Mereka bersama hanya sebentar, namun ingatan tentang sang mantan selalu memenuhi pikirannya, bahkan sosok mantan mampu menembus alam mimpi dengan membawa kenangan-kenangan manis ketika masa-masa sekolah dan saat mereka menjalin kasih.
Pie meneruskan hidupnya dengan teror mimpi dari sang kekasih. Apakah Pie masih mencintai sang mantan? Atau hati Pie memang hanya terpaku pada Kim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gengsi
"Kenapa? Kau tidak bisa sabar, Pie?"
Jelas dari raut wajah Ato yang tampak lelah memperlihatkan kekesalan.
Pie menatap kekasihnya dengan cemberut.
"Kau selalu memintaku bersabar, sampai kapan? Setidaknya kau berkenalan dulu dengan orang tuaku."
"Aku sibuk, Pie. Tolong mengerti aku."
"Sesibuknya dirimu, tapi bisa meluangkan waktu untuk bertemu denganku?"
Ato meremas sedikit kuat pada bahu Pie.
"Sakit!" Pie menyingkirkan tangan Ato dari bahunya.
"Maaf, aku lelah. Ayo kita pulang saja."
Pie mengusap kasar air matanya yang baru keluar sedikit.
"Ayo kita putus saja."
Ato berpaling menatap Pie tak percaya.
"Apa yang baru saja kau katakan?"
"Ayo kita putus." Pie menatap Ato dengan mata yang memanas.
"Tidak. Tidak boleh." Ato menggeleng lemah.
"Kau harus sabar sedikit lagi, aku akan menemui orang tuamu." Pie menghempaskan pegangan tangan Ato.
"Tidak perlu. Aku sudah lelah terus bersabar, aku menyerah." Pie beranjak meninggalkan Ato.
"Pie! Jangan. Aku tidak mau kita berakhir."
"Maka, temui orang tuaku!"
Ato diam, ia tak bisa mengabulkan permintaan Pie.
"Jika benar kau serius, kau pasti mau bertemu dengan mereka."
"Aku mau, tapi na-"
"Sekarang!"
Ato menggeleng pelan.
"Nanti, sayang."
Pie mengangguk.
"Ya, aku menyerah dengan hubungan kita."
Ato ingin memegang tangan Pie namun langsung ditepis.
Pie langsung tancap gas untuk melajukan motornya meninggalkan Ato yang masih berdiri mematung menatap kepergian Pie.
"Aku sedang berjuang meminta restu ibuku, Pie. Aku tak ingin kau kesulitan di kemudian hari." Ato bergumam sedih. Ia tak tahu harus bagaimana membujuk kekasihnya.
"Kenapa kau seharian ini berwajah muram? Rasanya area dapur diselimuti oleh kabut hitam." Jemmy menggeleng tak percaya menatap Pie yang hilang semangat.
"Jem, apa dia benar tak serius?" bola mata yang biasanya fokus, kini seakan menerawang jauh.
Jemmy paham, Pie butuh teman.
"Pie, bagaimana perasaanmu?"
"Perasaanku? Antara sayang dan kesal."
"Kau sudah tau keinginan hatimu?"
Pie mengangguk pelan.
"Aku ingin berakhir atau menikah."
"Lalu kau mendapatkan apa?"
"Ketidakpastian."
"Lalu?"
Pie terdiam sejenak sebelum menjawab.
"La-lu?"
"Pie, sudah kukatakan, Pria serius akan segera bertindak."
"Jadi, aku harus berakhir, ya?"
"Tidak apa-apa jika kau ingin menangis. Aku akan menemanimu sembari menunggu kue matang."
"Jem, rasanya aku tak sanggup berakhir dengannya. Tapi untuk bertahan pun rasanya aku seperti dipermainkan."
"Kau sudah bicara padanya tentang ini?"
Pie mengangguk.
"Lalu apa yang dikatakannya?"
"Dia ingin terus bersama dan memintaku bersabar sedikit lagi. Jem, permintaanku hanya sepele tapi dia tak bisa menyanggupinya."
"Pie, mungkin kau belum ditakdirkan untuk menikah di usiamu yang masih muda. Maaf jika perkataanku menyinggungmu."
Ucapan Jemmy, seakan menjadi angin segar yang terus terngiang di otaknya. Pie membenarkan apa yang menimpanya, bisa saja dirinya belum benar-benar siap menikah.
Sudah dua hari, Pie tak berkomunikasi dengan Ato, dirinya begitu gengsi untuk kembali pada Ato dan pria itu juga tak lagi membujuknya seperti sebelum-sebelumnya.
Awalnya Pie merasa berat jika hubungannya berakhir begitu saja, namun Pie juga malu untuk memperbaikinya.
"Pie, kau besok bisa libur."
"Kenapa, Bos?"
"Aku ingin berlibur ke Bali, toko akan tutup hingga waktu yang tak ditentukan. Kalian semua libur dan beristirahat dulu."
"Wah, semoga perjalanan Bos lancar dan selamat sampai tujuan dan kembali ke rumah."
"Oke, oke. Terima kasih atas doamu, Pie. Sekarang, cepat bereskan semua peralatan. Kita tutup lebih awal.
"Baik, Bos."
Secara cepat Pie, Rum dan juga Jemmy yang turun ke dapur membantu dua rekan kerjanya membereskan kekacauan.
"Akhirnya selesai juga." Jemmy mengurut pinggangnya yang terasa encok.
"Inilah aku yang kurang suka di dapur. Sering terasa lebih cepat lelah."
"Tak apa, semoga suamimu bisa membayar pembantu."
"Aamiin paling kencang, Rum."
Rum meringis mendengar jawaban Jemmy yang sangat bersemangat.
"Kau bisa pulang sendiri, kan?"
"Aku ingin dian-" Jemmy teringat satu hal.
Rum menyeringai kecil.
"Suamiku tidak akan suka istrinya yang ia manja-manja di rumah ternyata tukang ojek saat di luar."
Jemmy mencebik melirik Rum yang tersenyum puas.
"Beruntungnya Pie berbeda arah denganku."
Jemmy menatap Pie yang sibuk mengenakan jaket, helm dan bersiap keluar dari toko.
"Astaga, kau langsung pulang?" Rum menegur Pie yang sudah siap dengan alat tempurnya.
"Ya? Apa masih ada pekerjaan yang belum selesai?"
"Tidak. Maksudku apa kau tidak duduk sejenak beristirahat?"
"Tidak, aku akan beristirahat di rumah saja. Aku pulang duluan."
"Hati-hati, Pie."
"Pie, sepertinya akan turun hujan, kau bawa jas hujan.
"Ya, aku membawanya."
Mereka bertiga saling melambaikan tangan mengiringi perpisahan pada siang yang condong ke sore itu.
Pie mengendarai motornya dengan pelan, ia sembari melihat-lihat beberapa stand jajanan yang berjejer di pinggir jalan. Ia akan membeli salah satunya untuk ia bawa ke rumah.
"Sepertinya Itu enak." Pie berbelok di stand jajanan yang menjual menu salah satu negara yang sedang viral di daerahnya. Tampak beberapa pembeli sedang mengantre. Pie segera memesan dan menunggu di atas motor maticnya.
Ia mengusir kebosanan dengan membuka facebook yang sudah beberapa hari tak ia jenguk.
Tak sengaja akun facebook Kim lewat di berandanya, mantannya itu beberapa jam yang lalu menggunggah sebuah foto dirinya yang sedang beraktifitas. Pie iseng mencoba membuka album foto di akun Kim, ia masih mendapati foto dirinya di tumpukan foto-foto milik Kim. Ia merasa sedikit canggung, Pie mengirimi pesan pada Kim untuk menghapus foto dirinya dari album foto.
"Tolong hapus fotoku."
Pie menunggu balasan dari Kim yang aktif setengah jam lalu. Ia berharap Kim segera aktif dan menghapus fotonya.
"Mbak, itu dompetnya bukan?" Colekan di bahu membuat Pie menoleh. Pria bertubuh tegap dan wangi berdiri di belakangnya sembari menunjuk dompet berwarna biru di tanah
"Oh, astaga. Iya benar, Mas. Terima kasih." Pie segera mengambil dompetnya yang terjatuh, pria itu mengangguk lalu menuju stand minuman kopi yang ada di sebelah.
Alis tebal, manik hitam yang tajam serta rahang yang tegas membuat Pie berkali-kali mencuri pandang.
"Astaga, murahan sekali mataku." Pie tersadar dari aksinya yang senonoh, ia menggeleng cepat lalu fokus mengantre.
Tiba giliran Pie yang membayar pesananya.
"Terima kasih, kakak."
"Ya."
Pie mengecek sebentar pesanannya lalu menuju motor maticnya yang terparkir. Sekali lagi, Pie melirik ke arah Pria yang masih mengantre, terlihat sedang sibuk dengan ponselnya.
"Ganteng." gumam Pie sebelum melajukan motornya.
"Mama mana, Yah?" Pie masuk setelah melepas sepatu dan menaruhnya di rak di sisi pintu depan.
"Di dapur. Kenapa sudah pulang?" Ayah heran melihat Pie yang sudah pulang sebelum pukul 5 sore.
"Tutup lebih awal. Bos Mel ingin berlibur."
Pie menghampiri Mama yang sedang mencuci piring di dapur.
"Ma? lagi ngapain?"
"Pie? Kau sudah pulang?"
"Ya. Pulang lebih awal, Bos Mel ingin persiapan berlibur besok."
"Jadi besok kau tidak bekerja?"
"Iya, Ma."
Pie menaruh satu kantung plastik ke atas meja. Mama melihat hal itu.
"Apa itu?"
"Kebab. Mama mau? Aku beli tiga untuk aku, ayah, dan Mama."
Pie membuka satu bungkus miliknya lalu melahapnya.
"Kau makan saja, Mama tidak suka makanan seperti itu."
Pie hanya mengangguk, mulutnya penuh dengan makanan.