Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.
Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.
Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.
Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Kepemilikan Mutlak Sang Tuan
Juragan Ramli menatap pintu ruang operasi yang masih tertutup rapat dengan lampu merah yang menyala. "Ular kota itu sudah mendapatkan tempat yang pantas di sel tahanan. Sekarang, kita hanya perlu fokus pada kesembuhan Baskara. Kau harus kuat, Nduk. Suamimu membutuhkan sosok istri yang tegar saat dia bangun nanti."
Kata-kata dari Juragan Ramli bagaikan suntikan kekuatan baru bagi Kinanti. Gadis itu menghapus sisa air matanya, menarik napas dalam-dalam, dan mengangguk mantap. Dia berjanji di dalam hatinya, mulai detik ini, dia tidak akan pernah lagi bersikap lemah atau meragukan posisinya di samping Baskara.
Menjelang sore hari, lampu merah di atas pintu ruang operasi akhirnya padam. Dokter spesialis bedah keluar dan mengabarkan bahwa operasi pembersihan jaringan mati debridement pada luka bakar kimia Baskara berjalan dengan sangat sukses. Cairan asam keras tersebut untungnya tidak sampai menembus lapisan otot dalam, meskipun Baskara harus menjalani perawatan intensif selama beberapa minggu ke depan untuk pemulihan kulit punggungnya.
Baskara kemudian dipindahkan ke ruang perawatan VIP yang tenang. Pria matang itu dibaringkan dengan posisi tengkurap di atas ranjang khusus, dengan bagian punggung yang terbalut perban putih tebal. Selang infus dan pemantau detak jantung terpasang di tubuhnya.
Di dalam ruangan yang sunyi itu, hanya ada Kinanti yang setia duduk di kursi samping ranjang. Juragan Ramli telah pamit pulang sebentar untuk mengurus keperluan Natasha di rumah dan memastikan pabrik beras yang ada didesa tetap berjalan dengan baik di bawah pengawasan orang kepercayaannya.
Saat jam menunjukkan pukul tujuh malam, kelopak mata Baskara perlahan bergerak. Pria itu melenguh rendah, kesadarannya mulai pulih seiring dengan berkurangnya efek obat bius, berganti dengan rasa kaku dan perih yang samar di punggungnya.
Kinanti yang melihat pergerakan suaminya langsung berdiri dari kursi, mendekatkan wajahnya ke arah samping kepala Baskara. "Om... Om Baskara sudah sadar? Ada yang sakit? Perlu aku panggilkan dokter?" tanya Kinanti dengan nada suara yang teramat lembut dan penuh kekhawatiran.
Baskara perlahan menolehkan kepalanya ke samping, menatap wajah Kinanti yang kini berada sangat dekat dengannya. Meskipun tubuhnya masih terasa lemas, kilat kepemilikan di mata elangnya sama sekali tidak meredup. Dia melihat mata istrinya yang sembap dan sisa-sisa kecemasan yang masih tertinggal di sana.
"Jangan panggil dokter..." bisik Baskara, suaranya terdengar sangat parau dan rendah. "Cukup... di sini saja. Temani aku."
Kinanti tersenyum tipis, air mata haru kembali menggenang di sudut matanya, namun kali ini diiringi oleh rasa lega yang teramat besar. Dia mengulurkan tangannya, menyusupkan jemari kecilnya ke dalam genggaman tangan kanan Baskara yang tergeletak di atas kasur. Baskara langsung membalas genggaman itu dengan sisa tenaga yang dia miliki, menguncinya dengan erat.
"Aku tidak akan pergi ke mana-mana, Om. Aku akan tetap di sini, di sisimu," ucap Kinanti dengan nada tegas dan penuh komitmen.
Baskara memejamkan matanya kembali dengan perasaan damai yang luar biasa. Di tengah rasa sakit fisik yang mendera punggungnya, ada kepuasan batin yang teramat besar di dalam dada sang tuan pemaksa. Dia tahu, mulai hari ini, tidak akan ada lagi keraguan di antara mereka. Gadis desa yang awalnya dia nikahi karena keterpaksaan ini, kini telah sepenuhnya menjadi belahan jiwanya.
Malam kian melarut di dalam ruang perawatan VIP Rumah Sakit Pusat. Keheningan yang menenangkan hanya dipecah oleh bunyi bip konstan dari mesin pemantau detak jantung Baskara dan hembusan angin pendingin ruangan yang lembut. Di bawah temaram lampu tidur berwarna kuning hangat, genggaman tangan di atas sprei putih itu tidak melonggar sedikit pun. Jemari kecil Kinanti terkunci rapat di dalam telapak tangan besar Baskara yang terasa hangat dan kokoh, meskipun tubuh pria itu masih harus bertumpu pada posisinya yang tengkurap.
Baskara sempat memejamkan matanya kembali selama beberapa menit setelah mendengar janji setia Kinanti. Obat bius pasca-operasi masih meninggalkan rasa kantuk yang berat, namun setiap kali kesadarannya hampir meredup, pria matang itu akan meremas pelan jemari Kinanti, seolah ingin memastikan secara fisik bahwa wanita itu benar-benar berada di sisinya dan tidak pergi ke mana-mana.
"Om..." panggil Kinanti pelan, suaranya nyaris berbisik karena takut mengejutkan Baskara. Dia menggunakan tangan kirinya yang bebas untuk mengusap pelan pelipis Baskara yang mulai kembali dibanjiri keringat dingin. "Punggung Om pasti sangat perih ya? Obat biusnya pasti sudah mulai habis. Benar tidak mau kupanggilkan suster untuk menyuntikkan pereda nyeri?"
Baskara perlahan membuka kelopak matanya kembali. Tatapan elangnya yang tajam dan dalam menatap lurus ke dalam manik mata Kinanti yang jernih. Pria itu menarik napas pendek, mencoba menstabilkan dadanya yang terasa sesak akibat posisi tidurnya yang tidak nyaman.
"Sudah kubilang, tidak usah," sahut Baskara dengan suara rendah yang serak, namun masih menyiratkan nada perintah mutlak yang tidak boleh dibantah. "Duduk saja di sini. Usap kepalaku seperti tadi. Itu jauh lebih baik daripada obat apa pun yang mereka miliki di rumah sakit ini."
Kinanti tidak bisa menahan senyum tipisnya, meskipun matanya kembali berkaca-kaca karena rasa haru. Sifat posesif dan keras kepala dari sang tuan pemaksa ini ternyata sama sekali tidak berkurang meski tubuhnya sedang terluka parah. Tanpa membantah lagi, Kinanti menggeser kursi besi tempat duduknya agar bisa lebih dekat ke sisi bantal Baskara. Dengan penuh kelembutan dan kasih sayang yang kini tidak lagi dia sembunyikan, jemari lentik Kinanti mulai menyisir dan mengusap rambut hitam Baskara, memberikan ketenangan yang sangat dibutuhkan oleh suaminya.
Keesokan paginya, matahari terbit memancarkan sinar hangat yang menembus tirai jendela ruang VIP. Suasana rumah sakit mulai menggeliat sibuk. Sekitar pukul delapan pagi, pintu kamar perawatan diketuk perlahan. Sosok Pengacara Ikhsan melangkah masuk dengan setelan kemeja rapi, membawa sebuah tas dokumen kulit yang tampak tebal. Di belakangnya, Juragan Ramli berjalan dengan langkah tegap, menuntun seorang remaja perempuan yang wajahnya tertunduk dalam.
Natasha.
Remaja itu mengenakan jaket hoodie longgar, menyembunyikan wajah remajanya yang biasanya tampak angkuh dan manja. Begitu melangkah masuk ke dalam ruangan dan melihat papanya terbaring tengkurap dengan perban putih yang memenuhi seluruh punggungnya, tubuh Natasha seketika gemetar.
Kinanti yang sedang menyuapi Baskara air hangat segera meletakkan gelasnya dan berdiri dengan sopan menyambut kedatangan mertua dan anak tirinya.
"Bagaimana kondisimu, Bas?" tanya Juragan Ramli sembari mendekati sisi ranjang anaknya, matanya menatap cemas pada perban di punggung Baskara.
"Sudah lebih baik, yah. Hanya sedikit kaku," jawab Baskara singkat, suaranya sudah kembali bertenaga. Mata elang Baskara kemudian langsung beralih secara tajam ke arah Natasha yang masih berdiri mematung di dekat pintu. "Natasha. Kemari."
Suara berat dan penuh wibawa dari papanya membuat Natasha tersentak. Dengan langkah kaki yang terseret dan ragu-ragu, dia berjalan mendekati sisi ranjang. Air mata remaja itu mulai menetes, membasahi pipinya.
"Papa..." cicit Natasha dengan suara yang terputus-putus. "Maaf... maafkan Natasha, Papa. Natasha tidak tahu kalau mami akan senekat itu... Natasha tidak tahu kalau mami membawa air keras untuk melukai Tante Kinanti..."
Baskara menatap putrinya dengan tatapan yang datar namun sarat akan ketegasan seorang ayah. "Kau melihat sendiri akibat dari sifat egomu dan hasutan mamimu, Natasha? Punggung papamu ini yang harus membayar mahal karena kelalaianmu menjaga kompas moralmu. Kau beruntung Tante Kinanti menahan tanganku kemarin di kamarmu, kalau tidak, aku sudah mencoret namamu dari keluarga ini."
Natasha menangis semakin keras, tubuhnya terguncang. Dia berbalik ke arah Kinanti, lalu tanpa diduga oleh siapa pun, remaja kota yang biasanya selalu memandang rendah Kinanti sebagai "gadis kampung" itu langsung berlutut di depan kaki Kinanti.
"Tante... maafkan aku... maaf karena aku sudah mencuri kotak kayumu... maaf karena aku selalu bersikap jahat pada Tante..." ratap Natasha sembari memegangi ujung pakaian Kinanti.
Kinanti tertegun sejenak. Namun, kebaikan hati seorang anak desa yang tulus segera mengalahkan rasa sakit hatinya,Kinanti berlutut di lantai, merangkul bahu Natasha yang gemetar, lalu membimbing remaja itu untuk kembali berdiri dan memeluknya dengan lembut.
"Sudah, Natasha... jangan menangis lagi. aku sudah memaafkanmu sebelum kamu meminta maaf. Yang penting sekarang, kamu harus berjanji untuk fokus sekolah dan tidak mendengarkan hasutan-hasutan buruk lagi dari luar. Di rumah ini, kita semua adalah keluarga," ucap Kinanti dengan nada suara yang teramat menenangkan.
Di atas ranjang, Baskara memandangi interaksi tersebut dengan binar mata yang dipenuhi rasa bangga yang luar biasa pada istrinya. Kedewasaan dan ketulusan hati Kinanti telah berhasil menjinakkan pemberontakan Natasha yang selama ini tidak pernah bisa diselesaikan dengan uang ataupun kemewahan kota.
Juragan Ramli yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum puas sembari menepuk-nepuk pundak Pengacara Ikhsan. Pria tua itu tahu, keputusannya untuk menikahkan Baskara dengan Kinanti adalah berkah terbesar bagi kelangsungan keluarga mereka.
Pengacara Ikhsan kemudian melangkah maju, membuka tas dokumen kulitnya di atas meja kecil di sudut ruangan. "Bas, ada perkembangan krusial dari kantor kepolisian wilayah yang harus kusampaikan sekarang," ucap Ikhsan, mengubah atmosfer ruangan menjadi kembali serius dan formal.
Baskara menolehkan kepalanya. "Bagaimana dengan Chynthia?"
"Chynthia Wijaya telah resmi ditetapkan sebagai tersangka utama atas kasus penganiayaan berat yang direncanakan dengan ancaman hukuman di atas dua belas tahun penjara," jelas Ikhsan sembari menunjukkan lembar surat penahanan resmi berkop kepolisian. "Tidak ada celah bagi dia untuk mendapatkan penangguhan penahanan. Bukti botol kaca, saksi mata Joko, dan luka bakar di tubuhmu sudah lebih dari cukup untuk menyeretnya langsung ke meja hijau."
Ikhsan menjeda kalimatnya, lalu mengeluarkan selembar dokumen lain yang berlogo perusahaan sekuritas dan notaris negara. "Dan ini berita yang paling besar, Bas. Begitu berita penangkapan Chynthia atas kasus kriminalitas air keras ini disiarkan secara nasional tadi malam, saham konsorsium Wijaya Group di kota langsung terjun bebas ke titik terendah. Para investor besar berbondong-bondong menarik modal mereka karena tidak ingin terasosiasi dengan skandal kriminalitas keluarga Wijaya."
Juragan Ramli ikut menyahut dengan tawa rendah yang puas. "Bukan cuma di kota, Bas. Di desa, sisa-sisa pengaruh tengkulak jaringannya Herman Wijaya sudah habis total hari ini. Pagi tadi, perwakilan dari lima desa tetangga datang langsung ke pabrik beras kita. Mereka membawa seluruh pasokan gabah mereka dan memohon untuk menjalin kemitraan jangka panjang dengan pabrik beras kita. Mereka sadar bahwa pabrik beras kampung milik keluarga kita adalah satu-satunya tempat yang memberikan sistem bagi hasil yang adil bagi rakyat kecil."
Pengacara Ikhsan menyerahkan pena kepada Baskara. "Herman Wijaya yang saat ini masih dirawat di rumah sakit akibat serangan jantung telah menandatangani surat penyerahan aset sisa lahan pertanian mereka di wilayah kecamatan kita untuk membayar ganti rugi materiil dan denda hukum atas perbuatan anaknya. Ini berarti, seluruh kendali atas pasokan beras dan pertanian di wilayah kita sekarang berada mutlak di bawah kendali perusahaan keluarga Dirgantara."
Baskara menerima berkas tersebut dengan tangan kanannya, lalu menandatanganinya dengan coretan tanda tangan yang tegas tanpa ragu sedikit pun. Kemenangan ini terasa begitu mutlak dan memuaskan. Rencana licik konglomerat kota yang ingin menindas pengusaha desa justru berakhir dengan hancurnya seluruh kekaisaran bisnis mereka sendiri, menyisakan puing-puing kehancuran bagi siapa saja yang berani mengusik ketenangan keluarga Dirgantara.
Setelah urusan hukum selesai, Pengacara Ikhsan dan Juragan Ramli pamit keluar untuk membawa Natasha pulang ke rumah utama agar remaja itu bisa beristirahat dan bersiap kembali ke sekolahnya besok pagi. Sebelum keluar, Juragan Ramli mengedipkan matanya pada Kinanti, memberikan kode agar menantunya itu menjaga Baskara dengan baik.
Kini, ruangan VIP itu kembali menyisakan Baskara dan Kinanti berdua saja. Sinar matahari sore yang mulai meredup memberikan nuansa romantis yang kian pekat di dalam kamar perawatan.
Kinanti berjalan mendekati ranjang, bersiap untuk merapikan selimut dan membersihkan sisa makanan sore suaminya. Namun, baru saja dia berdiri di dekat sisi kasur, tangan kanan Baskara yang sekeras karang dengan cepat menyambar pergelangan tangan Kinanti. Dengan satu tarikan yang terencana dengan baik, Baskara menarik tubuh ramping Kinanti hingga gadis itu kehilangan keseimbangannya dan terduduk di tepi ranjang, tepat di samping posisi dadanya.
"Om! Hati-hati, nanti luka punggungmu bisa robek kembali!" seru Kinanti panik, mencoba bergerak menjauh karena takut menyenggol perban Baskara.
Namun, Baskara justru menggunakan lengannya yang kekar untuk mengunci pergerakan pinggang Kinanti, menahan tubuh istrinya agar tetap menempel pada sisi tubuhnya yang sehat. Tatapan mata elang pria itu menggelap penuh dengan gairah kepemilikan mutlak yang teramat pekat.
"Sudah kubilang, jangan banyak bergerak," bisik Baskara di dekat daun telinga Kinanti, membuat bulu kuduk gadis itu meremang indah. Hembusan napas hangat Baskara terasa begitu intim di kulit leher Kinanti. "Semua urusan di luar sana sudah selesai. Chynthia sudah membusuk di sel, Herman Wijaya sudah hancur, dan pabrik beras kita di desa sudah menguasai pasar. Tidak ada lagi yang bisa mengganggumu."
Baskara mendongakkan kepalanya sedikit, menatap lurus ke dalam mata bening Kinanti yang berbinar indah. "Sekarang, fokusmu hanya ada di sini. Menjadi istriku seutuhnya. Menemaniku sampai aku sembuh, dan melahirkan anak-anak yang cerdas dari rahimmu untuk meneruskan pabrik beras keluarga kita di desa."
Wajah Kinanti seketika merona merah sempurna, rasanya seperti terbakar oleh kepolosan dan rasa malu yang teramat sangat mendengar kata-kata blak-blakan dari suaminya. Dia menyembunyikan wajahnya yang memerah dan menghirup aroma maskulin khas suaminya yang kini terasa begitu menenangkan.