NovelToon NovelToon
Karma Datang Dalam Wujudmu

Karma Datang Dalam Wujudmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta pada Pandangan Pertama / Teman lama bertemu kembali / Office Romance
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: diamora_

Cayra Astagina, sudah terlalu sering patah hati. Setiap hubungan yang ia jalani selalu berakhir dengan diselingkuhi.
Saat ia hampir menyerah pada cinta, seorang peramal mengatakan bahwa Cayra sedang menerima karma dari masa lalunya karena pernah meninggalkan seorang cowok kutu buku saat SMA tanpa penjelasan.

Cayra tidak percaya, sampai semesta mempertemukan mereka kembali.

Cowok itu kini bukan lagi si kutu buku pemalu. Ia kembali sebagai tetangga barunya, klien terpenting di kantor Cayra, dan seseorang yang perlahan membuka kembali rahasia yang dulu ia sembunyikan.

Takdir memaksa mereka berhadapan dengan masa lalu yang belum selesai. Dan Cayra sadar bahwa karma tidak selalu datang untuk menghukum.
Kadang, karma hadir dalam wujud seseorang yang menunggu jawaban yang tak pernah ia dapatkan.

Kisah tentang kesempatan kedua, kejujuran yang tertunda, dan cinta yang menolak untuk hilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon diamora_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Tanda yang Tidak Pernah Hilang

Kadang yang kau kira sudah selesai, ternyata masih menunggumu dalam bentuk paling sederhana, sebuah jas hujan.

...Happy Reading!...

...*****...

Bekerja sebagai Brand Strategist di Nebula Creatives selama beberapa tahun membuatku terbiasa menghadapi berbagai macam sifat manusia. Mulai dari klien idealis sampai yang suka baperan. Tapi tidak ada yang seunik hari ini.

Hari ini, aku bertemu klien yang menyimpan masa lalu bersamaku. Tepatnya, masa lalu yang sudah aku kubur dalam-dalam. Tapi dia, dengan santainya menggali semuanya, seperti arkeolog mencari fosil aib.

Meeting barusan tidak terasa seperti diskusi profesional. Lebih mirip interogasi dari seseorang yang sedang menagih karma. Dan anehnya, aku jadi merasa seperti pelaku utama dalam drama kejahatan, padahal aku cuma mantan anak SMA biasa.

Setelah keluar dari ruang meeting, napasku terasa baru bisa ditarik panjang. Rasanya seperti baru lepas dari simulasi neraka. Padahal jam kerja cuma setengah hari, tapi tadi sempat kupikir jam di ruang meeting mogok jalan.

Aku keluar ruangan dengan langkah cepat, tidak menunggu Tasha, tidak juga menunggu pria itu. Kami terlihat seperti dua orang asing, padahal kenyataannya kami tahu terlalu banyak.

Di tengah jalan keluar, aku bahkan tidak menyadari ketika Mbak Rania menyapaku. Fokusku cuma satu: toilet. Selain karena dorongan fisik yang mendesak, aku juga butuh pelampiasan emosional. Wajahku sudah nyaris berubah jadi meme "before crying".

Sampai di bilik toilet, aku duduk sejenak. Setelah selesai, aku berdiri di depan wastafel. Menatap wajah sendiri yang... tragis. Rambutku berantakan, wajah berminyak. Tampak seperti tokoh drama yang baru saja ditusuk skenario hidup.

Aku basuh wajah dengan air dingin. Tidak sengaja mengenai rambut juga. Ya ampun, aku lupa menguncir rambut sejak pagi. Satu dosa lagi.

Setelah merasa sedikit lebih waras, aku merogoh saku, mengambil ponsel, dan langsung mengetik pesan ancaman paling penuh kasih sayang.

"Lan, jemput gue. Kalau lo mau uang dua ratus ribu lo itu, gue kasih hari ini!"

Elan balas cepat, seperti debt collector profesional.

"Siap. Awas aja kalau lo sampai bohong."

"Enggak."

Singkat. Padat. Menyesatkan.

Aku keluar dari toilet, menatap cermin sekali lagi. Bibirku tertarik ke atas. Bukan senyum penuh, hanya cukup untuk bilang ke diri sendiri: "Kamu masih bisa bertahan."

Saat kembali ke ruang kerja, semua sudah kosong. Semangat akhir pekan memang tidak mengenal belas kasihan.

Aku mengambil tas, turun ke lobi, dan baru sadar ternyata hujan. Banyak orang masih berteduh. Kupikir kantor sudah sepi, ternyata mereka menunggu reda.

Daripada nyasar, aku memilih menunggu Elan di dekat pintu masuk. Kalau dia datang dan tidak melihatku, bisa-bisa dia pulang begitu saja. Dengan Elan, semua kemungkinan buruk selalu terbuka.

Beberapa menit kemudian, dia muncul. Pakai jas hujan. Membawa kantong kresek. Untuk sesaat, aku tersentuh. Kupikir dia membawakanku makanan atau hadiah permintaan maaf karena selalu ngerepotin.

Ternyata isinya... jas hujan anak-anak. Warna ungu, motif unicorn. Aku langsung tahu. Ini pasti bukan milikku.

"Ini lo ambil dari mana?" tanyaku sambil memperlihatkan ujung jas hujannya.

"Di rak payung," jawabnya polos.

Aku tarik napas panjang. Ini pasti jas hujan punya Samara. Keponakanku yang umurnya lima tahun. Kalau aku pakai ini, bisa masuk akun gosip atau dikira cosplay character dari acara anak-anak TVRI.

"Ini punyanya Ara. Jas hujan gue ada di jok motor," kataku lelah.

"Ya mana gue tahu? Lo gak bilang."

"Karena gue juga gak tahu kalau di luar hujan."

"Berarti salah lo," jawabnya enteng.

Aku tatap wajahnya dalam-dalam sembari bersedekap. Sedikit lagi, aku bisa berubah jadi iklan obat sakit kepala.

"Pokoknya kalau mau, lo pakai ini," ucapnya lagi sembari menunjuk kresek berisi jas hujan yang dipegangnya.

Aku memejamkan mata sejenak. Lalu membukanya perlahan. "Gak bisa pake jas hujan itu, Lan. Ukurannya kekecilan. Gue bisa basah kuyup."

"Ya terus mau gimana? Nunggu hujannya reda?"

"Bisa kali lo beli jas hujan baru dulu. Gue bisa flu kalau kehujanan."

Aku ingat betul. Beberapa hari lalu, aku selamat dari flu karena ada payung misterius di halte. Lalu masker dari seseorang saat aku mau ke desa Candraloka. Mungkin sederhana, tapi saat itu terasa seperti keajaiban.

Orang-orang itu tidak aku kenal, tapi mereka menolongku. Entah sengaja atau tidak. Terima kasih, orang baik.

Tapi sekarang aku jadi bertanya-tanya. Kenapa akhir-akhir ini aku sering dibantu? Apakah ini suatu kebetulan atau takdir yang sudah direncanakan? Aku pun tidak tahu dengan pasti.

"Gak mau. Kalau lo mau, ya pakai ini," kata Elan, menyerahkan kantong itu lagi.

Aku mengerutkan kening. "Lo pikir gue Barbie?"

Elan mendesah. "Ya udah, pakai jas hujan gue aja."

Aku hampir tersenyum. Di balik mulut pedasnya, Elan tetap adikku.

Baru saja dia mau buka helm, sebuah suara menghentikan gerakannya.

"Permisi, Cayra. Ini ada titipan jas hujan buat lo."

Aku menoleh. Seorang teman kantor berdiri sambil menyodorkan jas hujan.

"Dari siapa?" tanyaku, heran.

Dia menunjuk ke arah mobil hitam yang baru keluar dari area kantor. "Tadi pria dari mobil itu yang nyuruh gue ngasih ke lo."

Aku menatap mobil itu. Diam. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat. Mobil hitam. Plat nomor yang sangat familiar karena aku sering melihatnya beberapa hari ini.

Itu mobil Saka.

Aku menerima jas hujan itu dengan tangan sedikit gemetar. Tanganku dingin, tapi bukan karena hujan. Karena aku tahu, orang yang seharusnya kulupakan, masih belum benar-benar pergi.

"Gue balik dulu ya," ujar teman kantorku.

"Iya, makasih," jawabku pelan.

Begitu dia pergi, Elan langsung aktif.

"Gebetan baru ya? Siapa tuh?"

Aku tidak menjawab. Pandanganku jatuh ke jas hujan di tanganku. Ketika kubalik, aku melihatnya. Sebuah stiker kecil berwajah kutu buku.

Aku tahu persis stiker itu. Tentu saja aku tahu dari mana itu berasal. Saka selalu menempelkannya ke barang-barangnya saat SMA.

Jadi... itu memang dari dia?

Aku diam. Tiba-tiba memikirkan payung waktu itu. Masker beberapa hari lalu. Jangan-jangan, semuanya juga dari dia?

Kenapa dia bersikap begitu di ruang meeting, tapi diam-diam tetap memperhatikanku?

Aku tidak tahu apa motifnya. Mungkin dia hanya sedang membalas masa lalu dengan cara yang terlalu elegan. Atau mungkin juga ini awal dari cerita yang sejak dulu enggan dimulai, tapi tak pernah benar-benar selesai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!