NovelToon NovelToon
LENTERA

LENTERA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:144
Nilai: 5
Nama Author: Areka Leywin

Di Karang Wetan, hukum punya pintu belakang — dan orang-orang seperti Rangga tidak pernah diundang lewat situ. Setelah menjadi korban kejahatan yang pelakunya berlindung di balik kekuasaan, Rangga bersumpah tidak akan pernah lagi menunggu keadilan datang dari atas. Dari gang sempit dan bantaran kali, ia membangun Lentera — perkumpulan orang-orang tertindas yang saling melindungi ketika negara menutup mata. Namun setiap cahaya yang menyala akan menarik perhatian kegelapan yang lebih besar: Komisaris Yusuf Baskoro dan Bupati Hardian Wibowo, dua penguasa yang saling melindungi demi mempertahankan takhta mereka. Ini kisah tentang seorang anak miskin yang menjelma jadi pemimpin yang ditakuti — dan pertanyaan yang terus menghantuinya: apakah ia masih pelindung, atau sudah jadi seperti yang dulu ia lawan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Areka Leywin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retak di Antara Mereka

Butuh dua hari sebelum aku cukup kuat untuk bicara panjang tanpa rasa sakit yang menusuk di rahang setiap kali aku membuka mulut. Sari merawatku dengan telaten selama itu, sementara Yanto dan Ujang bergantian berjaga di luar gudang cadangan, waspada terhadap kemungkinan serangan susulan.

Begitu aku cukup pulih, hal pertama yang kulakukan adalah menghubungi Mira lewat jalur aman kami.

"Aku diserang," tulisku singkat, diikuti detail kejadian malam itu, termasuk kalimat yang dibisikkan salah satu penyerang soal "titipan dari Pak Bupati".

Jawaban Mira datang cepat, nadanya penuh kekhawatiran yang jarang kulihat darinya. "Kamu nggak apa-apa? Ini serius, Rangga. Ini bukan lagi soal opini atau kebijakan. Ini kekerasan fisik langsung."

"Aku nggak apa-apa," balasku, meski wajahku masih bengkak di beberapa bagian. "Tapi aku pengen ini juga jadi bagian dari cerita yang kamu tulis. Orang harus tahu, sejauh apa mereka bersedia bertindak buat bungkam kami."

---

Mira membutuhkan waktu lebih lama dari biasanya untuk menerbitkan tulisan soal penyerangan itu—kali ini, katanya, ia harus jauh lebih hati-hati karena tuduhan kekerasan fisik langsung terhadap seorang bupati adalah hal yang jauh lebih berat secara hukum dibanding sekadar dugaan korupsi proyek.

Ia mewawancaraiku secara mendalam, mencatat setiap detail yang bisa kuingat, sekaligus mencoba mencari saksi independen lain di sekitar lokasi kejadian yang bisa memperkuat ceritaku tanpa harus bergantung sepenuhnya pada kesaksianku sendiri yang, sebagai pihak yang berkonflik langsung dengan Hardian, bisa dengan mudah dipatahkan kredibilitasnya.

Sementara itu, lewat jaringan Dedi yang masih diam-diam membantu kami meski sudah tidak lagi bekerja di kantor kecamatan sejak insiden penculikannya, aku mendapat kabar menarik yang tidak kuduga sebelumnya.

"Katanya," tulis Dedi lewat pesan yang disampaikan lewat perantara, "ada keributan di internal antara orang-orang Komisaris Baskoro sama orang-orangnya Pak Bupati. Katanya Baskoro nggak suka sama cara main kasar yang dipakai buat nyerang kamu—dia lebih pilih cara yang 'rapi', lewat hukum atau tekanan biasa, bukan kekerasan langsung yang bisa gampang jadi bukti kalau sampai kecium media."

---

Kabar itu membuatku berpikir panjang. Selama ini aku menganggap Baskoro dan Hardian sebagai satu kesatuan yang solid, saling melindungi tanpa celah. Tapi mendengar ada friksi di antara mereka soal caraku diserang, membuka kemungkinan baru yang belum pernah kami pertimbangkan sebelumnya.

"Kalau mereka mulai nggak sejalan," kataku pada Yanto dan Sari malam itu, "mungkin ini celah yang bisa kita manfaatkan. Baskoro mungkin korup, tapi dia juga hati-hati soal risiko buat dirinya sendiri. Kalau dia ngerasa Hardian mulai bikin masalah yang bisa nyeret dia juga, dia bisa aja mulai jaga jarak."

Sari mengangguk pelan, matanya berbinar dengan ide baru. "Kalau kita bisa buktiin penyerangan ini benar-benar perintah langsung dari Hardian, dan Baskoro nggak sepenuhnya terlibat, itu bisa jadi cara buat pecah mereka dari dalam. Baskoro mungkin lebih milih nyelametin diri sendiri daripada terus nutupin Hardian kalau situasinya makin panas."

---

Tiga hari kemudian, artikel Mira akhirnya terbit, dengan judul yang lebih tajam dari sebelumnya: "Dari Ancaman ke Kekerasan: Aktivis Karang Wetan Diserang, Diduga Terkait Penolakan Tawaran Kompensasi Bupati". Artikel itu memuat kesaksianku secara detail, didukung oleh keterangan dari seorang saksi mata yang kebetulan melihat kejadian dari kejauhan—seorang pedagang malam yang bersedia bicara meski tanpa menyebut namanya secara terbuka demi keamanan.

Reaksi publik kali ini jauh lebih besar daripada sebelumnya. Tuduhan korupsi proyek adalah satu hal, tapi tuduhan kekerasan fisik langsung terhadap warga sipil oleh orang suruhan pejabat publik adalah isu yang jauh lebih mudah dipahami dan memicu kemarahan luas, bahkan dari kalangan yang sebelumnya tidak terlalu peduli dengan isu penggusuran.

Beberapa organisasi hak asasi manusia mulai angkat bicara. Sejumlah akademisi menulis opini di media nasional soal pola kekerasan negara terhadap warga miskin kota. Bahkan, menurut kabar dari Dedi, internal pemerintah kota mulai panik, dengan beberapa pejabat yang selama ini diam mulai mempertanyakan arah kebijakan Hardian secara lebih terbuka, meski masih dalam bisik-bisik tertutup.

---

Malam itu, duduk di gudang cadangan sambil mendengarkan Ujang membacakan komentar-komentar dukungan yang terus mengalir di media sosial, aku merasakan campuran emosi yang aneh—rasa sakit fisik yang masih tersisa dari penyerangan itu, bercampur dengan semacam harapan baru bahwa retak yang mulai muncul di antara Baskoro dan Hardian bisa menjadi celah yang, kalau kami mainkan dengan cermat, bisa mengubah keseluruhan pertarungan ini.

"Ini bukan kemenangan," kataku pada semua yang berkumpul malam itu, mencoba tetap realistis meski suasana hati kami semua sedikit lebih ringan dari hari-hari sebelumnya. "Tapi ini pertama kalinya kita lihat mereka nggak sekuat dan sekompak yang mereka tunjukkan ke publik. Dan itu berarti, ada peluang buat kita manfaatkan."

Yanto menatapku dengan seringai tipis, jenis seringai yang jarang ia tunjukkan. "Kalau gitu, saatnya kita mulai mikirin cara buat manfaatin retak itu, bukan cuma nunggu mereka nyerang duluan."

---

*(Bersambung ke Bab 27)*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!