❝Vina, bila kau ingin tahu siapa ayah kandung Baby El, datanglah ke rumah keluarga Archielo.❞
Malam ketika saudarinya meninggal kecelakaan. Davina Oswalden mengetahui kenyataan siapa ayah kandung Baby El (Eleanore Oswalden). Berbekal surat wasiat saudarinya, Davina nekad datang ke kota Vancouver, Canada - bersama Baby El; bayi laki-laki berusia lima bulan.
Davina mengetahui fakta yang tidak diketahuinya selama ini, ketika dia mengetuk pintu rumah keluarga Archielo ... pria itu---ayah kandung Baby El---mencium dan memeluknya, membisikkan kata ....
❝Ini bayi kita, Sayangku!❞
Di sisi lain...
Ketika penyesalan masa lalu menghantui seorang Mario Archielo ... tiba-tiba, suatu hari pintu rumahnya diketuk oleh seorang wanita manis nan mungil, lalu menyodorkan bayi laki-laki lucu padanya.
❝Ini bayi kandungmu...❞
Apakah ini saatnya membayar sebuah kesalahannya di masa lalu?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Renny Ariesya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harrison Hot Spring
Ketika Davina menjejakkan kakinya di luar stasiun. Sebuah benda bulat nan besar bersinar terang, menemani keberadaan bintang-bintang yang berkerlap-kerlip di langit hitam - menggantung di atas kepala, menghiasi pekatnya malam, menyambut kedatangan gadis ini di distrik Regional Freser Valley.
Setelah menghabiskan beberapa jam di kereta api Komuter West Coast Express yang membawa Davina dan penumpang lainnya. Kini Davina harus menempuh kembali perjalanan kira-kira seperempat jam lagi, dengan naik bus menuju desa Harrison Hot Spring. Di mana kediamannya berada.
Desa Harrison Hot Springs sendiri merupakan sebuah desa kecil yang terletak 75 mil di sebelah timur Vancouver di sepanjang tepi danau Harrison. Desa di mana selama ini Davina dibesarkan. Dengan pemandangan danau yang menakjubkan, dari pantai berpasir dan gunung-gunung sekitarnya. Paling baik dinikmati dengan berjalan-jalan di sepanjang kawasan pejalan kaki tepi pantai di desa.
Berdasarkan namanya, desa itu dikenal dengan air panas pemandiannya, yang memiliki kandungan mineral tinggi secara alami. Ada dua set pemandian air panas di desa yang dapat diakses oleh turis dan kolam renang umum yang terletak di persimpangan Hot Springs Road dan Esplanade.
Bila mengingat keindahan tersebut, tak sabar Davina ingin menjejakkan kakinya pulang ke tempat asalnya - di malam ini juga. Sudut bibir Davina tersenyum tipis. Perlahan jemarinya mengelus pipi gembul Baby El, sedikit mantelnya tersingkap dan membenahinya kembali.
Gadis ini mengembuskan napas pendek. Coat yang tak terlalu tebal miliknya, tak mampu melindunginya dari dinginnya angin malam - berembus pelan menusuk ke kulit porselennya hingga membuat tubuhnya bergidik dingin. Kendati demikian, Davina tak ambil pusing akan hal tersebut. Baginya yang terpenting, memprioritaskan Baby El saat ini. Asal bayi dalam dekapannya tetap hangat. Tertidur nyenyak berselimutkan mantel tebal, itu sudah cukup baginya.
Eh? Davina mengernyit saat sebuah mantel tebal telah menyelimuti seluruh tubuhnya. Kepala Davina menengadah, irisnya segera beradu pandang dengan iris abu-abu milik sosok tinggi yang berbicara di telepon dan hanya menyisakan beberapa senti saja jarak darinya. Bahkan ia bisa merasakan napas mint hangat bergumpal-gumpal keluar dari cela mulut sosok tampan itu.
Mario Archielo. Entah tujuan apa dia datang ke sini. Atau memang benar Mario mengikutinya sampai ke rumahnya?
“Jangan dilepas, cuacanya terlalu dingin,” sergah Mario ketika Davina berniat melepaskan mantel miliknya dan mengembalikannya. Ia memasukkan kembali smartphone-nya setelah berbicara singkat dengan seseorang di seberang telepon.
Davina memberengut sebal. “Tak bisa. Ini kukembalikan lagi,” tolaknya sambil melepaskan mantel dan menaruhnya ke tangan Mario dengan sedikit memaksa, karena pria itu hanya diam bergeming.
Mario menarik napas pendek, kembali menyelimutkan mantel tersebut ke tubuh Davina, menghiraukan gadis itu yang tampak kesal padanya.
“Pakai saja,” katanya dengan sedikit memaksa pula.
“Bila ini bersamaku, mungkin takkan kukembalikan. Memangnya tujuan kita sama, huh.” Davina mendelik tajam.
“Tentu saja.”
“Ha?!” Davina terlonjak kaget mendengarnya. “Jangan bilang kau benar-benar nekad mengejarku sampai ke rumah?” lanjut gadis ini menyipitkan mata.
Mario mengedikkan bahu bersamaan cadillac one yang pernah ditumpangi Davina berhenti tepat di depan mereka. Sang supir terburu-buru turun dari mobil, lantas memberikan kunci pada Mario.
“Maafkan aku, Austin. Kau pulang ke Vancouver naik kereta,” sesal Mario pada sang supir pribadinya ketika meraih kunci dari tangan pria lebih tua tiga tahun darinya ini.
“Tidak apa-apa, tuan muda Archielo,” jawab sang supir tersenyum tipis dan membalikkan tubuhnya memasuki stasiun. Di mana sebelumnya Davina dan Mario baru saja keluar dari sana.
Davina menatap punggung supir tersebut sambil memikirkan perilaku Mario. Mengapa sosok pria menyebalkan ini perginya tidak menggunakan mobil saja? Tanpa harus menaiki kereta dan kemudian mengganggunya di depan sepasang kakek dan nenek.
“Masuklah, Baby.” Mario menepuk bahu Davina, mengagetkan gadis ini dari lamunannya. Pria ini membuka pintu mobil, dengan sabar menunggu Davina masuk ke dalam tunggangan miliknya.
Davina mendengkus sebal, memalingkan mukanya ke arah lain. Tetap bergeming di tempat. “Tidak usah. Aku naik bus saja.” tolaknya.
Mario menatap datar Davina, lalu menghela napas pendek.
“Akan sia-sia perjalananku bila kau tidak ikut bersamaku, jangan menolak lagi,” ujarnya tegas. Mendorong Davina masuk dengan sedikit paksaan. Menulikan telinganya dan menghiraukan protesan keras dari mulut Davina. Setelah memastikan Davina duduk dengan nyaman. Mario menutup pintu penumpang, lalu mengitari mobil menuju bagian kemudi. Segera menjalankan mobilnya, meninggalkan area stasiun distrik Regional Fresser Valley.
“Jangan cemberut begitu, aku akan mengantarkanmu sampai ke alamat rumahmu dengan selamat.” Mario berucap setelah lama keheningan mengisi di antara mereka berdua di dalam mobil - melaju dengan santai di jalan yang mulai sepi di malam hari seperti ini. Davina hanya diam, tak berminat untuk menjawabnya. Dirinya lebih memilih melihat luar ke jendela. Sepanjang pemandangan yang nampak hanyalah pohon-pohon besar yang tertutupi hamparan putih salju, berbaris rapi di bahu jalan.
Gadis ini mengeratkan mantelnya serta pegangannya pada Baby El. Untuk kedua kalinya, dia tak mau kehilangan Baby El dari tangannya hingga diambil alih oleh Mario. Meski pun saat ini rasa kantuk mulai menyerangnya. Kelopak matanya begitu berat dan segera ingin terpejam. Setidaknya Baby El akan dia dekap terus, antisipasi agar tak terjatuh ketika dirinya mulai tertidur. Ditambah lagi, samar hidung Davina mengendus aroma maskulin tubuh Mario dari mantel terluarnya. Perasaan ini membawa kehangatan tersendiri untuknya. Membuatnya merasa nyaman dan tenang, hingga tanpa disadarinya mulai terbawa ke alam mimpi.
*This Is Your Baby*
Segaris senyuman indah hadir di belah bibir cherry Davina begitu memandang lekat bangunan sederhana di depannya. Sebuah bangunan tempat tinggal minimalis dengan cat warna putih mendominasi. Bangunan yang menjadi naungannya selama dia bernapas hingga kini. Rumah sederhana, berkali-kali lipat lebih kecil ukurannya dari mansion keluarga Archielo. Namun demikian, rumah kecil keluarganya ini memiliki kehangatan nyata serta rasa nyaman terlindungi di dalamnya. Yang mungkin saja, di mansion keluarga Archielo takkan didapatkannya.
“Terima kasih sudah mengantarku sampai ke sini.” Untuk pertama kalinya Davina membuka suara, membelah keheningan antara dirinya dan Mario. Sepanjang perjalanan, keduanya hanya diam tak bersuara. Terlebih Davina, justru kembali ketiduran. Tetapi segera terjaga ketika merasakan mobil yang membawanya berhenti. Dan ketika membuka mata, ternyata telah sampai di depan pagar rumahnya.
“Eh? Mengapa kau juga turun?” tanya Davina sengit, memandang Mario; dengan santainya menutup pintu mobil, setelah beberapa detik dia keluar dari mobil tersebut.
Mario mengedikkan bahu, memasukkan salah satu tangannya ke saku mantelnya, berjalan mendekati Davina. “Tentu saja turun, inikan rumah mertuaku.”
“Oh, benar juga, aku lupa. Rumah mertua yang selama ini kau lupakan.” Davina berujar begitu sinisnya, menancap langsung ke hati Mario, hingga membuat pria dengan pandangan tajam bak mata pedang samurai itu terdiam seketika tak mampu menjawab. Memang salahnya.
“Satu lagi, mobil mewahmu itu tak ada garasinya karena rumah kami tak menyediakan tempat seperti itu. Tidak seperti mansion mewahmu di sana,” sindir Davina, melirik cadillac one, hanya bisa terpakir di pinggir jalan, di depan pagar rumahnya.
“Tak masalah bagiku, bahkan bila hilang pun juga tak masalah.” Mario menjawab santai, membuat Davina memutar kedua bola mata akan jawaban angkuhnya. Gadis ini sedikit menyesal berkata seperti itu tadi.
“Terserah, aku juga tak peduli kalau begitu.” Davina berkata tak kalah ketusnya sambil berjalan melangkah ke pekarangan rumahnya, diiringi dari belakang Mario berjalan dengan cueknya. Pandangannya lurus, menatap pucuk rambut Davina yang bergoyang tertiup angin malam.
“Mom, Dad. Ini aku, Vina, sudah pulang,” panggil Davina tersenyum gembira, ketika berada di depan pintu rumahnya sembari mengetuk pintu berkali-kali. Tak berapa lama, pintu bercat putih tersebut terbuka lebar, menampakkan sosok wanita paruh baya di depan Davina.
“Vina, Baby El.” Wanita paruh baya itu tersenyum semringah.
“Mom ...” Davina segera memeluk ibunya yang juga membalas pelukannya.
“Baru dua hari tak bertemu, Mommy sudah rindu pada kalian.” Ny. Oswalden melepaskan pelukannya, lalu beralih mengecup berkali-kali pipi gembul Baby El dalam pelukan putrinya. Tersenyum lebar dan bahagia merasakan kulit halus Baby El di tangannya.
“Bagaimana, Vina? kenapa cepat sekali pulangnya? Apakah masalahnya telah selesai? Mengapa kau tak menghubungi Mom dan Dad selama dua hari ini?” serbu Ny. Oswalden bertanya beruntun. Selama dua hari ini, wanita tua itu tampak cemas pada putri dan cucunya. Tak ada kabar dari Davina, bahkan ketika menelepon pun tak tersambung sama sekali.
“Panjang ceritanya, Mom. Dan semua masalah telah selesai. Aku sudah bertemu dengan ayah kandung Baby El.”
Mata wanita paruh baya itu membesar, tampak cahaya kegembiraan terpancar di bola matanya. “Sungguh? Syuk--- R-Rio?”
Wanita paruh baya itu terdiam seketika. Rahangnya mengeras, menatap sosok tinggi tampan berdiri di belakang Davina.
“Apa kabar, Mom. Lama tak jumpa.”
Jangan lupa guys, kakak-kakak yang cantik & ganteng, adik-adik yang emes 😍, kasih like dulu biar semangat nulis ceritanya 🤗😉, oke 👍.
Sampai jumpa lagi di chapter selanjutnya 🤗💜.