Aqilla Pramesti begitu putus asa dan merasa hidupnya sudah benar-benar hancur. Dikhianati dan diceraikan oleh suami yang ia temani dari nol, saat sang suami baru saja diangkat menjadi pegawai tetap di sebuah perusahaan besar. Ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Namun, takdir berkehendak lain, siapa sangka nyawanya diselamatkan oleh seorang pria yang sedang berjuang melawan penyakitnya dan ingin hidup lebih lama.
"Apa kamu tau seberapa besar perjuangan saya untuk tetap hidup, hah? Kalau kamu mau mati, nanti setelah kamu membalas dendam kepada mereka yang telah membuat hidup kamu menderita. Saya akan membantu kamu balas dendam. Saya punya harta yang melimpah, kamu bisa menggunakan harta saya untuk menghancurkan mereka, tapi sebagai imbalannya, berikan hidup kamu buat saya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"Kaila, kamu mau ke mana, Sayang?" tanya Aqilla, sontak berdiri tegak, mengejar sang putri.
Kaila tidak menanggapi teriakan ibunya, berlari keluar dari dalam kamar dengan perasaan kesal. Pertemuan terakhirnya dengan sang ayah menorehkan luka yang mendalam. Terlebih, Ilham tengah bersama istri barunya kala itu. Rasa benci tumbuh begitu saja di dalam hatinya. Ayah yang seharusnya menjadi cinta pertama bagi anak perempuannya, malah menjadi laki-laki pertama yang memberikan luka di hatinya.
"Aku benci sama Ayah, benci! Sampai kapan pun aku gak akan mau ketemu sama Ayah lagi," gumamnya, seraya menyeka air mata yang tiba-tiba berjatuhan membasahi kedua sisi wajahnya.
Hingga akhirnya, tubuh Kaila hampir saja terhempas karena menabrak seseorang. Beruntung, pria tersebut segera meraih pinggang kecilnya dan menahan tubuh mungil anak berusia tujuh tahun itu.
"Astaga, Kaila. Kamu mau ke mana malam-malam begini, Nak?" tanya pria tersebut lalu berjongkok tepat di depan Kaila.
"Om Dion ..." rengek Kaila, seraya terisak.
"Kenapa kamu nangis, Kaila? Apa kamu berantem sama adikmu?"
Kaila menggelengkan kepala, hingga Aqilla akhirnya tiba di depan mereka. "Kaila, Sayang," lirih Aqilla, berjongkok tepat di depan mereka berdua.
Kaila tidak menanggapi sapaan sang ibu, gadis itu menatap wajah Dion dengan tatapan sayu. "Om Dion gak pulang sama Om Radit? Om Radit ke mana? Ko dia belum pulang?" rengeknya dengan suara manja.
"Om Radit ada di Rumah Sakit, Kai," jawab Dion seraya mengusap kepala Kaila dengan lembut.
"Apa Pak Radit baik-baik aja, Mas Dion? Dia gak kenapa-kenapa, 'kan?" tanya Aqilla merasa khawatir, seraya berdiri tegak.
"Eu ... Pak Radit baik-baik aja, Mbak. Hanya ada sedikit masalah, makannya harus dirawat di Rumah Sakit, tapi besok juga sudah boleh pulang ko," jawab Dion, melakukan hal yang sama seperti Aqilla, berdiri di hadapannya.
"Aku mau nemenin Om Radit, Bu. Kasihan Om Radit sendirian di sana. Boleh ya Bu malam ini kita nginep di Rumah Sakit," rengek Kaila, mendongak menatap wajah sang ibu.
"Hmm ... gimana, ya," gumam Aqilla seraya menggerakkan matanya ke kiri dan kanan.
"Please, Ibu. Waktu itu 'kan kita pernah nginep di Rumah Sakit juga waktu Keano sakit. Emangnya Ibu gak kasihan sama Om Radit? Dia 'kan calon suami Ibu."
Aqilla terdiam, mengalihkan pandangan mata kepada Dion seolah tengah meminta pendapatnya. Beruntung, pria itu peka dengan tatapan mata Aqilla meskipun tidak mengatakan apapun.
Dion tersenyum ringan seraya berujar, "Gak apa-apa, Mbak. Pak Radit pasti senang ditemani sama anak-anak."
"Tuh, 'kan. Boleh ya, Bu. Please," rengek Kaila lagi, memohon dengan sangat.
Aqilla menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. "Ya udah, kamu siap-siap dulu. Bilang juga sama Keano."
Kaila bersorak senang. "Yeeey," serunya, lalu berlari ke arah kamar.
Sepeninggal Kaila, Aqilla kembali menatap wajah Dion dengan khawatir. "Kamu yakin Pak Radit baik-baik aja, Mas Dion? Gak biasanya beliau dirawat habis cuci darah?"
"Anda tak usah khawatir, Mbak Aqilla. Kata Dokter, kondisi Pak Radit kurang fit waktu cuci darah tadi siang. Takutnya ada efek samping, makannya harus dirawat."
"Eu ... kalau kesehatan Pak Radit mengkhawatirkan, aku siap ko mendonorkan ginjalku sekarang, Mas Dion. Pernikahan kami satu Minggu lagi, aku takut kesehatan beliau semakin memburuk," ucap Aqilla benar-benar merasa khawatir. "Aku yakin, aku pasti baik-baik aja meskipun cuma punya ginjal."
Dion terdiam, bingung dan tidak tahu harus menjawab apa. Satu hal yang tidak Aqilla ketahui mengenai donor ginjal yang akan dilakukan olehnya. Bukan hanya satu ginjal yang dibutuhkan oleh Radit, melainkan dua ginjal sekaligus karena pria berusia 37 tahun itu menderita gagal ginjal kronis di mana satu ginjal saja tidak cukup untuk memulihkan kondisinya yang sebenarnya sudah sangat mengkhawatirkan.
"Kenapa Anda diem aja, Mas Dion? Aku yakin, aku akan baik-baik aja meskipun cuma punya satu ginjal," ujar Aqilla dengan yakin.
"Untuk masalah itu, lebih baik Anda bicara langsung sama Pak Radit, Mbak. Saya tak punya hak untuk memutuskan," jawab Dion, seraya menggaruk kepalanya sendiri yang sebenarnya tidak terasa gatal.
Aqilla menghela napas panjang. "Hmm ... baiklah, biar nanti aku bicara langsung sama Pak Radit."
"Kasihan sekali kamu, Mbak. Kamu pasti belum tau kalau kamu akan mendonorkan dua ginjal sekaligus dan itu artinya, kamu akan kehilangan nyawa kamu," batin Dion, seraya menarik napas dalam-dalam.
***
Setibanya di Rumah Sakit, Radit yang tengah berbaring di atas ranjang di dalam ruangan VVIP seketika dikejutkan dengan suara Kaila dan Keano yang berteriak menyerukan namanya seraya berlari memasuki kamar. Kedua anak itu nampak tersenyum lebar, berlari menghampiri ranjang dengan wajah ceria.
"Kaila, Keano," gumam Radit, seketika tersenyum lebar, kehadiran mereka seolah mengobati kesepian yang ia rasakan.
"Om Radit!" seru Kaila dan Keano secara bersamaan. "Malam ini kami mau nginep di sini biar Om Radit gak kesepian."
"Astaga, Om seneng banget kalian dateng ke sini," ujar Radit, mencoba untuk duduk tegak dengan perasaan bahagia.
Sementara Aqilla dan Dion yang berjalan di belakang mereka hanya tersenyum lebar, seraya melangkah mengikuti kedua anak itu, lalu berdiri tepat di samping ranjang.
"Maaf, Pak Radit. Anak-anak pasti mengganggu waktu istirahat Anda," ucap Aqilla merasa tidak enak. "Kaila merengek terus minta ke sini, katanya pengen nemenin Anda di sini."
Radit tersenyum ramah, mengalihkan pandangan mata kepada Aqilla. "Gak apa-apa, Qilla. Saya justru seneng mereka ada di sini. Jujur, sebenarnya saya kesepian sendirian di sini."
"Huaaa ... tapi aku ngantuk banget. Boleh tidak aku tidur duluan?" ucap Kaila, seraya membuka mulutnya lebar-lebar.
"Aku juga, aku tidur di sofa, ya," seru Keano, kedua matanya nampak memerah, menahan rasa kantuk.
"Dih, itu sih bukan nemenin Om Radit, tapi numpang tidur. Dasar!" celetuk Aqilla seraya tersenyum lebar.
Baik Kaila maupun Keano sama sekali tidak menanggapi ucapan sang ibu. Keduanya berlari menuju sofa lalu berbaring di sana. Sementara Dion hanya tersenyum ringan, lalu memandang wajah Radit dan Aqilla secara bergantian.
"Baiklah, Pak Bos. Karena sudah ada Mbak Aqilla dan anak-anak, saya pamit pulang, ya," ucapnya.
"Terima kasih, Dion. Jangan lupa besok jemput saya lagi ke sini."
Dion mengangguk patuh. "Baik, Pak Bos. Saya permisi sekarang."
Radit dan Aqilla mengatakan kepala, menatap kepergian Dion hingga pria itu benar-benar keluar dari dalam ruangan.
"Makasih karena kamu dan anak-anak udah nemenin saya di sini, Aqilla. Ngeliat senyum mereka, rasa sakit saya seolah hilang semua," ucap Radit, memandang Kaila dan Keano yang tengah meringkuk di sofa lalu kembali menatap wajah Aqilla.
"Apa sesakit itu, Pak?"
"Jangan panggil Pak dong. Satu Minggu lagi kita 'kan mau menikah, Aqilla," pinta Radit, memandang lekat wajah Aqilla membuat wanita itu seketika gugup. "Gimana kalau kamu mulai memanggil saya Mas? Mas Radit."
Wajah Aqilla seketika memerah, tersipu malu. Hatinya tiba-tiba bergetar, harus memanggil Radit dengan sebutan Mas membuatnya gugup dan salah tingkah.
"Eu ... apa Anda baik-baik aja, Pak Radit? Eh ... maaf, maksud aku, Mas Radit," tanya Aqilla dengan canggung.
"Saya baik-baik aja, Aqilla. Kamu gak usah khawatir, sakitnya cuma sebentar, besok juga udah bisa pulang."
"Aku siap ko mendonorkan ginjalku buat Anda, Mas Radit. Aku takut kesehatan Mas Radit semakin memburuk. Kenapa kita gak melakukan operasi donor ginjalnya sekarang aja? Aku yakin, aku akan baik-baik aja meskipun cuma punya satu ginjal."
"Dua ginjal, Aqilla. Saya tidak hanya membutuhkan satu ginjal, tapi dua ginjal dan itu artinya, kamu akan kehilangan nyawa kamu. Apa saya tega memisahkan kamu dari anak-anak kamu?" batin Radit, wajahnya seketika memucat.
Bersambung ....