Berawal dari link aplikasi aneh yang masuk dalam obrolan chat grup kelasnya, Yufuin Tenn, Demon Lord yang bereinkarnasi menjadi seorang manusia akhirnya harus mengikuti sebuah game aneh karena terpaksa.
[Code Name: Alice Liddell]
[Welcome to the Murderland]
Game dengan seribu kisah dongeng sebagai setting permainan membuat Tenn semakin penasaran dengan orang di balik permainan ini tersebut.
Hanya satu cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui sosok di balik game ini dan menyelesaikan permainannya yaitu mengumpulkan kartu klondike untuk masuk ke level selanjutnya.
Demi mengetahui apa alasan dia terpilih dalam game pembunuhan dalam kisah dongeng tersebut, Tenn harus berusaha membuat dirinya lolos ke level berikutnya tanpa ada yang tau identitasnya sebagai demon lord hingga akhir permainan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayano Kaname, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15. Perburuan di Alam Liar bag. 2
[Sistem merajuk pada Code Name: Alice]
[Bantuan sistem dimatikan selama 2 jam. Selamat berjuang tanpa bantuan sistem]
“Woii!”
Tenn yang belum pernah merasakan rasanya dicampakan oleh perempuan karena dia yang selalu menjadi pelaku yang mencampakan akhirnya mengalami hal tersebut untuk pertama kalinya.
Dia diabaikan sistem.
“Sistem…sistem!!”
“Dia benar-benar mengabaikanku rupanya!”
-Sreeek
Terdengar suara yang mendekat dari arah depannya sekarang.
“Bayangan…” saat Tenn menengok, bayangan seseorang dengan kayu sudah berada di hadapannya dan siap menyerang Tenn. Itu adalah sosok Code Name: Tarzan yang sebelumnya membunuh zombie dan mengambil kartu dari dalam perutnya.
Dengan cepat, Tenn berhasil menghindari serangan tersebut.
Dia melompat ke atas pohon dengan mudahnya dan memperhatikan pemuda itu dari atas.
“Untung reflek tubuhku bagus.” gumamnya dalam hati. Kemudian dia berteriak ke bawah, “Kenapa menyerangku?”
“...” pemuda itu diam. Tenn hanya memperhatikan dan merasa lega karena dia berpikir Code Name: Tarzan mungkin tidak bisa memanjat atau melompat ke atas dan menyerangnya.
Ternyata dugaan Tenn meleset. Baru merasa lega, ternyata pemuda itu memanjat pohon besar tempat Tenn berada sekarang.
“Apa?!”
Gerakan memanjat yang cepat itu persis seperti gerakan hewan.
“Monyet?!”
Benar, hewan yang diteriakan oleh Tenn adalah perwujudan dari gerakannya sekarang. Tenn menghindar dengan cara melompat ke dahan pohon lain dengan cepat.
Tapi sepertinya Code Name: Tarzan itu tidak akan membiarkan orang yang ada di hadapannya itu lolos dengan mudah.
“Apa dia pemain juga, sistem?” tanya Code Name: Tarzan.
[Code Name: Alice]
[Status: Hidup]
[Jumlah kartu yang dimiliki saat ini 0]
“Begitu ya.” katanya dengan senyum.
Alasan kenapa sistem milik Code Name: Tarzan menjawab jumlah kartu Tenn adalah 0 karena di awal, Tenn memintanya untuk mengganti semuanya dengan data palsu.
Jadi apapun yang akan diinformasikan oleh sistem lawan, itu adalah informasi palsy yang tidak akan dilacak kebenarannya oleh sistem lain.
“Apa kemampuannya, sistem?”
[Kemampuan: Membunuh dengan cara mengatakan “Makan aku” kepada lawannya]
“Kemampuan macam apa itu?” Code Name: Tarzan melihat Tenn yang ada di depannya dengan tatapan jijik.
Sementara itu, Tenn tidak mengetahui sama sekali apa yang dipikirkan oleh lawan yang ada di belakangnya.
“Ingin kubunuh tapi kemampuan membaca pikiranku sedang dikunci. Membunuhnya sekarang…kenapa tidak kepikiran?”
“Tapi aku tidak tau, apakah kartunya itu akan berguna untukku?”
“Milikku adalah suit “Diamonds” dan kalau bisa aku ingin mendapatkan kartu satu suit yang sama.”
Tenn turun ke bawah dan menunggu sampai lawan di belakangnya itu mendarat ke tanah sepertinya.
Tepat seperti dugaannya, lawannya ikut turun dan bersiap untuk menyerang. Namun sebelum itu, tampaknya Code Name: Tarzan cukup tertarik dengan sosok yang ada di hadapannya.
“Kau…namamu Alice, kan?”
“Kenapa? Kamu bertanya pada sistem mengenai identitasku?”
“Aku tau kemampuan membunuhmu.”
“Hoo~” Tenn tampak tenang sambil bergumam dalam hati, “Aku tau sistem menyebalkan itu sedang merajuk sekarang, tapi aku yakin dia masih melakukan tugasnya dengan baik.”
Tenn bertanya pada pria tersebut, “Lalu apa maumu?”
“Aku tau kau masih belum menemukan kartu. Aku sudah bertanya pada sistemku.”
“Apa? Belum menemukan kartu katamu?” sekarang Tenn justru bingung sendiri. “Memangnya aku belum menemukan kartu? Bukannya aku sudah punya satu? Hoo, ini kerjaan sistem tukang merajuk itu ya. Bagus juga.”
Code Name: Tarzan yang awalnya memegang kayu untuk menyerang jadi sedikit mengendurkan kewaspadaannya. Dia coba bicara dengan orang di depannya.
“Kau bukan ancamanku. Tapi kau mungkin akan mengincar kartu yang aku miliki, benar kan?”
“Tergantung, seberapa kuat atau merepotkannya dirimu.” jawab Tenn
Code Name: Tarzan dan berpikir. Dia terlihat seperti bergumam pelan.
“Dia pasti bertanya pada sistemnya.” gumam Tenn dalam hati.
Bukannya ingin melewatkan kesempatan, tapi Tenn sendiri sedang ingin mencari tau mengenai pemain lainnya di tempat itu.
Dan contoh nyata yang ada di depannya saat ini adalah orang yang baru saja mendapatkan kartu suit “Hearts”, Code Name: Tarzan.
“Haruskah aku menunggunya atau…”
“Alice!”
“Hmm?”
“Bekerjasamalah denganku!”
“Hah?!”
Sebuah tawaran yang tidak biasa justru keluar dari mulut pemain di depannya.
“Kerjasama? Kenapa?”
“Sistemku mengatakan kalau tidak ada larangan untuk kerjasama dengan pemain lain. Selain itu, kau juga belum mendapatkan kartu, kan?”
“Aku sudah dapat barusan jadi kurasa kita bisa saling membantu. Lagipula, sistemku mengatakan kalau tidak semua kartu ada di dalam mayat zombie yang muncul.”
“Sistem milikmu bicara begitu?!” Tenn seperti tidak percaya.
“Iya. Sistemku.”
“Apa kodenya?!”
“Kode? TZN1. Sistemku adalah TZN1.”
Tenn langsung mengambil kesimpulan dengan cepat, “Sistem milikmu itu pasti menggunakan algoritma pemuda polos yang selalu menjawab pertanyaanmu dengan baik. Benar kan?”
“Um, aku tidak tau tapi dia memang selalu membantuku. Memang milikmu tidak begitu?”
Tenn langsung terlihat kesal dan mengumpat dalam hati.
“Sistem sial! Mana ada sistem tsundere yang seenaknya saja mematikan bantuannya selama 2 jam dan membiarkanku melakukan semua sendiri!”
“Sudah begitu sempat-sempatnya merajuk seperti perempuan! Kupikir dia meniru sifat perempuan tapi ternyata algoritmanya memang milik anak kecil tukang marah dan merajuk.”
“Ingin aku berkata kasar!”
Tenn menarik napas dan menghembuskannya. Kemudian dia bicara dengan Code Name: Tarzan.
“Tidak ada larangan untuk bekerjasama bukan berarti itu akan membuatmu berpikir untuk menjalin kerjasama denganku, kan?”
“Benar, tapi kau kuat.”
“Kuat? Aku?”
“Benar, dan aku yakin kita bisa bekerjasama dengan baik. Tapi tentu ada syaratnya.”
“Hmm…” Tenn terdengar tidak tertarik tapi dia masih mau mendengarkan, “Apa?”
“Jangan mengincar kartu suit “Hearts”. Jika ingin membentuk tim, aku ingin kau tidak mencari kartu yang sama denganku.”
Tenn berpikir kembali. Dia memang punya pemikiran sama dengan pemuda di depannya.
“Suit yang aku temukan jelas berbeda, tapi dia menganggap aku belum menemukan kartu sama sekali.”
“Berarti aku bisa menjadikan hal itu alasan.”
Tenn tersenyum dan mengangguk. “Baiklah. Aku ingin menemukan suit “Diamonds” karena aku menyukainya. Selain suit itu, aku akan mengabaikannya.”
“Setuju!”
Tenn tersenyum. “Aku akan memanfaatkan sistem miliknya untuk mencari tau mengenai semua hal di sini.”
“Jika sistem tsundere itu tidak mau membantuku, biarkan orang dengan kemampuan sama yang melakukannya.”
*****