Embun Nadhira Putri, 28 tahun, terjebak antara tuntutan pekerjaan dan desakan keluarganya untuk segera menikah. Ketika akhirnya mencoba aplikasi kencan, sebuah kesalahan kecil mengubah arah hidupnya—ia salah menyimpan nomor pria yang ia kenal.
Pesan yang seharusnya untuk orang lain justru terkirim kepada Langit Mahendra Atmaja, pria matang dan dewasa yang tidak pernah ia pikirkan akan ia temui. Yang awalnya salah nomor berubah menjadi percakapan hangat, lalu perlahan menjadi sesuatu yang jauh lebih berarti.
Di tengah tekanan keluarga terutama sang Mama, rutinitas yang melelahkan, dan rasa takut membuka hati, Embun menemukan seseorang yang hadir tanpa diminta.
Dan Langit menemukan seseorang yang membuatnya ingin tinggal lebih lama.
Terkadang takdir tidak datang mengetuk.
Kadang ia tersesat.
Kadang ia salah alamat.
Dan kali ini…
takdir menemukan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lacataya_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 – Kesadaran Kecil Yang Tidak Bisa Diabaikan
Dari balik ruang kaca, Reno berdiri di sisi Langit sambil membuka laporan di tabletnya, menjelaskan perkembangan audit lanjutan dengan nada profesional yang rapi. Langit mengangguk sesekali, memberi respons seperlunya, namun Reno—yang sudah bertahun-tahun menjadi asisten sekaligus pengamat paling jujur—mulai menangkap pola yang tidak tertulis di laporan mana pun.
Setiap kali Embun bergerak. Setiap kali ia berdiri untuk berdiskusi singkat. Setiap kali layar di mejanya berubah.
Pandangan Langit jatuh ke sana. Tidak lama. Tidak terang-terangan. Namun terlalu sering untuk disebut kebetulan.
Reno berhenti bicara sepersekian detik, memastikan, lalu melanjutkan laporannya sambil melirik sekilas ke arah Langit, yang kini berdiri dengan tangan bersedekap, menatap ke luar ruangan dengan ekspresi tenang yang terlalu terjaga.
‘Oh,’ pikir Reno dalam hati. ‘Ini bukan sekadar kandidat berbakat.’
Namun ia tidak mengatakan apa pun. Belum.
*
Langit keluar dari ruangannya beberapa menit kemudian, langkahnya tenang, auranya langsung membuat lantai empat puluh tujuh terasa sedikit lebih hening. Ia berjalan mendekat ke tengah ruangan, berhenti tepat di dekat meja Embun tanpa membuat keributan.
Embun yang sedang menatap layar refleks berdiri, sedikit terlalu cepat, seolah takut terlambat menyadari kehadirannya.
“Pak,” sapanya sopan, suaranya stabil meski dadanya berdetak lebih cepat dari yang ia mau.
Langit mengangguk singkat, pandangannya jatuh ke layar Embun—bukan ke wajahnya. “Latency gateway turun.”
“Iya, Pak,” jawab Embun, menahan diri untuk tidak menjelaskan terlalu panjang. “Cuma penyesuaian kecil.”
Langit mengangguk lagi, lebih pelan kali ini. “Good.”
Satu kata. Pendek. Namun cukup untuk membuat jari Embun mengencang di sisi meja.
“Lanjutkan,” tambah Langit, lalu mengangkat pandangannya—dan untuk sepersekian detik, mata mereka bertemu.
Tidak ada senyum. Tidak ada basa-basi.
Namun di ruang sebesar itu, ada sesuatu yang bergerak pelan, seperti sistem yang baru saja menemukan pasangan frekuensi yang tepat.
Langit berbalik lebih dulu, melangkah pergi menuju lift dengan langkah yang tetap profesional, sementara Embun berdiri diam beberapa detik sebelum akhirnya duduk kembali, menarik napas perlahan, dan menatap layar dengan fokus yang kini terasa berbeda.
Di lantai empat puluh tujuh itu, tanpa drama dan tanpa deklarasi, satu hal sudah jelas bagi semua yang peka membaca tanda-tanda kalau Embun tidak sedang diuji lagi. atpi ia sudah diterima.
Dan Langit—meski belum mengaku pada siapa pun—baru saja merasakan getaran yang sama seperti setiap kali ia mendengar satu suara di ujung telepon larut malam.
**
Darren berdiri menyandarkan bahunya di dekat dispenser kopi lantai empat puluh tujuh, menunggu mesin selesai bekerja sambil menatap layar ponselnya yang bahkan tidak benar-benar ia baca, ketika Mita—salah satu dari dua perempuan di The Hive—datang dan berdiri di sampingnya dengan gerakan tenang yang khas, membawa mug kosong dan ekspresi datar yang menyimpan banyak penilaian.
“Anak baru,” ucap Mita pelan, tanpa perlu menyebut nama, seolah yakin Darren pasti tahu siapa yang ia maksud.
Darren mengangguk kecil, sudut bibirnya terangkat samar. “Yang duduk di tengah.”
“Yang pasang layer proteksi tanpa ribut,” lanjut Mita, menuang kopi dengan gerakan rapi. “Dan berani nyentuh gateway tanpa bikin sistem rewel.”
Reno yang kebetulan lewat untuk kembali ke ruang Langit berhenti sepersekian detik, menoleh ke arah mereka berdua dengan alis sedikit terangkat. “Ada masalah?”
“Enggak,” jawab Darren cepat, menggeleng ringan. “Justru kebalikannya.”
Mita melirik Reno, tatapannya tajam tapi tidak mengancam. “Dia bukan tipikal anak baru yang nunggu disuruh. Dia observasi dulu, baru bergerak. Itu… jarang.”
Reno menyimak tanpa memotong, ekspresinya netral, namun matanya mencatat setiap kata.
“Dan satu lagi,” tambah Darren sambil mengambil cangkirnya, “dia ngerti kapan harus berhenti. Itu yang bikin kita tenang.”
Reno mengangguk pelan, seolah mengonfirmasi sesuatu yang sejak tadi sudah ia rasakan sendiri. “Noted,” katanya singkat, lalu melangkah pergi, meninggalkan Darren dan Mita dengan satu kesepakatan tak tertulis.
Anak baru itu… bukan sekadar pintar.
Menjelang sore, Langit kembali melintas di lantai empat puluh tujuh, kali ini tanpa Reno, langkahnya tetap tenang, auranya sama seperti biasa, namun ada sesuatu di matanya yang lebih awas. Ia berhenti di dekat meja Embun yang sedang membaca ulang log dengan konsentrasi penuh, lalu mengetuk permukaan meja dengan ujung jarinya—satu ketukan ringan, cukup untuk membuat Embun mendongak.
“Pak,” sapa Embun sambil berdiri setengah, segera mengoreksi posturnya agar tetap profesional.
Langit memberi isyarat kecil agar ia tidak perlu berdiri, pandangannya jatuh ke layar, membaca cepat tanpa menyentuh apa pun. “Layer proteksi yang kamu pasang,” katanya pelan, “pastikan dokumentasinya lengkap. Tim lain akan perlu tahu cara kerjanya.”
Embun mengangguk cepat. “Siap, Pak. Nanti saya upload ke drive internal.”
Langit mengangguk, lalu menambahkan, dengan nada yang tetap datar namun jelas, “Kerjanya rapi.”
Itu saja. Tidak ada embel-embel. Tidak ada senyum. Namun ketika Langit berbalik pergi, dan Embun kembali duduk, jantung mereka berdua berdetak sedikit lebih cepat dari yang seharusnya, seolah ada sesuatu dari interaksi singkat itu yang tidak ikut berhenti di lantai empat puluh tujuh.
Getarannya… masih terbawa.
**
Malam itu berjalan lebih pelan dari biasanya, seolah kota ikut menahan napas ketika Langit menyandarkan punggung ke kursi kerja di rumahnya, satu tangan menopang pelipis, sementara layar ponsel menyala di hadapannya—nama Miss masih tertera, menunggu ia menekan tombol panggil yang kini terasa sedikit lebih berat dari malam-malam sebelumnya.
Ia sudah terlalu yakin untuk berpura-pura biasa. Namun belum cukup berani untuk memastikan.
Panggilan tersambung.
“Halo,” suara Embun terdengar lembut di seberang, sedikit lebih dekat dari biasanya, seperti seseorang yang sedang berbicara sambil menahan senyum.
“Halo,” jawab Langit, menurunkan nada suaranya satu tingkat, hati-hati agar tetap terdengar seperti Mister, bukan seperti dirinya yang siang tadi berdiri beberapa meter darinya.
“Kedengerannya… capek,” kata Embun pelan.
“Hari yang panjang,” jawab Langit singkat, lalu menambahkan, seolah tidak sengaja, “Tapi produktif.”
Embun terkekeh kecil. “Sama. Gue ngerasa otak gue diperas hari ini.”
Langit hampir tersenyum lebih lebar dari yang seharusnya.
“Lo kerja sama orang-orang yang… intens?” tanyanya, berpura-pura netral.
“Banget,” jawab Embun tanpa ragu. “Mereka jarang ngomong, tapi sekali ngomong tuh tepat sasaran. Kayak—” ia berhenti sebentar, mencari kata yang pas, “—kayak orang-orang yang lebih percaya sama log daripada opini.”
Jantung Langit berdetak satu ketukan lebih cepat.
“Itu… tipe orang yang enak diajak kerja,” katanya pelan.
“Iya,” sahut Embun cepat. “Dan… anehnya, gue ngerasa aman.”
Kata itu jatuh dengan lembut, tapi menghantam tepat di dada Langit. Aman.
Ia menarik napas pelan, lalu—nyaris tanpa sadar—bertanya dengan nada yang terlalu spesifik.
“Mejanya di tengah, ya?”
Di seberang sana, Embun terdiam. Bukan lama. Namun cukup.
“Hah?” ucapnya, tertawa kecil yang terdengar dipaksakan. “Maksud lo?”
Langit tersadar. Terlalu jauh. Terlalu cepat.
“Maksud gue,” katanya cepat, merapikan nada suaranya, “kalau lo tipe yang enak koordinasi, biasanya dikasih posisi yang gampang diakses.”
“Oh,” Embun mengangguk meski Langit tak bisa melihat. “Iya sih. Tapi itu cuma kebetulan.”
Ia tertawa lagi, kali ini lebih ringan, mencoba menutup rasa aneh yang sempat menyelip. Langit ikut tertawa kecil, meski di dalam kepalanya satu alarm kecil baru saja berhenti berbunyi.
Beberapa detik berlalu dalam obrolan ringan, sampai Embun tiba-tiba berkata, tanpa maksud apa pun selain spontan,
“Eh, Mister… lo tau gak sih, bos gue suaranya mirip lo.”
Kalimat itu membuat Langit membeku. Sepersekian detik. Namun terasa lama.
“Mirip gimana?” tanyanya, hati-hati, terlalu hati-hati.
Embun terkekeh. “Nada bicaranya. Cara ngomongnya. Kayak… tenang tapi bikin orang diem.”
Langit menelan ludah pelan, lalu menjawab dengan tawa kecil yang ia latih sejak lama. “Mungkin semua bos begitu.”
“Enggak ah,” bantah Embun cepat, lalu berhenti, seolah menyadari sesuatu. “Eh… tapi ini cuma perasaan gue aja kok. Gue kebanyakan mikir.”
Dan di situlah mereka berdua melakukan hal yang sama—menarik diri.
Embun memilih percaya bahwa itu hanya kebetulan. Langit memilih tidak menekan lebih jauh.
Karena mereka sama-sama tahu: satu pertanyaan lagi, satu kata lagi, satu nada yang meleset sedikit saja— dan semuanya bisa terbuka.
“Miss,” kata Langit akhirnya, lebih lembut dari sebelumnya, “kadang perasaan itu cuma sinyal. Belum tentu harus langsung diartikan.”
Embun menghembuskan napas kecil. “Iya. Gue juga mikir gitu.”
Mereka tersenyum di tempat masing-masing, tanpa saling melihat, tanpa saling tahu bahwa senyum itu memiliki bentuk yang sama.
Panggilan berakhir dengan ucapan selamat malam yang biasa. Namun setelah layar ponsel gelap, dua pikiran tetap menyala.
Langit menatap kosong ke depan, satu keyakinan menguat diam-diam di dadanya, bukan lagi dugaan, melainkan hampir pengakuan yang belum berani ia ucapkan.
Sementara Embun memeluk bantalnya, menatap langit-langit kamar, dan berbisik pelan pada dirinya sendiri—lebih pelan dari biasanya.
“Enggak mungkin.”
Namun malam itu… jarak antara tidak mungkin dan hampir pasti terasa setipis napas yang tertahan.
**
Sementara itu, Waktu juga berjalan cepat di gedung Wiratama Law Firm. Tanpa disadari, sore sudah berubah menjadi malam. Suara printer, ketikan keyboard, dan deru lembut AC menjadi satu-satunya teman yang tersisa di lantai kantor yang kini mulai kosong. Sebagian besar lampu sudah dimatikan, hanya area meja Bia yang masih terang — cahaya putih dari lampu meja dan monitor menyinari wajahnya yang mulai tampak letih.
Tumpukan dokumen berserakan di kiri kanan. Ia harus memastikan semuanya siap untuk persidangan minggu depan. Di layar laptop, kata demi kata bergulir cepat, tapi fokus Bia mulai goyah. Matanya terasa berat, punggungnya kaku. Ia belum makan malam, dan tubuhnya terasa agak dingin.
Dengan pelan, ia berdiri dan menuju pantry. Langkahnya sedikit lambat, suara hak sepatunya terdengar samar memantul di lantai marmer. Ia menyalakan dispenser, menuang air panas ke dalam cangkir, lalu menatap uap yang mengepul dari teh yang baru diseduhnya.
“Kenapa badanku agak aneh ya…” gumamnya lirih. Telapak tangannya menyentuh dahinya perlahan. Hangat, tapi belum benar-benar panas.
Ia meneguk sedikit teh, membiarkan rasa hangatnya turun ke tenggorokan, lalu kembali berjalan ke ruangannya.
Sepi. Gedung yang biasanya riuh oleh suara langkah, telepon, dan tawa kini hanya menyisakan dengung AC dan bunyi sapu yang diseret pelan oleh petugas kebersihan di koridor.
Sesampainya di meja, Bia kembali duduk. Layar monitor menyilaukan matanya yang mulai berair. Ia mencoba fokus, tapi tulisan di layar mulai terlihat berbayang. Sekali, dua kali, ia menggeleng pelan, berusaha mengusir pusing yang datang tiba-tiba. Tangannya memijat tengkuknya perlahan.
“Mungkin istirahat bentar nggak apa-apa yaa,” gumamnya pelan, nyaris tak bersuara.
Ia menautkan kedua tangannya di atas meja, menundukkan kepala, dan menyandarkannya di sana. Udara dingin dari AC terasa lembut di kulit wajahnya, kontras dengan rasa hangat di tubuhnya yang mulai lelah. Matanya perlahan tertutup, sementara suara detik jam di dinding menjadi satu-satunya irama yang menemaninya.
Dari kejauhan, suara pelan seseorang memanggil. “Mbak Bia belum pulang? Itu mukanya pucet banget, lho,” suara Maman, petugas kebersihan yang sedang melintas, terdengar khawatir.
Bia mengangkat kepala sedikit, tersenyum samar. “Oh, belum, Man. Masih nyelesain dikit lagi. Ntar aku pulang, kok.” Matanya kembali menatap layar.
“Ya sudah, Mbak. Kalau butuh apa-apa panggil Maman aja, ya,” katanya sambil berlalu.
Bia hanya mengangguk, menatap kursor yang berkedip di layar. Tapi fokusnya sudah mulai hilang. Pandangan matanya kabur, huruf-huruf di layar mulai menari-nari samar. Ia menggigit bibir bawahnya, menggeleng pelan lagi, tapi tetap tidak membantu.
“Pusing…” bisiknya pelan.
Ia menunduk lagi, kali ini dengan gerakan yang lebih pelan. Kedua tangannya disilangkan di meja, dan kepala mungilnya bersandar di sana. Matanya tertutup sepenuhnya, napasnya perlahan melambat.
Hening. Hanya suara mesin pendingin yang terus berdengung pelan.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, setelah berjam-jam berjuang melawan lelah dan dingin, Bia akhirnya tertidur — di antara berkas, cahaya monitor yang masih menyala, dan keheningan kantor yang nyaris sepenuhnya milik dirinya sendiri.
**
Pertemuan terakhir di lounge hotel berakhir lebih lama dari yang dijadwalkan. Begitu klien terakhir pamit, Angkasa hanya mengangguk singkat dan menutup map di depannya. Ia tidak berkata banyak—kepalanya sudah penuh dengan daftar berkas yang menunggu di kantor.
“Pak, mau langsung ke rumah?” tanya Amar, asistennya, sambil mengumpulkan dokumen ke dalam tas kerja.
Angkasa melirik jam tangannya. Jarum panjangnya sudah menunjuk ke angka delapan lebih dua puluh. “Kantor dulu,” jawabnya singkat. “Ada beberapa file yang harus aku cek sebelum meeting besok pagi.”
Mereka berdua meninggalkan hotel. Mobil hitam yang menjemput sudah menunggu di depan pintu lobi. Jalanan malam Jakarta tampak lebih sepi dari biasanya, hanya lampu jalan dan cahaya gedung tinggi yang masih menyala menemani perjalanan pulang ke gedung Wiratama Law Firm
Begitu sampai di gedung kantor, Angkasa berjalan cepat menuju lift, jasnya masih rapi, dasinya sedikit longgar. Johan mengikutinya tanpa banyak bicara. Mereka sedang menunggu lift yang akan membawa mereka ke lantai delapan. Sedangkan Amar menunggu didalam mobil.
Begitu pintu list terbuka muncul Maman yang sedang mengelap kaca di dalam lift.
“Lho, Pak Angkasa mau keatas?”
Suara itu membuatnya menoleh. Ternyata Maman—OB yang sedang bertugas malam ini.
“Saya kira Bapak udah pulang bareng Pak Amar,” ucap Maman sambil nyengir kikuk.
Angkasa tersenyum tipis, sembari melihat jam tangannya. “Belum, Man. Ini tadi baru beres dari luar, mau keatas ambil dokumen, abis itu saya pulang”.
Lift Kembali menutup dan langsung berjalan pelan menuju lantai delapan.
Maman mengangguk, lalu tampak ragu sesaat. “Eh, iya Pak… tadi saya lihat dilantai delapan, ada mbak Bia yang masih kerja juga, Pak.”
Angkasa menghentikan gerakannya. Tatapannya yang semula tenang perlahan berubah—bukan marah, tapi ada sesuatu yang turun di sana: semacam khawatir yang disembunyikan rapi.
“Masih di lantai delapan?” tanyanya datar, tapi nada suaranya menurun sedikit.
“Iya, Pak. Sendirian, kayaknya. Dari tadi sore saya liat dia belum pulang. Mukanya udah pucat banget. Saya tawarin pulang, tapi katanya mau nyelesain kerjaan dikit lagi.”
Angkasa menatap jam di tangannya. Hampir pukul setengah sepuluh malam. Ia menarik napas pendek. “Baik, Man. Terima kasih infonya.”
Maman hanya bisa mengangguk. “Iya, Pak.
Angkasa berjalan cepat setelah keluar dari lift sedangkan Maman akan turun lagi ke lantai dasar karena tugasnya belum selesai mengelap kaca di dalam lift. Suara langkah sepatunya menggema di lorong kosong lantai delapan.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya malam itu, pikirannya tidak lagi sibuk dengan kontrak, atau klien, atau laporan keuangan. Yang terbayang hanyalah satu hal — seorang stafnya yang keras kepala, sendirian di lantai delapan, dengan wajah pucat dan tubuh lelah.
“Anabia”
**
tbc
apalgi pas critanya dgantung setinggi harapan readernya.. byuhh sensasinya... wkwkwkkkkk,..
tp jgn lambat2 bgt jg yg Thor biar smkin byk yg baca krn kebanyakn reader baru suka alur cerita yg sat set.. cemungutttt author... 💪❤