Demi menyelamatkan nyawa sang adik yang mempunyai penyakit jantung bawaan, Alina Savina seorang figuran terpaksa menerima tawaran gila dari Leon Gennadi Alexander.
Leon, aktor mega bintang sekaligus pewaris tunggal imperium bisnis Alexander Group, membutuhkan istri instan demi menghindari perjodohan kolosal keluarganya.
Sebuah kecelakaan tak sengaja di basement apartemen membawa keduanya ke meja pernikahan kontrak yang rahasia, dingin, dan penuh batasan ketat.
Di balik dinding kaca penthouse yang megah, sandiwara pernikahan satu tahun dimulai.
Sanggupkah mereka menjaga hati agar tetap logis, ataukah skenario takdir akan meruntuhkan dinding keangkuhan yang telah mereka bangun?
JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAAA
FOLLOW IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Pemulihan
Jefri menggeser layar tabletnya. "Pertama, Clarissa Olivia dan agensinya telah resmi menerima surat pemutusan hubungan kerja serta gugatan pelanggaran kontrak dari pihak investor. Tiga brand besar yang menggunakan Clarissa sebagai brand ambassador juga telah membatalkan kontrak mereka pagi ini secara serentak." ucap Jefri menyampaikan laporannya.
Alina menghela napas tertahan. Hanya dalam satu malam, karier seorang aktris papan atas runtuh tanpa sisa.
"Kedua," lanjut Jefri, melirik sekilas ke arah Alina.
"Mengenai spekulasi di lokasi syuting kemarin. Meski tidak ada foto atau video yang bocor ke media massa, rumor burung di antara kalangan internal agensi mulai memanas. Ada isu yang menyebutkan bahwa Tuan Leon memiliki 'wanita simpanan' atau pemeran pendukung yang dilindungi secara khusus di lokasi syuting tersebut." lanjutnya.
Mata Alina membelalak kaget. Ketakutan terbesarnya mulai menjadi kenyataan.
"Lalu apa langkah yang diambil publikasi?" tanya Leon dingin, tanpa menunjukkan kepanikan sedikit pun.
"Sesuai instruksi Anda semalam, Tuan." ujar Jefri dengan senyum tipis.
"Pihak Alexander Media tidak membantah adanya rasa kepedulian Anda terhadap insiden tersebut, namun mengalihkan narasi bahwa tindakan Anda adalah bentuk penegakan standar keselamatan kerja keras bagi seluruh aset di bawah naungan investasi Alexander Group. Sementara mengenai identitas Nona Alina, kami telah mengunci seluruh data pribadi Nona Alina di agensi agar tidak bisa diakses oleh pihak luar." jawabnya.
Leon mengangguk puas. "Bagus. Pastikan Clarissa tidak punya panggung lagi untuk membuka mulutnya ke media."
"Baik, Tuan. Dan satu hal lagi... Dokter Siska sudah tiba di luar untuk melepas infus Nona Alina dan memeriksa kondisinya."
"Suruh dia masuk."
Jefri membungkuk hormat lalu melangkah keluar ruangan. Tak lama kemudian, dr. Siska masuk untuk memeriksa kondisi Alina. Setelah melepas jarum infus dan memastikan suhu tubuh Alina sudah kembali normal, dokter memberikan beberapa resep obat jalan serta vitamin yang harus diminum secara teratur.
Setelah dokter dan Jefri meninggalkan penthouse, suasana Kamar Utama kembali hening. Alina duduk di tepi ranjang, merapikan lengan baju piyamanya. Rasa canggung yang teramat sangat mendadak menyelimuti dadanya ketika kini hanya tinggal mereka berdua di dalam kamar raksasa itu.
Leon yang sudah berganti pakaian menjadi kemeja kasual putih melangkah mendekati Alina. Dia berdiri di depan gadis itu, memandangi perban di tangan kiri Alina.
"Tanganmu masih sakit?" tanya Leon rendah.
"Sudah jauh lebih mendingan, Leon. Terima kasih... untuk semuanya," jawab Alina jujur. Matanya menatap ke arah lantai, tak berani menatap mata Leon.
"Terima kasih sudah menolongku kemarin. Kalau kamu tidak datang... aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku di kolam itu."
Leon diam sejenak. Pria itu kemudian membungkukkan tubuhnya sedikit, menyejajarkan tingginya dengan Alina yang sedang duduk.
"Aku menolongmu karena kamu adalah tanggung jawabku, Alina," kata Leon dengan suara yang pelan namun sarat akan ketegasan.
"Di dalam kontrak atau di luar kontrak, selama kamu membawa nama Alexander dan tinggal di bawah atap yang sama denganku, tidak ada seorang pun yang boleh melukaimu. Mengerti?"
Alina mendongak, matanya bertabrakan dengan pandangan tajam Leon. Di dalam iris mata gelap pria itu, Alina tidak lagi melihat aura dingin yang membekukan seperti saat pertama kali mereka bertemu. Ada sebuah kehangatan tersembunyi yang mulai bersinar, membuat benteng pertahanan di dalam hati Alina perlahan-lahan retak.
"Mengerti," bisik Alina pelan.
Leon tersenyum tipis yaitu sebuah senyuman yang sangat langka namun sanggup membuat jantung Alina makin berdegup kencang. Pria itu mengacak rambut hitam Alina dengan sangat lembut sebelum berdiri tegak kembali.
"Makan siangmu akan diantar oleh ART sebentar lagi. Habiskan obatmu, dan jangan berani-berani keluar dari kamar ini sampai sore," perintah Leon seraya melangkah menuju pintu keluar.
Alina memandangi punggung Leon hingga pintu ganda itu tertutup rapat. Dia menyentuh dada kirinya yang masih berdebar kencang, lalu menatap perban rapi di tangan kirinya.
Badai di lokasi syuting mungkin telah berlalu, namun badai perasaan di dalam hatinya kini baru saja dimulai, sebuah perasaan yang semakin sulit dibedakan mana yang sekadar kepura-puraan kontrak dan mana yang telah berubah menjadi kenyataan.
Hari-hari berikutnya berjalan dalam ritme yang membingungkan bagi Alina. Penthouse yang biasanya terasa bagai penjara dingin yang asing, kini perlahan-lahan bertransformasi menjadi sebuah tempat perlindungan yang amat nyaman meski hal itu justru membuat hatinya kian gelisah.
Sejak insiden penyerangan terselubung Clarissa Olivia yang berakhir dengan kehancuran karier aktris papan atas tersebut, Leon secara ketat membatasi aktivitas Alina.
Jadwal syuting drama 'Duri di Balik Tirai' resmi dihentikan total untuk merombak ulang jajaran pemain dan naskah. Alina secara tak langsung dibebastugaskan untuk sementara waktu.
Selama masa pemulihan itu, barang-barang yang tersisa di pribadi Alina yang sebelumnya berada di kamar sayap kiri telah dipindahkan sepenuhnya oleh asisten rumah tangga ke Kamar Utama.
Lemari pakaian raksasa berbahan kayu mahoni kini terbagi menjadi dua yaitu sisi kanan dipenuhi setelan jas mahal dan kemeja rapi milik Leon, sementara sisi kiri diisi oleh pakaian-pakaian kasual serta gaun-gaun sederhana milik Alina.
Perubahan itu bukan sekadar formalitas visual. Keberadaan Alina di Kamar Utama secara bertahap mengikis jarak fisik di antara mereka.
Siang itu, matahari bersinar terik menembus dinding-dinding kaca penthouse. Alina duduk di area sofa santai Kamar Utama dengan meja kecil di depannya.
Tangan kirinya sudah tidak lagi dibungkus perban tebal, melainkan hanya menyisakan bekas kemerahan yang memudar berkat salep khusus dari dr. Siska.
Dia fokus mencatat garis besar plot novel baru yang sedang dikembangkannya di laptop, mencoba mengalihkan pikiran dari situasi rumit kehidupan asmaranya.
Pintu Kamar Utama terbuka halus. Leon melangkah masuk, mengenakan kemeja abu-abu gelap dengan dua kancing atas yang terbuka serta lengan yang digulung sebatas siku. Pria itu baru saja menyelesaikan rapat internal maraton di ruang kerjanya.
Alina menghentikan ketikannya dan mendongak. "Sudah selesai rapatnya?"
"Sudah," jawab Leon singkat. Suaranya terdengar sedikit lelah.
Dia berjalan mendekat, lalu tanpa ragu mendudukkan tubuhnya di sofa yang sama, tepat di samping Alina. Jarak di antara mereka begitu dekat hingga Alina bisa mencium aroma maskulin tembakau halus dan kayu cendana yang menjadi ciri khas Leon.
Leon menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, memejamkan mata sejenak, lalu mengembuskan napas panjang.
"Bagaimana tanganmu hari ini?" tanya Leon singkat.
"Sudah jauh lebih baik, tidak terasa perih lagi." balasku pelan. Alina memandangi raut wajah Leon yang tampak letih. Garis rahangnya yang tegas terlihat kaku, dan ada lingkaran tipis di bawah matanya.
.
.
Cerita Belum Selesai.....