Dr. Doni, seorang dokter bedah modern dari tahun 2020-an, terbangun dalam tubuh anak yatim piatu berusia 15 tahun bernama Doni Wira di masa kolonial Belanda tahun 1908. Dengan pengetahuan medis 100+ tahun lebih maju, ia berjuang menyelamatkan nyawa di tengah keterbatasan absolut, tanpa alat modern, tanpa obat, tanpa sistem kesehatan sambil menghadapi konflik berlapis: takhayul lokal, kekuasaan kolonial, dan keterbatasan moral sebagai manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15. BISIKAN GELAP
..."Ketika bisikan gelap mulai menyebar di kampung, bahkan kebaikan pun bisa dianggap sebagai kutukan."...
...---•---...
Malam itu, di gubuk Pak Karso, mereka duduk berkumpul mengelilingi api kecil.
Tak ada yang bicara. Hanya suara kayu berderak, sesekali meletup keluarkan percikan beterbangan seperti kunang-kunang.
Karyo menatap api dengan rahang masih tegang, masih marah soal keputusan Doni. Pak Karso asah parang dengan gerakan pelan, monoton. Suara logam bergesekan batu asah isi keheningan. Mbok Wulan masak ubi rebus, tangannya kikuk, tak seperti biasa. Sesekali lirik Doni. Wajah khawatir, bibir bergerak seolah mau bicara tapi urung.
Tari tidur di pojok, napas teratur. Satu-satunya yang tenang.
Ada sesuatu menggantung di udara. Belum terucap. Ketegangan seperti kabut tebal yang tak terlihat tapi terasa di kulit, mencengkeram tenggorokan setiap orang di ruangan itu.
Lalu mereka dengar langkah kaki dari luar.
Cepat. Terburu-buru. Debu beterbangan.
Semua menoleh. Pak Karso berhenti asah parang. Tangan membeku di udara, batu asah masih tergenggam. Mbok Wulan turunkan kuali dari tungku. Gerakan tiba-tiba membuat api menyembur percikan kecil.
Pak Wiryo muncul di pintu. Napas terengah seperti habis lari maraton, wajah basah keringat berkilau di cahaya api. Matanya liar, cari-cari, seperti membawa berita yang tak bisa ditahan lagi.
"Doni, ada masalah."
Kata-kata tanpa basa-basi. Tanpa salam. Langsung ke inti, seperti pisau yang ditusukkan.
Doni bangkit berdiri. Jantung berdetak lebih cepat. Keras di telinga, di leher. "Apa yang terjadi?"
Pak Wiryo ambil napas. Dalam, gemetar. Bibir bergerak beberapa kali sebelum kata-kata keluar. "Ki Darmo sebar rumor bahwa kau pakai ilmu hitam."
Ruangan jadi lebih sunyi. Bahkan api seperti berhenti berderak. Seperti seluruh dunia menahan napas.
"Dia bilang kesembuhan-kesembuhan itu bukan karena obat, tapi karena kau punya perjanjian dengan makhluk halus."
Doni kepalkan tangan. Buku jari memutih. Tulang menonjol seperti akan menembus kulit. "Itu tak benar."
"Aku tahu." Pak Wiryo langkah masuk. Kaki hampir tersandung ambang pintu, tubuh masih gemetar. "Tapi banyak orang mulai percaya. Terutama orang tua yang masih sangat percaya Ki Darmo. Mereka mulai takut padamu. Ada yang bilang anaknya mimpi buruk setelah berobat padamu. Ada yang bilang lihat bayangan aneh di sekitar balai."
Karyo berdiri dengan gerakan tiba-tiba. Bangku geser dengan suara keras. Kayu bergesekan lantai tanah. "Dukun tua itu tak terima kehilangan pasien dan pendapatan. Jadi dia sebar fitnah."
"Bukan cuma itu." Pak Wiryo ambil napas lagi. Kali ini lebih dalam, seperti mempersiapkan diri untuk kata-kata berikutnya. "Aku dengar dia akan adakan ritual besar besok malam untuk 'bersihkan' kampung dari pengaruh jahat. Dia akan panggil seluruh kampung untuk datang. Ini cara dia untuk rebut kembali pengaruh."
Dada Doni sesak. Setiap napas terasa seperti menarik udara melalui kain basah. Seperti karung beras basah ditumpuk satu per satu di bahunya. Beban yang terus bertambah, membungkuk, menekan.
Sudah tahu akan ada perlawanan. Tapi tak duga akan datang secepat ini dan dalam bentuk ini. Perang lawan takhayul dan kepercayaan lama tak bisa dimenangkan cuma dengan logika dan sains. Perlu lebih dari itu. Perlu kepercayaan. Dan kepercayaan dibangun pelan-pelan, sementara kehancurannya bisa datang dalam semalam.
Pak Karso letakkan parang dan batu asah dengan gerakan lambat. Hati-hati, seperti meletakkan sesuatu yang bisa pecah. "Hati-hati dengan orang Belanda," katanya. Suara rendah, berat seperti batu jatuh ke air. Setiap kata dipilih dengan saksama. "Mereka bisa bersikap baik ketika butuh sesuatu, tapi begitu tak butuh lagi..." Ia tak selesaikan kalimat, tapi artinya jelas.
"Tapi kalau Doni bisa sembuhkan istri mandor itu," Karyo argumen. Tubuh condong ke depan, mata bersinar dengan harapan yang mungkin terlalu dini. "Mungkin dia bisa dapat perlindungan. Orang Belanda yang puas bisa sangat murah hati. Mereka punya kekuasaan. Bisa lindungi Doni dari Ki Darmo."
"Atau sangat berbahaya kalau tak puas," Pak Karso tambah suram. Tatap api berkobar, bayangan menari di wajahnya yang keriput. "Aku pernah lihat orang Belanda yang marah. Mereka tak peduli keadilan. Yang mereka peduli cuma kehormatan dan kekuasaan mereka. Kalau istri mandor itu mati..." Ia berhenti. Menelan ludah. "Doni bisa dituduh pembunuhan. Bahkan bisa digantung."
Keheningan jatuh lagi. Lebih berat dari sebelumnya. Seperti selimut tebal yang menutupi mulut, hidung, membuat sulit bernapas.
Mbok Wulan tuang ubi rebus ke piring. Gerakan mekanis, seperti boneka yang ditarik talinya. "Apa yang harus Doni lakukan?" suaranya hampir berbisik. Gemetar di ujung.
Pak Wiryo geleng. Bahu naik turun. Wajahnya pucat di cahaya api yang redup. "Aku tak tahu. Tapi hati-hati. Ki Darmo punya banyak pengikut setia. Dan kalau mereka percaya kau berbahaya, mereka bisa lakukan hal-hal tak terduga."
"Seperti apa?" Doni tanya, meski takut dengar jawabannya. Meski sudah tahu.
"Mengusirmu dari kampung. Bakar balai." Pak Wiryo berhenti. Tatap Doni dengan mata yang berisi simpati dan ketakutan sekaligus. "Atau…"
Ia tak lanjutkan. Tak perlu.
Atau membunuhku.
Kata-kata yang tak terucap menggantung di udara. Lebih nyata dari apapun yang bisa dikatakan. Lebih menakutkan karena hanya dipikirkan, tidak disuarakan.
Napas Doni tercekat. Seolah ruangan kehilangan udara.
Karyo kepalkan tangannya lebih kuat. Buku jari memutih, tangan gemetar. "Kita tak akan biarkan itu terjadi. Aku dan yang lain akan melindungimu."
"Yang lain?" Pak Wiryo menatapnya. Alis naik, ragu. "Berapa banyak yang berani lawan Ki Darmo? Sepuluh orang? Dua puluh? Dia punya seratus pengikut yang siap lakukan apa saja atas namanya."
"Lalu apa? Kita cuma diam?" Suara Karyo naik. Frustasi mulai memuncak. "Biarkan dukun tua itu hancurkan satu-satunya harapan kampung ini untuk kesehatan lebih baik?"
"Aku tak bilang diam. Aku bilang hati-hati."
Mereka debat dengan suara makin keras. Kata-kata tajam dilempar bolak-balik seperti batu. Pak Karso coba tenangkan dengan suara pelan, tapi sia-sia. Mereka sudah terlalu jauh dalam argumen mereka. Mbok Wulan duduk di pojok, peluk lutut sendiri. Wajah pucat, mata berkaca-kaca tapi tak menangis.
Doni dengar semua dalam keheningan. Pikirannya berputar cepat, cari jalan keluar. Tapi setiap jalan seperti buntu, setiap pintu tertutup. Setiap pilihan bawa risiko yang bisa menghancurkan segalanya.
Kalau pergi dari kampung, semua yang sudah dibangun runtuh. Pasien-pasien yang sudah percaya padaku akan kembali ke Ki Darmo atau dukun lain tak kompeten. Lebih banyak orang mati karena pengobatan salah. Lebih banyak penderitaan yang bisa dicegah.
Kalau tinggal dan hadapi Ki Darmo, bisa menang atau kalah. Kalau menang, bisa lanjutkan praktik dengan legitimasi lebih kuat. Bahkan mungkin mengubah cara orang berpikir tentang pengobatan. Kalau kalah, diusir, dipukuli, atau lebih buruk. Dan semua yang sudah dibangun tetap runtuh.
Dan besok sore, harus pergi ke kompleks Belanda. Masuk dunia asing dan berbahaya. Dunia dengan aturan yang tak sepenuhnya dimengerti. Satu kesalahan, satu kata salah, satu tindakan dianggap tak hormat, dan bisa berakhir di penjara. Atau lebih buruk.
Dua pertempuran. Satu hari.
Dua dunia yang berbeda. Dua musuh dengan kekuatan berbeda. Dua cara untuk kalah.
"Apa yang harus kulakukan?" ia tanya Pak Wiryo. Suara lebih pelan dari biasa, hampir tak terdengar di atas percakapan yang masih berlanjut.
Pria itu menatap lama. Debat di belakangnya perlahan reda. Seolah mereka semua menunggu jawaban ini. Ada sesuatu di mata Pak Wiryo. Campuran simpati dan kekhawatiran, seperti orang yang akan memberikan kabar buruk pada teman. "Datang ke ritual itu. Kalau kau tak datang, itu akan dianggap sebagai pengakuan bahwa kau memang pakai ilmu hitam dan takut ritual pembersihan."
"Tapi kalau aku datang?"
"Maka Ki Darmo akan menantangmu langsung di depan semua orang." Pak Wiryo ambil napas. Berat, lelah. "Ini akan jadi konfrontasi terbuka antara cara lama dan cara baru. Antara kepercayaan dan sains. Antara takhayul dan pengetahuan."
Doni tarik napas dalam. Udara masuk tapi tak memberikan kelegaan. "Dan kalau aku kalah di konfrontasi itu?"
"Maka semua yang sudah kau bangun runtuh. Orang-orang akan kembali percaya Ki Darmo. Dan kau… kau harus pergi dari sini."
Pak Karso tambah dengan suara pelan. Hampir lembut, seperti mencoba meringankan beban kata-katanya. "Tapi kalau kau menang, Ki Darmo akan kehilangan pengaruhnya. Mungkin tak sepenuhnya, tapi cukup untuk berimu ruang bernapas. Cukup untuk lanjutkan pekerjaanmu."
Keheningan lagi. Hanya api berderak. Suara kayu yang terbakar, hancur menjadi abu.
Doni tatap nyala api. Menari, bergoyang, tak pernah diam. Seperti hidupnya sejak terdampar di masa ini. Tak pernah ada kedamaian. Selalu ada masalah baru, ancaman baru, pilihan sulit baru yang harus dihadapi tanpa panduan, tanpa peta.
Datang ke dunia ini dengan misi sederhana: bertahan hidup dan bantu orang sebisa mungkin. Tapi sekarang sadar, dalam dunia dengan struktur kekuasaan kompleks, antara pribumi, dukun, dan kolonial, setiap tindakan bawa konsekuensi politik. Tak ada yang sederhana. Tak ada yang netral.
Setiap pasien yang disembuhkan adalah serangan pada otoritas Ki Darmo. Setiap rumor Ki Darmo sebar adalah serangan balik. Ini bukan cuma tentang kesehatan. Ini tentang kekuasaan. Tentang siapa yang berhak tentukan kebenaran. Tentang siapa yang boleh menyembuhkan dan siapa yang harus menderita.
Dan aku, mau tak mau, sudah terseret ke pusaran itu. Terlalu dalam untuk mundur, terlalu jauh untuk berhenti.
"Aku akan datang ke ritual itu," katanya akhirnya. Suara pelan tapi tegas, seperti besi yang ditempa. "Dan aku akan hadapi Ki Darmo."
Karyo tersenyum. Senyum lega, hampir seperti anak kecil yang mendapat mainan baru. "Aku akan datang bersamamu."
"Aku juga," Pak Karso tambah. Suara mantap, tanpa ragu. "Mungkin tak banyak yang berani lawan Ki Darmo secara terbuka, tapi ada yang akan mendukungmu diam-diam. Yang pernah kau sembuhkan. Yang pernah kau tolong. Mereka tak akan lupa."
Pak Wiryo angguk. Gerakan pelan, berat. "Besok akan jadi hari panjang. Besok sore kau ke kompleks Belanda. Besok malam kau hadapi Ki Darmo. Dua pertempuran yang bisa menentukan seluruh masa depanmu di sini."
"Aku tahu," jawab Doni. Lebih tenang dari yang dirasakan. Tenang di permukaan, tapi di dalam badai mengamuk. "Tapi aku tak punya pilihan lain."
...---•---...
Setelah Pak Wiryo pergi, dengan pesan terakhir untuk hati-hati dan tatapan yang berlama-lama seperti mau mengatakan lebih banyak tapi tak bisa, mereka makan ubi rebus dalam keheningan.
Ubi terasa seperti serbuk kayu di mulut. Kering, hambar, sulit ditelan. Tak ada yang punya selera, tapi mereka makan karena tubuh butuh. Mekanis. Tanpa rasa. Seperti menunaikan kewajiban yang tak bisa ditolak.
Karyo duduk di samping Doni. Bahu menyentuh bahu, kehangatan tubuh yang menenangkan di tengah ketidakpastian. "Kau takut?"
Doni tak langsung jawab. Ia tatap piring di tangannya. Ubi yang sudah dingin, tak menarik, seperti segala hal lain malam ini. "Takut," jawabnya jujur. Tak ada gunanya berbohong pada orang yang sudah jadi saudara. "Tapi lebih takut kalau aku tak lakukan apa-apa dan biarkan orang-orang menderita."
"Itu yang buatmu beda dari yang lain." Karyo menatapnya. Mata bersinar di cahaya api. "Dari Ki Darmo, dari dokter Belanda yang cuma layani orang kaya. Kau benar-benar peduli."
Doni senyum tipis. Lelah tapi tulus. "Peduli tak selalu cukup. Kadang kau butuh kekuasaan juga. Dan aku tak punya itu."
"Kau punya sesuatu lebih baik." Karyo tepuk bahunya. Gerakan yang dimaksudkan menenangkan. "Kau punya kebenaran. Dan pada akhirnya, kebenaran selalu menang."
"Kau terlalu optimis."
"Dan kau terlalu pesimis."
Mereka tertawa. Pelan, lelah, tapi tulus. Suara yang terdengar aneh di tengah keheningan berat ruangan. Untuk sesaat, dada terasa sedikit lebih lapang. Beban sedikit terangkat, meski cuma sebentar.
...---•---...
Malam larut. Pak Karso, Mbok Wulan, dan Karyo telah terlelap. Namun, Doni terjaga.
Pikirannya berputar tak tenang. Suara angin, jangkrik, dan tikus di atap terasa nyaring dalam kesunyian. Mimpi buruk menghantuinya, wajah tanpa mata, cekikan tangan dingin, bisikan tajam bagai pisau. Ia berkali-kali terbangun berkeringat dingin, jantung berdegup kencang.
Ia akhirnya duduk, mencoba menenangkan diri. Bulan menyinari lewat celah dinding, dingin dan suram. Suara burung hantu terdengar dari luar.
Besok, dua tantangan berat menunggu:
Satu: Harus menghadap ke kompleks Belanda, dunia kolonial yang kejam, di mana satu kesalahan bisa berujung maut.
Dua: Menghadapi ritual publik Ki Darmo yang akan menentukan nasibku di kampung.
Kalah salah satu saja, segalanya runtuh.
...---•---...
...Bersambung...
boro2 mau makan bergizi. bisa makan tiap hari aja mereka udah bersyukur mungkin 🥲