Tak pernah di sangka kehidupan bahagia keluarga Azka akan berakhir mengerikan hanya karena Ayahnya di tuduh menghamili anak dari seorang kaya dan sangat berpengaruh di desanya.
Azka yang sakit hati, terpaksa mengambil jalan pintas untuk membalaskan kekejaman para warga yang sudah di butakan oleh uang.
Dia terpaksa bersekutu dengan Iblis untuk membalaskan sakit hatinya.
Bagaimanakah nasib Azka, selanjutnya? Yu ikuti kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI DATANGI WARGA SEKAMPUNG
Seorang anak gadis kaya raya sedang tersedu di hadapan keluarganya.
"Kok Bisa sih, kamu Lis. Kok bisa hamil di luar nikah begini." Ibu dari anak gadis itu mengusap pipinya yang bercucuran air mata.
"cepat katakan kepada kami, Lis! Siapa yang menghamilimu! Jangan bikin Bapak makin kesal karena kediamanmu!" Ujar Bapak dari gadis itu mulai geram.
Sulis hanya diam sambil tersedu.
Aku harus bagaimana? Semuanya tidak aku sadari.
Ah! Semua gara-gara aku mabuk di tengah para laki-laki, sampai-sampai, aku tidak tau yang mana yang telah menghamiliku.
"Sulis! Jangan diam saja, cepat katakan! Biar Bapak yang menghukumnya!" Ujar si Bapak dengan suara yang sangat keras.
Sulis yang panik, akhirnya menemukan cara. "Pak Ustad yang menghamiliku, Pak." Lirihnya yang masih terdengar jelas oleh semua keluarganya.
"Astaga! Mana mungkin dia, Lis. Dia orang baik."
"Tapi, itulah kenyataanya, Pak." Imbuh Sulis lalu menceritakan kronologi yang ia buat-buat sendiri.
Si Bapak dari gadis itu pun makin membuncah amarahnya.
Ini tidak bisa di biarkan! Ayo kita datangi rumahnya."
" Geram si Bapak.
Sulis pun segera mengekori ayahnya. Namun, saat ayahnya mengumpulkan masa, dia menyelinap menemui Parmi, yang biasa ia suruh-suruh kalau dia sedang ada keperluan mendesak.
***
Di sebuah rumah yang kecil, yang berdindingkan papan dengan penerangan lampu minyak seadanya. Terdengar seorang pria berusia 28 tahun, sedang mengajari anak nya arti nilai-nilai kebaikan yang selama ini mereka amalkan, setelah mengajari anaknya mengaji (membaca Alquran).
"Membantu sesama itu sangat berpahala nak, bantulah mereka dengan tidak mengharapkan imbalan di setiap bantuan yang kita berikan, atau pun yang kita lakukan. Karena, tidak semua orang yang kita bantu itu mampu, dalam arti kata lain mempunyai harta berlebih. Kecuali kita dalam perjanjian pekerjaan, ya nak, itu berbeda lagi." Yusuf menjeda sejenak mengamati anaknya yang sangat serius mendengarkan nasehatnya.
Yusuf tersenyum, lalu melanjutkan kembali ceramah pendeknya. "Tetaplah baik terhadap orang, walau orang itu tidak menyukai kita. Insyaallah, Allah akan melindungi kita dari segala kedengkian yang mereka ucapkan kepada kita. Azka paham, apa yang Ayah katakan, nak?"
Azka yang masih berusia 6 tahun itu mengangguk serius. "Paham Ayah. Kan Azka selalu di bawa Ayah untuk bantuin orang. Azka kira, kalau Membantu itu, kita harus di kasih uang. Eh... enggak ya Yah?" Tanya Azka polos.
Yusuf kembali tersenyum lembut kepada anaknya tersebut. "Membantu itu, harus tulus dari hati Azka.
Artinya, jangan mengharapkan imbalan dari seseorang yang kita bantu, biarlah Allah yang membalas di setiap bantuan yang kita lakukan kepada mereka. Tapi, beda dengan bekerja, seperti Ayah di suruh oleh Pak Anwar, untuk menjadi guru khusus untuk mengajari Embak Sulis, dan juga bekerja di ladangnya, Pak Anwar." Papar Yusuf dengan bahasa yang mudah di cerna oleh anak di usia 6 tahun.
Terlihat Azka manggut-manggut. "Oh gitu. Tapi Ayah juga ngajar ngaji, di masjid, jadi Imam juga. Apa Ayah di beri upah, Yah?" Tanya Azka yang otaknya di atas rata-rata di banding anak seusianya.
"Itu termasuk dalam bentuk bantuan. Niat Ayah membantu mereka belajar mengaji, kan belajarnya ramai-ramai. Azka paham?" Tanya Yusuf masih dengan nada suara lembut berwibawa walau terkadang pertanyaan dari buah hatinya menyulitkannya.
Dari arah dapur, terlihat Seruni istri dari Yusuf, berjalan Hati-hati karena membawa nampan berisikan secangkir kopi, dan sepiring pisang goreng, yang barus saja di angkat dari penggorengan.
Bau sedap pun menguar, membuat pria beda generasi itu berbinar manatap kedatangan wanita yang paling mereka sayangi.
"Wah! Baunya sedap sekali bunda." Azka langsung menyomot pisang goreng tersebut dan segera memasukkannya ke mulut mungilnya.
Yusuf dan Seruni tersenyum bahagia melihat Azka yang begitu lahap memakan pisang goreng. "Hati-hati makannya, nanti tersedak Azka." Seruni membelai punggung anaknya.
"Wardah anteng banget di sisi kamu Mas. Dia memang benar-benar anak Ayah, ya. Nggak rewel bila di dekat kamu." Seruni tersenyum lembut melihat si balita tidur nyenyak di samping Yusuf. Wardah sama sekali tak terganggu dengan suara-suara di sekitarnya, asal dia berada di samping Ayahnya, yang sesekali membelai punggungnya.
"Biarkan dia sini Bun, aku kangen sama dia, seharian aku di luaran bekerja." Seruni menatap suaminya lembut lalu mengangguk.
Begitulah keseharian keluarga kecil itu. Walau kadang uang yang di dapat hanya cukup untuk makan sehari, tapi kebahagiaan selalu menyertai keluarga mereka. Mereka begitu tau bagaimana bersyukur dengan yang maha Pencipta, atas segala pemberiannya.
Sedang asik bersenda gurau, mereka pun di kejutkan oleh riuh ramai orang sekampung yang mendatangi kediaman mereka.
Terlihat jelas dari celah dinding papan, obor-obor menyala begitu terang dengan wajah-wajah sang pemilik obor yang sama sekali tak bersahabat. Terlihat dari para warga yang berdatangan, ada juga Pak Anwar Bos dari Yusuf beserta anak perempuannya, si Sulis.
"WOI!!! Ustad cabul! Keluar kamu! Dasar Ustad munafik! Ternyata selama ini kamu menipu kami dengan segala kebaikanmu, ya?" Teriak salah seorang warga sambil mengacungkan pemukul yang terbuat dari kayu jati.
"Betul! Cepat keluar kamu! Jangan bersembunyi terus! Atau ku dobrak pintu kayu mu ini." Sahut lelaki di sebelahnya.
Di dalam rumah, Seruni terlihat begitu ketakutan. "Mas, ada apa ini? Kok tiba-tiba warga meneriaki kamu, begitu? Apa salah yang telah kamu perbuat Mas?" Tanya Seruni cemas.
"Aku tidak merasa melakukan kesalahan, Bun.
Mungkin hanya salah paham. Biar aku yang menemui mereka, kamu di dalam saja, menjaga Wardah." Ujar Yusuf masih dengan suara lembut nya.
Azka yang memang otaknya sangat cerdas, di tambah Ayahnya yang selalu mengajari baik dan buruk, ikut mengekori Ayahnya menemui warga yang menurutnya warga sangat tidak pantas berkata sekasar itu.
Yusuf mulai membuka pintu rumahnya.
KREEEKKK!!!
Pintu terbuka lebar, Yusuf segera menyapa mereka.
"Asalamualaikum, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, ada apa ya, mendatangi kediaman saya selarut ini?" Ujar Yusuf yang kala itu, jam dinding menunjukan pukul 9 malam. Di kampung, jam 9 malam sudah termasuk dalam kata 'larut'.
Karena itu jam mereka memulai tidur.
Azka masih menyimak dengan serius sambil memegangi kaki Ayahnya di samping kanan.
"Halah... banyak bacot kamu, Yus. Dasar lelaki biadab!
Kamu."
"Maaf ya, Bapak-Bapak, saya masih belum paham, ada apa sebenarnya ini?" Tanya Yusuf yang memang belum paham.
"Heh, Ustad cabul! Tidak ingatkah sudah menghamili anak Juragan Anwar? Tuh, Embak Sulis perutnya sudah mulai besar, masih saja sok lugu. Cuih!" Ujar Mang Karim sambil meludah di tanah sangking geramnya.
Yusuf masih terpaku dengan kata-kata dari Mang Karim. "Maaf, demi Allah saya tidak pernah menyentuh, apa lagi mensetubuhi wanita lain, selain istri saya. Mungkin ini salah paham." Elak Yusuf yang mana dia sama sekali tak merasa menghamili siapa pun.
"Bohong! Bapak-Bapak, Ibu-Ibu. Saya benar di hamili dia. Saat itu, dia merayu saya, dia bilang sangat mencintai saya, dan berjanji akan menikahi saya. Saya yang sangat menghormati dia sebagai orang yang di segani oleh masyarakat di desa kita ini, sangat tersanjung. Walau saya menolak ajakannya untuk melakukan hal itu. Namun janji manisnya yang akan menikahi saya segera, akhirnya saya menjadi luluh, dan menyerahkan diri saya seutuhnya kepadanya. Tapi, saat saya di nyatakan positif hamil, dan dia saya mintai pertanggung jawaban atas perbuatannya, dia mengelak. Saya hancur, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu. Biarlah aib saya tanggung, tapi bagaimana dengan anak ini? Saya lebih baik m4ti saja dari pada harus menaggung malu.
Huhu..."
Sulis terlihat terisak pilu.
Semua warga pun ikut sedih mendengar cerita Sulis, sekaligus teramat geram sama lelaki yang sangat mereka agungkan karena kebaikannya yang tanpa pamrih, ternyata tak lebihnya dari seorang biadab penjahat kelamin.
"Astagfirullahhalazim, Yusuf! Sebejat itu kamu. Sekarang, katakan kepada kami, siapa lagi yang telah kau setubuhi, hah!? Sungguh kami, seleruh warga kampung ini, sangat menyesal telah memperlakukan kamu sangat baik. Katakan Yusuf." Tegas Mang Prapto.
"Demi Allah, Bapak-Bapak, Ibu-Ibu. Saya tidak melakukan hal sekeji itu." Sanggah Yusuf kembali, sungguh-sungguh.
Azka pun mulai geram dengan tuduhan-tuduhan yang tak mempunyai bukti terhadap Ayah nya. Dia sangat percaya, Ayahnya orang baik.
"Yusuf, saya tidak menyangka. Kebaikan saya selama ini terhadapmu, engkau sia-siakan. Saya sangat percaya kepadamu Yus, makanya saya bayar kamu untuk menjadi guru les agama untuk anak saya, yang mana, sangat kurang didikan agama dari kami, selaku orang tuanya. Tapi... malah kamu hancurkan kepercayaan itu. Sekarang, nasi sudah menjadi bubur, Yus. nikahi anak saya, walau dia akan menjadi istri keduamu pun saya sudah ikhlas." Pak Anwar sebagai Ayah yang telah hancur hatinya karena merasa telah di perdaya Yusuf pun hanya bisa pasrah.
Seruni yang sudah tidak sanggup berada lama-lama di dalam pun akhirnya ikut keluar. Apalagi wardah yang terbangun karena keributan di luar rumah mereka.
"Mas." Sebutnya sudah berada di samping suaminya. Yusuf membelai punggung Seruni mencoba menenangkan istrinya.
"Pak Anwar, saya mohon maaf, tidak ada sedikit pun niat di hati saya, untuk menikah lagi. Bagi saya, hanya cukup satu istri saya, yaitu Seruni. Dan pak Anwar, demi Allah, pak, saya tidak pernah menyentuh anak Bapak. Saya sangat takut akan hukum Allah." Yusuf terus mencoba memberi pengertian.
Sulis melirik Mang Prapto dan Mang Karim. Kedua lelaki yang paham itu pun mengangguk pelan.
"Halah... Ustad munafik! Sudah, kita seret saja ke alun-alun. Percuma bernegoisasi dengan dia. Dia pasti tidak akan mau bertanggung jawab. Dan pastinya, dia sudah meniduri banyak gadis di desa kita ini."
"Betul! Pria ca-bul berkedok Ustad, macam dia, jangan di beri ampun. Bila perlu kita musnahkan! Biar tidak ada lagi korban."
Teriak Prapto dan Karim.
"Saya sebagai wanita, sangat setuju. Ayo Ibu-Ibu, tunjukan suara kalian! Demi masa depan anak-anak gadis kita." Imbuh Parmi, seorang janda yang beranakan dua putri.
"Ayo! Saya setuju pokoknya mah. Ayo Ibu-Ibu lain, serukan suara kalian." Sahut Mbok Paijah wanita yang berusia hampir genap 50 tahun itu dengan lantang menyuarakan kesetujuaannya, sekaligus mengajak warga lain untuk setuju.
"Setuju!"
"Setuju!"
Akhirnya semua berteriak dengan kata yang sama.
Sulis menyunggingkan senyum iblis nya. Pak Anwar tidak bisa lagi berkata-kata.
Seruni sudah terisak di bahu suaminya.
"Mas, aku nggak mau terjadi apa-apa kepadamu Mas."
"Tidak apa-apa, Bun. Kamu yang tenang, ya? Kamu di rumah saja, jaga anak-anak. Doakan Mas yang terbaik saja. Insyaallah, Allah akan melindungi Mas, juga kita." Dalam keadaan yang menyudutkannya pun, Yusuf tetap tenang.
"Azka, jaga Dede sama Bunda baik-baik ya? Bila Ayah tak kembali, Azkalah yang bertanggung jawab menjaga mereka. Azka paham?" Pesan Yusuf yang membuat Seruni istrinya, makin tercabik hatinya.
Azka yang sudah mempunyai firasat buruk pun mengangguk. "Iya Ayah. Azka berjanji. Tapi Ayah pulang kan?" Tanyanya, dengan deraian air mata di pipi mungilnya.
Yusuf mengusap air mata Azka, lalu tersenyum dan menyamakan tingginya dengan anak sulungnya tersebut. "Insyaallah, Ayah kembali. Doakan yang terbaik buat Ayah."
Azka kembali mengangguk kecil.
"Halah... drama banget kamu Yus! Semuanya, cepat seret Ustad cabul, itu!" Teriak Mang Karim dengan suara sangat lantang.
"Ayo-ayo!" Mang Prapto pun mengajak Bapak-Bapak lain untuk mengikutinya.
Tidak ada lima menit, Yusuf pun telah mereka cekal. Lalu dengan paksa mereka menyeret tubuh Yusuf yang membuat Yusuf oleng, dan tersungkur di tanah.
"Ayah!" Teriak Azka yang sangat sedih melihat keadaan Ayah nya di perlakukan sekasar itu.
"Ayo... cepat! Lelet banget kamu! Giliran naikin anak gadis orang saja, kamu pandai sekali!" Cerca Pak Karim menyeret tubuh Yusuf dengan kasar.
"Jangan bawa Ayahku! Jangan! Kalian orang-orang jahat!" Teriak Azka yang perih melihat Ayah nya di seret, dan di pukuli oleh warga.
"Pak Anwar, Embak Sulis, ku mohon. Maafkanlah suami saya." Seruni berlari dan bersujud di kaki Sulis dan Bapaknya.
"Saya mohon Pak, Embak." Dengan deraian air mata, Seruni terus memohon.
Namun, bukannya rasa simpatik yang dia dapat, Sulis mengibaskan kakinya, membuat Seruni terjengkang kebelakang.
"Enyah kau wanita buruk! Kau yang telah mempengaruhi Mas Yusuf agar tak menikahiku kan? Sekarang kita impas. Aku tak bisa memiliki, kau juga tidak dapat bersamanya lagi. Aku yakin, para warga akan memb4karnya hidup-hidup." Ketus Sulis lalu menggandeng Bapaknya menjauhi Seruni yang masih duduk terisak, sambil menggendong Wardah yang juga menangis karena ketakutan.
***
"Bunda, ayo kita ikuti kemana Ayah di bawa, kita juga harus melindungi Ayah, Bun." Rengek Azka yang sangat ketakutan, tidak bisa bertemu Ayahnya kembali.
Seruni mengangguk, dan segera membawa kedua anaknya menyusul warga, yang membawa suaminya ke alun-alun desa.
***
Di alun-alun yang nampak terang benderang oleh api obor warga yang hampir semuanya hadir di sana. Berita Ustad yang hidup sangat sederhana, namun sangat di segani oleh para penduduk desa pun, membuat semuanya berdatangan karena penasaran.
"Bapak-Bapak, Ibu-Ibu, warga desa kampung ini. Saya mau memberitahukan kepada kalian, bahwa, Ustad Yusuf yang kita kenal sebagai seorang yang baik, dan suka membantu tanpa pamrih, ternyata dia hanyalah seorang ca-bul yang berkedok Ustad! Dia telah menodai anak Juragan terkaya kita yang baik hati, namun dia tidak mau bertanggung jawab. Sangat tidak manusiawi dan bi4dab! Bukan?
Karena Embak Sulis sebagai korban telah ikhlas bila Ustad gadungan ini di hukum, maka kita hukum dia sampai m4ti. SETUJU???!!!" Teriak Mang Karim dengan lantangnya.
"SETUJU!!!" Teriak semuanya lantang.
Yusuf yang merasa percuma bila dia memberikan keterangan lagi pun hanya bisa pasrah sambil berdoa yang terbaik untuk anak-anak dan istrinya.
Tak terlihat rasa takut sedikit pun dari wajah Yusuf, karena dia yakin, dia tidak bersalah.
Warga pun mulai m3nc4mbukki tubuh Yusuf tanpa rasa belas kasihan sedikit pun.
Beberapa yang menonton terlihat kengerian melihat aksi brutal para penduduk.
Seruni yang menggendong Wardah, dan menggandeng Azka menutup mulutnya karena terkejut.
"Ya Allah. Kejamnya mereka." Lirih Seruni kembali air matanya menggenangi pipinya yang mulus.
Wardah yang sudah diam, kembali menangis. "Yayah.. .!" Sebutnya sambil menunjuk ke arah Ayah nya yang meringis menahan kes4kit4n yang sedang di c4mbuki warga.
Azka langsung berteriak. "Jangan! Jangan sakiti Ayahku! Ayahku orang baik! Jangan!... huhu... jangan!" Azka mencoba lepas dari genggaman Ibunya. Namun Seruni tetap memegangnya erat, takut warga pun menyakit anak sulungnya yang masih kecil.
"Ayah...! Bunda, Ayah kesakitan Bunda. Ayo kita tolong Ayah, Bunda." Azka meronta-ronta ingin menyelamatkan Ayahnya.
Seruni berjongkok lalu memeluk anak lelakinya.
"Jangan sayang, Azka jangan mendekat. Berbahaya, masih ingat nasehat Ayah barusan, nak?" Ujar Seruni yang kata-kata nya tercekat oleh tenggorokannya yang tak kuasa lagi menahan pedihnya cobaan ini.
Yusuf terlihat tak sadarkan diri karena merasakan sakit dan perihnya c4mbukan yang dia terima dari para warga. Tubuhnya sudah tak berbentuk, terlihat luka panjang menganga memenuhi di sekujur tubuhnya, bajunya pun compang-camping. Tapi warga seolah belum puas, mereka pun mulai menyiramkan bensin kesekujur tubuh Yusuf, lalu menyiramkan ke sekitar di mana Yusuf di ikat.
Yusuf tersadar dari pingsannya, karena mencium aroma yang menyengat. Tubuhnya terasa sangat perih..., dia pun melihat Sulis menyalakan korek api, dan melemparkan ke arahnya. Yusuf sontak mengucapkan kata istigfar, karena sempat mengutuk Sulis. lalu dia bertakbir sebagai tanda berlindung dengan kebesaran sang Maha Pencipta, dan mengucap kata talqin, saat dia merasa sudah di ujung nyawanya.
Seruni dan Azka. Segera berlari menjauh, tidak tega melihat kekejaman warga terhadap lelaki tersayang mereka.
"Astagfirullah halazim. Ya Allah, hamba ikhlas bila suami hamba Engkau ambil. Hamba mohon, berilah suami hamba surga terbaikmu ya Allah." Ucap Seruni dalam langkhnya sambil terisak pilu. Tangannya tak lepas memegangi Azka yang terus meronta ingin menyelematkan Ayahnya.
"Ayah... Ayah... Bun, Azka mau tolongin Ayah. Biarkan Azka, menolong Ayah, Bun. Kasihan Ayah kesakitan, dan kepanasan, Bun. Huhu... Ayah." Mohon Azka dengan sesenggukan.
Kobaran api yang membumbung tinggi menutupi tubuh Yusuf yang ada di dalamnya, membuat senyum Sulis merekah sempurna.
Apalagi dia sempat melihat Seruni bersama anaknya menangis pilu meratapi apa yang terjadi kepada pria tersayang mereka.
Rasanya Sulis sangat puas luar biasa.
Dia pun mengingat kembali, akan segala caranya merayu sang Ustad, namun tetap di tolak oleh sang Ustad, sampai dia merengek, akan ikhlas walau hanya di jadikan istri kedua, namun Yusuf tetap dalam pendirian awal.
Hingga dia pernah b3rt314nj4ng tubuh di depan Ustad, tetap Yusuf menolaknya, walau penolakannya sangat halus, tapi bagi Sulis, itu penghinaan yang sangat kejam baginya. Apalagi notabenya Sulis adalah anak juragan kaya, banyak pria mengantri untuk menjadi pendampingnya, atau sekedar menjadi pemuas nafsunya, asal kan mereka di cukupi oleh Sulis. Harta keluarga Sulis, sangat melimpah. Tidak ada yang dapat menyaingi kekayaan keluarganya. Semua orang bertekuk lutut, menyembah, supaya mereka dapat kecipratan sedikit rezeki dari keluarganya.
Suatu ketika, Sulis yang suka keluar malam tanpa sepengetahuan keluarganya, dan selalu tidur dengan banyak pria pun hamil. Dia mencoba meminta simpatik dari Yusuf sang Ustad tampan yang di sukai banyak gadis-gadis desa, dan sangat di segani karena kealimannya dan kebaikannya. Tapi malah penolakan lagi yang dia dapat, padahal dia hanya meminta pertolongan untuk menikahinya secara siri saja, pikirnya.
"Embak sulis, jujur saja sama Bapak, siapa yang menghamili, Embak. Insyaallah Pak Anwar akan paham."
"Tapi, Mas. Lelaki itu tidak baik, Bapak pasti tidak setuju. Saya tidak mau melahirkan bayi tanpa Ayah Mas. Saya mohon, bantu saya. Huhu!" Sulis menunduk di hadapan Yusuf.
"Jika Bapak tidak setuju, biar saya yang bicara sama Bapak, memberi pengertian, insyaallah bapak paham, Embak Sulis. Ya sudah, saya pamit dulu. Sudah sore, saya harus pulang dulu. Embak yang kuat ya? Ada apa-apa saat bicara sama Bapak, beritahu saya, saya akan bantu Embak ngomong sama Bapak. Wassalamualaikum, Embak Sulis."
Pamit Yusuf sopan, lalu melangkah mendekati sepedanya yang terparkir di serambi rumah mewah milik Pak Anwar.
Sulis nampak menatap nyalang kepada Yusuf. Lalu dia membanting gelas minum yang di pakai oleh Yusuf sewaktu mengajarinya tentang ajaran agama.
Dan terjadilah kejadian malam ini.
Sulis tertawa bahagia. Lalu menjauh dari tempat itu.
Empat orang bayaran yang di perintah Sulis untuk menjadi provokasi pun, sudah berada di tempat untuk menunggu bayaran mereka, yang di mana telah Sulis sebutkan tempatnya.
Mereka pun menatap bahagia melihat kedatang Sulis dengan bodyguard nya.
"Nih, bayaran kalian. Ingat, tidak boleh seorang pun tahu tentang ini, termasuk keluargaku. Kalau ada kebocoran, maka kalian yang akan menjadi Yusuf berikutnya." Ucap Sulis tegas.
Keempatnya mengangguk lalu mengambil amplop bagian mereka masing-masing dengan senyuman merekah.
Mereka pun mulai membuka amplop yang berisikan uang yang di ikat tebal. Mata mereka berbinar bahagia, tawa puas akan hasil yang mereka dapat pun terdengar begitu riang.
"Wah, wah! Embak Sulis memang sangat Royal. Terimakasih, Embak. Kalau begini, kami siap di tugasin apa saja, Embak. Hehe." Seloroh Mang Karim senang dengan di anggukki yang lainnya.
"Banyak banget ya, Mang." Mbok Paijah terus menciumi uang tersebut bahagia.
"Aku anak orang kaya. Cuma uang segitu mah nggaka da artinya buat aku. Ya sudah! Aku pulang dulu. Ingat ya kalian, jangan sampai keceplosan. Awas kalian." Sulis memberi peringatan lalu jalan melenggok menuju rumahnya dengan pengawal di belakangnya.
"Ah! Asik! Bisa main gaple lagi besok." Mang Prapto yang ketagihan judi kartu itu mengibas-ngibaskan uang di wajahnya.
"Anak istri kamu gimana, Mang Prapto. Masa di buat main gaple semua, uangnya?" Tanya Parmi.
"Enak aja. Setiap hari saya kasih mereka uang, sekarang biar mereka cari makan sendiri, paling istri lah kecipratan dikit. Capek saya ngasih makan mereka terus." Jawab Prapto menggerutu.
"Besok kita pergi bareng Prap. Di tempat baru, nggak hanya perjudian, ada juga wanita-wanita cantiknya. Mumpung lagi banyak rezeki, kita cicipi mereka yu? Kabarnya, ada cewek bohai yang goyangannya mantap." Sahut Karim yang penasaran akan perkataan temannya kala itu.
"Ayu Ah, Kang. Sikat habis. Haha." Keduanya seakan lupa kalau ada dua wanita di sana.
Kedua wanita itu pun hanya mengedikkan bahu. Lalu mereka membubarkan diri kembali ke rumah masing-masing.
Azka yang saat itu kabur dari rengkuhan Ibunya, tangannya mengepal kuat menahan amarah di dada sambil terus melelehkan air mata.
"Kalian sangat jahat." Gumam Azka kecil yang paham dengan perkataan orang-orang dewasa tersebut.
"Ayah..., Ayah jangan khawatir ya? Azka yang akan membalas mereka. Huhuhu..." Azka ke alun-alun mengambil kayu ranting, lalu mengorek, debu-debu kayu yang bercampur abu Ayahnya.
Dengan sesenggukan dia terus mencari tubuh Ayahnya. "Ayah, di mana, Ayah? Ayah udah menjadi abu ya? Abu Ayah, yang kayak apa?" Azka terus saja meracau, tidak rela kehilangan sosok Ayah yang sangat ia kagumi itu.
JANGAN LUPA DI FOLLOW YAA