai guru nya, Resi Mpu Tagwas dan membawa lari Mustika Naga Api milik Padepokan Pesisir Selatan. Menurut Resi Mpu Tidu, di kotak kayu yang menjadi tempat Mustika Naga Api ini tersimpan mengenai rahasia tentang dirinya.



Berbekal sepasang pedang pemberian eyang gurunya Maharesi Siwanata yang disebut sebagai Pedang Taring Naga dan Pedang Awan Merah serta ilmu kanuragan yang tinggi, Jenar Karana memburu gerombolan pembunuh itu yang konon katanya berasal dari Kerajaan Pajajaran.



Berhasilkah Jenar Karana melakukan tugasnya untuk merebut kembali Mustika Naga Api yang juga menyimpan rahasia jati diri nya? Temukan jawabannya dalam kisah RAJAWALI SAKTI DARI PESISIR SELATAN, tetap di Noveltoon kesayangan kita semua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ebez, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alas Prapag

Di tengah-tengah kediaman Senopati Wanaraja, semua orang serentak menghentikan pembicaraan saat Jenar Karana dan Si Kundu masuk. Semua mata menatap ke arah mereka hingga keduanya duduk bersila di ubin pendopo yang sudah dilapisi tikar daun pandan.

Tak hanya Senopati Wanaraja, tapi juga Nyai Ratnasari juga turut serta dalam perkumpulan itu. Selain mereka, Wanapati dan Gelarsena serta Dewi Widowati bersama Limbu Jati duduk melingkar di tengah-tengah pendapa itu.

"Kau tahu apa maksud ku memanggil mu kesini, Jenar Karana? ", tanya Senopati Wanaraja membuka pembicaraan.

" Mohon maaf, Gusti Senopati. Hamba kurang cerdas jadi mohon pencerahan nya", jawab Jenar Karana sembari menghormat.

Hemmmmmmmmmm...

Helaan nafas panjang terdengar dari mulut Senopati Wanaraja. Punggawa Kadipaten Bhagawanta ini nampak menerawang jauh, menatap langit pagi yang masih dipenuhi oleh rentetan awan yang berarak rapi.

"Sebentar lagi kalian akan berangkat ke Galuh Pakuan. Aku berharap kalian semua bisa pulang dari sana dengan selamat. Perjalanan panjang kalian sangat berbahaya.

Untuk itu, aku titipkan keselamatan putra ku Wanapati pada kalian bertiga terutama kau Jenar Karana. Aku tahu diantara kalian bertiga, kau memiliki ilmu kanuragan yang jauh lebih tinggi dari putra ku ini. Jadi tolong jaga dia sebaik-baiknya ", titah Senopati Wanaraja yang membuat Limbu Jati dan Si Kundu saling pandang.

"Darimana Gusti Senopati tahu bahwa ilmu beladiri Si Jenar ini yang paling tinggi dibandingkan dengan kami? ", tanya Limbu Jati tak bisa menutupi rasa penasarannya.

" Hehehehe...

Tewasnya empat dari Lima Setan Gembel Gunung Asem di jalan sebelah utara sana itulah bukti nyata kehebatan saudara seperguruan mu itu ", tegas Senopati Wanaraja sambil terkekeh.

Tentu saja jawaban Senopati Wanaraja mengejutkan semua orang yang ada di tempat itu. Semuanya langsung memandang takjub pada Jenar Karana yang hanya diam tak bersuara sedikitpun.

Tadi malam Senopati Wanaraja memimpin pasukan mengejar kaburnya kelompok pembunuh bayaran Lima Setan Gembel Gunung Asem. Dia memerintahkan para prajurit Kadipaten Bhagawanta menyebar ke seluruh penjuru kota. Dia sendiri bergerak ke arah utara hingga tapal batas kota. Saat ia berbalik karena tidak menemukan jejak pelarian Lima Setan Gembel Gunung Asem, seorang bawahannya Juru Wugu melaporkan bahwa beberapa orang prajurit menemukan keberadaan empat dari lima orang yang mereka kejar sudah terbunuh di utara kediamannya.

Senopati Wanaraja pun bergegas menuju ke tempat kejadian dan mendapati bahwa empat dari Lima Setan Gembel Gunung Asem memang sudah menjadi mayat. Senopati Wanaraja pun bergegas memeriksa mayat-mayat itu dan menemukan bahwa pelaku pembunuhan mereka adalah satu orang. Dan satu hal yang paling ia kenali dari pelaku pembunuhan ini adalah ia menggunakan cakar tangan, terutama pada mayat Dangiran.

Usai memeriksa mayat mayat anggota Lima Setan Gembel Gunung Asem itu, Senopati Wanaraja pun segera pulang karena sudah larut malam. Rencananya esok pagi ia baru melaporkan penemuannya.

Namun saat memasuki kediamannya, ia melihat Jenar Karana sedang membersihkan noda darah pada pakaiannya di belakang rumah dari balik daun pintu dapur. Ia pun langsung menghubungkannya kejadian pembunuhan Lima Setan Gembel Gunung Asem. Terlebih lagi ia tahu bahwa jurus andalan murid murid Padepokan Pesisir Selatan adalah Ilmu Cakar Rajawali Pesisir Selatan. Ia pun akhirnya menemukan bahwa pembunuh empat anggota Lima Setan Gembel Gunung Asem adalah Jenar Karana.

Itu dikuatkan oleh kedatangan Si Kundu dan Limbu Jati yang sempoyongan menenggak minuman keras pada tengah malam setelah keduanya menonton pertunjukan kesenian di kediaman saudagar kaya raya. Jelas, Jenar Karana menghabisi mereka berempat hanya seorang diri. Bukannya takut, senyuman lebar langsung terukir di wajah Senopati Wanaraja sebelum ia beristirahat malam hari itu.

"Mohon ampun Gusti Senopati Wanaraja..

Bukan maksud hamba untuk menyembunyikan nya. Jika itu menjadi sebuah masalah, hamba bersedia untuk menerima hukuman dari Gusti Senopati", ucap Jenar Karana sambil menghormat.

" Eh eehh siapa juga yang mau menghukum mu Cah Bagus?! Hehehehe...

Tidak, tidak ada yang mau menghukum mu. Malah aku berterimakasih pada mu karena sudah melenyapkan salah satu momok paling ditakuti oleh semua penduduk Kadipaten Bhagawanta ini. Nanti aku minta kan hadiah besar untuk mu pada Gusti Adipati Dyah Saladu", sahut Senopati Wanaraja segera. Wajah Jenar Karana langsung terlihat lega.

"Hamba hanya melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang warga Kadipaten Bhagawanta, Gusti Senopati. Itu sudah menjadi kewajiban bagi setiap penduduk Kadipaten Bhagawanta untuk ikut menjaga keamanan baik di masyarakat ataupun ibukotanya", jawab Jenar Karana kemudian.

"Andai semua warga Bhagawanta ini berpikiran sama seperti mu, aku yakin keamanan dan ketertiban akan selalu terjaga disini.

Satu hal yang harus kalian semua ketahui, Rakryan Pu Tungu adalah orang yang licik dan pendendam. Selama perjalanan usahakan jangan membuat masalah dengan nya. Camkan baik-baik itu.. "

"Sendiko dawuh Gusti Senopati.. ", jawab semua orang yang ada di tempat itu mendengar petuah Senopati Wanaraja.

Usai persiapan rampung di lakukan, mereka berlima langsung menuju ke arah Kepatihan Bhagawanta. Disana para anggota pengawal Dyah Rangga sudah berkumpul yang terdiri dari 5 orang kelompok Wanapati, 5 orang kelompok Bahula dan 10 orang prajurit pilihan Rakryan Pu Tungu. Begitu semuanya sudah ada, Rakryan Pu Tungu pun segera memimpin mereka ke arah Keputran Istana Bhagawanta dimana sebuah kereta kuda dan 20 ekor kuda sudah menunggu kedatangan mereka.

"Ananda pamit Kanjeng Romo. Mohon doa restu nya", ucap Pangeran Dyah Rangga sambil berjongkok dan menyembah pada Adipati Dyah Saladu.

" Berhati-hatilah, putra ku...

Jaga dirimu baik-baik dan jaga nama Kadipaten Bhagawanta di negeri orang ", petuah Adipati Dyah Saladu sambil menepuk-nepuk pundak putra nya ini.

Setelah berpamitan, Dyah Rangga segera menaiki kereta kuda nya dan rombongan pelamar dari Kadipaten Bhagawanta inipun segera bergerak meninggalkan istana.

Melintasi jalan raya yang menjadi penghubung antar daerah-daerah yang masih menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Medang, rombongan itu terus bergerak ke arah barat daya. Menjelang senja, mereka terpaksa harus bermalam di Alas Prapag yang merupakan perbatasan wilayah antara Kadipaten Bhagawanta dengan Kadipaten Paguhan.

Para pengawal pribadi Dyah Rangga berbagi tugas. Beberapa menyiapkan kayu kering untuk membuat api unggun, lainnya menyiapkan tempat bermalam dan sebagian lagi menata makan malam.

Matahari menghilang di cakrawala barat, menyisakan semburat jingga di langit. Suasana dingin mulai menyelimuti kawasan Alas Prapag dengan kegelapan yang sepi.

Saat ini, para pengawal pribadi Dyah Rangga ada yang mulai tidur setelah letih berkuda seharian. Sebagian lagi mendapatkan giliran jaga sesuai dengan pengaturan Rakryan Pu Tungu. Meskipun bicara nya sedikit gagap, tapi nyatanya dia cukup pintar mengatur anak buahnya.

Wanapati dan kelompok nya mendapatkan jatah jaga malam paling awal. Meskipun Gelarsena dan Si Kundu menggerutu karena ingin cepat beristirahat, mereka tetap melakukannya dengan baik.

Api berkobar-kobar, melalap tumpukan kayu kering dan menyebarkan panas ke sekelilingnya. Dyah Rangga yang masih belum tidur, asyik berbincang dengan Wanapati dan Rakryan Pu Tungu. Tapi perbincangan mereka langsung terhenti kala Jenar Karana bangkit dari tempat duduk nya dan bersiap untuk bertarung.

"Ada apa Jenar? Apa yang membuat mu bersikap seperti itu? ", tanya Wanapati sambil bangkit dari tempat duduk nya diikuti oleh Dyah Rangga dan Rakryan Pu Tungu.

" Pelankan suara mu, Gusti Wanapati.

Ada yang sedang mendekat kemari.... ", jawab Jenar Karana yang membuat mereka semua langsung terdiam sejenak.

Dari arah utara, di tengah kegelapan malam yang di ramaikan oleh suara jangkrik dan belalang, terdengar suara ranting kering patah terinjak sesuatu. Suara itu meskipun sangat pelan tapi terdengar jelas di telinga semua orang yang ada.

Shhrriiiiiiiiiinnnnggggggg!!

Limbu Jati menarik pedang nya perlahan begitu juga dengan Gelarsena dan Si Kundu. Sedangkan tangan Rakryan Pu Tungu menggenggam gagang kerisnya erat-erat dengan sedikit gemetaran. Dia yang penakut langsung saja berteriak,

"Hei, siapapun yang ada disana cepat keluar!!!

Jangan membuat orang penasaran..! "

1
Batsa Pamungkas Surya
mksh atas sajian ceritanya kang Ebez
👍
mf lom bs ksih kopi🙏
Idrus Salam
Apapun yang terjadi... akan lebih baik jika disegerakan up kembali 😄
Hendra Yana
lanjut
Tamburelo
Di daerah kita mah gak ada serigala kang. Yg ada asu....asu ajag.🤣🙏
Mujib
/Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
😅😅😅
Mujib
👀👀👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!