NovelToon NovelToon
Pacar Sewa Satu Milyar

Pacar Sewa Satu Milyar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:242
Nilai: 5
Nama Author: Ddie

Andi, seorang akuntan kuper yang hidupnya lurus seperti tabel Excel, panik ketika menerima undangan reuni SMA. Masalahnya: dulu dia selalu jadi bahan ejekan karena jomblo kronis. Tak mau terlihat memprihatinkan di depan teman-teman lamanya, Andi nekat menyewa seorang pacar profesional bernama Nayla—cantik, cerdas, dan terlalu mahal untuk dompetnya.

Namun Nayla punya syarat gila: “Kalau kamu jatuh cinta sama gue, dendanya satu milyar.”
Awalnya Andi yakin aman—dia terlalu canggung untuk jatuh cinta.

Tapi setelah pura-pura pacaran, makan bareng, dan menghadapi masa lalu yang muncul kembali di reuni… Andi mulai menyadari sesuatu: dia sedang terjebak.
Antara cinta pura-pura, kontrak tak wajar, dan perasaan yang benar-benar tumbuh.

Dan setiap degup jantungnya… makin mendekatkannya ke denda satu milyar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ddie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Latihan Pertama

Jadwalnya muncul di kalender Andi, persis seperti reminder meeting yang tidak bisa ditolak: Kamis Sore, Latihan Pacaran Pertama, 17.00 selepas kerja.

Lokasinya bukan kafe dengan lampu temaram semua orang kelihatan fotogenik. Bukan juga restoran dengan chef kondang di depan menu dan harga yang cukup buat jual ginjal satu paket.

Tapi di sebuah mal di Jakarta Timur—tidak terlalu hits, tidak terlalu sepi, cukup netral untuk para agen rahasia yang sedang cuti dan para napi yang keluar minum kopi.

Menurut Nayla, itu penting.

“Pacaran yang kelihatan terlalu sempurna itu salah alamat. Kita harus kelihatan… biasa. Agak norak dikit boleh,” katanya lewat chat, lengkap emoji 🤪.

Andi membaca pesan itu sambil berdiri di depan lemari—isinya cuma dua versi dirinya: Andi si Karyawan Loyal dengan kemeja-kemeja yang selalu disetrika, atau Andi si Pengangguran Bahagia dengan kaus-kaus distro bekas.

Ia memilih kemeja biru muda, sengaja tidak menyetrika rapi agar ada sedikit lipatan. Usaha mati-matian untuk terlihat effortless.

\=\=\=

Menunggu Nayla di depan toko buku ternyata adalah olahraga ekstrim yang belum terdaftar di Olimpiade.

Latihan Pertama: Posisi Berdiri ia mencoba beberapa variasi:

- Versi A: Tangan di saku → kayak tupai bersembunyi.

- Versi B: Tangan silang di dada → orang kedinginan

- Versi C: Tangan di pinggang → mirip mandor perkebunan godain nyai pemetik teh.

Akhirnya dia pilih Versi D: berdiri kaya' orang nungguin cucu pulang

Latihan Kedua: Menghindari Kontak Mata. Ada tiga jenis orang berbahaya di mall versi otak dangkal: 1) Satpam yang curiga, 2) Sales Promotion Girl, 3) Anak kecil yang menatap tanpa ekspresi.

Ia berhasil menghindari semuanya dengan fokus pada noda di ubin lantai—pusat semesta selama lima menit.

Latihan Ketiga: Ekspresi Wajah

- Senyum tipis → kelihatan masam.

- Senyum lebar → kelihatan sok akrab.

- Datar tanpa ekspresi → kelihatan ngambek.

Akhirnya muncul wajah Andi asli, lugu, lucu dan menggemaskan

Seorang gadis SPG cantik mendekatinya. “Mas, mau coba parfum baru? Wanginya fresh!”

Ia gelagapan. “Eh, nggak, thanks. Gue… lagi puasa.”

SPG mengerutkan kening. “Puasa apa, Mas?”

“Eh… maaf, saya lagi puasa bau.”

“Tapi bau nya harum lho mas,” ia terus merayu.

Andi menghela napas. Baru lima belas menit, godaan sudah datang—belum lagi nanti ada perempuan yang ngira dia gigolo Pancoran.

“Dah ah… nanti gue beli sekalian yang jual.”

Gadis itu pergi dengan sedikit jengkel. “Masih ada orang tampan tapi bodoh.”

Andi beralih melihat etalase toko buku. Judul-judul seperti Cinta Sejati dan Temukan Jiwamu seolah menertawakannya. Ia beralih ke rak bisnis: 7 Habits of Highly Effective People tapi tidak ada tulisan " Jangan gugup saat latihan pacaran dengan wanita denda satu milyar.

Keringat dingin muncul di dahinya. Ini bukan soal uang—tapi soal rasa takut dinilai, takut gagal dalam ujian paling dasar umat manusia normal, mencintai

Dia menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan—mencoba meniru adegan Clint Eastwood, tapi yang keluar cuma air ludah asem.

Dan saat dia merasa sudah mencapai puncak kekacauan internal, matanya tercekat pada seorang gadis berjalan mendekat.

“Oh, tidak. Dia beneran datang,” bisiknya cemas.

Nayla hari ini terlihat cantik, polos apa adanya, memakai blus krem sederhana, celana jeans, dan tas kecil yang diselempangkan. Rambutnya diikat setengah, menyisakan beberapa helai yang jatuh rebel di sisi wajah—detail kecil yang tidak tercatat di kontrak, tapi Andi mencatatnya.

“Hai,” katanya, singkat.

“Hai,” Lidah Andi tercekat.

Dan setelah itu… hening.

Bukan hening romantis yang bikin baper—tapi hening yang biasa terjadi di lift, ketika dua orang saling menjauh karena salah satu pup di celana berusaha pencet tombol lantai duluan.

Gadis itu tersenyum kecil, memecah kebekuan. “Oke, kak, jangan kikuk duluan kita mulai paling gampang ya kak.”

Andi mengangkat wajahnya, “Yang paling gampang itu apa? Gosip artis atau ramalan cuaca?”

“Pegangan tangan.”

“What?!”Andi tergagap sistem sarafnya tiba-tiba down, kepalanya berputar kiri kanan Boneka Bobblehead

“Tenang Mas Andi," Ia tersenyum tipis.“Cuma simulasi, lima menit aja. Biar muscle memory terbiasa.”

“Muscle memory? Gue lebih hafal cara menuangkan air galon, Nay…”

“Gak pa pa, kak, date pertama emang begitu kacau tidak sinkron."

Mereka berdiri berhadapan cuma sejengkal—terlalu dekat untuk orang yang baru kenal lewat kontrak, terlalu jauh untuk yang lagi latihan pacaran.

Nayla mengulurkan tangan lebih dulu, telapaknya terbuka.

“Kak Andi,” kata dia dengan nada profesional, “anggap ini presentasi klien bisa pecat kakak kapan aja. Fokus.”

Laki laki itu menarik napas dalam, tangannya gemetar menyentuh tangannya, hangat tidak seperti laptop hang tapi itu jauh lebih menakutkan.

Mereka mulai berjalan, mencoba meniru pasangan lain berlalu lalang tidak sinkron seperti melangkah diatas batu lancip. Tangan laki laki berkulit putih itu kaku; ibu jarinya bergerak canggung kepiting terjepit baru

“Kak, jalan yang benar, ” Nayla berbisik, menahan tawa, "gue gak gigit.”

Andi tergagap mukanya memerah

“Pegang tangan doang kak Andi, gak ada delik aduan di KUHP, " ujarnya menahan tawa

Kalimat biasa tapi seperti ancaman level tingkat tinggi spionase.

" Eh ..ia"

Mereka berhenti di depan etalase toko sepatu—lebih tepat mencari alasan berhenti karena gak minat.

“Ini bagus,” kata Nayla tiba-tiba.

“Yang mana?”

“Yang ada tulisan ‘DISKON 50%’,” jawabnya jujur pol.

Andi tertawa ngakak, " Lu mau ? "

Ia menoleh, matanya berbinar. “Gak, gue cuma melihat reaksi kakak, bagus tahan jangan sampe kesindir.”

“Apanya ?”

“Tidak ada klausul meminta, Kak, Ia terdiam sesaat, " dan gue hanya sebagai talent professional.'

"'Maaf Nay, lu, apakah lu sering latihan seperti ini ?”

Ia tercenung sesaat lalu, matanya keruh

senyumnya memudar, "Ini resiko pekerjaan kak, gue mesti sadar dimana gue harus berdiri."

Jawaban itu sederhana, tapi ada kilatan bayangan di matanya, andi tidak menggali lebih dalam di luar Standard Operating Procedure," Maaf ya Nay..." ucapnya rintih

" Tidak apa apa kak, " Ia menemukan bangku kosong di dekat eskalator—kursi singgasana para penonton drama kehidupan “Sekarang simulasi ngobrol,” ucapnya sambil membuka ponsel membaca teks. “Topik bebas, tapi jangan terlalu dalam. Level ngobrolin di antrean minuman.”

“Contohnya ‘terlalu dalam’ itu apa?”

“Trauma masa kecil, mantan pengen balik, utang pay later, atau apapun yang membuat kakak mau melarikan diri lompat ke kawah gunung merapi”

Andi tersenyum miring. “Kalau mimpi?”

Gadis itu berpikir sejenak, jari telunjuknya menempel dagu. “…Masih aman. Selama bukan mimpi berdua. Itu udah masuk kategori horor.”

Andi terdiam menonton orang-orang naik turun eskalator. “Gue pengen hidup gue… biasa aja, Nay. Bangun pagi, kerja, pulang. sesekali ketawa dan menyayangi."

Ia menatapnya lamat, senyumannya tiba tiba mengendur kata kata ini terlalu jujur, “…Itu mimpi yang paling mahal di Jakarta, Kak," katanya lirih.

Satu jam berlalu tanpa mereka sadari waktu dipercepat karena terlalu sering menekan tombol skip.

Pegangan tangan sudah terasa lebih longgar, bahkan nyaman. Langkah lebih sinkron, latihan koreo dan tawa lebih sering muncul tanpa instruksi.

Dan itu… mulai berbahaya.

Nayla tiba-tiba menarik tangannya, gerakannya mendadak. “Kita cukupkan kak, nanti kebablasan. Overtime gak ada bayarannya.”

Andi ikut berdiri rasa kehilangan tiba tiba menyentuh batinnya, “Lu kenapa Nay? ada-apa?”

Ia menarik napas, senyum profesionalnya kembali dipasang, “Kalau latihan terlalu lancar membuat kita lupa bahwa ini cuma… latihan.”

Mereka berdiri berhadapan. Mall tetap ramai. Orang-orang berlalu lalang. Tak ada yang peduli pada drama kecil mereka.

Tapi di antara mereka, ada jarak baru tidak asing, antara dua orang yang sadar, sandiwara mereka mulai terasa seperti kenyataan.

“Terima kasih ya, untuk latihannya,” ucap Andi pelan.

Ia mengangguk terlalu cepat. “Sama-sama. Kita ketemu lagi sesuai jadwal.”

Ia berjalan pergi, tidak menoleh.

Andi berdiri di tempat, menatap punggungnya yang menjauh, semakin kecil di antara kerumunan. Di kepalanya, satu kalimat berputar kalau latihan saja sudah begini… gimana nantinya?

Ia merasa satu miliar rupiah bukan lagi angka di rekening tapi garis yang semakin lama, semakin kabur.

 

1
Greta Ela🦋🌺
Dah ketebak pasti si Nayla/Facepalm/
Ddie: 🤣🤣 ...ya gitu dk...Nayla
total 1 replies
Greta Ela🦋🌺
Jadi dia ini anak mama yang manja ya/Chuckle/
Ddie: ya begitu lah dk ...kalau dk gak begitu ya..mandiri ...mandi sendiri
total 1 replies
Ddie
lucu absurd tapi mengena di hati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!