Namanya Sutarjo, biasa dipanggil Arjo.
Dulu tukang urus kuda di kadipaten. Hidupnya sederhana, damai, dan yang paling penting, tidak ada yang ingin membunuhnya.
Sekarang?
Karena wajahnya yang mirip dengan sang Bupati, ia diangkat menjadi bayangan resmi bupati muda yang tampan, idealis, dan punya daftar musuh lebih panjang dari silsilah keluarganya sendiri.
Tugasnya sederhana: berpura-pura menjadi Bupati ketika sang Bupati asli sibuk dengan urusan yang "lebih penting."
Urusan penting itu biasanya bernama perempuan.
Imbalannya? Hidup mewah. Makan enak. Cerutu mahal. Tidur di kasur empuk. Perempuan ningrat melirik kagum setiap keretanya lewat.
Risikonya? Hampir mati setiap hari.
Akankah Arjo bertahan?
Atau mati konyol demi tuan yang sedang bersenang-senang di pelukan perempuan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayisa Aaroon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Berhenti
Ki Among Telik memandang Kang Guru Harjo.
"Satu hal lagi."
"Ya, Ki Among?"
"Perketat latihannya minggu ini." Mata hitam itu melirik Arjo sekilas. "Terutama pengendalian diri. Kalau dia harus lebih sering tampil sebagai bupati, dia tidak boleh mudah terpancing. Tidak boleh gegabah. Tidak boleh membiarkan emosi menguasai tindakan."
Kang Guru Harjo mengangguk. "Saya mengerti, Ki."
"Libatkan Nyi Seger kalau perlu. Meditasi. Puasa. Latihan pernapasan. Apapun yang diperlukan untuk membuat kepalanya lebih dingin."
Arjo menahan diri untuk tidak meringis.
‘Puasa dan mandi air es tengah malam. Lengkap sudah penderitaanku.’
"Sekarang pergi." Ki Among menutup mata. "Lanjutkan belajarnya. Masih banyak yang harus dipersiapkan sebelum jamuan di kediaman Residen."
Kang Guru Harjo membungkuk dalam. "Terima kasih, Ki Among. Kami permisi."
Arjo mengikuti, membungkuk dengan gerakan yang sama, dalam hati ia hanya ingin segera pergi dari gandok yang mencekam ini.
‘Orang tua aneh!’
Mereka berjalan kembali menyusuri lorong gelap menuju pendopo utama.
Langkah Kang Guru Harjo tetap tegap dan teratur. Langkah Arjo... lebih lambat dan berat. Seperti ada beban tak terlihat yang menindih bahunya.
"Kalau bayangan mati, kerugiannya lebih kecil."
Kata-kata Ki Among bergema di kepalanya.
"Yang terpenting adalah posisi bupati."
Arjo memandang punggung Kang Guru Harjo yang berjalan di depannya.
‘Jadi begitu posisiku. Bukan manusia. Hanya bayangan. Sesuatu yang bisa diganti kalau rusak atau mati. Seperti cangkir yang pecah—buang, ambil yang baru.’
Ia mengingat hari itu, lima tahun lalu. Ketika sang bupati datang ke kandang kuda dengan tawaran yang tampak seperti anugerah dari langit.
"Hidupmu akan berubah. Tidak perlu lagi mengurus kuda. Kau akan mendapat pendidikan terbaik. Makan cukup. Tempat tinggal layak."
Waktu itu, Arjo yang baru berusia dua puluh tahun, dengan perut yang sering kosong dan tubuh yang lelah mengurus kuda-kuda kekar seharian, tidak berpikir dua kali.
"Saya bersedia, Ndoro."
Ia bersumpah. Tanpa mengerti sepenuhnya apa artinya sumpah itu.
‘Bodoh,’ makinya pada diri sendiri. ‘Bodoh. Bodoh. Bodoh.’
Lorong gelap berakhir. Mereka memasuki halaman utama padepokan yang kini sudah sepi, para murid muda sudah tidur di barak mereka, hanya beberapa obor yang masih menyala di tiang-tiang kayu.
Pendopo barat menanti dengan lampu minyak yang bergoyang pelan. Angin malam semakin dingin dengan bau khas hutan yang mengelilingi.
Buku-buku tebal dan foto-foto gubernur jenderal masih tergeletak di meja. Arjo duduk bersila di hadapan Kang Guru Harjo.
Wajahnya masam. Bibirnya terkatup rapat. Matanya memandang lantai kayu tanpa benar-benar melihat.
Kang Guru Harjo membuka buku tebal bersampul kulit—peraturan tentang tata pemerintahan Hindia Belanda. Halaman-halaman penuh huruf-huruf kecil dalam bahasa Belanda yang membuat kepala pusing.
Tapi sebelum sang guru sempat memulai pelajaran…
"Guru."
Kang Guru Harjo mengangkat wajah.
“Apa lagi?”
"Apa boleh saya berhenti?"
Hening.
Hanya suara-suara hewan malam yang mengisi.
"Berhenti?" Kang Guru Harjo meletakkan bukunya perlahan. "Maksudmu?"
"Berhenti menjadi bayangan bupati." Arjo mengangkat wajah, matanya bertemu dengan mata sang guru. "Kembali mengurus kuda saja. Seperti dulu."
Kang Guru Harjo tidak langsung menjawab.
Ia memandang Arjo lama, bukan dengan tatapan menghakimi seperti biasanya, tapi dengan sesuatu yang lain. Pemahaman, mungkin … atau iba.
"Kau menyesal dengan keputusanmu?"
Arjo menunduk lagi.
"Tadi Ki Among berkata ... kalau bayangan mati, kerugiannya lebih kecil." Suaranya pelan, nyaris berbisik. "Jadi selama ini, saya hanya... pion? Sesuatu yang bisa dikorbankan kapan saja?"
"Arjo—"
"Lima tahun, Guru." Arjo mengangkat wajah lagi, ada sesuatu yang berkilat di matanya—frustrasi, kekecewaan, atau mungkin keduanya. "Lima tahun saya belajar mati-matian. Belajar banyak bahasa asing. Mempelajari hukum kolonial. Berlatih bicara halus dan makan dengan garpu. Untuk apa? Supaya bisa mati menggantikan orang lain?"
Kang Guru Harjo memandangnya dengan tatapan yang lebih lembut dari biasanya, dan itu justru membuat Arjo tak nyaman, dia menurunkan wajah, menatap lantai.
"Arjo. Aku mengerti perasaanmu. Tapi coba pikirkan, kalau kau berhenti sekarang, apa yang akan terjadi?"
Arjo tidak menjawab, karena sebenarnya dia juga tidak terlalu peduli.
"Ndoro Gusti Bupati tidak punya bayangan lain, Arjo. Tidak ada yang wajahnya semirip dirimu." Kang Guru Harjo mengangkat satu jari. "Kalau kau berhenti, beliau harus tampil sendiri di setiap acara. Dengan suasana hati yang sedang tidak stabil. Dengan musuh-musuh yang mengintai dari segala arah."
"Tapi—"
"Kalau beliau terbunuh, kursi bupati akan jatuh ke tangan ningrat lain. Mungkin ningrat yang haus kekuasaan, ningrat yang benar-benar menjadi antek Belanda. Dan semua yang sudah kami bangun, perlindungan untuk para pelarian, bantuan untuk keluarga-keluarga korban, semuanya akan hancur."
Arjo menelan ludah.
"Kau merasa posisimu tidak penting? Hanya sebagai pion yang bisa dikorbankan?" Kang Guru Harjo menggeleng. "Justru sebaliknya, Arjo. Posisimu sangat penting. Kau adalah perisai yang melindungi Ndoro Gusti Bupati. Dan dengan melindungi beliau, kau melindungi banyak orang lain yang bergantung padanya."
Arjo memandang gurunya lama.
‘Perisai?’ pikirnya. ‘Sama saja, apa bedanya?’
"Lagipula," Kang Guru Harjo tersenyum tipis, "kau masih jauh lebih beruntung dari banyak orang lain, Nak."
"Beruntung?"
"Kau punya tempat tinggal yang aman. Makanan yang cukup. Pendidikan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Kau tahu sendiri, pendidikan sebaik ini hanya bisa dirasakan oleh anak-anak bangsawan tinggi. Kau butuh status sosial tinggi, dan kau tidak punya itu. Sementara di luar sana, setelah pemberontakan PKI yang gagal, ribuan orang membusuk di penjara, sebagian dieksekusi langsung, sebagian dibuang ke Digoel. Ribuan keluarga kehilangan ayah, suami, anak, tanpa tahu kapan, atau apakah, mereka akan kembali."
Arjo terdiam.
"Aku kehilangan adikku di pemberontakan Banten." Suara Kang Guru Harjo bergetar sedikit. "Dia baru dua puluh tahun. Lebih muda darimu sekarang. Ditangkap, diinterogasi, lalu... tidak ada kabar lagi. Sampai sekarang aku tidak tahu dia masih hidup atau sudah mati."
Arjo terenyuh, tapi tetap saja, rasanya … ia tak akan sanggup menjadi bayangan.
"Dibanding dia, dibanding ribuan orang yang senasib dengannya, kau masih bernapas. Masih bisa makan. Masih bisa tidur di tempat yang hangat." Kang Guru Harjo memandangnya tajam. "Jadi jangan pernah bilang kau tidak beruntung. Jangan pernah menyesal sudah memilih jalan ini. Karena jalan lain... mungkin jauh lebih buruk."
Hening panjang. Wajah Arjo masih masam.
Kang Guru Harjo menghela napas panjang.
"Kau tahu," ia menutup buku di pangkuannya, "kenapa aku ada di sini?"
Arjo mengangkat alis. "Guru?"
"Aku bukan guru sungguhan. Bukan ahli tata negara atau hukum kolonial. Aku dulu hanya … putra dari seorang bupati terpandang, yang … tersisih. Orangtuaku meninggal di depan mata karena intrik sengit merebutkan jabatan bupati. Keluarga kami saling bunuh, terpecah belah."
Arjo terdiam.
"Aku kehilangan segalanya, nyaris mati, dan romo dari Ndoro Gusti Bupati adalah teman baikku dulu saat masih sekolah. Dia yang menolongku dan memberiku tempat di sini.”
taklukkan si gadis liar itu 😀
sopo kae jal
padhal kui plg kerjaane si kusumawati kan dek e paling sok yes klakuane ngilani
ehhh empuk yo jo 🤣🤣🤣🤭🤭🤭
terus piye jo enak ora dadi bupati 🤭🤭🤭🤣