Mencintai ayah sahabat sendiri adalah bencana yang Sintia nikmati setiap harinya. Bersama Arga, ia menemukan kedewasaan yang tidak ia dapatkan dari laki-laki lain. Tapi, menyembunyikan status "kekasih" dari Ara, sahabat terbaiknya, adalah beban yang semakin berat.
Keadaan semakin rumit saat pihak ketiga muncul dengan niat busuk untuk merusak hubungan mereka. Satu rahasia terbongkar, maka semua akan binasa. Sanggupkah Arga melindungi Sintia saat badai mulai datang menghantam komitmen rahasia mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
"Hai, sayang," sapa Jefry begitu ia berhasil mengejar Sintia, gadis itu penampilannya sangat berantakan, ia terus menangis membuat area matanya bengkak.
"Kamu malam ini pulang ke rumah aku."
"Ak—aku nggak mau kak."
"Kamu berani ngebantah aku?! Mau aku kasih tau ke Arga sekarang?"
Sintia diam, melihat itu Jefry segera menggendongnya masuk ke mobil dan mulai menjalankan mobil menuju ke rumahnya. Mereka berdua sampai di rumah Jefry, banyak penjaga disana. Jefry mengulurkan tangan namun tak kunjung disambut oleh Sintia, membuat pria itu mendesah. "Ayo."
Sintia berjalan didepan Jefry gadis itu melihat ke sekeliling tidak ada celah untuk bisa kabur. Karena ia tau pasti disudut manapun sudah ada orang berjaga. Sampai di depan pintu ada seorang wanita paruh baya cantik yang menyapanya. "Kamu Sintia, ya?" Sintia mengangguk. "Pantesan Jefry dari dulu suka sama kamu. Cantik begini."
Jefry menuntun Sintia untuk masuk ke dalam rumah. Rumah Jefry tergolong mewah, banyak benda-benda mahal yang terpajang disana. Seperti lukisan, guci, vas bunga, dll. Ada seorang Art menghampiri mereka berdua, Art itu menunduk ketika menatap Jefry.
"Bersihkan calon tunangan saya. Dia harus sudah wangi ketika saya ke kamar."
Art itu mengangguk kemudian mengajak Sintia untuk ke atas entah mau diapakan dia. Sintia disuruh berendam air hangat dan mulai dibersihkan tubuhnya, gadis itu hanya diam saja. Setelah selesai beberapa orang juga ikut mendandaninya, ketika akan dipakaikan lipstik Sintia menolak, gadis itu tidak terbiasa menggunakan warna yang terlalu cerah.
Jefry masuk ke kamar, cowok itu langsung mengunci pintu dan mendapati Sintia sedang meringkuk.
"Sintia," panggilnya. Tidak ada jawaban hanya terdengar isakan, tubuh gadis itu bergetar. Jefry mendongakkan kepala gadis itu, matanya merah lagi. Make up-nya sudah luntur. Jefry menggeram marah, ia reflek mencengkram dagu Sintia, gadis itu mengaduh kesakitan. "Aw, sakit Kak."
"Kamu udah bikin aku kesel Sintia. Ngapain masih nangisin Arga!" bentaknya, Sintia ciut. Melihat itu Jefry tersenyum penuh kemenangan. Ia lalu mengelus kepala gadis itu. Dan menuntunnya untuk ke ranjang.
Sintia terbaring dengan posisi miring membelakangi Jefry, pria itu memeluknya. Sintia berusaha melepas pelukan itu namun gagal. Tenaga Jefry terlalu besar dibanding dia. Saat tangan pria itu masuk ke kemejanya, Sintia segera menahan dengan suara bergetar ia berkata. "Jangan, Kak."
Jefry yang mendengar itu tidak merespon, ia tetap menerobos masuk. Tangannya meremas dua gundukan milik Sintia membuat gadis itu menggigit bibir menahan desahan. Ia terus mencoba menyingkirkan tangan Jefry. Sialnya Jefry malah lebih keras meremas, Sintia meremas sprei ia harus menyudahi semua ini sebelum Jefry lebih jauh lagi.
"K—kak udah!"
"Kamu diem atau aku kawinin kamu sekarang!"
Sintia langsung terdiam, matanya memerah lagi. Ia menutup mulut ketika air matanya turun. Gadis itu menggerakkan badan gusar, ia sejak berpacaran Arga tidak pernah seperti ini. Arga memperlakukan ia dengan sangat baik meskipun laki-laki itu terkadang membuat ia kesal.
****
Arga berkali-kali menelpon Sintia, tetapi tidak kunjung diangkat. Tadi juga Mamanya menelpon bahwa Sintia belum pulang, ini sudah larut malam. Kemana gadis itu sebenarnya?
Sampai ada satu notifikasi DM Instagram masuk.
Jefry:
Gak usah ganggu Sintia lagi. Dia pacar gue sekarang! Sampe lo ganggu dia gue bakal bikin lo nggak pernah hidup didunia ini lagi!
Arga membuka profil Jefry, laki-laki itu baru saja mengunggah story dan....
Foto Sintia dengan pakaian yang sama ketika Arga jemput tadi. Gadis itu rupanya sedang bersama Jefry. Arga mengepalkan tangan. Jadi, ini alasan Sintia menolak lamaran dari dia.
Arga: sharelok rumah lo, gue ada perlu sama Sintia.
****
Setelah mendapat share location dari Jefry, Arga langsung meluncur ke rumah itu. Laki-laki itu sepanjang perjalanan mengepalkan tangan. Ia kecewa dan marah dengan Sintia. Setelah sampai di lokasi, Arga turun ia disambut oleh beberapa penjaga yang menghadangnya. "Ada perlu apa anda kesini?" tanya salah satu penjaga bertubuh besar.
Arga dengan tenang menjawab. "Saya mau ketemu Jefry."
Penjaga itu mengangguk, ia memberitahu Jefry lewat monitor. Dan cowok itu menyuruh untuk Arga menunggu di ruang tamu.
"Jangan macem-macem kamu!" Jefry mengancam agar nanti Sintia tidak bertindak lebih jauh setelah bertemu Arga. Sintia mengangguk, gadis itu datang sendiri tanpa Jefry, karena cowok itu memantau melalui cctv dari lantai 2. Arga duduk disana. Laki-laki itu melihat ke arah Sintia ketika gadis itu turun. Tapi tidak seperti biasa, Arga cuek sekali. Ia mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Ga," panggilnya.
Posisi mereka berdua jadi canggung sekali, Sintia memainkan tangannya supaya tidak gabut. Arga masih diam, pria itu beberapa kali menghela napas.
"Aku kecewa sama kamu, Sin."
Kalimat yang di ucapkan Arga seolah menampar Sintia, gadis itu menunduk dalam-dalam supaya air matanya tidak jatuh, ia bingung harus gimana.
"Kalo kamu cinta sama dia ngapain pacaran sama aku selama 2 tahun ini!"
Arga kelepasan, emosi yang ia pendam selama semalam tadi pecah juga, gadis didepannya kaget, tidak biasa Arga seperti ini. Ia tidak menyangka Arga akan salah paham.
"Kamu salah paham, Ga. Ak—"
Arga menaikkan tangan, menyuruh Sintia untuk berhenti bicara. "Mulai detik ini hubungan kita berakhir dan makasih selama 2 tahun belakangan ini kamu mau sama aku."
Arga pergi. Pria itu benar-benar pergi, ia tidak lagi menengok untuk memastikan gadis itu baik-baik saja atau tidak. Detik itu juga Sintia memegangi dadanya yang sakit, tangisnya pecah. Ia menyenderkan badannya pada sofa. Tubuhnya mendadak lemas dan Sintia pingsan.
****
Huhu, sedih banget 😭