Mahen selalu membenci Tante Feronica, bibinya yang menghilang 10 tahun silam. Ayahnya selalu mengatakan bahwa Tante Feronica adalah orang jahat yang telah membuatnya mendekam dipenjara selama 12 tahun.
Namun, ketika Mahen mencoba mencari petunjuk atas apa yang terjadi 10 tahun lalu, dia tidak menyangka bahwa dia akan menemukan sebuah ruang rahasia di kamar Tante Feronica. Di dalam ruang itu, Mahen menemukan petunjuk-petunjuk yang membuatnya mulai mempertanyakan apa yang selama ini dia percayai.
Mahen mulai menyelidiki tentang apa yang terjadi di masa lalu dan mengapa ayahnya dipenjara. Namun, semakin dia menyelidiki, semakin banyak rahasia yang terungkap. Mahen harus menghadapi kenyataan bahwa ayahnya tidak seperti yang dia pikirkan.
Tante Feronica, yang selama ini dia anggap sebagai orang jahat, ternyata memiliki alasan yang kuat untuk melakukan apa yang dilakukannya. apakah Mahen akan bisa menemukan kebenaran dan memperbaiki kesalahan masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yan duwei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MALAM ITU
setelah merasa cukup beristirahat, Mahen dan Naomi kembali memimpin rombongannya untuk menggeledah satu ruangan lainnya. itu adalah ruangan terakhir karena di lorong itu hanya terdapat tiga ruangan yang dua di antaranya sudah mereka geledah.
"ini mana tombolnya?" tanya Mahen yang mencoba membuka pintu ruangan itu tetapi tidak bisa karena pintu itu berbeda dari dua pintu ruangan lainnya.
Naomi mendekat, matanya menatap pintu itu dan dinding-dinding di sekelilingnya. tatapannya tertuju pada lingkaran yang menempel pada dinding di sisi kanan pintu dan berjarak lumayan jauh. warnanya sangat mirip dengan dinding.
Naomi mendekati lingkaran itu dan mencoba memencetnya.
"kok nggak bisa?" gumam Naomi pada dirinya sendiri. tangannya terus mengotak-atik lingkaran itu dan mencoba memutarnya.
krek..
lingkaran itu berputar bersamaan dengan pintu yang bergeser dan terbuka.
"kebukaaa!!" heboh Adis dan Ethan.
setelah pintu terbuka dengan sempurna, mereka bergegas masuk ke dalam ruangan itu.
sama seperti dua ruangan lainnya, ruangan itu juga di isi oleh beberapa lemari. Naomi dan yang lain yakin bahwa lemari itu pasti berisikan sesuatu.
Ethan sudah menyiapkan kunci yang ia temukan di ruangan pertama tadi. ia membawanya untuk berjaga-jaga jika lemari lainnya membutuhkan kunci itu.
"ini nggak di kunci kok than" ucap Naomi sambil membuka lemari yang berada paling dekat dengan pintu.
"coba gue buka lemari yang paling besar itu ya nao" pinta Ethan yang di angguki oleh Naomi.
"gue ikut tan" celetuk Mahen sambil berlari menyusul Ethan.
Ethan mencoba membuka lemari yang paling besar tetapi ternyata tidak bisa.
"cobain kuncinya tan" perintah Mahen. Ethan pun menurut.
"nggak bisa hen" ucap Ethan.
Ethan sudah mencoba semua kunci yang dia punya tetapi lemari itu tetap tidak terbuka. "coba yang lain, itu kan kuncinya banyak" perintah Mahen lagi.
"tetep nggak bisa mahennn. udah gue coba semua ini" kesal Ethan.
"coba cari kunci lain di ruangan ini, siapa tau ada" perintah Mahen.
"huh.. tadi aja kaya patung, sekarang udah pinter nyuruh-nyuruh" gerutu Ethan.
"lo ngatain gue?" tanya Mahen di belakang Ethan.
"ha? eng.. kaga lahhh, ilang nanti traktiran gue" ucap Ethan sambil nyengir.
"yaudah sono cari kuncinya!" perintah Mahen dengan tampang yang sangat menyebalkan menurut Ethan.
"iyeee" Ethan berlalu dari hadapan Mahen sambil menghentak-hentakkan kakinya karena kesal.
Mahen terkekeh melihat tingkah Ethan. hal itu membuat Naomi yang sedang menatapnya ikut tersenyum.
"Mahen,!" panggil Naomi. Mahen menoleh ke arah Naomi yang sedang berjalan ke arahnya.
"kenapa nao?" tanya Mahen. Naomi menyodorkan kunci di tangannya. "nemu di lemari yang gue buka pertama" ucap Naomi memberitahu Mahen.
"lo nggak ada nemu yang lain selain ini?" tanya Mahen. ia berharap Naomi menemukan sesuatu yang bisa di jadikan petunjuk.
Naomi menggeleng, "cuman ada buku-buku resep masakan" jawabnya.
Mahen menghela nafas panjang untuk mengurangi kegundahan hatinya. Naomi menepuk-nepuk bahu Mahen untuk menenangkannya, "tenang aja, kita coba cari lagi" ucapnya sambil tersenyum.
Mahen menganggukkan kepalanya dan membalas senyuman Naomi.
"kita buka lemari ini" ajak Mahen lalu mencoba membuka pintu lemari itu dengan kunci yang di berikan Naomi tadi.
ceklek..
Mahen dan Naomi saling menatap dan tersenyum senang. pintu lemari itu berhasil di buka.
lemari itu berisi banyak buku dan kertas serta ada satu kotak besar yang entah apa isinya.
Naomi mengambil kotak besar itu, sedangkan Mahen menurunkan buku-buku yang ada di lemari itu dan menaruhnya di meja untuk di lihat satu persatu nanti.
"apa itu?" tanya Mahen pada Naomi yang sedang mengotak-atik kotak besar yang mirip brankas.
Naomi menoleh, "nggak tau, ini tadi ada di situ" jawabnya sambil menunjuk bagian lemari yang paling bawah.
"udah kebuka?" tanya Mahen lagi yang di jawab dengan gelengan oleh Naomi.
Naomi melepas topinya lalu menarik tusuk rambut yang terselip di gelungan rambutnya. hal itu tak lepas dari pandangan Mahen.
"kebuka hen" ucap Naomi dengan mata yang berbinar.
Mahen mendekat, "isinya apa?" tanya-nya.
Naomi mengeluarkan satu persatu isi dari kotak besar itu. ternyata di dalamnya juga ada kotak yang sama namun berukuran kecil.
"ini buku, mirip buku harian nggak sih?" Naomi menunjukkan satu buku yang mirip buku harian pada Mahen.
"ini ada map, nggak tau isinya apa" ucap Naomi lagi sambil mengeluarkan map dari dalam kotak besar itu.
terakhir Naomi mengeluarkan kotak kecil dan kembali membukanya dengan tusuk rambut ajaib miliknya.
"flashdisk?" gumam Naomi. Mahen menoleh, "flashdisk apa?" tanya-nya pada Naomi.
Naomi menoleh dan menunjukkan flashdisk yang ia temukan di dalam kotak kecil tadi.
Mahen menerima flashdisk itu, "kita coba ini nanti di rumah. sekarang nggak ada yang bawa laptop kan?" tanya Mahen.
"gue nggak bawa" jawab Naomi.
"coba tanya yang lain, Ethan! Ethan!!" teriak Mahen memanggil Ethan.
"apaan??" tanya Ethan sambil berlari terbirit-birit mendekati Mahen di ikuti Adis, Herdi, Aidan, dan juga Oca di belakangnya.
"loh? ini udah bisa di buka?" tanya Ethan lagi sambil melongo melihat lemari yang sedang ia cari-cari kuncinya ternyata sudah terbuka.
"Naomi yang nemu kuncinya. Ada yang bawa laptop?" jawab Mahen sekaligus bertanya. "enggak lah" jawab Ethan.
"yang lain?" tanya Mahen lagi. yang lain pun menggeleng karena mereka memang tidak membawa laptop.
"kenapa emangnya?" tanya Herdi.
"Naomi nemuin flashdisk ini" jawab Mahen sambil menunjukkan flashdisk yang ada di tangannya.
"bawa pulang aja" ucap Herdi. yang lain mengangguk setuju.
Mahen pun memasukkan flashdisk itu kedalam kantong celananya.
"nanti jatuh hen kalau di kantongin" ucap Adis mengingatkan. "taruh di tasnya Naomi aja napa?" lanjutnya.
Mahen menatap Naomi, begitu juga Naomi yang menatap Mahen. "boleh?" tanya Mahen, Naomi mengangguk tanda setuju.
Mahen menarik tas yang ada di punggung Naomi. Naomi yang tidak siap pun ikut tertarik mundur hingga punggungnya menabrak dada bidang Mahen.
Mahen menahan kedua pundak Naomi dengan tangannya agar tidak jatuh. sejenak waktu terasa berhenti, Mahen dan Naomi sama-sama mematung di dalam kecanggungan.
ekhem...
Mahen dan Naomi tersadar oleh deheman Ethan. Mahen segera membuka tas Naomi dan memasukkan flashdisk tadi ke dalamnya lalu menutupnya kembali.
"nanti gue ambil kalau udah keluar dari sini" ucap Mahen yang di angguki oleh Naomi.
"ini buku apa?" tanya Ethan. tangannya meraih buku yang mirip buku harian tadi lalu membukanya.
"apa isinya?" tanya Adis sambil berjinjit ikut melihat buku yang sedang di buka oleh Ethan.
"kosong" ucap Adis saat melihat halaman pertama buku itu ternyata kosong.
"eh siapa bilang kosong? ada isinya nih, di bagian tengah" sahut Ethan sambil terus membuka-buka buku tersebut.
"malam itu" Ethan membaca judul tulisan yang tertulis di halaman tengah buku itu.
lanjut....