Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
Bab 11: Rencana Pelarian Kedua
"Dua puluh menit."
Sen mengatakannya seolah dua puluh menit cukup untuk mengubah nasib seseorang.
Momo berdiri di balik pintu servis utara, napasnya tertahan di tenggorokan. Di luar, Pulau Raja tenggelam dalam malam. Bukan malam yang sama seperti pelarian pertamanya. Malam ini tidak ada hujan, tidak ada angin keras. Laut tampak diam dari jauh, terlalu diam untuk dipercaya.
Sen berada di sampingnya, satu tangan memegang tablet, tangan lain merapikan tali kecil di pinggang Momo. Tali itu terhubung ke harness tipis yang ia bawa entah dari mana.
Momo menepis tangannya. "Aku bisa sendiri."
"Kalau jatuh, kau tidak akan sempat membuktikan itu."
"Aku masih tidak percaya kamu."
"Tapi kau tetap ikut."
Momo menatapnya tajam. "Karena aku percaya jalan keluar, bukan kamu."
Sen tersenyum. "Perbedaan yang bagus."
Di layar tablet, titik-titik merah kamera berubah menjadi hijau satu per satu. Sensor gerak di koridor utara mati. Alarm dermaga dibuat sibuk dengan gangguan palsu di sisi timur. Menurut Sen, tebing utara adalah satu-satunya sisi tanpa pengawal permanen karena terlalu curam. Menurut Sen, di balik tebing ada jalur turun menuju perahu karet kecil.
Menurut Sen.
Kata-kata itu terus berputar di kepala Momo. Ia ingat foto Sherly Ong. Ingat kalimat "Aku tunanganmu." Ingat senyum yang hangat tetapi tidak selalu sampai ke mata.
Namun ia juga ingat Renard. Pintu terkunci. Gelang Sakura. "Kamu milikku."
Jika pilihannya adalah percaya pada penculik atau mempergunakan pria yang mungkin berbahaya, Momo memilih bergerak.
"Sekarang," kata Sen.
Mereka keluar.
Tebing utara Pulau Raja lebih kejam dari yang Momo bayangkan. Dari jauh tampak seperti dinding batu. Dari dekat, permukaannya penuh celah sempit, akar pohon, batu tajam, dan lumut licin. Ombak menghantam jauh di bawah, suaranya tidak besar tetapi dalam, seperti sesuatu yang menunggu.
Sen bergerak lebih dulu. Ia memanjat dengan efisien, tenang, hampir tanpa suara. Tubuhnya ringan, seolah ia sudah menghafal jalur itu. Momo menyusul dengan tangan gemetar. Batu melukai telapak. Lututnya terbentur. Ia tidak berhenti.
Sepuluh menit.
Ia tidak tahu dari mana Sen menghitung, tetapi pria itu sesekali menoleh dan memberi isyarat.
"Kaki kiri ke celah itu."
"Jangan pegang akar basah."
"Tarik napas, Momo."
"Jangan perintah aku," desis Momo, tetapi ia tetap mengikuti.
Di tengah pendakian, kaki Momo terpeleset. Batu kecil terlepas dan jatuh ke gelap di bawah. Momo menahan jerit ketika tubuhnya menggantung miring.
Sen langsung meraih tangannya.
Genggamannya dingin. Terlalu dingin untuk manusia yang memanjat tebing. Tetapi kuat. Ia menarik Momo ke atas sampai dada Momo membentur batu. Wajah mereka dekat. Napas Sen menyentuh pipinya, dingin, aneh, tidak seperti napas Renard yang panas dan menekan.
"Percaya padaku," bisiknya.
Momo menatap matanya.
Untuk satu detik yang bodoh, ia ingin percaya.
Karena percaya berarti ada ujung. Ada perahu. Ada pulang. Ada Ama.
"Jalan," katanya akhirnya.
Sen melepaskan tangannya perlahan, seolah sengaja membiarkan bekas dingin itu tertinggal di kulit Momo.
Mereka naik lagi.
Lima belas menit.
Pulau Raja tampak berbeda dari atas. Lampu-lampu istana menyala di bawah, indah dan kejam. Momo melihat kamar tempat ia bangun pertama kali. Melihat atap tempat helipad berada. Melihat dermaga tempat Renard menggendongnya dalam jas basah.
Jangan menoleh.
Ia memaksa diri bergerak.
Hampir di puncak, tablet Sen berbunyi pelan.
Wajahnya berubah.
"Apa?" tanya Momo.
"Cepat."
"Apa yang terjadi?"
"Sistem mulai pulih lebih cepat."
Jantung Momo jatuh. "Kamu bilang dua puluh menit."
"Aku juga bilang jangan banyak tanya."
Sen menariknya ke atas, kali ini lebih kasar. Momo menggertakkan gigi. Di atas tebing, angin lebih keras. Jalur turun ada di sisi lain, gelap dan curam. Ia bisa melihat siluet kecil yang mungkin perahu karet di bawah.
Lalu alarm berbunyi.
Seluruh pulau meraung.
Lampu sorot menyala dari bawah. Satu garis putih menyapu dinding tebing, lalu garis lain, lalu yang lain. Suara pengawal terdengar jauh, kacau. Momo panik.
"Sen!"
"Naik!"
Ia menarik tangan Momo lagi. Momo menjejak batu basah. Kakinya tergelincir.
Tubuhnya turun mendadak.
Sen memegang pergelangan tangannya, hanya sesaat.
Momo menatap wajahnya dari bawah.
Lampu sorot melewati mereka.
Dalam cahaya putih itu, ekspresi Sen terlihat jelas.
Bukan panik.
Bukan takut.
Kosong.
Lalu jari-jari itu mengendur.
Momo kehilangan pijakan.
Langit berputar.
Tebing, laut, lampu, wajah Sen, semua terpecah menjadi kilasan.
Momo mendengar alarm pertama ketika jari-jarinya baru mencapai batu ketiga.
Suara itu tidak keras seperti sirene dermaga, tetapi cukup untuk membuat darahnya membeku. Sen di atas menoleh cepat. Wajahnya tetap tenang, namun Momo melihat sesuatu lewat di matanya. Bukan takut. Perhitungan.
"Cepat," katanya.
"Kamu bilang dua puluh menit."
"Mereka memperbaiki sistem lebih cepat dari dugaanku."
Atau kamu berbohong, pikir Momo.
Pikiran itu datang, lalu tertiup angin. Ia tidak punya ruang untuk curiga sekarang. Di bawah kakinya, jurang hitam bergerak dengan suara ombak. Di atas, Sen menunggu dengan tangan terulur. Di belakang, Pulau Raja mulai terbangun. Lampu menyala satu per satu seperti mata predator.
"Momo," kata Sen. "Lihat aku."
Ia melihat.
"Percaya padaku."
Kata itu seharusnya menjadi tali.
Anehnya, yang muncul di kepala Momo justru suara Renard. Jangan percaya pria yang datang terlalu mudah melalui celah. Ia tidak pernah mengatakan kalimat itu, tetapi tubuh Momo seolah mengarangnya dari semua tatapan dingin pria itu kepada Sen.
Angin mengangkat rambut Momo. Tangannya basah oleh keringat. Batu di bawah telapak licin karena kabut laut.
"Aku tidak percaya siapa pun," katanya.
Sen tersenyum. "Bagus. Tapi tetap ambil tanganku."
Momo mengulurkan tangan.
Jarak mereka tinggal sedikit. Ujung jari Sen menyentuh ujung jarinya. Sentuhan pertama itu ringan, tetapi tubuh Momo bereaksi tajam karena selama berminggu-minggu sentuhan laki-laki selalu berarti Renard: panas, berat, memaksa dunia mengecil. Sentuhan Sen berbeda. Dingin. Cepat. Seperti pisau kecil yang disimpan di lengan baju.
Ia hampir meraih tangan itu.
Lampu sorot menghantam tebing.
"Di utara!" seseorang berteriak.
Momo panik. Kakinya mencari pijakan berikut, tetapi batu yang diinjaknya lepas. Dunia bergeser. Lututnya membentur dinding tebing. Sakit naik seperti api.
Sen menangkap pergelangan tangannya.
Untuk satu detik, Momo tergantung.
Tangan Sen kuat. Cukup kuat untuk menahannya. Momo tahu itu. Ia merasakannya. Ia melihat otot lengan pria itu menegang, melihat posisinya stabil, melihat pilihan terbuka di mata Sen seperti pintu kecil.
Lalu pintu itu tertutup.
Genggaman Sen mengendur.
Tidak sepenuhnya. Tidak cukup cepat untuk disebut melepas. Cukup lambat untuk membuat kebenaran terasa lebih kejam.
Momo menatapnya.
Sen menatap balik.
Dalam wajahnya tidak ada kepanikan. Tidak ada usaha putus asa. Hanya kesedihan tipis yang tidak berhak ia miliki.
"Maaf," bisiknya, atau mungkin angin yang mengarang kata itu.
Jari Momo terlepas satu per satu.
Di bawahnya, laut membuka mulut.
Momo tidak sempat berteriak pada detik pertama. Tubuhnya terlalu sibuk memahami bahwa tidak ada pijakan lagi, tidak ada dinding di bawah telapak, tidak ada tangan yang menahan. Angin memukul punggungnya, rambut menutup mata, dan seluruh Pulau Raja berputar seperti lampu-lampu jauh di pesta orang lain.
Lalu suara keluar.
Bukan nama Sen.
Bukan nama Renard.
Hanya teriakan kasar dari tubuh yang ingin hidup.
Di atas, Sen mundur setengah langkah. Gerakan kecil itu membelah sesuatu di dada Momo. Ia tidak jatuh karena gagal ditolong. Ia jatuh karena dipilih untuk tidak ditolong.
Kesadaran itu lebih dingin daripada laut.
Momo menggapai udara. Kukunya menangkap kosong. Di sela angin, ia melihat wajah Renard muncul di ujung tebing lain, jauh, terdistorsi lampu. Terlalu jauh untuk menyelamatkan. Terlalu dekat untuk tidak melihat.
Untuk satu detik absurd, Momo membenci kenyataan bahwa orang terakhir yang ia cari dengan mata bukan pria yang menawarkan pulang, melainkan pria yang membuatnya ingin lari.
Wajah Renard berubah.
Tidak ada waktu membaca apa artinya.
Tubuh Momo menghantam air.
Sakitnya putih. Laut memukul punggung, kepala, dada. Air masuk ke hidung dan mulut. Dunia terbalik. Ia mencoba menggerakkan kaki, tetapi lutut yang terbentur tebing menolak. Tangannya mengepak, mencari apa pun, menemukan hanya air.
Di atas permukaan, alarm dan teriakan menjadi suara pecah.
Di bawah, gelap menutup.
Sebelum air menghantam, satu pikiran liar muncul.
Jika aku mati, Renard akan marah.
Pikiran itu tidak masuk akal. Tidak romantis. Tidak pantas. Namun di antara angin dan gelap, wajah Renard muncul lebih jelas daripada wajah siapa pun. Bukan karena ia ingin diselamatkan olehnya. Ia menolak mengakui itu. Tetapi karena pria itu selalu datang seperti hukuman, seperti nasib, seperti tangan yang mengambil sebelum orang lain sempat.
Momo marah karena bahkan ketakutannya punya nama Renard di dalamnya.
Ia menggerakkan tangan sekali lagi, mencari batu, akar, apa pun.
Tidak ada.
Hanya udara yang robek oleh teriakan di atas. Ia tidak tahu apakah itu suara Albert atau Renard. Ia tidak tahu apakah Sen masih melihat. Ia hanya tahu tubuhnya belum menyerah, meski dunia sudah melepasnya.
Maka Momo menggigit lidah sendiri sampai terasa darah.
Rasa sakit kecil itu menjadi bukti bahwa ia masih miliknya sendiri.
Lalu semuanya menjadi air.
Ia jatuh.