Daniel Van Houten, mafia berdarah dingin itu tak pernah menyangka dirinya di vonis impoten oleh dokter. Meski demkian Daniel tidak berputus asa, setiap hari ia selalu menyuruh orang mencari gadis per@wan agar bisa memancing perkututnya yang telah mati. Hingga pada suatu malam, usahanya membuahkan hasil. Seorang gadis manis berlesung pipi berhasil membangunkan p3rkurutnya. Namun karna sikap tempramental dan arogannya membuat si gadis katakutan dan memutuskan melarikan diri. Setelah 4 tahun berlalu, Daniel kembali bertemu gadis itu. Tapi siapa sangka, gadis itu telah memiliki tiga anak yang lucu-lucu dan pemberani seperti dirinya.
____
"Unda angan atut, olang dahat na udah tami ucil, iya tan Ajam?" Azkia
"Iya, tadi Ajam udah anggil pak uci uat angkap olang dahat na." Azam
"Talau olang dahatnya atang agi. Tami atan ucil meleka." Azura.
_____
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"Apa Nona ingin makan?" tanya Susi yang sedang berdiri di samping pintu.
Ayang mengangguk.
"Tunggu sebentar, saya segera menyiapkannya." Susi pun segera berlalu, bahkan sebelum bibir Ayang mengucapkan kata terimakasih.
Ayang menoleh pada Dani yang menggerakkan kedua alis.
"Hebat lu, Ay! Udah seperti Nyonya besar aja lu sekarang."
Reflek saja tangan Ayang mencubit lengan Abangnya.
"Awhhh.... Sakit Ay!" Dani meringis kesakitan sambil mengusap lengan bekas cubitan adiknya.
Ayang mengerucutkan bibir.
"Ya udah, ayo kita makan. Gue juga lapar banget nih."
Ayang mengangguk, lalu membawa Dani ke ruang makan.
.
.
.
Dani menyudahi makannya dengan bersendawa panjang.
Aggggh!
"Kenyang banget Gue, Ay."
Dani memperhatikan Ayang yang belum juga menghabiskan makanannya. "Ay, itu makanan kenapa cuma lu aduk-aduk saja?"
Ayang menoleh, lalu ia meletakkan sendok diatas piring yang masih berisi makanan. Raut wajahnya pun berubah sedih.
"Lu kenapa sih Ay? Kalau Lu ada masalah, cerita sama Gue." kata Dani menatap lekat adiknya yang kini tengah menunduk.
Ayang diam, ia takut jika Dani mengetahui dirinya hamil, pasti Abangnya itu akan marah ataupun mengutuknya nanti. Hamil di luar nikah adalah aib besar yang begitu memalukan, itu lah yang sering di tanamkan almarhum ibundanya dahulu.
"Aya!" panggil Dani melihat adiknya hanya diam menunduk.
Ayang mengangkat kepala menatap sendu pada Dani, lalu ia menggeleng.
"Lu gak mau cerita sama Gue?"
Lagi-lagi Ayang menggeleng.
Dani berdecak. "Ya udah lebih baik Gue pulang aja."
Kemudian Dani berdiri dari duduknya.
Ayang ikut berdiri dan menahan tangan Dani.
"Malas Gue, kalau Lu gak mau cerita," ucap Dani seperti orang yang tengah merajuk.
"Iya, nanti Ayang cerita."
Dani bisa mengetahui apa yang di katakan Ayang melalui gerak bibirnya.
"Ya sudah, habisin dulu makanan Lu, Gue mau merokok di luar sebentar," ucap Dani, kemudian ia berjalan menuju pintu utama.
.
.
.
Lepas menghisap asap cerutu, Dani kembali masuk rumah menemui Ayang.
"Ay, sekarang Lu ceritain sama Gue, sebenarnya Lu kenapa?"
Ayang diam, menatap tangannya yang trngah meremas ujung pakaian.
Dani menggeser duduknya, kemudian menangkup kedua pipi Ayang, hingga kedua mata Ayang menatap padanya. "Lu gak mau cerita sama Gue?"
Ayang masih saja diam, matanya kini tampak berkilat-kilat.
Dani menghembuskan nafas berat. "Ya sudah kalau Lu gak mau cerita sama Gue." Dani melepaskan tangannya dari pipi Ayang.
Ayang meraih tangan Dani, matanya pun kini sudah basah.
"Ck! Malah menangis." Dani berdecak pelan
"Sudahlah Gue mau pulang, udah malam juga," ujarnya bersiap akan berdiri.
Ayang memperkuat pegangan tangannya di lengan Dani.
"Ayang ikut." Ayang menatap sendu, memohon pada Dani agar membawanya.
"Tapi, gimana caranya Ay? Gak mungkin gua bawa Lu pergi begitu saja. Bisa mati Gue nanti," ucap Dani beralasan.
Ayang meminta Dani menunggunya sebentar diruang tamu, sementara ia pergi menemui Susi, meminta izin pada wanita itu agar membolehkannya pergi dengan Dani.
Bik, boleh ya, Ayang pulang dengan Abang Dani. Hanya sekali ini saja, Bik. Ayang memperluhatkan tulisannya pada Susi dengan wajah memelas.
"Maaf Nona, saya tidak bisa membiarkan Nona pergi tanpa izin Tuan Daniel," kata Susi tanpa ekspresi.
Hanya sekali ini saja, Bik. Ayang mohon. Ayang terus memohon.
"Maaf Nona, saya tidak bisa mengizinkan. Tapi kalau Nona mau, saya bisa menghubungi Tuan, Nona bisa bicara sendiri dengannya."
Ayang berpikir sejenak, kemudian menulis lagi. Apa dia akan mengizinkan Ayang pergi?
"Tidak ada salahnya Nona coba dulu."
Ayang mengangguk.
"Kalau begitu Nona duduklah disini." Susi kemudian mengeluarkan ponsel dan mulai melakukan panggilan video dengan tuannya. Setelah terhubung, Susi meletakkan ponsel pada penyangga dengan kamera menghadap ke Ayang.
"Akhem!" Suara deheman Daniel di ujung sana, membuat Ayang seketika meremas jemarinya.
"Kenapa kau hanya menunduk?"
Sejak tadi Ayang memang belum berani menatap pria yang menakutkan baginya itu.
"Apa ada yang ingin kau katakan? Katakanlah cepat," ucap Daniel dingin.
Ayang masih menunduk diam.
"Kalau tak ada yang ingin kau katakan, aku putuskan sambungan telepon ini."
Ayang seketika mengangkat kepalanya, menatap layar ponsel yang menampilkan wajah Daniel.
Daniel menyeringai tipis. "Sekarang katakanlah apa yang kau inginkan?"
Ayang mulai menulis. Tuan, izinkan malam ini saya pulang kerumah saya bersama Abang Dani. Ayang menunjukkan tulisannya pada Daniel.
"Baiklah, tapi Susi harus ikut."
Ayang menggeleng, kemudian menulis lagi. Saya tidak mau, saya hanya ingin pulang bersama Abang Dani saja.
"Apa kau ingin lari dariku?" tanya Daniel penuh curiga.
Ayang kembali menggeleng.
"Apa jaminan kau tidak akan lari dariku?"
Ayang kembali menulis. Setelah ini saya janji akan menuruti perintah Tuan.
Daniel tertawa. "Itu bukan jaminan. Saya ingin sebuah jaminan, jika kau tidak akan kabur."
Saya mau kabur kemana? Saya tak ada keluarga lagi, hanya Abang Dani keluarga saya. tulis Ayang di kertas itu.
"Hm, baiklah. Kau boleh pergi malam ini. Tapi ingat, setelah itu kau akan tinggal bersamaku!"
Ayang berpikir sejenak kemudian mengangguk.
Setelah video call dengan Daniel berakhir, Ayang segera menarik tangan abangnya yang sedang menghisap asap tembakau di luar.
"Maaf Nona, Nona ridak kami izinkan keluar dari pekaranganini," cegat pengawal yang menjaga gerbang rumah.
"Biarkan dia pergi, Tuan Daniel sudah mengizinkannya," ucap Susi yang mengikuti Ayang keluar dari rumah.
Pengawal menatap Susi. "Kau yakin, Sus?"
"Iya, Nona sudah meminta izin pada Tuan, pulang bersama abangnya. Jaminannya adalah Abangnya sendiri."
Dani tersentak, menoleh pada Ayang yang memeluk erat lengannya.
"Baiklah, mari kami antar Nona."
Ayang menggeleng.
"Biarkan saja, malam ini Nona tidak ingin ada orang yang mendampinginya."
"Tapi Sus..?"
"Apa perlu kutelpon Tuan, agar kalian yakin?" potong Susi .
Pengawal tampak berpikir sejenak, setelahnya barulah pintu pagar di buka. "Silahkan Nona."
Ayang menarik tangan Dani, ingin lekas meninggalkan tempat itu.
"Tunggu Ay, Gue ambil motor dulu."
Ayang menoleh kebelakang, melihat Dani yang tengah menunggangi motor empat silinder. Sejak kapan Abang punya motor? Dari mana dia dapat uang? Ayang membatin dalam hati.
Dalam perjalanan pulang Dani mengajak Ayang agar malam ini tinggal di kosannya. Tapi Ayang menolak, ia meminta Dani membawanya pulang kerumah ia dan bundanya biasa tinggal.
.
.
.
Tiba di rumah, Ayang menanyakan perihal motor yang di gunakan Dani, pertanyaan yang sejak dalam perjalanan tadi ingin di tanyakannya.
"Ini motor Gue, Ay," jawab Dani dengan bangganya sembari mengelus motornya.
Kening Ayang berkerut kuat memikirkan dari mana Dani mendapatkan uang untuk membeli motor, karna biasanya semasa almarhum bundanya masih hidup, Dani hanya pulang untuk meminta uang saja, setelah itu ia akan pergi lagi.
"Kenapa memangnya? Lu gak percaya ini motor Gue."
Tak ingin berdebat, Ayang menyodorkan tangannya meminta kunci rumah pada Dani.
"Buka saja, gak di kunci kok."
Ayang melayangkan tatapan tajam pada Dani. Bagaimana bisa dia keluar rumah tanpa mengunci pintu. Ayang membatin dalam hati, lalu membuka pintu rumahnya. Lagi-lagi Ayang di buat kaget melihat ke adaan rumah yang begitu berantakan.
Ayang kembali menatap Dani meminta penjelasan.
"Sebenarnya semenjak Bunda gak ada, Gue baru sekali datang kerumah ini. Waktu itu Gue ingin melihat keadaan Lo. Tapi Lunya malah gak ada di rumah, tahunya udah tinggal di rumah kalangan elite saja."
Ayang mendengus kesal mendengar jawaban Dani, lalu ia masuk ke dalam kamar almarhum bundannya.
Setelah menyalakan lampu, Ayang mengedarkan pandangannya ke seluruh isi di dalam kamar. Ia berjalan, lalu duduk diatas ranjang sembari mengelus bantal yang bisa di gunakan almarhum. Ayang menangis, melepaskan kerinduannya pada sang bunda melalui bantal yang sering di gunakannya.
"Ay, Gue mau keluar sebentar. Lu dirumah dulu ya. Gue gak lama kok." Dani berkata dari ambang pintu.
Ayang tidak menjawab atau pun menoleh ia pelum puas melepaskan rindunya pada barang peninggalan sosok orang yang begitu di cintainya.
di tunggu selalu aksi trio cadel😊
yg ada ayang tambah stres dan membenci danil
lanjut kak/Drool/
hadirkan kebahagiaan untuk ayang
sudah 3 THN kok masih asih Tor...?
Ayahnya Ayang ada sangkut sama si Daniel?
vote untuk mu thor