Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PROLOG
Sisa air kolam masih terasa lengket di kulit Dahayu Nayanika Arutala, atau lebih sering dipanggil Naya. Rambut hitam sebahunya dengan sedikit layer tetap terasa lembap walau sudah ia keringkan berkali-kali dengan handuk kecil biru toska kesayangannya. Ujung rambutnya masih menyimpan bau kaporit, tipis, bercampur wangi sabun vanilla favoritnya dan sampo yang selalu disediakan di ruang ganti untuk para anggota klub renang di sekolahnya.
Tas punggungnya yang berwarna senada dengan handuk kecilnya namun lebih gelap, menggantung berat di punggung Naya, nyaris menyaingi tubuhnya. Di dalamnya terdapat buku pelajaran, seragam ganti, botol minum, dan perlengkapan renang yang belum sempat ditata rapi karena jadwal latihan hari ini begitu padat. Rasanya ia sangat lelah dan malas untuk merapikannya di dalam tas.
Bagi teman-teman seklubnya, latihan sore setelah jam pelajaran terakhir adalah hukuman tambahan. Mereka biasanya mengeluh sepanjang jalan pulang. Namun Naya berbeda. Kolam renang sekolah baginya memiliki suasana sendiri, riuh suara para anggota renang, peluit pelatih, bunyi air yang pecah, semuanya seperti membentuk dunia kecil yang memutusnya sejenak dari tumpukan hafalan, tugas-tugas eksakta dan non eksakta, jadwal ulangan, les persiapan ujian akhir, juga segala pikiran kusut yang belakangan semakin akrab dengan hidup anak kelas IX.
Ia suka berenang bukan karena memburu piala atau menjadi yang tebaik, apalagi mencari perhatian. Di dalam air, waktu serasa melambat, berhenti sebentar. Ada hening yang sulit dijelaskan, semua suara terdengar jauh, kepala terasa ringan, tenang yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
Sayangnya, begitu latihan selesai dan ia naik ke permukaan kolam, semuanya kembali tersadarkan dengan realita.
Naya sudah cukup lama berdiri di dekat gerbang sekolah sambil menatap ponselnya ketika notifikasi pesan dari Mamanya masuk.
Nay, Mama sama Papa masih kena macet. Kamu tunggu di halte depan sekolah dulu, ya. Nanti kami jemput di sana. Jangan ke mana-mana.
Naya mengembuskan napas pelan. Kesal sih tidak, ini juga bukan kali pertamanya terjadi. Orang tuanya yang bekerja sebagai wiraswasta dibidang ekspor-impor menbuat jadwal penjemputannya bisa berubah kapan saja. Tapi tetap saja, ada kecewa kecil yang muncul diam-diam. Tubuhnya lelah, perutnya sudah mulai protes, dan ia hanya ingin rebahan di jok belakang mobil, menyandarkan kepala, tidur sebentar sampai rumah.
Begitulah nasib jadi anak perempuan di rumah yang isinya kebanyakan lelaki. Ia sebenarnya bisa saja pulang dengan naik angkutan umum, tapi alasan yang sama selalu dipakai oleh kedua orang tuanya sehingga sampai sekarang dirinya masih diantar-jemput oleh orang tuanya.
Ia hanya membalas singkat, “Iya, Ma.”
Kemudian menyelipkan ponselnya ke saku rok span biru navy dengan satu belahannya berada di bagian depan lalu melangkah menuju halte, tidak jauh dari gerbang, hanya beberapa menit jalan kaki. Trotoarnya retak di beberapa bagian, pohon flamboyan berjajar, bunga merahnya banyak yang jatuh mengotori tepi jalan.
Langit yang tadinya masih biru pucat, pelan-pelan ditutupi mendung. Angin tipis berembus membawa bau tanah kering, seperti tanda hujan sebentar lagi turun. Di sekitarnya, siswa-siswa lain bergerak cepat, ada yang dijemput ojek online, ada yang berkelompok tertawa-tawa menuju minimarket seberang. Naya yang sedang berjalan sendirian hanya dapat memperhatikan mereka, sempat terbesit rasa iri kecil karena ia dilarang jajan sembarangan.
Ia tidak terburu-buru. Sepatu putih dengan corak toska yang masih lembap sesekali menggesek trotoar. Kepalanya menunduk, ia melihat bayangannya memanjang samar di cahaya sore yang mulai redup, lalu menendang kerikil kecil yang menghalangi jalannya. Di jalan, suara klakson angkot, motor, dan obrolan orang-orang pinggir jalan bertumpuk jadi latar yang itu-itu saja, setiap kali ia diminta menunggu di halte depan sekolah.
Begitu sampai, rintik pertama jatuh tepat di ujung hidungnya. Ia mendongak, titik air lain mendarat di pipi, dingin, cepat hilang. Lalu menyusul lagi, dan lagi. Gerimis turun, tidak deras, hanya cukup untuk membuat aspal berkilau dan udara terasa lebih dingin dari sebelumnya.
Naya berlari kecil masuk ke dalam halte, menurunkan tas dari bahu, lalu duduk di sisi kanan bangku besi panjang. Halte itu begitu sepi. Hanya ada seorang wanita paruh baya dengan kantong belanja yang tak lama kemudian naik angkot, seorang bapak tua berdiri sebentar sebelum pergi dengan payung hitamnya dan satu orang lain yang sudah sejak tadi diam di sisi kiri bangku.
Awalnya Naya tidak peduli. Ia membuka resleting tasnya mencari botol minum dan meneguk air yang sudah tidak dingin lagi untuk menahan lapar. Setelahnya, ia menyeka ujung rambut dengan tisu poket yang selalu Mamanya sisipkan di salah satu kantong kecil tasnya. Ketika ia menoleh tanpa sengaja, matanya tiba-tiba berhenti seolah terpaku pada sosok di sisi kiri bangku halte.
Di ujung bangku, duduk seorang lelaki berseragam SMA swasta yang namanya cukup terkenal di kota itu. Kemeja putihnya rapi, di kantong dada kiri terpasang logo bertuliskan ‘SMA Perguruan TA’. Name tag di dada kanan terbaca jelas, Narain Shankara Naradipta. Celana panjang biru tua, sepatu hitam yang tampak berdebu. Di pangkuannya terdapat bola basket oranye kecokelatan yang digenggamnya sangat erat, seolah bola itu adalah satu-satunya pegangan yang mencegah pikirannya yang entah melanglang buana ke mana.
Ia menyender ke dinding halte. Kepala agak tertunduk, rambut hitam kecokelatannya tampak sedikit terang karena cahaya yang menyusup di sela mendung. Namun matanya menatap jalan dengan kosong. Wajahnya teduh, tapi ada muram di sana, bukan sedih yang heboh, lebih seperti sedih yang disimpan rapat-rapat terlalu lama.
Naya tidak paham kenapa ia memandangi lelaki itu lebih lama dari seharusnya. Mungkin karena seragam SMA yang dikenakannya sehingga membuatnya seperti datang dari dunia yang sebentar lagi akan Naya masuki. Kata kakak lelakinya, kehidupan SMA itu isinya cerita baru, tekanan baru, dan perasaan yang entah kenapa selalu terdengar lebih rumit sehingga membuat dirinya terselip ketakutan kecil apakah ia sudah siap memasuki dunia baru itu atau belum.
Atau bisa juga karena lelaki itu memang menarik dilihat. Bukan hanya wajahnya yang tampan dan tenang, atau tubuhnya yang tinggi khas anak basket. Cara duduknya yang diam, dengan bola yang dipeluk seperti menyimpan sesuatu yang tidak ingin dibagi ke siapa pun. Naya merasa seperti sedang mengintip potongan cerita yang sudah berjalan sebelum ia datang.
Gerimis menebal. Air hujan menetes di tepi atap halte, membentuk semacam tirai tipis antara mereka dan jalan raya di depannya. Naya masih sempat menatap beberapa detik, lalu buru-buru membuang muka, sadar dirinya sudah terlalu lama memperhatikan. Namun terlambat.
“Kenapa?” suara bariton itu memotong.
Naya terkejut. Botol minum di tangannya nyaris saja jatuh. Ia menoleh pelan, lelaki itu kini menatapnya. Tidak kosong lagi, walau sisa muramnya masih ada.
“A-apa?” Naya gugup, jelas sekali ketahuan.
“Kamu dari tadi melihat ke arahku.”
Pipi Naya mendadak panas. Ia meremas tisu di pangkuan, menunduk sebentar.
“Enggak,” jawabnya cepat, terlalu cepat. “Maksudku… bukan sengaja. Cuma… kebetulan.”
Alis kanan lelaki itu terangkat. Ia diam sebentar, lalu sudut bibirnya bergerak, bukan senyum penuh, tapi cukup membuat wajahnya tidak seterlihat murung tadi.
“Kebetulannya lama banget,” katanya, senyum miringnya terasa seperti menggoda.
Naya menggigit bibir bawah. Mau jawab apa? Ia merasa bodoh karena ketahuan memperhatikan kakak SMA yang bahkan tidak dikenalnya.
“Aku hanya melihat bolanya,” ia memilih alasan yang terdengar aman.
Lelaki itu menunduk ke bola. “Oh, ini?”
“Iya.”
“Kamu suka basket?”
Naya menggeleng dan menjawab dengan jujur, “Enggak terlalu. Aku lebih suka berenang.”
“Kelihatan.”
“Kelihatan?” Naya mengernyit lalu menoleh cepat ke wajahnya. “Kelihatan apa, Kak?”
Ia menunjuk samar kearah rambut Naya yang masih lembap, juga kacamata renang yang nyembul dari tas karena resletingnya belum rapat. “Rambut basah, punggungmu, sama itu, kacamata renangmu.”
Naya melirik tasnya, lalu buru-buru memasukkan tali kacamata yang keluar. “Oh…”
Hening kembali terjadi, namun tidak seaneh tadi. Hujan di luar semakin deras, mengetuk aspal dan daun-daun, kendaraan lewat lebih pelan untuk mencegah timbulnya cipratan, rodanya membelah genangan tipis di pinggir jalan.
“Kamu nunggu jemputan?” tanya lelaki itu.
Naya mengangguk. “Orang tuaku telat menjemput. Aku disuruh tunggu di sini.”
“Sendirian?”
“Iya, tapi sebentar lagi dijemput,” jawab Naya, berusaha terdengar yakin, padahal ia sendiri tidak tahu Papa dan Mamanya akan sampai jam berapa di halte ini.
Lelaki itu mengangguk pelan. “Bagus. Jangan ke mana-mana kalau hujan begini.”
Kalimatnya sederhana, tapi terdengar seperti nasihat orang yang terbiasa melindungi sesuatu hal yang penting namun pernah menyesal karena tak melakukannya sekuat tenaga menjaganya.
“Kakak juga nunggu jemputan?” Naya memberanikan diri. Ia tahu lokasi SMA Perguruan TA itu lumayan jauh dari sini, sekitar lima kilometer. Dalam hati, ia heran, kok bisa orang ini berada di halte sekolahnya.
Lelaki itu tersenyum pahit. Pandangannya kembali ke jalan, bola basket diputar pelan di telapak. “Enggak. Lagi malas pulang cepat, atau lebih tepatnya, lagi kabur dari orang-orang yang mengenaliku.”
Naya terdiam. Banyak hal bisa tersimpan dari kalimat sesingkat itu. Bisa karena lelah berlatih basket, bisa kalah pertandingan dan menyimpan kesalnya sendirian, bisa karena sedang bertengkar dengan sahabatnya, bisa juga karena rumahnya bukan tempat yang ingin ia datangi hari ini. Ia tidak tahu, dan ia tidak merasa pantas mencari tahu.
Naya memilih bercanda tipis untuk memecah keheningan, “Kalau malas pulang, suasa hujan begini mendukung ya, Kak?”
Ia menoleh. “Maksudnya?”
“Soalnya kalau hujan, orang-orang punya alasan buat berhenti sebentar sebelum melanjutkan perjalanannya lagi.”
Untuk pertama kalinya, lelaki itu benar-benar tersenyum, kecil, tidak miring seperti tadi. Wajahnya berubah, muram di matanya bergeser sedikit, memberi ruang untuk sesuatu yang lebih ringan. Polos sekali anak ini, pikirnya.
“Kamu ngomongnya kayak anak buku,” katanya.
Naya makin mengerut. “Anak buku?”
“Iya, yang suka baca buku.”
“Aku memang suka membaca buku.”
“Pantas. Bahasamu kedengarannya puitis.”
Naya tidak tahu itu pujian atau godaan, tapi nadanya tidak jahat. Ia cuma tersenyum kecil, menatap ujung sepatunya yang bergerak-gerak pelan.
“Namamu siapa?”
“Naya.”
“Naya,” ia mengulang, seperti menyimpan bunyinya dulu di kepala. “Kelas berapa?”
“Kelas tiga SMP, kelas IX.”
“Oh, Berarti sebentar lagi masuk SMA.”
“Iya. Tapi belum tahu mau ke mana, masih bingung…” Aneh, Naya merasa aman mengatakan hal yang selama ini ia pendam, kepada kakak senior yang bahkan belum ia kenali.
“Pilih yang dekat rumah saja,” katanya, “Daripada bikin orang tuamu repot jemput kayak begini.”
Naya terkekeh. “Kayaknya itu saran yang paling masuk akal.”
“Justru yang masuk akal seperti ini sering menyelamatkan hidupmu.”
“Memangnya Kakak pilih SMA karena dekat rumah?”
Ia terdiam sebentar, mata turun ke bola. “Enggak, dulu aku pilih sekolah ini karena tim basketnya bagus.”
“Berarti Kakak suka banget basket?”
“Dulu, iya.”
Kata ‘dulu’ itu menggantung, bercampur suara hujan. Naya menangkap sesuatu dari cara ia mengatakannya, seolah dalam satu kata itu ada lapangan, sorak, harapan, dan mungkin kecewa yang belum selesai.
Naya ingin bertanya, tapi ia menahan. Sebagai gantinya, ia berkata pelan, “Kalau suka sesuatu tapi lagi capek sama itu, bukan berarti harus berhenti kan, Kak?”
Tatapan lelaki itu menahan Naya cukup lama.
Naya segera meminta maaf karena merasa ucapan yang disampaikannya terkesan lancang. “Maaf. Aku asal ngomong.”
“Enggak,” jawabnya. Suaranya lebih rendah sekarang. “Kamu benar.”
Hening lagi. Tapi bukan hening dua orang asing yang bingung harus berkomunikasi seperti apa. Ini hening yang anehnya terasa mengerti sedikit, walau mereka bahkan belum tahu apa-apa tentang satu sama lain.
Hujan masih turun, langit makin gelap, lampu jalan mulai menyala satu per satu. Pantulan cahaya kuning di aspal basah membuat sore itu seperti potongan adegan yang, entah kenapa, akan sulit dilupakan meski tidak ada peristiwa besar yang terjadi.
Beberapa menit kemudian, bunyi klakson terdengar dari tepi jalan. Naya menoleh. Mobil keluarganya berhenti tidak jauh dari halte, kaca jendelanya turun, wajah Papa tampak cemas.
“Naya!” panggilnya. “Ayo, Nak!”
Naya berdiri, menyampirkan tas ke bahu, merapikan handuk kecil yang hampir melorot. Ia menoleh kearah lelaki berseragam itu. Sebentar saja, ia bingung harus bilang apa. Mereka cuma mengobrol untuk mengisi jeda, tanpa benar-benar saling kenal, tapi rasanya aneh jika ia pergi begitu saja.
“Aku duluan ya, Kak.”
Ia mengangguk. “Hati-hati.”
Naya tersenyum kecil. “Kakak juga. Jangan kelamaan duduk di sini. Nanti bolanya basah.”
Lelaki itu menatap bolanya, lalu tersenyum lagi, kali ini lebih jelas. “Makasih atas perhatiannya, Naya.”
Naya sempat diam mendengar namanya keluar dari mulut lelaki itu. Aneh, terdengar lain. Lebih pelan, lebih hangat, seperti sesuatu yang baru saja ia simpan di ingatan.
Ia berlari kecil menembus hujan menuju mobil, masuk ke kursi belakang, menaruh tas di samping, lalu menoleh ke halte lewat kaca jendela mobil yang mulai berbintik air.
Lelaki itu masih di sana. Namun tatapannya tidak kosong lagi. Ia memandang ke arah mobil Naya, mengangkat tangan kanan memberi lambaian sederhana sebagai tanda perpisahan.
Naya membalas kecil. Mobil bergerak pelan, meninggalkan halte, hujan, dan kakak SMA Perguruan TA dengan bola basket di pangkuannya. Jalan yang basah memantulkan lampu seperti garis panjang yang bergoyang. Papa dan Mamanya saling bersahutan, membicarakan macet dan minta maaf karena terlambat, tetapi Naya menjawab seadanya, setengah mendengar.
Pikirannya tertahan di halte. Pada gerimis yang turun mendadak. Pada bola basket yang digenggam terlalu erat. Pada senyum kecil yang muncul setelah muram. Juga pada kakak SMA tanpa cerita lengkap, yang sore itu hadir seperti awal dari sesuatu yang belum ia pahami.
Kepalanya ia sandarkan ke kaca jendela mobil, dingin hujan merambat tipis dari luar. Di dalam dadanya, tumbuh rasa asing, pelan. Bukan sesuatu yang besar, bukan juga perasaan yang bisa ia namai, hanya ingin tahu yang halus, seperti rintik pertama sebelum hujan benar-benar jadi deras.
Naya tidak tahu pertemuan singkat itu kelak akan jadi titik balik hidupnya. Ia juga belum paham, beberapa orang memang datang tanpa suara keras, tanpa janji, tanpa tanda yang heboh.
Ada yang datang seperti gerimis, pelan, tidak terduga, tapi cukup untuk mengubah warna satu sore.
“Pa, Ma, bolehkah aku mencoba mendaftar ke SMA Perguruan TA?” tanya Naya polos.
Sang Papa langsung mengerem mobilnya mendadak karena terkejut. Sekolah itu bukan sekolah biasa, ini bukan tentang uang karena mereka masih mampu memenuhinya. Ini tentang standar masuknya yang sangat tinggi dan hanya anak-anak dengan mental tangguh dan talenta akademis sekaligus non akademis yang dapat memasukinya. Ia dan istrinya yang sangat mengetahui kemampuan anak gadisnya itu tak menyangka akan menyampaikan pertanyaan mustahil itu.
“Kamu yakin, Nay?!”
***