NovelToon NovelToon
Nona Pengganti

Nona Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Pengganti / Pengantin Pengganti Konglomerat / Pengantin Pengganti / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Liaramanstra

Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.

Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.

Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Begitu sama

"Teko ini ingin kau bawa sendiri atau aku yang membawakan?"

Pertanyaan Bram yang satu itu lagi-lagi membuat Hita tak habis pikir. Laki-laki itu perhatian sekali, sungguh berbeda dengan Dirga yang begitu dingin padanya.

"Tidak usah, Kak." Hita menjawab pelan. "Kak Bram sudah repot-repot mengisinya, aku tidak ingin tambah merepotkan lagi."

Tangan Hita terulur untuk mengambil teko kaca yang berada di tangan Bram, sementara laki-laki itu memperhatikan apakah tangan Hita sekuat itu untuk membawanya, mengingat perempuan itu yang masih terluka.

"Baiklah, baiklah." Bram mengangguk pelan, senyum terukir di wajahnya begitu menatap teko di tangan Hita.

Bram terdiam sejenak, rasa penasaran menggerogotinya. Ia bertanya-tanya bagaimana sekiranya hubungan Hita dan Dirga, mengingat mereka menikah dengan begitu tiba-tiba dan terpaksa.

Tak heran lagi, Bram juga salah satu saksi bagaimana manisnya hubungan Dirga dan Loria.

Yang membuat Bram penasaran adalah bagaimana kira-kira adik laki-lakinya itu bersikap pada istri penggantinya.

"Ngomong-ngomong..." Bram menyandarkan punggungnya pada konter, tangannya bersedekap saat menatap Hita. "Di mana Dirga? Kenapa tidak dia saja yang mengambilkan air?"

"Maksudku..." Bram berdehem pelan. "Aku tidak berniat penasaran, hanya bertanya saja."

Bram diam-diam mengukur reaksi Hita, mencoba mengamati apakah perempuan itu akan marah, kesal, senang, atau berbagai macam ekspresi lainnya saat ia bertanya mengenai Dirga.

Namun sesuatu membuat Bram terkejut—Hita tampak tersenyum manis seperti biasanya, seolah-olah perempuan itu tak punya reaksi lain selain memasang senyum di wajahnya yang cantik.

"Kak Dirga sedang tidak ada," balas Hita. "Sepertinya Kak Dirga juga sibuk sekali, sama seperti Kak Bram. Tadi setelah dia mengantarkanku pulang, Kak Dirga langsung buru-buru pergi."

Bram mengerutkan keningnya. "Kemana?"

"Tidak tau."

"Kenapa tidak tau?"

Ayolah Bram, kenapa penasaran sekali?

Bram mengerjap tatkala menyadari ia yang bertanya begitu cepat, terlihat sekali penasaran kemana sekiranya Dirga pergi meninggalkan istrinya yang sedang terluka begitu saja.

"Maksudku... kenapa kau tidak tau kemana Dirga pergi? Dia tidak meminta izin dulu kepadamu?" Bram buru-buru menjelaskan maksudnya.

"Memangnya harus meminta izin ya, Kak?" Begitu polosnya Hita bertanya. "Kak Dirga tidak mengatakan apapun setiap dia pergi," katanya.

"Kadang-kadang dia pergi begitu saja," curhat Hita, mengingat bagaimana sikap dingin Dirga. "Aku sebenarnya ingin sekali bertanya banyak pada Kak Dirga, tapi dia ketus sekali setiap bicara padaku."

"Ketus?" Bram semakin menyipit, jelas sekali sekarang tau bahwa hubungan Dirga dan Hita tak mulus. "Ketus seperti apa?"

"Seperti—"

"Hita."

Keduanya seketika terdiam begitu mendengar suara yang menginterupsi. Suara itu jelas sekali dikenal, begitu tenang namun menusuk.

Hita perlahan menoleh, tatapannya jatuh pada sosok yang kini berdiri di depan pintu utama kediaman Martadinata.

"Kak Dirga?"

Dirga berdiri di sana, cukup mencolok dengan penampilannya yang tampak berbeda.

Hita bisa melihat sorot mata laki-laki itu yang tajam dibalik kacamata, namun tampak meredup karena sedikit memerah. Apakah Dirga habis menangis?

"Apa yang kalian berdua lakukan di sini?"

Mata Dirga memincing, sengaja menekankan kata 'berdua' saat menatap Hita dan Bram yang tampaknya begitu seru mengobrol. Mereka terlihat cukup... dekat?

Dirga mengamati bagaimana santainya Bram bersandar pada konter, kepalanya tertoleh pada perempuan yang cantik dalam balutan piyama.

Hita juga berdiri cukup dekat dengan Bram, membuat Dirga entah mengapa merasa tidak nyaman. Perasaan yang sama begitu melihat Hita mengenakan kemeja Bram kemarin. Dirga tidak tau perasaan macam apa yang tengah ia rasakan ini.

"Emm... hanya..."

"Hanya membantu mengambil air dan mengobrol sebentar." Bram melanjutkan begitu Hita tak mampu mengucapkan kata-katanya.

Sepertinya otak Hita membeku tiap kali melihat Dirga, antara rasa takut dan gugup karena terbiasa dengan ucapan pedas laki-laki itu.

"Kau meninggalkan istrimu dalam keadaan terluka begini, di mana tanggungjawabmu?"

Nada bicara Bram tak menyinggung begitu mengatakannya, terlihat biasa-biasa saja namun tampak sedikit sarkas.

"Tidak usah membahas soal tanggung jawab, Bram." Dirga mendekat. "Ada sesuatu yang tak bisa aku lewatkan."

"Tentang Loria?"

"Siapa lagi?"

Dirga berhenti tepat selangkah di hadapan mereka.

"Tidak ada yang lebih penting bagitu daripada Loria," jelas Dirga. "Dalam keadaan segenting apapun dia tetap prioritasku."

Selanjutnya Dirga menoleh ke arah Hita, tatapannya begitu tajam seolah-olah mengancam dalam diam.

"Sebaiknya kita kembali ke kamar," saran Dirga, suaranya tetap tenang. "Lagipula apa yang dikatakan oleh Kak Bram itu benar, kau masih terluka."

Tapi jelas tak ada kekhawatiran di dalam nada bicara Dirga saat laki-laki itu mengucapkan kata-katanya, terlalu datar dan mengancam.

Dirga menatap tajam Bram, tatapan tak bersahabat yang membuat Bram bingung sendiri.

"Lain kali perhatikan waktu dan tempat saat mengobrol, Bram. Jangan tengah malam dan hanya berdua," peringatnya.

Dirga memposisikan diri di samping Hita, menyentuh lengan perempuan itu begitu menuntun keluar dapur.

Merasakan sentuhan itu sontak Hita menegang. Sentuhan Dirga terasa begitu lembut di lengannya, namun entah mengapa terasa tidak nyaman.

Hita tersenyum tipis ke arah Bram sebelum akhirnya melangkah keluar dapur bersama Dirga.

"Posesif?" Bram bergumam, tersenyum geli dan menggeleng pelan begitu menatap punggung Hita dan Dirga yang menjauh.

...****************...

Tak!

Hita melonjak kaget tatkala Dirga meletakan teko kaca itu di atas nakas, nyaris membantingnya hingga air terciprat kemana-mana.

"Kau ternyata sangat keras kepala, ya?"

Dirga mendekat, menjebak istri penggantinya itu diantara tubuhnya dan pintu. Emosinya yang ia tahan saat pertama kali melihat Bram dan Hita di dapur meledak begitu saja.

"Sudah aku bilang jauh-jauh dari kakak ku tapi tetap saja kau melanggarnya" bisik Dirga geram, tepat di wajah Hita hingga perempuan itu memejamkan mata.

"Maaf, aku—"

"SELALU SAJA MAAF!"

Bentakan itu membuat Hita gemetar di tempat, tangannya meremas piyamanya erat-erat.

"Kau benar-benar murahan," desis Dirga, "Jika aku tidak datang mungkin saja kau sudah membuka pakaianmu ini di depan kakak ku dan menawarkan tubuhmu secara cuma-cuma. Membuatku malu."

"Apakah seperti ini cara Arseno mendidikmu?" Dirga semakin mendekatkan wajahnya. "Kau dan kakak tirimu itu sama saja murahnya, membuka kaki begitu mudahnya di depan seorang pria!"

Hita tersentak begitu mendengar ucapan Dirga. Kenapa laki-laki itu kini menyamakannya dengan Loria? Ikut-ikutan mengatai kakaknya itu dengan sebutan 'rendahan'?

"Ini tidak seperti yang kakak pikirkan." Hita berusaha menjelaskan, memberanikan diri menatap mata Dirga. "Aku hanya ingin mengambil air, dan Kak Bram ada di sana—"

"Begitukah?" Dirga memotong emosi. "Kalau kau bertemu dengan pria lain di satu tempat, kau akan menghampirinya dan mengajaknya bicara, begitu?"

Dirga mencengkram bahu Hita, mengguncangnya hingga perempuan itu meringis kesakitan.

"Sepertinya kau memang didik untuk menjadi seorang jal*ng," serunya di wajah Hita. "Begitu murahannya hingga kau menggoda pria dengan kedok kepolosan yang menjijikan."

Cengkraman Dirga di bahu perempuan itu mengeras, membuat Hita menahan diri untuk tak menangis kesakitan.

"Kau tau?" Dirga berbisik, kali ini di telinga Hita seakan memastikan agar perempuan itu mendengarkan setiap kelimatnya.

"Aku baru saja menemui Wisnu, mencari Loria yang ternyata pergi ke hotel bersama seorang pria," bisik laki-laki itu. "Dia murahan sekali, kan?"

Jangan tanyakan betapa kagetnya Hita mendengar ucapan Dirga. Itu tidak mungkin, Loria tak mungkin melakukan itu saat dia terlihat begitu mencintai Dirga, kan?

Senyum sinis terukir di wajah Dirga begitu melihat ekspresi Hita yang tampak tak percaya dan begitu kaget. Dengan itu, Dirga kembali bicara semakin gencar.

"Dia membuka kaki untukku setiap malam, mempersembahkan tubuhnya padaku bahkan disaat aku tak menginginkannya. Dia menggodaku, membuatku kecanduan dengannya, tapi sayang sekali ternyata dia melakukan hal itu juga pada pria lain."

Bibir Dirga menyentuh telinga Hita begitu bicara, seolah-olah menanamkan ucapannya di kepala perempuan itu.

"Tapi aku tidak peduli dengan hal itu," timpalnya, meremas bahu Hita lebih kuat. "Aku akan memiliki Loria sepenuhnya, membuatnya berada di atas ranjangku setiap malam dan menjadi istriku walaupun tubuhnya mungkin sudah dijamah oleh banyak pria. Kau tau kenapa?"

Hita menggeleng, kepalanya begitu kaku saat bergerak. Begitu sakitnya ia tatkala mendengar ucapan Dirga.

"Karena hanya dia yang bisa membuatku puas," bisik Dirga. "Karena hanya dia yang bisa membuatku merasakan kenikmatan, karena hanya dia yang bisa memuaskan egoku. Hal yang tak akan pernah bisa perempuan sepertimu penuhi."

Hati Hita benar-benar hancur tatkala mendengar ucapan itu. Air mata tanpa sadar menetes dari matanya dalam diam, bibirnya gemetar karena menahan tangis.

"Maka dari itu janganlah kau menguji kesabaranku lebih jauh lagi," peringatnya, memundurkan wajahnya untuk menatap istri penggantinya itu yang setengah mati menahan tangis.

"Jika aku sekali lagi mendapatimu melakukan kesalahan yang sama, mempermalukanku dengan bersikap murahan dengan pria manapun..." Nada ancaman terdengar jelas dalam ucapan Dirga. "Maka aku akan melakukan hal buruk yang tak bisa kau bayangkan seberapa buruknya."

Ancaman itu langsung membuat Hita gentar, tubuhnya gemetar saat menghindari kontak mata dengan Dirga yang jelas-jelas menatapnya.

Begitu kaku kepala Hita saat menganggukkan kepala, lidahnya begitu kelu untuk bicara.

"Bagus, aku anggap kau telah mengerti." Dirga mengangguk, puas sekali ketika berhasil membuat perempuan yang kini berada di kungkungannya gemetar ketakutan.

Laki-laki itu melangkah mundur, begitu puas ia menatap Hita yang membeku di tempat dan gemetar.

"Mulai malam ini dan malam-malam seterusnya kau akan tidur di lantai," putus laki-laki itu tiba-tiba, membuat Hita menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kau akan tidur di lantai kerena itu adalah sesuatu yang pantas untukmu."

"Dan." Dirga menambahkan. "Kau tidak akan bicara denganku jikalau tak ada keperluan, dan menunduklah saat kau berada ti hadapanku karena mata kotormu itu tak pantas memandangiku."

Dan begitulah peraturan pernikahan ini dibuat, seolah-olah ini adalah hubungan antara tuan dan majikan. Janganlah kau lancang, karena itu adalah petaka.

Bersambung...

1
Lilla Ummaya
Please thor jangan satu bab
Lilla Ummaya
Ditunggu segera thor updatenyaa
Lilla Ummaya
Pleasee update banyk penasaran
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo kak aku mampir. kalo berkenan boleh mampir keceritaku juga yang judulnya "Istri pengganti " mari saling suport🤗 makasih👋
Elvia Rusdi
Thor..jangan sampai bikin Hita hamil ya..dan pengen lihat penyesalan Dirga atas sikap nya ke Hita
Elvia Rusdi
cukup menarik
partini
wow double wow ini mah buka pedas lagi Thor ini di luar Nurul seorang lelaki yg suka lendir nya loria Weh Weh nyesek nya
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
partini: ngemis seperti apa ya Thor
dia like Casanova 🤣
total 2 replies
partini
Dirga otaknya geser ya Thor udah lihat masih aja bego ini akibat nya lihat pakai mata dengkul
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
partini: patut lah ukuran kecil tuh otak udang pantas ga nympe yah Thor 🤣🤣🤣
total 2 replies
partini
semoga Hita ga kaya yg lain jatuh cinta duluan 😭
partini
sangat bangus cerita nya tapi muak sama Dirga Thor jaharaaa bnggt plus bego nya dihhh gumussss
Liaramanstra: Wahh makasii ya kakk🤍
total 1 replies
partini
tuh kabur sama laki laki,masih Bege jg ga melek tuh mata
partini
Bram sering dah ketemu ma Hita biar tuh tuan sombong plus songong esmosi
partini
yah di gantung Thor
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
partini
good story
Liaramanstra: Wahh makasi banyak ya kakk, semoga suka sama ceritanya🤍
total 1 replies
partini
jirr CEO koplak pantas harus ketemu udah lihat yg polos polos dasar CEO kamu yang murahan bukan Hita
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga
partini
tuh mulut kaya bon cabe ,, Ampe Kemabli use your brain Dirga cari tau tuh Liora kenapa macam ferek
partini
dasar laki" BEGE
partini
nice
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!