NovelToon NovelToon
Kontrak Hati Seorang CEO

Kontrak Hati Seorang CEO

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:141
Nilai: 5
Nama Author: Akmaluddinl

Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 KHSC

​Tiga belas hari tersisa dari bulan madu mereka di Raja Ampat terasa seperti sebuah era baru. Juna dan Nares menghabiskan waktu mereka dengan belajar, bukan hanya tentang alam, tetapi tentang satu sama lain.

​Juna, yang selalu mengenakan jam tangan mahal, kini meletakkannya di nakas. Ia tidak lagi terburu-buru. Ia bangun lebih pagi, bukan untuk mengecek pasar saham, tetapi untuk menemani Nares shalat Subuh. Ia akan duduk di samping Nares, mendengarkan do’a Nares yang kini selalu mencakup permohonan agar Juna diberi kemudahan dalam memimpin dan kesabaran dalam mencintai.

​“Kau tidak harus menemaniku, Juna,” kata Nares suatu pagi.

​“Aku tahu,” jawab Juna, menuangkan kopi. “Tapi aku menyukai ketenangan yang kudapat. Itu seperti… recharge spiritualku.”

​Keintiman fisik mereka berkembang perlahan, didasari oleh rasa hormat dan pemahaman. Juna, yang terbiasa dengan hubungan transaksional, harus belajar bahwa keintiman yang sesungguhnya membutuhkan waktu dan keterbukaan emosi.

​Suatu malam, setelah mereka berbagi cerita dan tawa, Juna memeluk Nares di bawah selimut.

​“Nares, aku ingin memberitahumu satu hal,” bisik Juna, suaranya serius. “Aku tidak pernah melihat masa depanku sampai kau datang. Kau adalah satu-satunya orang yang membuatku berpikir bahwa aku tidak hanya membangun perusahaan, tetapi aku juga membangun rumah.”

​Nares mendongak, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Juna. Aku juga melihat masa depan yang cerah bersamamu.”

​Mereka berbagi ciuman yang mendalam, ciuman yang mengikat janji-janji yang tak tertulis, janji untuk menjalani pernikahan ini dengan tulus. Mereka kini resmi menjadi suami-istri seutuhnya, melampaui batas kontrak dan tuntutan warisan.

​Nares menyadari bahwa Juna, di balik citra CEO yang dingin, adalah pria yang sangat penyayang, hanya saja ia takut terluka. Nares berjanji pada dirinya sendiri untuk menjadi tempat teraman bagi Juna.

​***

​Di hari terakhir bulan madu mereka, Juna akhirnya menyalakan ponselnya. Ratusan pesan dari Rio dan puluhan panggilan tak terjawab dari Bu Melati langsung masuk.

​“Sepertinya Jakarta sudah meledak, Juna,” kata Nares, tertawa kecil.

​Juna membaca pesan Rio. Larasati benar-benar hancur setelah pengumuman pers dan kini mencoba mencari kelemahan lain, termasuk mengancam untuk membongkar detail kontrak warisan Juna dengan Pak Harjo ke publik, mengklaim bahwa Juna telah melanggar perjanjian dengan membatalkan kontrak.

​Juna tampak tegang. Masalah ini tidak bisa lagi dihindari.

​“Aku harus segera menghadapi ini. Khususnya Pak Harjo,” kata Juna.

​“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Nares.

​“Aku akan menemuinya dan mengatakan yang sebenarnya. Aku akan memberinya bukti bahwa pernikahan kami nyata, dan aku tidak peduli dengan warisan itu lagi. Aku tidak ingin kekuasaan di Bhaskara Corp didasarkan pada pernikahan palsu,” jawab Juna tegas.

​Nares meraih tangan Juna. “Aku akan ikut denganmu. Aku adalah istrimu, Juna. Kita akan menghadapinya bersama.”

​Juna tersenyum, genggaman tangannya menguat. “Baik. Kita akan menghadapi Bhaskara dan seluruh dunia bersama.”

​***

​Setibanya di Jakarta, mereka langsung dijemput oleh Rio. Rio terlihat sangat lega.

​“Pak Juna, syukurlah Anda kembali. Dewan direksi panik. Pasar saham Bhaskara Corp melonjak drastis setelah pengumuman Anda, tetapi Pak Harjo marah besar karena Anda membatalkan kontrak tanpa izinnya,” lapor Rio.

​Saat mereka tiba di penthouse, Bu Melati sudah menunggu. Bu Melati berlari ke arah mereka dan memeluk Nares dengan erat.

​“Oh, Nares, sayang! Terima kasih! Kau berhasil! Kau berhasil mencairkan hatinya! Ibu tahu, kau adalah wanita yang tepat!” seru Bu Melati, air mata haru.

​Bu Melati kemudian menatap Juna. “Juna, Ibu tahu kau marah karena Ibu menekanmu. Tapi Ibu tidak menyesal. Lihatlah kau sekarang, kau terlihat seperti orang yang hidup kembali. Dan kau membatalkan kontrak itu… kau membuat keputusan yang paling berani dalam hidupmu.”

​“Aku melakukannya karena aku memilih Nareswari, bukan karena Ibu, Bu,” kata Juna, tetapi nadanya tidak lagi dingin.

​“Ibu mengerti. Sekarang, kalian harus segera menemui Ayah Harjo. Dia menunggu di rumah utama.”

​***

​Rumah utama keluarga Bhaskara terasa megah dan dingin. Pak Harjo, kakek Juna, duduk di ruang tamu, posturnya tegap, matanya tajam dan penuh kekecewaan.

​“Arjuna. Kau membuat keputusan gegabah,” kata Pak Harjo, tanpa basa-basi. “Kau membatalkan kontrak warisan yang aku susun untuk mengamankan Bhaskara Corp. Dan kau membuat pengumuman yang tidak perlu.”

​Juna berdiri tegak di samping Nares. “Aku tidak gegabah, Kakek. Aku membuat keputusan yang benar. Aku mencabut kontrak itu karena aku tidak ingin menjadi boneka yang pernikahannya diatur untuk saham.”

​“Kau bisa saja menunggu warisan itu selesai dan baru kemudian membatalkannya!” seru Pak Harjo.

​“Tidak. Aku tidak ingin kekuasaanku didasarkan pada ketidakjujuran. Aku memilih Nareswari karena dia memberiku ketenangan. Aku memilihnya sebagai istriku. Dan aku membatalkan kontrak itu karena aku ingin dia menjadi milikku, bukan karena dia dibayar untuk menjadi istriku,” Juna menjelaskan, tangannya menggenggam tangan Nares.

​Pak Harjo menatap Nares. “Nareswari. Kau gadis yang cerdas. Katakan padaku, kau tidak menginginkan warisan itu? Kau tahu, Juna akan mewarisinya sepenuhnya jika kalian memiliki keturunan.”

​Nares melangkah maju, menghadap Pak Harjo dengan tenang.

​“Pak Harjo, saya datang ke keluarga Bhaskara dengan kontrak, tetapi saya tinggal dengan komitmen. Saya tidak peduli dengan warisan atau saham. Jika Juna kehilangan Bhaskara Corp besok, saya akan tetap menjadi istrinya. Saya bekerja sebagai peneliti. Saya bisa menghidupi diri saya sendiri. Tujuan saya adalah membantu Juna menemukan kembali kebahagiaannya, bukan mengambil kekayaan Anda,” kata Nares, suaranya tegas dan tulus.

​Pengakuan Nares yang tanpa pamrih itu mengejutkan Pak Harjo.

​“Kau berbicara tulus,” kata Pak Harjo, nadanya melunak.

​“Saya tidak pernah berbohong, Pak Harjo. Saya menikah karena kontrak, tetapi saya tinggal karena cinta dan kewajiban. Saya mencintai suami saya, dan saya akan berdiri di sampingnya, terlepas dari keputusan bisnisnya,” balas Nares.

​Pak Harjo menghela napas panjang. Ia menatap cucunya, Juna. Ia melihat Juna yang baru, Juna yang memiliki sesuatu yang lebih dari sekadar uang: kebahagiaan.

​“Baik. Aku akui, aku salah menilai. Aku tidak akan lagi mengganggu pernikahan kalian. Aku akan memastikan dewan direksi tidak akan lagi meragukan komitmen kalian,” kata Pak Harjo. “Tapi Arjuna, ingat ini. Warisan itu akan tetap menjadi milikmu, bukan karena kontrak, tetapi karena kau telah membuktikan bahwa kau bisa mengambil alih kendali hidupmu sendiri. Dan kau telah memilih seorang wanita yang layak untuk menjadi Nyonya Bhaskara.”

​Juna dan Nares saling menatap. Mereka telah memenangkan pertempuran terbesar mereka.

​***

​Setelah konfrontasi itu, Juna mengambil langkah-langkah nyata untuk membangun fondasi keluarga mereka.

​1. Mengamankan Posisi Nares: Juna segera mengubah semua dokumen hukum dan perusahaan. Ia mencantumkan Nares sebagai pewaris utama, menggantikan nama perwalian lama. Ia juga meminta Nares untuk menjadi Kepala CSR & Philanthropy di Bhaskara Corp.

​“Aku tidak ingin kau hanya menjadi istri di rumah, Nares. Aku ingin kau menggunakan kecerdasanmu untuk membantu orang lain. Aku ingin kau menjalankan Bhaskara Corp dengan hatimu,” kata Juna.

​Nares awalnya ragu, tetapi menerima tawaran itu, menyadari bahwa ia bisa membawa dampak positif yang besar.

​2. Membangun Rumah Baru: Juna memutuskan untuk menjual penthouse lamanya yang penuh kenangan pahit. Ia membeli sebuah rumah di pinggiran kota yang lebih tenang, rumah yang memiliki taman dan ruang yang cukup untuk keluarga besar.

​“Kita akan membangun rumah ini bersama, Nares. Mulai dari nol. Ini akan menjadi rumah kita, bukan hanya apartemen kontrak,” kata Juna, menunjukkan gambar denah rumah itu.

​3. Program Keturunan yang Sesungguhnya: Juna dan Nares berbicara terbuka tentang rencana mereka untuk memiliki anak. Mereka memutuskan untuk menjalaninya dengan penuh kesabaran dan cinta, sesuai dengan janji mereka.

​Nares menatap Juna. “Kau tidak lagi takut dengan janji ‘selamanya’, Juna?”

​Juna memeluk Nares. “Tidak. Karena ‘selamanya’ bersamamu tidak terasa seperti hukuman. Itu terasa seperti hadiah.”

​Mereka duduk di balkon, memandang Jakarta di malam hari. Mereka telah memulai pernikahan mereka dari selembar kontrak, tetapi mengakhirinya dengan ikatan yang tulus. Juna, sang CEO pengendali, telah belajar untuk menyerahkan hatinya, sementara Nares, sang gadis beasiswa, telah menemukan cinta sejati di balik benteng baja. Fondasi keluarga mereka kini kokoh, dibangun di atas kejujuran, komitmen, dan ketenangan yang dibawa Nares.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!