Anita tak pernah menyangka bahwa dia akan hidup abadi akibat kutukan dari keluarganya yang tewas karena ulahnya.
Seluruh keluarga Anita tewas oleh pengkhianatan sahabat karibnya bernama Samantha yang menjebak Anita berbuat jahat mengikuti kemauannya.
Selama dua ratus tahun, Anita hidup dalam ketidakpastian yang menyakitkan hatinya, dia kesepian, sendirian, tak punya keluarga lagi namun dia abadi.
Anita bertekad akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik jika seandainya Tuhan Yang Maha Esa memberinya sebuah kesempatan baru untuk memulai hidupnya jika dia berkeluarga lagi. Dan Anita berharap Tuhan mempertemukan dia dengan keluarganya di kehidupan baru nantinya.
Mampukah Anita berubah dan menjadi ibu tiri yang baik hati ?
Mari kita ikuti serialnya, ya, pemirsa dan terima kasih telah membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 KONSISTEN
Adrian Wilson tertegun diam sembari menggenggam ponsel miliknya yang masih melekat di telinganya.
Suara kakeknya terngiang-ngiang hingga detik ini, dan kakek masih bicara di telepon.
("INGAT SESAMPAINYA KAU TIBA DI RUMAH INI SEGERALAH LANGSUNGKAN PERNIKAHAN DENGAN ANITA TUMBLER TANPA LAGI MENUNDA-NUNDA, KAU MENGERTI MAKSUD UCAPANKU INI, ADRIAN !")
"Pernikahan apa, acara perayaan pernikahan apa yang kakek bicarakan ini ???"
Adrian Wilson terpaku diam seraya menatap kosong.
"Aku tidak mengerti maksud ucapan kakek ini..."
("KAKEK TIDAK MAU PEDULI SOAL KAU MENGERTI ATAU TIDAK PERKATAAN KAKEK INI YANG TERPENTING KAU PERSIAPKAN MENTALMU SETIBANYA KAMU DI RUMAH !")
"Mental apa kakek, benar bahwa aku akan menikahi Anita Tumbler tapi aku harus mempersiapkan semua upacara itu dengan matang."
("TADI KAU BILANG BAHWA KAU SUDAH MENIKAHI WANITA BERNAMA ANITA TUMBLER, DAN SEKARANG KAU BILANG AKAN MENIKAHINYA, YANG MANA DARI UCAPANMU ITU YANG BENAR ???")
"Tidak dua-duanya, kakek..."
("KAU BERBOHONG PADAKU ???")
"Bukan aku berbohong melainkan aku bingung dengan ucapan kakek yang tiba-tiba saja menodongku dengan pernikahan dan aku tidak mengerti kenapa kakek menyuruhku menikahi Samantha..."
("KARENA DIA MEREPOTKAN KAMI YANG ADA DI RUMAH TERUTAMA PADA IBUMU, DIA SELALU MERONGRONG IBUMU AGAR MEMBUJUKMU MENIKAHI SAMANTHA .")
"Bukannya kakek yang menjodoh-jodohkan aku dengan wanita gila itu karena dia pemilik perusahaan berlian di New York ?"
("APA KAKEK PERNAH BERKATA DEMIKIAN PADAMU SOAL SAMANTHA ???")
"Demi Tuhan, kakek lupa lagi, bagaimana penyakit pikun kakek itu kambuh-kambuhan ?"
("HEHEHEHEHE..., MAKLUM KAKEK SUDAH TERLALU TUA MUNGKIN ITULAH KAKEK LUPA JIKA PERNAH MENGATAKAN HAL TERSEBUT PADAMU, ADRIAN...")
"Astaga, kenapa kakek selalu lupa sehabis bilang padaku lalu tidak ingat lagi jika pernah bicara seperti itu padaku ???"
("LANTAS MENURUTMU SEKARANG BAGAIMANA, APA KAU MASIH AKAN MELANJUTKAN PERJODOHAN INI KALAU KAKEK TERSERAH PADAMU SAJA MANA BAIKNYA, ADRIAN !")
"Cukup, tidak lagi dilanjutkan perjodohan ini, setelah aku kembali ke New York maka kita akan bicarakan ini lagi, tapi kakek harus bisa menerima wanita pilihanku yaitu Anita Tumbler !"
("AKU TIDAK BODOH TAPI BAIKLAH JIKA ITU YANG KAMU INGINKAN DAN MENURUTMU ITU ADALAH PILIHAN TERBAIK BAGIMU MAKA KAKEK HANYA PASRAH SAJA DENGAN KEPUTUSANMU, ADRIAN !")
"Baiklah jika demikian, kita akan segera langsungkan acara pernikahan sesampainya aku di New York nanti."
("YAH, BAIKLAH, KAKEK MENUNGGUMU PULANG KE RUMAH, SAMPAI JUMPA LAGI, ADRIAN !")
"Sampai jumpa lagi, kakek !"
("JANGAN LUPA SAMPAIKAN SALAM SAYANGKU PADA KEDUA CICITKU ITU DAN KATAKAN PADA MEREKA BAHWA AKU MERINDUKAN KALIAN SEMUA...!")
"Iya, kakek, akan aku sampaikan pesan kakek pada mereka berdua, selamat malam dan selamat beristirahat, kakek..."
("SELAMAT MALAM...")
"KLEK !"
Panggilan suara telepon dari ponsel pribadi milik Adrian Wilson langsung berakhir.
Suasana di ruangan kamar hotel VVIP dimana Adrian Wilson bersama Anita Tumbler dan dua anak kembarnya berada terasa hening sekali, suara berisik dari arah panggilan suara telepon miliknya berubah menjadi keheningan yang begitu sunyi.
Adrian Wilson mendongak, melihat langit di luar kaca jendela hotel berubah gelap, hanya diterangi oleh kilauan sinar bintang-bintang bertaburan di atas sana yang nyala terangnya redup sekali.
"Fuih... ?!"
Hela nafasnya seraya menunduk lelah, perjalanan panjang dari kota New York kemari terasa lama dan sangat melelahkan dirinya.
Adrian Wilson terlihat berkali-kali menggerakkan kepalanya agar terasa rileks setelah ketegangan baru saja terjadi oleh kakeknya sendiri.
Teringat dengan rencana kakeknya beberapa hari yang lalu bahwa dia akan menikahkan Adrian Wilson dengan Samantha Bilqis, wanita pengusaha berlian yang populer di Kota New York.
Bukan sekedar sebuah wacana belaka bahwa keluarga Samantha adalah penguasa pasar berlian secara internasional bahkan kekayaan mereka bernilai triliunan.
Kakek menyarankan pada Adrian Wilson yang telah lama menduda karena ditinggal mati oleh Hazel sekitar lima tahun yang lalu akibat mendiang istrinya itu sakit parah.
Bersamaan itu pula, keluarga Adrian Wilson berkenalan dengan Samantha yang secara kebetulan dua keluarga bertemu di suatu acara lelang perhiasan yang diadakan oleh lelang Christie yang terkenal wahid di dunia.
Ketika itu, keluarga Samantha memperkenalkan sebuah perhiasan mahal yang dimiliki oleh keluarga besar Samantha Bilqis selama dua ratus tahun lamanya secara turun temurun.
Sebuah kalung berlian kuning berbentuk bunga matahari yang dihiasi sekelilingnya dengan batu-batu berlian serta safir kuning yang harganya mencapai nilai miliaran dollars.
Adrian Wilson masih mengingat pertemuannya pertama kali dengan Samantha Bilqis, wanita gila yang mengejarnya tiada henti-hentinya hingga detik ini.
"Ya, Tuhan..., aku benar-benar letih, haruskah aku menjalani semua ini dengan hati lapang dada padahal aku sangat letih..."
Adrian Wilson memijit bagian belakang lehernya, mencoba merenggangkan rasa letih di bagian tersebut.
"Sebaiknya aku kembali ke kamarku dan segera beristirahat..."
Adrian Wilson lantas memutar langkah kakinya menuju ke arah pintu kamar hotel untuk pergi namun dia menahan laju langkah kakinya ketika dia melewati ranjang tidur.
Pandangan Adrian Wilson teralihkan ke arah tempat tidur berukuran besar di sampingnya, tampak Alana dan Azka sedang terlelap nyenyak disana.
Adrian Wilson mengarahkan langkah kakinya, menghampiri ranjang tidur tersebut kemudian duduk di tepi ranjang sembari menatap teduh.
"Maafkan papa, sayang, seharusnya kalian tidak terlibat persoalan rumit ini dan tidak ikut denganku melarikan diri dari Kota New York..."
Adrian Wilson membelai rambut Alana dan Azka secara bergantian sembari tersenyum lembut.
"Tapi usaha kita melarikan diri dari kakek dan kejaran Samantha ternyata berhasil, sekarang kakek tidak memaksa papa untuk menikahi wanita gila itu lagi..."
Diciumnya kening Alana dan Azka dengan penuh perasaan lalu berkata pelan.
"Semoga kalian mimpi yang indah malam ini, selamat malam, anak-anakku tersayang..."
Rasa kantuk yang begitu hebatnya mulai mendera Adrian Wilson sehingga kedua matanya terasa berat untuk dibuka lebar.
Berulangkali Adrian Wilson menguap lebar karena tidak bisa menahan rasa kantuknya yang begitu besarnya.
Tak terasa Adrian Wilson jatuh tertidur bersama Alana dan Azka di ranjang tidur mewah itu lalu terlelap nyenyak dan kedua matanya sulit untuk dibuka lagi.
Suasana ruangan di kamar hotel VVIP di hotel Luxury Tumbler benar-benar sunyi setelah Adrian Wilson jatuh terlelap tidur maka tidak ada lagi suara pergerakan di kamar tersebut. Hanya tertinggal suara dengkuran halus dari keempat orang yang sedang terlelap nyenyak di atas ranjang tidur berukuran luas itu.
Jam di dinding berdetak pelan menunjukkan waktu tepat pukul dua belas malam, menandakan bahwa hari mulai menginjak tengah malam.
Bukan waktu yang singkat setelah serangkaian kegiatan unik terjadi sebelumnya.
Keributan di siang hari, kehebohan yang tak bisa ditoleransi serta pesta meriah sewaktu mereka semua ada di bar restoran milik Anita Tumbler tadi pagi hingga siang, kini berganti dengan suasana malam yang tenang di ruangan kamar tidur hotel VVIP berkelas internasional kepunyaan Anita Tumbler.