Emily tak menyangka bahwa dia masuk ke sebuah novel yang alurnya membuatnya harus menikah dengan seorang miliarder kaya.
Pernikahan absurd itu malah sangat menguntungkannya karna dia hanya perlu berdiam diri dan menerima gelar nyonya serta banyak harta lainnya.
Namun sayangnya, dalam cerita tersebut dia akan mati muda!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
《Chapter 15》
Setelah melewati weekend dengan bahagia, kegiatan Emily kembali seperti biasa yaitu tinggal di mansion dan bersantai ria, tidak perlu khawatir karna ada makanan dan minuman serta banyak hiburan seperti games atau film.
Suatu hari, saat Emily sedang merawat kebunnya, kakeknya Albert masuk bersama beberapa pengawalnya.
Untung saja waktu itu Albert sedang mengambil barang yang ada di ruang kerja, jika tidak maka sudah di pastikan Emily harus menghadapi pria paruh baya itu.
"Kakek?, mengapa kakek datang hari ini? Apa kakek tidak sibuk?," tanya Albert meletakkan barang di atas meja untuk menyambut kakeknya.
Ia agak terkejut karna kakeknya jarang datang mengunjunginya di mansion pribadinya itu, biasanya dirinya yang akan pergi mengunjungi kakek jika di minta.
Kakek menatap Albert dengan tatapan aneh, sebenarnya ia sedang berpikir bahwa ia sangat puas pada cucunya itu.
Dari total tiga anak dan beberapa cucu yang ada, Albert adalah satu-satunya yang paling ia sayangi karna ia merasa Albert memiliki temperamen yang sama dengannya, tegas, fokus dan pekerja keras.
Oleh sebab itu Kakek dulu memilihnya untuk memimpin perusahaan menggantikannya.
Namun, kakek tidak memiliki prasangka baik pada Emily, terlihat dari bagaimana ekspresinya ketika gadis itu datang ke hadapannya.
"Selamat datang kakek," ucap Emily dengan wajah tulus.
Kakek hanya menatap wajah Emily tanpa menjawab, ia masih ingat bagaimana dulu ia menawarkan Albert untuk menikah dengan salah satu cucu dari teman lamanya, namun Albert menolak, padahal keluarga mereka sudah saling mengenal sejak lama.
Meski di tatap dengan tajam seperti itu, namun Emily tetap mempertahankan senyuman di wajahnya, bagaimanapun ia tidak boleh kalah dalam pertarungan ini, dia harus mendapatkan uang setelah selesai masa kontrak, maka ia harus berjuang untuk membuat akting ini terasa nyata bagi seluruh keluarga Albert termasuk kakek.
"Pergi dan buatkan teh," pinta Albert pada salah satu pelayan, setelah itu ia berjalan mendekati kakek dan mengarahkannya menuju halaman belakang di mana tersedia meja dan kursi.
"Kakek harus mencoba teh yang baru saya beli, itu adalah merk yang bagus," ucap Albert, ia sangat tau bahwa kakeknya sangat suka minum teh.
"Jangan merayu saya, sebenarnya saya datang untuk menginterogasi istrimu itu"
Tatapan Kakek langsung mengarah pada Emily, membuatnya segera menoleh menatap mereka berdua, saat ini ia sudah duduk di samping Albert.
Albert memegang tangan Emily, menenangkannya yang gugup.
"Kapan kalian bertemu? Saya tidak pernah mendengar Albert menjalin hubungan dengan siapapun," Pertanyaan pertama dari kakek sudah bisa membuat mereka mendadak diam karna tidak mempersiapkan jawaban untuk scenario ini.
Siapa pula yang menyangka bahwa kakek akan datang dengan misi mempertanyakan kebenaran dari hubungan mereka.
"Itu kakek, kami.." Albert baru akan menjawab namun kakek memotongnya dan berkata, "Jangan menyela, saya bertanya pada Nona Emily"
Kali ini Albert tidak bisa membantu gadis itu, kakek sudah menyuruhnya untuk mengunci mulut.
Emily berusaha mencari alasan yang bagus, namun ia tetap tidak menemukannya, karna faktanya tidak ada orang yang pernah melihat mereka menjalin hubungan sebelumnya.
"Sejujurnya kami baru bertemu seminggu sebelum memutuskan untuk menikah," Jawaban Emily sangat tak terduga, Albert menduga Emily akan mengatakan yang sebenarnya terkait kontrak mereka.
Jika itu terjadi maka mereka berdua bisa dalam masalah besar.
Namun, Emily melanjutkan perkataannya, "Ini adalah one stand night, dan itu adalah pertama kali untuk Tuan Albert, sehingga ia mengambil keputusan untuk bertanggungjawab dan menikahi saya meskipun saya tidak mengandung"
Kakek terlihat terkejut, ia tak percaya bahwa cucunya yang ketat dan hidup sesuai aturan dapat melakukan hal seperti itu.
"Albert, apa maksud ini semua?," tanya kakek pada Albert.
Albert sendiri juga bingung, ia tak menyangka dengan cerita konyol yang di buat oleh Emily, gadis itu bahkan tersenyum lembut pada mereka seolah meyakinkan bahwa cerita itu benar adanya.
"Maafkan cucu anda kek, ia saat itu sangat mabuk dan ia melakukannya tanpa sadar," Emily akhirnya menjawab karna Albert tidak memberi penjelasan apapun.
"Ehem, saya sedikit kecewa, tapi bagaimanapun cucu saya memang bijak untuk mengambil keputusan menikah dengan anda Nona Emily," jawab kakek karna tidak mau mempermalukan cucunya, jika seperti itu faktanya maka lebih baik saling mengerti.
Emily sudah menebak bahwa tidak mungkin kakek akan sinis padanya apabila ia membuat cerita palsu seperti ini.
Lagian juga, Albert tidak akan terlalu di marahi karna di luar dari cerita ini, pria itu memang baik dan cerdas.
"Permisi, ini teh nya," seorang pelayan sudah datang dan membawa teh beserta makanan ringan mendampinginya.
"Oh ya, kakek baru melihat kebun itu, apa Nona Emily yang membuatnya? Karna saya tau Albert tidak memiliki cukup waktu untuk berada di mansion," tanya kakek, sejak melangkah menuju halaman, tatapan kakek sudah tertuju pada sayuran yang sudah tumbuh meski belum terlalu besar, spesies nya tidak banyak karna ini masih pertengahan musim dingin.
"Ya, mungkin bulan depan kami sudah bisa memanennya," jawab Emily.
Sekilas kakek teringat pada mendiang istrinya, seorang wanita yang lembut dengan senyuman yang mirip dengan gadis itu, Emily membuat ia kembali ke masa dimana istrinya yang juga senang memelihara tanaman.
"Istri saya juga suka merawat tanaman dulu, waktu itu Albert juga sering membantu memberi pupuk"
Emily melihat wajah sendu dari kakek lalu bertanya, "Apa tanaman Nenek masih di rawat?"
"Tidak"
Jawaban kakek membuat Emily bingung, ia pikir akan tetap di rawat agar bisa terus mengenang mendiang Nenek.
"Saya tidak ingin larut dalam kesedihan sehingga saat ia meninggal, saya menyuruh seluruh pelayan untuk meninggalkan tanaman itu tak terurus"
Sepertinya Emily dapat mengerti maksud kakek yang satu ini, ia tak yakin bisa berdiri di masa depan dengan melihat kenangan masa lalu.
"Kakek, kalau kakek izinkan, saya bisa menanam tanaman baru di tempat itu"
Kakek masih terdiam, tak memberi jawaban.
"Saya hanya menawarkan, jika kakek tidak mau juga tidak apa-apa," Lanjut Emily.
"Boleh, Nona Emily boleh datang jika ada waktu, saya mengizinkan," ternyata kakek memberi izin padanya.
Emily tertawa lalu terus menanyakan tentang tanaman apa saja yang biasa Nenek tanam di sana, secara antusias kakek menjawab, mengikuti alur pembicaraan yang Emily buat, kakek melupakan bahwa tujuan awalnya datang kemari adalah menjatuhkan Emily, tapi ia malah membuka hati pada gadis itu.
Albert menatap kilasan wajah Emily dari samping, entah mengapa jantungnya berdegub kencang, ia seperti melihat kilauan bercahaya yang gadis itu pancarkan.
Baru kali ini ia melihat kakek berbincang lama tentang hal-hal yang tidak terkait dengan pekerjaan, padahal biasanya kakek hanya akan mengobrol dengannya tentang topik itu saja.
Perasaan ini mungkin seperti mencicipi kopi dengan biji kopi khas yang baru, yang belum pernah Albert rasakan.