cerita ini di mulai dari seorang gadis cantik bernama sindi..yang mempunyai pacar bernama alex
sindi dan alex menjalin hubungan selama 7 tahun ..
sindi sangat mencintai alex dan alex pun juga sangat mencintai sindi
hingga saat itu alex pun di perintah orang tua nya menikah dengan wanita yng mereka jodoh kan kepada nya .. karena wanita ini adalah anak teman papa nya alex yng mempunyai
banyak saham di perusahaan papa nya alex.. yang sangat lah kaya raya.. sehingga papa nya alex pun memaksa dan mengancam alex..untuk bunuh diri kalau alex tidak menuruti ke inginan nya
alex yang sangat sayang dengan orang tua nya pun menyetujui apa yng di katakan papa nya..
dia pun meninggal kan sindi.. dan menikah dengan wanita yng di jodoh kan papa nya kepada nya..
alex mempunyai sahabat bernama Tio.. dia menyuruh Tio untuk menikah dengan sindi karna alasan dia tidak mau sindi sakit hati terlalu dalam karena ulah nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nandi ananda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rena
bab 15
"Tio tolong mengerti lah, perasaan ku. Aku sangat mencintai Sindi. Aku tak bisa melupakan nya. Aku sudah ber usaha sebisa mungkin untuk melupakan Sindi namun, apa yang ku dapat. Aku malah semakin merindukan nya."
"Seharus nya kamu ber fikir lebih dulu Lex. Sebelum men jodoh kan kami ber dua, kalau sudah begini, sama saja kau memper main kan perasaan kami."
"Kalau kau tak mau memberi kan Sindi ke pada ku, lebih baik aku mati saja Tio. Aku tak bisa hidup tanpa Sindi." Alex pun menangis.
"Lex, jangan lah bicara begitu, kau adalah teman baik ku Lex. Tapi memberi kan Sindi kepada mu, ada lah suatu hal yang sulit bagiku."
"Kenapa kau begitu egois Tio, kau--"
"Cukup-cukup. Sudah cukup Alex, Tio jangan lah ber tengkar, aku sudah cukup sakit saat ini, jadi jangan lah menambah rasa sakit ku, dengan per tengkaran kalian itu," ucap ku
"Dan kamu, Lex! jangan lah mengungkit rasa cinta mu itu. Ingat lah, kita sudah punya pasangan Masing-masing! mari lah kita lanjut kan kehiupan kita Masing-masing, belajar lah untuk mencintai Almira istri mu. Ayo kita pergi, Mas." aku pun menarik tangan Tio untuk pergi dan meninggal kan Alex yang sedang menangis.
Alex pun ber gumam sendiri.
"Tunggu saja Sindi. Kau akan segera menjadi milik ku lagi, apa pun cara nya." Tangis Alex pun berubah menjadi seringaian jahat.
*****
Setiba nya di rumah. Aku pergi ke kamar ku untuk menangis dan menghilang kan rasa sesak di dada.
TOK TOK TOK
"Sayang ini aku, Tio. Aku buka ya pintu nya?"
"Iya, Mas. Buka aja gak di kunci kok." Aku pun ber gegas me ngusap pipi ku yang sangat basah, Akibat buliran bening yang selalu jatuh tanpa bisa ku tahan.
Mas Tio pun, menghampiri ku dan membawa kan teh hangat. "Sin, ayo di minum dulu teh nya, mumpung masih anget."
"Iya Mas, makasih."
Aku pun, mengambil cangkir itu dan menyeruput teh nya.
"Apa kah, kamu menangis Sin?...
Apa kah kamu masih mencintai Alex?"
UHUKK UHUKKK UHUKK
Aku ter sedak, dengan per tanya an Mas Tio.
"Emmm, kenapa kamu ber tanya seperti itu Mas?" wajah ku terasa pucat.
"Gak papa sih, Sin. Aku hanya ingin tau perasaan mu, apa kah kamu masih men cintai Alex? dan tadi kamu menangisi Alex?" Tio pun mengulangi per tanya'an nya tdi.
"Emmm sebenar nya, sebenar nya aku, emmm aku."
"Jawab saja, Sin . Gak papa, aku hanya mau tanya?"
"Emm sejujur nya, aku masih belum 100% melupakan Alex, Mas. Mungkin aku sudah menerima kamu Mas. Namun tak bisa ku pungkiri Alex pun masih belum bisa ku lupakan 100%"
"Ya sudah Sin . Aku pergi dulu ya."
"Ehhh mau kemana, Mas?" ucap ku
"Mau keluar aja sebentar, sin!"
"Mas tunggu!"
Tanpa mendengar panggilan dari ku, Mas Tio langsung keluar kamar dan ter dengar bunyi mesin mobil di hidup kan. Ber jalan menjauh dari rumah.
TOK TOK TOK
Kini pintu kamar di ketok lagi. Tapi bukan lah Mas Tio yang datang melain kan Ibu ku.
"Sin, kenapa Tio pergi tanpa pamitan.
Apa kah kamu ber tengkar dengan Tio?"
"Emm enggak Bu! kami gak ber tengkar, mungkin mas Tio mau pergi jalan-jalan, kali sendiri."
"Ooooohh gitu ya Nak. Yaudah Ibu keluar dulu ya, kalau mau makan, makan aja ya Nak. Makanan ada di atas meja."
"Iya bu, makasih,"
Ibu pun pergi meninggal kan ku
Kenapa mas Tio pergi ya? apa kah tadi aku salah bicara, batin ku. Sebagai seorang istri yang solehah kan aku harus jujur sama suami ku, apa pun itu aku tak mau ber bohong kepada Tio walau pun itu menyakitkan.
******
pov Tio
Aku ingin tahu bagai mana perasaan Sindi kepada Alex.
Apa kah Sindi masih punya rasa untuk Alex?
Aku akan membuat kan nya teh hangat dulu, agar Sindi bisa menjawab per tanya'an ku dengan tenang. Kini teh hangat sudah siap, aku pun masuk ke kamar Sindi, ingin mem pertanyakan masalah perasaa'n.
Singkat cerita.
Kini aku pun sudah tau perasaan Sindi. Ter nyata Sindi masih belum melupakan Alex sepenuh nya.
Hati ku pun terasa sakit mendengar penjelasan dari nya.
Tanpa pikir panjang, aku pun pergi meninggal kan rumah untuk sementara. Entah bagai mana renovasi rumah Ibu, Bapa. Aku tak tau, aku hanya menyerah kan semua nya kepada Papi.
Aku ingin pergi me nenangkan diri dulu
untuk sementara. Kini aku menuju pantai dan menyewa hotel untuk menginap di sana.
Setelah sampai di hotel, aku pun mem baring kan tubuh ku dengan hati yang begitu tak karuan .
Apa kah aku ber dosa, telah memisah kan Alex dan Sindi, tapi apa yang harus aku lakukan? aku sudah mempunyai perasaan kepada Sindi. Aku harus nya sudah tau, mengenai ini dan seharus nya aku tidak menerima per mintaan Alex untuk menikahi kekasih nya. Sekarang Alex datang untuk meminta Sindi kembali bagai mana mungkin.
"Aaarrrrggghhh"
Aku mengacak rambut ku begitu prustasi, tanpa sadar aku pun ter lelap.
Tringg tringg tringg.
Aku ter bangun dari tidur ku, karna mendengar bunyi dari telpon. Aku mengambil benda pipih itu dan melihat siapa yang me nelpon ku, ter nyata itu adalah Sindi. Aku pun me ngangkat telpon nya.
"Halo, Mass."
"Iya kenapa, Sin?"
"Kamu di mana, Mas. Kok gak pulang-pulang? aku sudah berada di rumah Mami dan Papi, Mas ber sama Ibu dan Bapa. Karna besok rumah Ibu dan Bapa mulai di renovasi."
"Iya, Sin maaf. Mas gak pulang dulu untuk malam ini, Mas mau menenangkan diri dulu Sin."
"Loh kenapa, Mas. Kok gak pulang? apakah kamu marah sama aku? maaf kan aku Mas!"
"Iya gak papa kok, Sin. Mas akan pulang besok," ucap ku "Dadah Sin."
"Mas tunggu ja--"
"Sampai ketemu besok ya." Aku pun memutus kan sambungan tanpa mendengar kan Sindi.
Karna aku tadi ketiduran. Hari pun ter nyata sudah gelap, kini sudah jm 07 dan perut ku pun mulai ber bunyi, menandakan aku sudah sangat lapar, karna dari tadi siang aku tak makan apa pun.
Aku pun memesan makanan kepada pihak hotel, untuk segera membawa kan ku makanan.
TOK TOK TOK
Aku pun membuka kan pintu dan mem persilahkan pegawai hotel untuk masuk, membawa kan ku makanan.
"Makasih ya, Mbak," ucap ku.
"Iya sama-sama, Mas," sahut nya.
Kini pegawai hotel pun pergi dan aku mulai makan. Setelah selesai makan. Aku pun ber niat pergi ke pantai, mungkin akan sangat menenangkan bagi ku kalau melihat ombak laut dan angin yang bertiup dari sana. Aku pun keluar dari hotel dan menuju pantai.
Aku duduk di tepi pantai, sambil melihat keindahan alam sangat lah tenang. sambil sesekali aku menyesap rokok yang ku bawa tadi.
Tak terasa sudah 10 batang rokok, telah ku hisap.
Lama sudah aku duduk di tepi pantai, kini aku mulai penat dan memutus kan untuk pergi ke hotel lagi.
Setalah aku ber jalan. Tiba-tiba..
BRRUKKK
Aku menambrak seseorang yang ber jalan, karna tak fokus dengan langkah ku sendiri yang ter lalu memikir kan Sindi.
"Ma'af, Mbak. kamu gak papa?" ucap ku
"Iya, Mas. Aku gak papa."
Dia pun menoleh ke arah ku. "Loh, Tio."
"Renaa,q" ucap ku lagi
jadi penasaran gimana lanjutan nx.. mantappp
pertahan kan orang yg sdh tulus mecintai mun sin..alex masa depan mu sin ,jd lah wanita yg kokoh ,setia
sma pasangan nya.gk mudah goyah..
lanjut thor