Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: LANGIT BARU
Luka-luka di tubuh Rangga berangsur pulih seiring bergantinya hari.
Memar yang sempat menghiasi rahang kirinya kini hanya menyisakan semburat kekuningan. Nyeri di bagian rusuk pun tak lagi terasa menyiksa, hanya sesekali muncul ketika ia mengangkat barang yang terlalu berat. Minyak obat pemberian pria misterius malam itu, ditambah kompres air hangat yang setiap malam disiapkan Sari dengan penuh perhatian, mempercepat pemulihan tubuhnya jauh di luar dugaan.
Namun, ada satu luka yang belum benar-benar sembuh.
Luka itu tidak tampak di permukaan kulit.
Ia berdiam di dalam hati.
Setiap kali Rangga mengingat malam penyergapan itu, bayangan pria berjaket kulit kembali melintas di benaknya.
Siapa sebenarnya dia?
Mengapa ia datang tepat pada saat yang paling genting?
Dan... siapa orang yang sebenarnya menjadi target tiga pria bertopeng itu?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terus berputar di kepalanya tanpa pernah menemukan jawaban.
Pada akhirnya, Rangga memilih melakukan apa yang pernah disarankan pria misterius itu.
Melanjutkan hidup.
Beberapa hari kemudian, suasana di ruko percetakan milik Rangga terasa berbeda." Biasanya, suara mesin cetak sudah meraung sejak pagi.
Hari itu justru sebaliknya.
Sebagian mesin telah dimatikan.
Beberapa rak mulai kosong.
Di sudut ruangan, beberapa kardus besar berjajar rapi menunggu untuk diangkut.
Rangga berjongkok di lantai sambil memeriksa isi sebuah kardus.
Hard disk berisi ribuan file desain.
Laptop kerja.
Buku catatan pelanggan.
Serta beberapa dokumen penting perusahaan.
Semuanya ia susun dengan sangat hati-hati.
Sesekali ia berhenti bekerja.
Tatapannya menyapu seluruh isi ruko.
Ruangan sederhana itu menyimpan terlalu banyak kenangan.
Di tempat itulah ia pernah menghitung recehan demi membeli makan.
Di tempat itu pula ia berkali-kali hampir menyerah karena sepi pelanggan.
Namun, dari ruangan sederhana itulah kehidupannya perlahan berubah.
Kini...
Ia harus meninggalkannya demi mengejar kesempatan yang lebih besar.
Rangga mengusap perlahan permukaan meja kerjanya.
Senyum tipis terukir di bibirnya.
"Terima kasih..."
gumamnya lirih.
Entah kepada ruangan itu.
Entah kepada perjalanan panjang yang telah membentuk dirinya menjadi seperti sekarang.
Suara pintu depan terbuka memecahkan keheningan.
"Mas Rangga."
Tono masuk bersama dua karyawan lainnya.
Mereka membawa beberapa dus kosong yang baru saja dibeli dari toko alat tulis di ujung jalan.
"Masih ada yang perlu dikemas?"
Rangga mengangguk kecil.
"Ada sedikit lagi."
Tanpa diminta, ketiganya langsung membantu.
Tidak ada yang mengeluh.
Tidak ada pula yang banyak berbicara.
Mereka bekerja dalam diam.
Namun justru keheningan itulah yang terasa paling berat.
Semua orang memahami...
Hari-hari mereka bekerja bersama akan segera berakhir, setidaknya untuk sementara waktu.
*****
Pekerjaan mengemas barang akhirnya selesai menjelang siang.
Kardus-kardus besar tersusun rapi di salah satu sudut ruangan. Hanya beberapa peralatan produksi yang tetap dibiarkan pada tempatnya agar operasional percetakan dapat berjalan seperti biasa.
Rangga mengembuskan napas lega.
Ia menepuk kedua telapak tangannya, membersihkan sisa debu kardus yang menempel sebelum menatap tiga orang karyawannya yang masih berdiri di dekat mesin cetak utama.
"Teman-teman..."
Suaranya terdengar tenang, tetapi cukup membuat ketiganya langsung memusatkan perhatian.
Rangga melangkah ke meja kerjanya.
Dari dalam laci, ia mengambil sebuah buku laporan keuangan berbalut sampul hitam, sebuah map berisi dokumen operasional, serta seikat kunci cadangan ruko.
Ia kemudian menghampiri Tono.
"Ton."
Tono refleks berdiri lebih tegak.
Rangga menyerahkan semua benda itu ke tangannya.
"Selama aku di Kalimantan, operasional harian percetakan sepenuhnya aku percayakan kepadamu."
Tono tampak terdiam beberapa detik.
Tatapannya berpindah dari buku laporan keuangan ke seikat kunci yang kini berada di telapak tangannya.
Beban tanggung jawab itu terasa jauh lebih berat daripada bentuk fisiknya.
"Aku sudah mengatur semua sistem pesanan daring tetap terhubung ke email dan nomor teleponku," lanjut Rangga.
"Kalau ada pekerjaan besar atau masalah yang benar-benar tidak bisa diputuskan sendiri, langsung hubungi aku."
Tono mengangguk perlahan.
"Siap, Mas."
Rangga menepuk bahunya.
"Aku percaya sama kamu."
Kalimat sederhana itu justru membuat dada Tono terasa sesak.
Sejak pertama kali bekerja di ruko kecil ini, Rangga tidak pernah memperlakukannya sekadar sebagai karyawan.
Mereka tumbuh bersama.
Menghadapi masa-masa sepi pelanggan.
Lembur hingga larut malam demi menyelesaikan pesanan.
Bahkan pernah sama-sama tertawa ketika mesin cetak tua mereka tiba-tiba mogok di tengah pekerjaan besar.
Kini...
Orang yang selama ini memimpin mereka harus pergi jauh meninggalkan Jakarta.
"Mas Rangga tenang saja."
Tono menggenggam erat kunci ruko itu.
"Tempat ini akan kami jaga sebaik mungkin."
"Demi Allah, saat Mas kembali nanti, percetakan ini akan tetap berdiri."
Ucapan itu disambut anggukan mantap dari dua karyawan lainnya.
Rangga tersenyum.
Beban yang sejak beberapa hari terakhir terus menghimpit pikirannya perlahan terasa lebih ringan.
Ia sadar...
Usaha yang dibangunnya tidak lagi berdiri hanya karena dirinya seorang.
Kini ada orang-orang yang ikut menjaganya dengan sepenuh hati.
Dan itu adalah pencapaian yang jauh lebih berharga daripada sekadar keuntungan usaha.
Rangga memandang sekeliling ruangan untuk terakhir kalinya.
Deretan mesin cetak.
Rak-rak penuh kertas.
Meja desain yang telah menemaninya begadang selama bertahun-tahun.
Semuanya seolah menjadi saksi perjalanan panjang seorang pemuda rantau yang memulai segalanya dari nol.
"Baik-baik ya..."
gumamnya pelan.
Entah berbicara kepada tempat itu...
Atau kepada mimpi yang ia tinggalkan sementara demi mengejar mimpi yang lebih besar.
Hari keberangkatan yang selama ini terasa begitu jauh akhirnya tiba.
Sejak pagi, Bandara Internasional Soekarno-Hatta telah dipenuhi lalu lalang para calon penumpang. Troli-troli bagasi berlalu-lalang tanpa henti, suara pengumuman keberangkatan silih berganti menggema dari pengeras suara, sementara keluarga yang saling mengantar tampak memenuhi hampir setiap sudut terminal.
Di tengah keramaian itu, Rangga berjalan perlahan sambil menarik koper besarnya.
Di sampingnya, Sari melangkah tanpa banyak bicara.
Sesekali wanita itu mencuri pandang ke arah Rangga, lalu kembali menundukkan kepala. Semakin dekat mereka menuju gerbang pemeriksaan, langkahnya justru terasa semakin berat.
Tak ada satu pun di antara mereka yang ingin menjadi orang pertama membuka percakapan.
Karena keduanya tahu...
Setiap kata yang terucap hanya akan membuat perpisahan terasa semakin menyakitkan.
Mereka akhirnya berhenti tepat di depan area pemeriksaan tiket.
Di balik pembatas itu, hanya penumpang yang diizinkan melanjutkan perjalanan.
Sari perlahan mengangkat wajahnya.
Matanya telah memerah sejak tadi.
Meski berulang kali berusaha menahannya, air mata tetap memenuhi pelupuk matanya.
"Rangga..."
Suara itu nyaris berubah menjadi isakan.
"Jaga dirimu baik-baik di sana."
Rangga tersenyum tipis.
"Aku akan baik-baik saja."
Sari menggeleng pelan.
"Jangan telat makan."
"Jangan terlalu memaksakan diri."
"Kalau sakit... jangan disembunyikan."
Setiap kalimat diucapkannya dengan jeda panjang, seolah sedang menitipkan seluruh kekhawatiran yang selama ini ia simpan.
Rangga tidak mampu menjawab panjang.
Ia hanya melangkah mendekat.
Lalu merengkuh tubuh Sari ke dalam pelukannya.
Sari langsung memejamkan mata.
Kedua tangannya memeluk pinggang Rangga erat-erat.
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi kemeja pria itu.
Di tengah hiruk-pikuk bandara...
Di antara ratusan orang yang datang dan pergi...
Mereka larut dalam pelukan yang sunyi.
Pelukan yang tidak dipenuhi janji-janji manis.
Hanya dipenuhi harapan agar waktu segera mempertemukan mereka kembali.
Beberapa saat kemudian, Rangga perlahan melepaskan pelukannya.
Ia mengusap lembut air mata yang membasahi pipi Sari menggunakan kedua ibu jarinya.
"Tersenyumlah."
"Aku lebih tenang kalau melihatmu tersenyum."
Sari berusaha menuruti.
Meski senyum yang terbit di bibirnya terasa begitu rapuh.
Pengumuman keberangkatan kembali terdengar.
Panggilan untuk penerbangan menuju Kalimantan mulai dipersilakan memasuki ruang tunggu.
Rangga menggenggam gagang kopernya.
Ia menarik napas panjang.
"Terima kasih..."
ucapnya lirih.
"Sudah menjadi bagian terindah dalam hidupku."
Sari tidak sanggup menjawab.
Ia hanya mengangguk pelan sambil menahan tangis.
Rangga kemudian membalikkan badan.
Melangkah menuju pintu pemeriksaan.
Tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
Ia tahu...
Jika sekali saja ia menoleh, mungkin langkahnya akan berhenti.
Dan ia tidak ingin membiarkan mimpinya kalah oleh keraguan.
Beberapa puluh menit kemudian...
Pesawat yang ditumpanginya mulai bergerak perlahan meninggalkan apron.
Rangga duduk di kursi dekat jendela.
Tatapannya lurus ke luar.
Gedung-gedung bandara perlahan menjauh.
Disusul hamparan landasan yang memanjang.
Lalu...
Raungan mesin pesawat menggema semakin keras.
Tubuh pesawat melaju cepat.
Semakin cepat.
Hingga akhirnya roda-roda itu terangkat meninggalkan bumi.
Jakarta perlahan mengecil di balik kaca jendela.
Rangga mengembuskan napas panjang.
Di bawah sana...
Ia meninggalkan sebuah kota yang telah mengajarkannya arti perjuangan.
Meninggalkan seorang perempuan yang dengan tulus mendoakan setiap langkahnya.
Dan meninggalkan sebagian dari dirinya sendiri.
Sementara di hadapannya...
Terbentang langit yang belum pernah ia jelajahi.
Langit baru.
Yang menyimpan harapan...
Sekaligus takdir yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Penerbangan yang ditempuh selama hampir dua jam itu akhirnya mendekati tujuan.
Suara pramugari terdengar lembut melalui pengeras suara kabin.
"Selamat siang. Beberapa saat lagi pesawat akan segera mendarat. Mohon seluruh penumpang kembali ke tempat duduk masing-masing, menegakkan sandaran kursi, serta mengenakan sabuk pengaman hingga pesawat berhenti dengan sempurna."
Rangga membuka matanya perlahan.
Ia sempat terlelap selama perjalanan.
Tanpa sadar, kepalanya dipenuhi berbagai bayangan tentang Jakarta, Sari, dan ruko kecil yang kini berada ribuan kilometer di belakangnya.
Ia menghela napas panjang, lalu mengalihkan pandangan ke luar jendela.
Hamparan awan putih perlahan tersibak.
Di bawah sana terbentang bentangan hutan hijau yang seolah tak berujung.
Berbeda dengan Jakarta yang dipenuhi gedung-gedung tinggi dan jalan raya yang padat, tanah yang kini berada di bawahnya tampak begitu luas, tenang, dan masih menyimpan banyak rahasia.
Di kejauhan, sebuah sungai besar berkelok membelah hutan seperti ular raksasa yang sedang beristirahat.
Rangga belum pernah melihat pemandangan seperti itu secara langsung.
"Jadi... ini Kalimantan."
Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya.
Nyaris seperti bisikan kepada dirinya sendiri.
Pesawat semakin rendah.
Getaran halus mulai terasa di badan pesawat.
Tak lama kemudian...
Buk!
Roda pesawat akhirnya menyentuh landasan pacu.
Disusul suara gesekan ban yang memecah keheningan kabin.
Beberapa penumpang spontan mengembuskan napas lega.
Sebagian yang lain bahkan memberikan tepuk tangan kecil sebagai ungkapan syukur atas pendaratan yang mulus.
Rangga hanya tersenyum tipis.
Perjalanan panjangnya telah berakhir.
Namun...
Perjalanan hidupnya yang sesungguhnya justru baru akan dimulai.
Setelah keluar dari terminal kedatangan, embusan udara hangat langsung menyambut wajahnya.
Aroma tanah yang lembap bercampur wangi pepohonan terasa begitu berbeda dibandingkan udara Jakarta yang selama ini akrab dihirupnya.
Rangga berhenti sejenak di pelataran bandara.
Koper besar masih berada di samping kakinya.
Ia mendongakkan kepala.
Langit biru membentang luas tanpa terhalang deretan gedung pencakar langit.
Entah mengapa...
Ada perasaan asing sekaligus damai yang memenuhi dadanya.
Ia tersenyum kecil.
"Langkah pertama..."
gumamnya pelan.
"Mari kita mulai."
Rangga kemudian meraih kembali gagang kopernya.
Dengan langkah mantap, ia berjalan meninggalkan pelataran bandara menuju dunia yang sama sekali baru.
Ia belum mengetahui...
Bahwa tanah yang baru saja dipijaknya bukan hanya akan mengubah jalan hidupnya.
Tetapi juga mempertemukannya dengan rahasia-rahasia besar yang selama ini tersembunyi di balik rimbunnya hutan Borneo.
*****
Takdir sering kali bekerja dalam diam. Langkah pertama Rangga di tanah Borneo mungkin tampak seperti awal dari sebuah pekerjaan baru. Namun, di balik langit yang tenang itu, telah menunggu pertemuan, ujian, dan rahasia yang kelak mengubah seluruh jalan hidupnya.