Laura yang ingin mendapatkan kebebasan dalam hidupnya mengambil keputusan besar untuk kabur dari suami dan ibu kandungnya..
Namun keputusan itu membawa dirinya bertemu dengan seorang mafia yang penuh dengan obsesi.
Bagaimana kah kelanjutan kehidupan Laura setelah bertemu dengan sang mafia? Akankah hidupnya lebih atau malah semakin terpuruk?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SabdaAhessa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecemburuan Aaron
Di meja makan, Aaron sudah menunggu di ujung meja yang panjang. Matanya menatap tajam pada kedua insan yang baru saja datang. Membuat Laura dan Bill sedikit gelagapan dan ragu untuk melangkah maju.
Namun, Fred segera mempersilahkan Laura untuk duduk di kursi dekat Aaron. Laura berpikir sejenak, kapan Fred datang? Bukankah Aaron mengatakan Fred sedang menyelidiki Alex? Jika Fred kembali, bukankah seharusnya dia sudah membawa kabar?
"Fred.." Ucap Laura ingin bertanya, namun Fred segera menggelengkan kepalanya. Memberi kode pada Laura agar segera duduk di kursi itu.
Laura pun segera duduk disana. Meski ragu dan tak berani melirik Aaron sedikit pun.
"Bill, kau di pecat!" Ucap Fred saat melihat Laura sudah duduk di kursinya.
Ucapan Fred itu mengejutkan semua orang yang ada di ruang makan itu. Pelayan yang berdiri di dekat dinding juga saling melirik satu sama lain. Seakan saling melempar pertanyaan, kenapa dan mengapa Bill di pecat.
Laura dan Bill yang paling histeris. Mereka membulatkan kedua matanya. Mulutnya terbuka lebar tak percaya. Tubuh Bill sampai terhuyung ke dinding karena kakinya terasa lemas dan tak berdaya.
Sedangkan Laura langsung menoleh dan menatap Aaron yang duduk dengan tenang dan masih menatapnya tajam. Seakan tak terjadi sesuatu apapun di sekitarnya.
"Kenapa?" Gumam Laura dengan rasa takut saat memandang mata Aaron.
Namun Aaron tak menjawabnya. Mulutnya tertutup rapat enggan bergeming. Membuat Laura segera membuang muka ke segala arah. Beralih ke arah Fred yang berada tak jauh darinya. Sedangkan Fred di sana juga nampak tak berani bergeming.
"Kau bisa segera bereskan barang mu, Bill!" Ucap Aaron dengan suara khasnya yang serak dan berat.
"Maaf, Tuan. Apa saya membuat kesalahan?" Tanya Bill dengan takut-takut.
BRAKK!!
Aaron memukul meja makan itu hingga bergetar. Kembali mengejutkan seisi ruangan dan Bill pun seketika diam dan menundukkan kepala dalam-dalam. Dia tau, dia sudah membangunkan singa tidur.
"Kau sudah berani menyentuh wanita ku!" Ucap Aaron.
Laura langsung membelalakkan kedua matanya. Nafasnya tertahan. Laura segera memutar otaknya. Siapa yang di maksud oleh Aaron? Dirinya kah? Atau ada wanita lain?
Aaron mulai bangkit dari kursinya. Melangkah mendekat ke arah Bill yang mulai gemetar. Beruntung dia belum kencing di celananya. Tapi lututnya terlihat lemas sekali.
"Beraninya kau menyentuh Laura ku!" Ucapnya tepat di depan wajah Bill.
Sontak Laura ikut bangkit dari kursinya, segera menghampiri Aaron yang nampak mulai naik pitam. Pria itu menggenggam kedua tangannya dengan erat.
Laura mencoba menyentuh lengan Aaron dengan perlahan. Ini pertama kalinya bagi dirinya menyentuh Aaron lebih dulu. Sebenarnya Laura sangat takut melakukan ini, namun dia harus segera menenangkan Aaron sebelum pria ini salah mengambil keputusan. Karena Bill itu bukan lawan yang tepat untuk Aaron.
"Tenanglah dulu! Aku dan Bill hanya mengobrol, tidak lebih." Ucap Laura.
"Dia menyentuh mu!" Gumam Aaron.
"Memangnya kenapa? Aku kadang tidak mengerti dengan sikap mu, Aaron! Kadang kau acuh, kadang kau posesif. Mau mu apa?" Ucap Laura seakan melimpahkan kekesalannya. "Kau membawa ku kemari seperti mengurung ku di sangkar emas, aku hanya berteman dengan Bill. Tapi sekarang kau ingin memecatnya."
"Mulai sekarang kau milik ku Laura! Tidak ada yang boleh menyentuh mu selain aku!" Ucap Aaron dengan penuh penekanan.
"Tapi kau tidak perlu memecat Bill!"
"Kenapa?" Mata Aaron terlihat lebih tajam daripada elang.
"Karena aku untuk mu!" Ucap Laura lembut, namun mampu membuat detak jantung Aaron berdetak sepuluh kali lebih cepat.
Pria angkuh itu nampak mulai gugup dan salah tingkah, hingga dia angkat kaki dari sana. Meninggalkan Laura dan Bill yang masih kebingungan dengan sikap Aaron yang tiba-tiba dan mengejutkan. Sungguh sebuah hidangan sarapan yang pas untuk pagi ini.
Setelah kepergian Aaron, Laura menyuruh Bill untuk kembali ke kamarnya. Sedangkan dirinya mengambil dua buah apel dari meja makan dan mengejar Aaron yang sudah nampak jauh di depan.
Ternyata pria itu kembali masuk ke dalam ruangan rahasianya. Membanting pintu hingga dinding bergetar.
Sebenarnya nyali Laura sudah ciut detik itu juga. Namun dia tau, Aaron butuh seseorang sekarang. Dia lebih nampak memiliki trauma batin yang mendalam. Mungkin itu adalah luka kehilangan saat mendiang ibunya meninggal.
Laura mengetuk pintu itu perlahan. Takut salah ambil tindakan. Tidak ada jawaban dari dalam sana. Laura tau, pasti Aaron enggan untuk menjawabnya.
"Aaron, bolehkah aku masuk?" Tanya Laura di depan pintu.
Namun tak ada jawaban. Hingga dia memberanikan diri untuk membuka ganggang pintu dengan perlahan. Mengintip ke dalam sana. Ternyata Aaron sedang duduk di tepi ranjang dan terus memandang ke arah pintu dengan tajam.
Laura mulai melangkahkan kaki ke dalam ruangan rahasia itu. Ragu-ragu dia mendekati Aaron. Dia menjulurkan sebuah apel merah yang baru saja dia ambil dari meja makan.
"Makanlah, kau pasti lapar!" Ucap Laura.
Aaron menerimanya perlahan, matanya tak sama sekali berpaling dari mata biru lautan yang selalu menjadi obsesinya.
"Boleh aku duduk?" Tanya Laura yang di jawab dengan anggukan kepala oleh Aaron.
Laura duduk di samping di Aaron, di tepi ranjang yang besar dan empuk. Seketika atmosfer bumi terasa lebih dingin daripada biasanya. Bahkan oksigen terasa menipis di antara mereka. Hati yang berdebar itu tak bisa memungkiri bahwa mereka saling menyimpan rasa.
"Maafkan aku jika sikap ku berlebihan pada Bill, tapi kau harus percaya bahwa kami tidak melakukan apapun selain mengobrol." Laura mencoba memulai percakapan.
"Aku tidak suka kau mengobrol dengannya."
"Lalu aku mengobrol dengan siapa, Aaron? Dengan lukisan mu ini? Memang mereka bisa bicara?" Celetuk Laura memandang lukisan-lukisan dirinya di dinding.
Sedangkan Aaron hanya memandangnya tajam membuat Laura jadi kikuk seketika. Dia berpikir, mungkin kalimatnya ada yang salah.
"Aku akan meminta Bibi Hellena untuk tinggal disini agar kau tak perlu mengobrol dengan Bill ataupun lukisan ku!" Ucap Aaron seketika membuat Laura menoleh dan membulatkan kedua matanya.
"Aku disini hanya sementara, Aaron! Aku disini hanya mencari siapa pelaku penculikan Dante, anakku!"
"Ya untuk itulah aku meminta Bibi Hellena datang." Aaron masih tak mau kalah.
"Baiklah, terserah kau saja." Akhirnya Laura mengalah, dia tau tak ada gunanya berdebat dengan Aaron yang kepala batu itu.
Setelah itu, keduanya saling menikmati buah apel di tangan masing-masing. Tanpa bergeming dan mengobrol lagi. Hanya decapan mulut saat mengunyah yang terdengar di antara keduanya. Mata Laura menelusuri setiap lukisan Aaron di dinding. Lukisan ini benar-benar indah dan detail. Dia tak menyangka jika Aaron bisa melukis sebagus ini.
Saat menikmati buah apel, terdengar langkah kaki mendekat ke arah pintu yang tidak tertutup rapat.
TOK! TOK! TOK!
"Permisi, tuan!" Ucap Fred di ambang pintu.
"Masuklah!"
Bersambung..
.