"Mbak, aku mau beli mainan, boleeeh?"
Seorang pria dewasa yang ditemukannya terbangun dan tiba-tiba merengek sepeti seorang anak kecil. Luaticia atau Lulu sungguh bingung dibuatnya.
Selama sebulan merawat pria itu, akhirnya dia mendapat informasi bahwa sebuah keluarga mencari keberadaan putra mereka yang ciri-ciri nya sama persis dengan pria yang dia temukan.
"Ngaak mau, aku nggak mau di sini. Aku mau pulang sama Mbak aja!" pekik pria itu lantang sambil menggenggam erat baju Lulu.
"Nak, maafkan kami. Tapi Nak, kami mohon, jadilah pengasuhnya."
Jeeeeng
Sampai kapan Lulu akan mengasuh tuan muda tersebut?
Akankah sang Tuan Muda segera kembali normal dan apa misteri dibalik hilang ingatan sang Tuan Muda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jaga Lulu 30
"Sial, aku beneran nggak bisa ngelak dari sentuhannya. Dan sialnya lagi, sakit kepala yang aku rasakan tadi hilang pas udah disentuh sama dia. Didit brengsek!!"
Ditrian memaki dirinya sendiri. Dia yang begitu risih terhdap wanita, tentu saja kecuali ibu dan kakanya, kini seolah tidak bisa kesal ataupun risih kepada Luaticia. Dia bahkan merasa sangat pasrah setiap tindakan yang Luaticia lakukan kepadanya.
"Ah sudahlah, ayo tidur. Besok banyak pekerjaan tertunda yang harus diselesaikan."
Ditrian memejamkan matanya, dia tidak ingin memikirkan apapun malam ini. Hal yang penting sudah dirinya ketahui yakni ingatannya. Meski belum sepenuhnya kembali, tapi sebagian besar dia sudah tahu siapa dirinya.
Malam itu, fakta bahwa ingatan Ditrian sudah kembali adalah hal yang benar. Namun Ditrian memiliki rencana. Dia tidak akan memberitahu siapapun. meski sedikit memalukan, dia akan berakting menjadi Didit.
Pagi harinya, Ditrian melakukan aktivitas paginya secara normal, selayaknya dirinya yang dulu. Bangun lebih awal, memeriksa pesan yang masuk baik dari ponsel ataupun surat elektronik, lalu setelah itu mandi.
Ah iya, ada satu hal yang terlewat yakni minum air putih. Ditrian melewatkan hal tersebut karen masih merasa canggung jika harus bertemu dengan Luaticia.
"Sebenarnya aku nggak boleh gitu. Kan aku harus bersikap kayak Didit,"gumamnya lirih sambil mengusap kepala dengan pomade. Ditrian saat ini sedang berada di depan cermin, mematut pakaiannya yang akan dia kenakan ke kantor.
Hari ini Ditrian enggan mengenakan jas. Dia memilih memadukan celana panjang dengan kemeja panjang saja. Warna hitam dipilihnya karena itu memang warna favoritnya.
"Sempurna,"ucapnya ketika melihat pantulan dirinya di cermin.
Tok tok tok
"Diiit, apa udah siap? Apa butuh bantuan?" tanya Luaticia dari depan kamar.
Ditrian tak langsung menjawab. Dia mengambil nafasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan, seolah menata hati dan mentalnya untuk berakting. Jika kemarin dia berakting menjadi Ditrian, kini yang dilakukannya adalah sebaliknya yakni berakting menjadi Didit.
"Udah Mbak, Didit udah siap. Kalau nggak percaya masuk aja, nggak Didit kunci,"jawab Didit setelah terdiam untuk beberapa saat.
Cekleeek
Luatica membuka pintu kamar Ditrian perlahan dan melongok ke dalam. Dia tersenyum lebar saat melihat Ditrian yang benar-benar sudah siap.
Luaticia masih belum terbiasa dengan tampilan manly Ditrian. Karena bagi Luaticia saat Ditrian berpenampilan seperti ini, yang dilihatnya bukan lagi Didit.
"Waah hebat banget sih Didit udah rapi. Tapi Didit nggak pakai jas?" Luaticia memuji Ditrian lalu setelahnya melemparkan pertanyaan terkait apa yang dikenakan oleh Ditrian.
"Nggak mau, Mbak. Pake jas kayak kemarin tuh gerah banget. Aku suka kayak gini aja,"jawab Ditrian. "Tapi kayaknya tetep harus pake dasi deh, Mbak bisa bantu Didit? Oh iya, kok Mbak Lulu belum siap?" imbuhnya. Didit juga mengerutkan alisnya ketika melihat gadis itu yang belum siap untuk berangkat ke perusahaan. Yang dia ingat, Luaticia harus berada di sisinya.
"Bisa, Didit mau pakai dasi yang mana. Iya habis bantu Didit, Mbak bakalan siap-siap. Tadi Mbak habis bantu Nenek mandi sekalian makan dulu, jadi belum ganti baju,"jawab Luaticia sambil mengulurkan tangannya meminta dasi yang akan dipasangkan pada leher Ditrian.
Seketika Ditrian ingat tentang Nek Asih. Wanita tua yang tinggal bersama Luaticia. Dimana dia adalah satu-satunya keluarga Luaticia. Meski waktu itu Ditrian memiliki mental anak-anak, dia masih ingat saat Nek Asih bercerita tentang kematian kedua orang tua Luaticia yang sudah tidak ada sejak Luaticia kecil.
"Abis ini aku mau lihat Nenek,"ucap Ditrian. Dia mengulurkan Dasi bercorak garis biru dan hitam.
Luaticia lalu mengalungkan dasi itu, dia sedikit kesulitan karena perbedaan tinggi badan mereka. Bahkan Luaticia sampai berjinjit. Dan dengan penuh kesadaran, Ditrian menundukkan kepalanya hingga wajahnya tepat berada di depan wajah gadis itu.
Tidak hanya itu, Ditrian bahkan bisa mecium aroma tubuh Luaticia yang menurutnya sangat segar.
"Mbak pake parfum ya?" tanya Ditrian tiba-tiba membuat Luaticia mengerutkan alisnya.
"Nggak, Mbak nggak pake parfum apa-apa tuh,"jawab Luaticia apa adanya. Dia memang tidak mengenakan wewangian jenis apapun.
"Kok wangi sih. Selama ini Didit nggak pernah deh nyium wangi kayak begini dari Mbak Lulu," ucap Ditrian lagi.
Plak!
Luaticia mengeplak lengan Ditrian dengan lembut lalu membalikkan badan dan berjalan menuju ke luar kamar. Dia menoleh ke belakang sebentar seraya berkata, "Ck kamu ini beneran keterlaluan deh. Selama ini nggak ada perhatian-perhatiannya sama Mbak. Ini cuma wangi sabun Didit. Dan katamu yang selama ini nggak pernah nyium wangi itu berarti nganggep Mbak nggak pernah mandi. Sungguh terlalu."
Ditrian kehilangan kata-katanya ketika mendengar perkataan Luaticia. Tidak mungkin aroma wangi yang diciumnya dari tubuh gadis itu hanya berasal dari sabun. Ditrian tidak percaya akan hal itu.
"Waah gila, aku beneran udah gila. Bisa-bisanya begitu. Memeluk gadis itu, kayaknya nggak hanya sekali ku lakukan saat masih jadi seorang Didit, tapi aku yakin bahwa aku nggak pernah mencium aroma tubuhnya. Tapi, kenapa tadi tercium ya, dan aromanya segar sekali. Aah nggak tahu lah. Aku mau ke tempat Nenek dulu."
Ditrian merasa aneh dengan dirinya sendiri. Hidup bersama dengan Luaticia bukan hanya baru sehari dua hari tapi mengapa baru sekarang dia mencium aroma menyegarkan dari gadis itu.
Tok tok tok
"Nek, ini Didit,"ucap Ditrian saat sampai di depan kamar Nek Asih.
"Didit? masuk Dit,"sahut Nek Asih dengan nada suara yang senang. Sejak datang kemari, dia tidak bertemu dengan Ditrian karena kesibukan pria itu. Nek Asih sendiri tidak mempermasalahkannya, tapi dia mengakui bahwa dirinya pun merindukan Ditrian.
"Nenek gimana, katanya lagi sakit?" tanya Ditrian sambil berjalan mendekat ke arah Nek Asih yang duduk bersandar di atas ranjang.
Degh!
Nek Asih tak langsung menjawab. Dia menelisik wajah Ditrian secara mendalam. Ada sesuatu yang berbeda dalam diri anak itu yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
"Bukan Didit,"ucap Nek Asih lirih. Tapi meskipun berkata dengan pelan, Ditrian bisa mendengarnya. Dan Dia menerbitkan senyuman yang sangat lebar juga hangat kepada wanita tua itu.
"Tapi ini tetep Didit nek. Dit dari Ditrian, jadi sama aja,"ucap Ditrian. Pria itu meraih tangan tua milik Nek Asih lalu menggenggamnya.
"Syukurlah Nak kalau kamu sudah kembali. Nenek ikut senang,"sahut Nek Asih yang rupanya menyadari bahwa yang duduk di depannya itu bukanlah orang yang dia kenal selama ini.
"Iya dan yang tahu hanya Nenek. Jadi jangan bilang kesiapa-siapa dulu ya. Soalnya belum waktunya,"pinta Ditrian. Nek Asih pun mengangguk paham. Ditrian pasti memiliki alasan itu.
"Tapi bolehkan Nenek minta sesuatu?" sahut Nek Asih. Kini giliran Ditrian yang menganggukkan kepala,menyetujui apa yang akan diminta oleh Nek Asih meskipun belum berkata apa-apa.
"Tolong jaga Lulu. Hanya itu yang Nenek pinta."
"Nenek nggak perlu khawatir, Didit akan jaga Lulu dengan baik. Tapi Nenek harus sehat terus ya,"ucapnya penuh dengan keyakikan. Luaticia sudah merawatnya selama ini, jadi bukan hal yang sulit baginya untuk menjaga gadis itu. Bahkan jika nanti ingatannya yang kembali sudah terungkap, dia akan tetap memberikan hal terbaik bagi Luaticia sebagai balas budinya. Itu yang saat ini ada dalam pikiran seorang Ditrian.
TBC
mual aku dgn ucapan manis Steven ke Daria 🤢
masakan calon menantu enakan Mama Dhea dan Papa Drake 😁