NovelToon NovelToon
Di Ujung Rasa Sesal

Di Ujung Rasa Sesal

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Hamil di luar nikah / Romansa / Konflik etika
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Tiga tahun Nadira mencintai Raka, setia menunggu pernikahan meski selalu ditolak dengan alasan "belum siap" bahkan saat ia hamil delapan bulan.

Hingga Nadira mendengar pengakuan Raka: hubungan mereka hanya permainan. Ia tak pernah serius, hanya menginginkan tubuhnya.

Saat Raka mengejar untuk menjelaskan, kecelakaan menghantam. Nadira koma, bayi mereka tak sempat lahir.

Di hadapan tubuh Nadira yang tak berdaya, Raka akhirnya mengerti... ia benar-benar mencintainya.

Tapi penyesalan selalu datang terlambat. Cinta yang disia-siakan mungkin tak akan terbangun lagi, meski orang yang dicintai masih bernapas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan di Tengah Keheningan

Dua minggu setelah percakapan itu, Raka benar-benar mewujudkan niatnya. Ia tidak main-main. Ia tidak ragu. Ia akan menikahi Nadira, tidak peduli dalam kondisi seperti apa.

Semua persiapan ia lakukan sendiri. Mulai dari mengurus surat-surat, menghubungi KUA, mencari wali hakim karena Nadira yatim piatu, hingga meminta izin khusus dari pihak rumah sakit untuk mengadakan akad nikah di dalam ruang ICU.

Mama Nita beberapa kali menawarkan bantuan.

"Raka, biar Mama bantu. Mama bisa urus surat-surat. Mama bisa hubungi KUA. Kamu sudah capek kerja, jangan ditambah lagi ngurusin ini semua sendirian," ucap Mama Nita suatu sore saat Raka datang ke rumahnya dengan wajah yang lelah.

Tapi Raka menggeleng tegas. "Tidak, Ma. Ini tanggung jawab aku. Aku yang harus melakukan semuanya. Dulu aku tidak pernah melakukan apapun untuk Nadira. Sekarang, setidaknya... setidaknya biarkan aku melakukan ini untuknya."

Mama Nita menatap anaknya dengan tatapan penuh simpati. Ia tahu Raka merasa sangat bersalah. Ia tahu anaknya sedang menebus kesalahan dengan cara yang ia bisa.

"Baik, Nak," ucap Mama Nita akhirnya sambil mengelus punggung Raka. "Tapi kalau kamu butuh bantuan, bilang Mama ya. Mama selalu ada buat kamu."

Raka tersenyum tipis, senyuman yang lelah tapi penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Ma."

---

Mengurus pernikahan dengan calon istri yang koma bukanlah hal mudah. Raka harus bolak-balik ke KUA, menjelaskan situasi yang tidak biasa ini, mengurus surat-surat khusus, mencari wali hakim yang bersedia, dan yang paling sulit, meminta izin dari pihak rumah sakit.

Raka bertemu dengan direktur rumah sakit, seorang pria paruh baya dengan wajah serius tapi bijaksana.

"Pak, saya ingin mengadakan akad nikah di ruang ICU," ucap Raka langsung to the point.

Direktur menatap Raka dengan tatapan bingung. "Akad nikah? Di ICU? Bapak serius?"

"Sangat serius, Pak," jawab Raka tegas. "Calon istri saya sedang koma. Saya ingin menikahi dia meski dalam kondisi seperti ini. Saya mohon izinnya."

Direktur terdiam, menatap Raka dengan tatapan yang sulit dibaca antara simpati dan keraguan.

"Bapak, ini bukan hal yang biasa. ICU adalah ruang steril. Kami tidak bisa sembarangan mengizinkan orang masuk..."

"Saya tahu, Pak," potong Raka cepat. "Saya tidak akan bawa banyak orang. Hanya saya, wali hakim, dan dua saksi. Kami akan pakai APD lengkap. Kami tidak akan ganggu pasien lain. Saya mohon, Pak. Ini sangat penting bagi saya."

Direktur menatap mata Raka, mata yang penuh kesungguhan, penuh harap, penuh cinta yang terlambat tapi tulus.

Setelah jeda yang terasa sangat lama, direktur akhirnya menghela napas dan mengangguk.

"Baik. Saya izinkan. Tapi waktunya terbatas. Maksimal tiga puluh menit. Dan semua orang yang masuk harus steril, APD lengkap, masker, sarung tangan. Tidak ada pengecualian."

Raka hampir menangis mendengar kata "izinkan" itu. "Terima kasih, Pak. Terima kasih banyak."

---

Hari itu akhirnya tiba.

Hari yang Raka tunggu-tunggu. Hari yang ia persiapkan dengan sepenuh hati. Hari di mana ia akan menikahi wanita yang paling ia cintai, meski wanita itu tidak sadar.

Pagi itu, Raka bangun lebih awal dari biasanya. Ia mandi dengan air dingin, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdegup kencang. Ia mengenakan kemeja putih bersih, kemeja terbaik yang ia punya dan celana hitam yang rapi. Tidak ada jas. Tidak ada dasi. Hanya kemeja putih sederhana.

Tapi di dadanya, ada bunga mawar putih kecil yang ia sematkan sendiri... simbol kesucian, simbol cinta yang terlambat tapi tulus.

Raka menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya pucat, mata sembab, tubuh kurus. Ia tidak terlihat seperti pengantin pria yang bahagia.

Tapi di matanya, ada tekad. Ada harapan. Ada cinta.

"Hari ini aku akan menikahimu, Dira," bisiknya pada pantulan di cermin. "Hari ini kamu akan jadi istriku. Istriku yang sah."

Ia menarik napas dalam, lalu keluar dari kamar.

Mama Nita sudah menunggu di ruang tamu, mengenakan pakaian rapi dan membawa kamera kecil di tangannya.

"Mama siap, Nak," ucap Mama Nita dengan senyum yang penuh dukungan meski matanya sedikit berkaca-kaca.

"Terima kasih, Ma," ucap Raka sambil memeluk Mamanya. "Terima kasih sudah mendukung aku."

"Mama akan selalu mendukungmu, Nak. Apapun keputusanmu."

Mereka berangkat bersama menuju rumah sakit. Di perjalanan, Raka tidak banyak bicara. Ia hanya menatap keluar jendela, pikirannya melayang pada Nadira, pada wajah wanita itu, pada senyumannya yang hangat, pada semua kenangan yang seharusnya ia hargai dari dulu.

Sampai di rumah sakit, Raka dan Mama Nita disambut oleh perawat yang sudah diberitahu sebelumnya.

"Pak Raka? Silakan ikut saya. Wali hakim dan saksi sudah menunggu di ruang tunggu ICU," ucap perawat dengan ramah.

Raka mengangguk. Ia dan Mamanya mengikuti perawat melewati lorong rumah sakit yang sudah sangat familiar baginya.

Di ruang tunggu ICU, dua pria paruh baya sudah duduk, seorang adalah wali hakim dari KUA, satunya lagi adalah saksi yang Raka minta dari salah satu rekan kerjanya. Ada juga satu saksi lagi... Bayu, teman dekat Raka yang dengan senang hati bersedia menjadi saksi.

"Raka!" sapa Bayu sambil berdiri dan memeluk temannya. "Hari ini hari spesial kamu, bro. Aku turut senang."

Raka tersenyum tipis. "Terima kasih, Yu. Terima kasih sudah mau jadi saksi."

"Apa sih yang nggak aku lakuin buat sahabat sendiri," ucap Bayu sambil menepuk bahu Raka.

Wali hakim, seorang pria berjenggot dengan wajah bijaksana mendekat.

"Assalamualaikum, Pak Raka. Saya Ustadz Hadi. Saya yang akan menikahkan Anda hari ini," ucapnya sambat menjabat tangan Raka.

"Waalaikumsalam, Ustadz. Terima kasih sudah bersedia," jawab Raka dengan suara yang sedikit bergetar.

"Sama-sama, Nak. Ini adalah pernikahan yang tidak biasa, tapi saya lihat kesungguhan di mata Anda. Semoga Allah memberkahi pernikahan ini."

"Amin," bisik Raka.

Perawat kembali muncul dengan membawa beberapa set APD, baju hazmat, masker, sarung tangan, pelindung wajah.

"Sebelum masuk, semua harus pakai ini," ucap perawat sambil membagikan APD kepada semua orang.

Mereka semua memakai APD dengan hati-hati, Raka, Mama Nita, wali hakim, dua saksi. Setelah semuanya siap, perawat membukakan pintu ICU.

"Ingat, maksimal tiga puluh menit. Setelah itu, semua harus keluar," ingatkan perawat.

Raka mengangguk. Lalu dengan napas yang tertahan, ia melangkah masuk ke ruang ICU.

Ruangan itu dingin. Sangat dingin. Bau antiseptik menyengat hidung. Suara monitor berbunyi pelan pip... pip... pip. Ada beberapa ranjang lain dengan pasien lain yang juga dalam kondisi kritis.

Tapi mata Raka hanya fokus pada satu ranjang.

Ranjang di sudut, tempat Nadira terbaring.

Ia melangkah perlahan mendekat. Mama Nita mengikuti di belakang, kamera sudah siap di tangannya.

Raka berdiri di samping ranjang Nadira, menatap wajah wanita itu, wajah yang pucat, mata yang tertutup, tubuh yang terbaring lemah dengan selang-selang di sana-sini.

"Hai, Dira," bisik Raka pelan. "Aku datang. Hari ini... hari ini kita menikah."

Tidak ada jawaban. Hanya suara monitor yang berbunyi pelan.

Wali hakim dan dua saksi berdiri di sekitar ranjang, membentuk lingkaran kecil. Mama Nita berdiri agak jauh, kamera sudah terangkat, siap merekam momen berharga ini.

Ustadz Hadi membuka kitab kecil yang ia bawa, lalu menatap Raka dengan tatapan serius tapi penuh empati.

"Kita mulai?" tanyanya pelan.

Raka mengangguk. Tangannya menggenggam tangan Nadira yang dingin, menggenggamnya erat, seolah mencoba memberikan kehangatan.

"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Ustadz Hadi.

Ruangan itu seolah membeku. Semua orang diam, khusyuk.

"Saya nikahkan Nadira Ayudia binti Ahmad Fauzan dengan Raka Bimantara bin Abdul Wahhab dengan mahar berupa seperangkat alat shalat dan uang sejumlah lima juta rupiah, tunai?"

Raka menarik napas dalam. Suaranya bergetar saat menjawab.

"Saya terima nikahnya Nadira Ayudia dengan mahar seperangkat alat shalat dan uang lima juta rupiah, tunai."

Ustadz Hadi mengangguk. "Saksi pertama?"

"Sah," jawab Bayu.

"Saksi kedua?"

"Sah," jawab saksi lainnya.

Ustadz Hadi tersenyum, senyuman yang hangat dan penuh berkah.

"Alhamdulillah. Semoga Allah memberkahi pernikahan ini. Amin."

"Amin," bisik semua orang di ruangan itu.

Dan di saat itulah,... di saat kata "sah" itu terucap, Raka tidak bisa menahan air matanya lagi.

Ia menangis.

Menangis dengan tangisan yang keras, memilukan, penuh lega dan penuh penyesalan sekaligus.

"Akhirnya..." isaknya sambil mencium punggung tangan Nadira. "Akhirnya kamu jadi istriku, Dira... Akhirnya..."

Mama Nita yang merekam dari kejauhan juga menangis melihat anaknya yang sudah berjuang keras, yang sudah menebus kesalahannya dengan cara yang ia bisa.

Bayu mengusap matanya sendiri, terharu melihat temannya yang akhirnya menikahi wanita yang ia cintai, meski dalam kondisi yang tidak pernah mereka bayangkan.

Raka terus menangis, kepalanya menunduk di samping tangan Nadira, tubuhnya bergetar.

"Maafkan aku yang sangat terlambat," isaknya pelan. "Maafkan aku baru menikahimu sekarang. Maafkan aku, istriku... Maafkan aku..."

Tapi Nadira tetap diam. Tidak ada respons. Tidak ada genggaman balik. Tidak ada senyuman.

Hanya keheningan.

Dan suara monitor yang terus berbunyi pip... pip... pip menandakan bahwa kehidupan masih ada, meski sangat rapuh.

Ustadz Hadi mendekat, meletakkan tangannya di bahu Raka dengan lembut.

"Sabar, Nak," ucapnya pelan. "Allah punya rencana yang lebih baik. Teruslah berdoa. Teruslah berharap."

Raka mengangguk tanpa mengangkat kepalanya, air matanya terus mengalir.

Mama Nita menurunkan kameranya, lalu mendekat dan memeluk Raka dari belakang, pelukan yang hangat, pelukan seorang ibu yang mencoba memberikan kekuatan pada anaknya.

"Mama bangga sama kamu, Nak," bisik Mama Nita dengan suara bergetar. "Mama sangat bangga."

Dan di ruang ICU yang dingin itu, di tengah suara monitor dan bau antiseptik, Raka akhirnya menjadi suami Nadira.

Suami yang terlambat.

Tapi suami yang tulus mencintai istrinya.

1
Dew666
🍎🍎🍎🍎🍎
Dew666
🪸🪸🪸🪸
aku
lah, masa dlu dy semerong sm yg lain dong brti pas msh ma dira?
Anonymous
CUIH bawa bawa nama TUHAN,, dasar MUNAFIK
Anonymous
gak perlu bangun Nadira..
aku
3 vs 1
bnr kata mama mu raka, ujian buatmu, kau gantung dira 3 thn, ni msh setahun lbh dikit udh blg lelah aja hehh
partini
ini nanti bangun dari koma langsung lovely doply atau sebaliknya
semoga ga lovely doply yah Thor
gantian dong tuh laki merasakan rasa sakit hati enak benar menyesal terus happy, semua orang bisa Kya dia berbuat sesuka hati terus nyesel
Anonymous
BANGGA? MENGHAMILI ANAK ORANG BANGGA? MEMBUAT NYA SEKARAT DAN KEGUGURAN ITU BANGGA? DASAR GILA
Anonymous
Fuwa Fuwa Time 🎸🎸
Dew666
💎💎💎💎💎
Sasikarin Sasikarin
q kira mo tiap hari up nya.. dah lah buat pembaca kevewa sanhat
rian Away
TCH GOB
rian Away
bisa bisa nya lu bawa nama tuhan
Shuttttttttttt
up thoooor
Shuttttttttttt
bkn aku nangis aja, awas yaa end mreka sma²
cik gak terima aku cwk udah berkorban sbnyak itu, sedangkan cwoknya hnya menyesal lngsung damai dan bersma kmbli
ogaaah bgtt cokk
Dew666
🔥🔥🔥🔥🔥
Dew666
💐💐💐💐💐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!