Rasa dendam yang ada dalam diri Sagara membuat pria itu hanya fokus pada hari dimana ia bisa membalaskan rasa dendamnya. Kematian sang Kakak karena salah satu geng motor membuat ia melakukan segala cara agar ia bisa membalas kematian tersebut. Ia tidak pernah ikhlas. Ia membuat sebuah geng motor untuk tujuan balas dendam tersebut. Namun siapa sangka, ia malah bertemu dengan Danica, perempuan cantik asal Jakarta yang tiba-tiba memohon padanya agar mau mengalah dan membiarkan Danica yang mendapatkan nilai terbaik di kampus. Karena pada dasarnya, Sagara menjadi salah satu mahasiswa jenius di kampusnya. Bagaimana dengan kisah mereka? Apakah Sagara akan membantu Danica? Atau Sagara akan membiarkan Danica dan hanya fokus pada hari dimana ia membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon awnxbru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aodra
Pukul 00.36, Geng Aodra berhasil mengalahkan anak geng motor lain yang masuk dan merusak wilayah di Jalan Jenderal yang merupakan wilayah kekuasaan Geng Aodra. Entah kenapa, geng motor tersebut tiba-tiba datang dan merusak fasilitas yang ada di Jalan Jenderal. Hal ini menandakan jika mereka sedang mengusik Geng Aodra.
Sekitar 35 orang datang untuk menyerang mereka. Jika jumlah geng motor lain lebih banyak dari jumlah Geng Aodra itu sendiri, Sagara akan menyuruh Rafa untuk menghubungi anak didik mereka dan membantu Geng Aodra melawan geng motor tersebut. Tidak banyak, Sagara akan meminta bantuan pada 20 orang. Karena ia yakin, jumlah tersebut sudah lebih dari cukup untuk melawan geng motor lain.
Geng Aodra anggota aslinya memang mereka berempat. Namun mereka mendirikan sebuah panti asuhan yang berisi anak-anak yang hidup dijalanan, lebih tepatnya anak-anak itu tinggal di sepanjang Jalan Jenderal untuk mengemis.
Ide membuat panti asuhan ini berasal dari Janu. Strategi mengurus anak-anak, menjadikan mereka kuat dan pandai dalam ilmu beladiri merupakan ide dari Rafa. Orang yang merealisasikan dan membiayai panti asuhan tersebut adalah Kaivan. Dan tugas Sagara adalah mencarikan guru beladiri terbaik dan menjadi guru beladiri itu sendiri untuk anak-anak panti asuhan tersebut.
Anak didik Geng Aodra ada sekitar 45 orang. 40 pria dan 5 wanita. Bukan hanya belajar beladiri, mereka juga akan mendapatkan biaya sekolah jika mereka mau. Namun, kebanyakan dari mereka hanya ingin belajar beladiri karena mengabdikan hidup mereka untuk melindungi Geng Aodra. Mereka sangat bersyukur bertemu dengan Geng Aodra, karena tempat tinggal dan biaya kehidupan mereka terjamin. Mereka tidak usah bekerja mengemis seharian dijalanan hanya untuk makan. Kini yang mereka lakukan adalah menjaga Jalanan Jenderal dan membantu Geng Aodra dalam penyerangan.
Nama panti asuhan mereka adalah Aodra. Sama dengan nama panggilan geng mereka. Nama ini diberikan oleh Janu ketika mereka masih duduk di kelas 2 SMA. Janu memberikan nama itu karena geng mereka tidak pernah kalah dan selalu mendapatkan kemenangan.
Geng Aodra terbentuk karena kejadian Rafa yang dibully oleh teman dikelasnya.
Saat bersekolah, Sagara tidak pintar bersosialisasi. Hal itu membuatnya tidak memiliki teman. Sama halnya ketika ia duduk di bangku SMA, ia tidak memiliki teman selama satu bulan bersekolah dan hanya fokus pada mata pelajaran. Bukannya tidak ada yang mau menemani dia, namun ia bersikap acuh tak acuh dan berpikir jika ia tidak membutuhkan teman.
Janu Gyanav, pria itu adalah orang yang pertama kali mendekati Sagara. Setiap hari, pria itu berusaha mengajak Sagara berbicara namun Sagara tidak pernah meresponnya. Ia pikir pria ini terlalu berisik dan Sagara tidak menyukainya. Belum lagi melihat tingkah Janu yang suka pamer dan menggoda para wanita yang ada dikelasnya membuat Sagara semakin enggan untuk berteman dengan Janu.
Suatu hari, ketika Sagara ingin pergi ke toilet, ia malah menemukan banyak siswa sedang berkumpul. Sagara tidak tau apa yang terjadi dan berniat untuk kembali kedalam kelasnya. Namun ketika mendengar desas desus siswa lainnya yang mengatakan adanya perkelahian, Sagara perlahan maju dan melihat perkelahian tersebut.
Tangan Sagara mengepal ketika melihat perkelahian tersebut, 3 lawan 1. Hal ini tidak adil dan tidak sebanding, bagaimana bisa pria bertubuh kecil melawan 3 pria yang memiliki tubuh yang lebih besar dari pria kecil tersebut. Sagara segera maju dan memberikan satu bogeman mentah kepada salah satu pria yang hendak memukuli pria kecil itu.
Setelah Sagara maju, ada dua pria lain yang maju untuk membantu. Salah satu dari mereka adalah orang yang sering mengajak Sagara mengobrol setiap hari. Sedangkan untuk pria yang satu lagi, Sagara tidak mengenalnya. Pria itu berkulit putih dan tubuhnya tinggi.
Sagara berhasil membantu pria kecil yang dikeroyok tersebut dengan dibantu oleh dua pria lain. Dari sinilah Geng Aodra terbentuk. Pria yang bertubuh kecil ini adalah Rafa. Sedangkan dua pria lain adalah Janu dan Kaivan. Mereka saling bertukar nama ketika perkelahian selesai.
Dari kejadian tersebut, mereka berempat semakin dekat dan menjadi teman. Sagara dan Janu adalah anak dari kelas IPA. Sedangkan Rafa dan Kaivan dari kelas IPS. Satu alasan kenapa Rafa dikeroyok saat itu adalah karena Rafa melawan mereka yang ingin menyuruhnya untuk membelikan makanan tanpa memberikan uang kepada Rafa. Rafa sangat bersyukur karena Sagara membantunya saat itu.
Mereka berempat semakin terkenal disekolah dan menjadi kelompok orang yang paling ditakuti. Pada awalnya mereka hanya berteman biasa, namun siswa lainnya malah menganggap mereka adalah kelompok geng sekolah yang tidak bisa dikalahkan oleh siapapun. Setiap siswa yang membuat masalah dengan mereka berempat, akan berakhir babak belur. Awalnya Geng Aodra hanya geng sekolah, namun berakhir menjadi geng motor setelah Kaivan membelikan motor yang sama untuk mereka berempat.
Meskipun ada kakak kelas dan adik kelas, Geng Aodra tetap menjadi geng yang tidak terkalahkan. Mereka berempat adalah perpaduan sempurna ketika digabungkan. Mereka semakin ahli dalam bertengkar ketika sering berkelahi dan mendapatkan banyak lawan. Seperti saat ini, ketika mereka diserang, mereka akan menganggap penyerangan ini adalah latihan untuk meningkatkan kemampuan mereka dalam berkelahi.
Sagara menyuruh anak didiknya untuk berkumpul karena lawan sudah kalah. Pria itu berjalan dan mendekati mobil yang terparkir sembarang dipinggir jalan. Mobil itu adalah kendaraan yang digunakan geng tersebut untuk menuju ke wilayah Geng Aodra. Namun ketika Sagara semakin mendekat, seorang pria turun dari dalam mobil dengan menyandera seorang wanita yang Sagara kenal.
“Tolongin gue…” Lirih wanita itu.
Sagara melihat jaket hitamnya yang dikenakan oleh wanita itu. Ia berpikir keras, kenapa Danica ada di dalam mobil tersebut dan berurusan dengan geng ini?
Hanya dengan satu kali pukulan menggunakan balok kayu di bagian belakang kepala, pria tersebut segera jatuh dan tak sadarkan diri. Tangan Sagara segera menarik Danica agar terlepas dari pria tersebut dan Rafa kembali mengecek pria tersebut dengan balok kayu yang ia pegang, memastikan apakah pria itu benar-benar sudah pingsan atau belum.
“Kenapa kamu disini?”
Pertanyaan yang muncul dari Janu membuat Rafa, Kaivan dan Sagara menatap Danica yang masih shock dan ketakutan.
“Engke deui we nanya na.” Ucap Sagara. “Ayeuna urang ka basecamp heula. Terus itu barudak ceunah cek kesehatan heula saacan sare.”
Translate: Nanti lagi nanya nya. Sekarang kita ke basecamp aja dulu. Terus itu anak-anak harus cek kesehatan dulu sebelum tidur.
Kaivan mengangguk dan segera mengambil ponselnya untuk menghubungi dokter. Ketika Kaivan akan berbicara, tangan Sagara segera mengambil ponsel tersebut, “Satu orang datang ke basecamp ya. Tim inti butuh perawatan juga.”
Sagara mengembalikan ponsel tersebut dan melihat luka yang ada dikepala Kaivan dan darah kering yang mengucur dileher pria tersebut, “Maneh ge kudu nempo kesehatan diri sorangan Mas.”
Translate: Lo juga harus ngelihat kesehatan diri sendiri Mas
Kaivan hanya diam, ia tidak menjawab ucapan Sagara. Sagara segera berjalan melewati Kaivan dan mengecek anak didiknya satu-persatu lalu menyuruh mereka untuk segera pulang.
“Kamu rek balik atau ngilu ka basecamp?” Tanya Rafa pada Danica.
“Hah?”
“Kamu mau pulang atau ikut kita ke basecamp?” Janu mengulangi pertanyaan Rafa menggunakan bahasa Indonesia.
“Emang gue boleh ikut?” Danica bertanya pada Janu sembari melihat pada Rafa dan Kaivan secara bergantian.
Janu melihat Sagara yang sedang mengarahkan anak-anak yang lain untuk pulang, “Bos, ini Danica boleh ikut ke basecamp gak?” Pria itu sedikit berteriak agar Sagara dapat mendengarnya.
Sagara tidak menjawab, ia hanya mengacungkan jempol dan kembali fokus pada anak didiknya.
“Oke, boleh.” Ucap Janu pada Danica.
Kedua manik mata Danica tertuju pada Sagara, ia kagum melihat tingkah pria itu yang mengecek keadaan anggota geng Sagara. Tidak ada orang yang boleh pulang sebelum Sagara cek keadaannya. Hal ini membuat Danica sadar, jika Sagara peduli pada orang yang memiliki luka sama seperti ketika ia menolong Danica saat diperpustakaan.