Malam itu hujan turun deras, membasahi gaun pengantin Kirana yang berlari sekuat tenaga menuju rumah calon suaminya, Reuben. Bukan untuk menikah — tapi untuk memohon agar seseorang, siapa pun, percaya bahwa dia tidak membunuh siapa-siapa. Namun dunia memilih untuk tidak percaya. Di balik kaca mobil, sahabat yang berkhianat, Jessica, tersenyum penuh kemenangan sebagai pembunuh yang sesungguhnya, sementara Reuben — pria yang seharusnya membelanya — hanya diam dan berbalik pergi. Tiga tahun di penjara merenggut segalanya dari Kirana: nama baik, keluarga, bahkan neneknya tercinta, Nio, yang menghilang entah ke mana selama dia dipenjara.
Keluar dari balik jeruji dengan status mantan narapidana, ditolak di mana-mana, Kirana nyaris tak punya siapa-siapa lagi — sampai dia bertemu seorang pria misterius yang mengaku hanya sopir biasa bernama "Leon". Demi bertahan hidup dan melindungi Nio, Kirana menerima pernikahan kontrak dengannya: nikah siri, tanpa cinta, hanya perjanjian satu tahun yang bisa berakhir kapan saja.
Yang tak pernah dia duga, "Leon" bukan sekadar sopir. Pria yang setiap malam pulang ke rumah sederhana bersamanya itu, siang harinya adalah Nathaniel — CEO Boyantara Group, konglomerat yang namanya membuat seisi dunia bisnis Indonesia gentar. Ketika kedok itu akhirnya terbongkar, semua sudah terlambat: Kirana sudah jatuh cinta pada pria yang menipunya sejak hari pertama.
Sementara itu, dendam lama belum tuntas. Jessica sang pembunuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas dan tersenyum di atas penderitaan Kirana. Dan jauh di dasar masa lalunya, tersimpan sebuah rahasia identitas yang jauh lebih besar daripada sekadar nama seorang "sopir" palsu.
Bisakah cinta yang lahir dari kebohongan benar-benar bertahan? Dan siapa sebenarnya Kirana — mantan narapidana biasa, atau seseorang yang jauh lebih berharga dari yang pernah dibayangkan siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Bab 21: Telepon dari Ibu
Leon tidak langsung menjelaskan.
Ia mengambil ponsel dari saku, menatap layar yang sudah gelap, lalu meletakkannya kembali di meja seperti benda itu lebih berbahaya daripada pisau dapur. Kirana duduk di seberangnya, masih memegang gelas air hangat. Hujan di luar membuat jendela berkabut tipis.
"Ibumu ingin bertemu siapa?" tanya Kirana.
"Kamu."
Jawaban itu membuat Kirana lupa menelan.
"Aku?"
"Iya."
"Kenapa?"
Leon menarik kursi dan duduk kembali. "Karena dia tahu aku sudah menikah."
Kirana menatapnya tanpa berkedip. Beberapa detik kemudian, ia meletakkan gelas terlalu hati-hati di atas meja. "Kamu bilang kepada keluargamu?"
"Tidak langsung."
"Leon."
"Ibuku tahu terlalu banyak untuk ukuran orang yang pura-pura tidak ikut campur."
Kirana tidak tahu harus marah atau panik dulu. Pernikahan mereka memang sah secara agama dan tercatat sederhana sesuai kesepakatan awal, tetapi baginya itu masih terasa seperti pagar darurat yang dibangun di tengah badai. Ia belum siap menjadikannya berita keluarga, apalagi bertemu ibu dari pria yang bahkan identitas pekerjaannya masih belum sepenuhnya jelas.
"Kamu seharusnya bicara denganku sebelum keluargamu tahu."
"Aku tahu."
"Lalu?"
"Aku salah."
Jawaban yang terlalu cepat itu membuat amarah Kirana kehilangan sasaran. Ia sudah siap berdebat, bukan menerima pengakuan.
Leon menatapnya. "Aku tidak bermaksud menekanmu. Kalau kamu belum siap, aku bisa menolak."
"Menolak ibumu?"
"Bisa."
"Kamu bicara seolah itu mudah."
"Tidak mudah. Tapi bisa."
Kirana memijat kening. Ia membayangkan seorang ibu yang tidak dikenal menilai dirinya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Mantan narapidana. Anak yang dibuang keluarga Li. Perempuan yang baru saja keluar dari penjara dan menikah dengan sopir keluarga kaya. Bahkan jika Leon miskin seperti yang ia perlihatkan, keluarga mana yang akan menerima menantu seperti itu dengan ringan?
"Dia tahu masa laluku?" tanya Kirana.
Leon diam terlalu lama.
Kirana tertawa pendek tanpa senang. "Jadi tahu."
"Dia tahu garis besarnya."
"Garis besar apa? Bahwa aku pernah dipenjara? Bahwa aku dituduh membunuh? Bahwa mantan tunanganku meninggalkanku di malam pernikahan? Garis besar yang mana?"
"Kirana."
"Aku hanya ingin tahu bagian mana yang harus kusiapkan untuk dihina."
Leon berdiri. Bukan untuk mendekat secara memaksa, hanya untuk mengambil jarak dari emosi yang mulai penuh di meja kecil itu.
"Ibuku tidak akan menghinamu."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin."
"Karena kamu mengenalnya?"
"Karena kalau dia melakukannya, aku akan membawamu pergi."
Kirana terdiam.
Ada kalimat yang terdengar manis karena ringan. Kalimat Leon tidak ringan. Ia mengucapkannya seperti keputusan kerja yang sudah ditandatangani. Tidak ada janji romantis berlebihan, tetapi justru itu membuat Kirana sulit menertawainya.
Ponsel Leon bergetar lagi.
Nama Ibu kembali muncul.
Kirana menarik napas panjang. "Angkat."
"Kamu yakin?"
"Kalau tidak diangkat, dia akan menelepon lagi. Aku tidak mau duduk di sini seperti menunggu vonis."
Leon menyalakan speaker, tetapi menatap Kirana lebih dulu, meminta izin tanpa kata. Kirana mengangguk.
"Nath," suara perempuan matang terdengar dari ponsel. Lembut, tetapi punya tekanan yang membuat orang otomatis duduk lebih tegak. "Kamu sengaja tidak menjawab Bunda?"
"Aku sedang makan."
"Dengan istrimu?"
Kirana hampir tersedak udara.
Leon meliriknya. "Iya."
Di ujung sana, hening sebentar. Lalu suara itu melembut. "Bunda tidak akan mengganggu lama. Bunda hanya ingin tahu kapan kamu membawanya pulang."
"Dia belum siap."
Kirana menatap Leon. Ia tidak menyangka pria itu langsung menyebut batasnya.
"Belum siap bertemu Bunda, atau belum siap melihat rumah kita?" tanya Yvonne.
Leon menegang sedikit.
Kirana menangkap perubahan itu. Rumah kita. Bukan rumah keluarga sopir biasa. Bukan rumah kontrakan sederhana. Ada sesuatu di balik kata itu.
"Bunda," kata Leon, "aku akan mengatur waktu."
"Jangan terlalu lama. Nadine juga penasaran."
"Nadine tidak perlu ikut campur."
"Dia adikmu. Tentu dia akan ikut campur."
Ada tawa kecil di ujung sana, tetapi Kirana tidak bisa ikut tersenyum. Satu nama baru masuk ke hidupnya. Nadine. Adik Leon. Keluarga yang belum ia lihat, tetapi sudah terdengar seperti dunia yang lebih rumit daripada yang sanggup ia hadapi.
Yvonne melanjutkan, "Sampaikan kepada Kirana, Bunda tidak menggigit."
Kirana membeku.
Leon menatapnya. "Dia mendengar."
"Oh." Suara Yvonne tetap tenang. "Kalau begitu, selamat malam, Kirana. Terima kasih sudah menjaga anak keras kepala ini."
Kirana tidak punya waktu menyusun jawaban indah. "Selamat malam, Bu."
"Kita bertemu segera."
Panggilan berakhir.
Ruang makan kembali sunyi.
Kirana menatap Leon. "Nath?"
Leon memejamkan mata sebentar, seolah satu kesalahan kecil akhirnya keluar dari celah yang terlalu lama ditahan.
"Nama panggilanku di rumah."
"Kamu bilang namamu Leon."
"Leon bagian dari namaku."
"Bagian?"
Leon menatapnya. "Ada beberapa hal tentang keluargaku yang belum kuceritakan. Bukan karena aku ingin mempermainkanmu."
"Lalu karena apa?"
"Karena sejak awal aku takut kalau kamu tahu, kamu tidak akan percaya satu hal pun yang kulakukan."
Kirana berdiri pelan. Kursi bergeser di lantai.
"Kalau kamu ingin aku percaya, jangan minta aku menunggu sampai siap. Katakan apa yang paling penting."
Leon membuka mulut, lalu berhenti.
Di luar, hujan masih turun, tetapi bagi Kirana suara itu mendadak sangat jauh.
"Besok," kata Leon akhirnya. "Aku akan bicara dengan keluargaku dulu. Setelah itu aku jelaskan padamu."
Kirana menahan kecewa yang naik. "Kamu masih memilih bicara dengan mereka dulu."
"Karena rahasia ini tidak hanya milikku."
Kalimat itu membuatnya tidak bisa langsung membantah.
Ia teringat Nio, rumah kecil, biaya rumah sakit, dan semua pintu yang mendadak terbuka sejak Leon muncul. Jika rahasia itu hanya soal nama panggilan, ia tidak akan setegang ini. Tetapi nalurinya berkata ada sesuatu yang jauh lebih besar di balik kata keluarga. Sesuatu yang bisa mengubah cara ia melihat setiap bantuan yang pernah diterimanya.
"Aku tidak suka kejutan," katanya.
"Aku mulai mengerti."
"Jangan terlambat mengerti."
Leon menerima kalimat itu tanpa membela diri.
Leon mengambil ponsel. "Tapi satu hal bisa kukatakan sekarang. Ibuku ingin bertemu kamu bukan untuk menghakimi."
"Apa dia tahu kita menikah karena keadaan?"
"Dia tahu aku memilihmu."
Kirana menunduk. "Itu bukan hal yang sama."
"Bagiku mulai menjadi hal yang sama."
Jantung Kirana berdetak aneh. Ia tidak menjawab.
Malam itu, mereka berpisah ke kamar masing-masing dengan lebih banyak pertanyaan daripada sebelumnya. Kirana duduk di tepi ranjang, membuka ponsel, lalu mengetik di mesin pencari: cara bertemu calon mertua tanpa mempermalukan diri.
Ia berhenti sebelum menekan enter.
Calon mertua.
Padahal ia sudah menjadi istri.
Di ruang tamu, Leon berdiri di dekat jendela, menelepon seseorang dengan suara rendah.
"Besok pagi aku pulang ke Westhill Estate," katanya. "Beri tahu Bunda. Dan jangan biarkan Nadine membuat drama."
Kirana tidak mendengar kalimat itu.
Tetapi ia merasakan dinding rahasia di antara mereka semakin tinggi, tepat ketika hatinya mulai ingin mengetuk.
apa mereka udah melebur semalam tor🤔🤔🤔