Rania Kirana seorang penjual cilok berprinsip dari kontrakan sederhana, terpaksa menerima tawaran pernikahan kontrak dari Abimana Sanjaya seorang CEO S.T.G. Group yang dingin dan sangat logis.
Syarat Rania hanya satu jaminan perawatan ibunya yang sakit.
Abimana, yang ingin menghindari pernikahan yang diatur keluarganya dan ancaman bisnis, menjadikan Rania 'istri kontrak' dengan batasan ketat, terutama Pasal 7 yaitu tidak ada hubungan fisik atau emosional.
Bagaimana kelanjutannya yukkk Kepoin!!!!
FOLLOW ME :
IG : Lala_Syalala13
FB : Lala Syalala13
FN : Lala_Syalala
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PKCD BAB 33_Kemandirian Sang Bunga Padi
Mereka melihat Rania yang tetap ramah, tetap mencium tangan orang yang lebih tua, namun memiliki aura kepemimpinan yang tenang.
"Rania, kamu beneran mau bangun sekolah di sini?" tanya Bang Jaelani sambil menyuguhkan teh.
"Bukan sekolah formal Bang tapi tempat kursus dan perpustakaan, biar anak-anak di sini punya tempat buat bermimpi." jawab Rania mantap.
Perjalanan baru ini memang penuh tantangan.
Mereka harus menghadapi sisa-sisa cibiran publik tentang skandal kontrak mereka yang bocor dan mereka harus beradaptasi dengan karakter masing-masing yang selama ini tersembunyi di balik formalitas.
Namun bagi Rania dan Abimana, setiap kerikil di jalan ini terasa jauh lebih ringan karena mereka tidak lagi berjalan untuk memenuhi isi sebuah dokumen, melainkan untuk memenuhi janji hati yang tulus.
Malam itu di penthouse Rania menulis di buku catatannya dengan pena kayu pemberian Abimana yaitu
Kontrak telah habis, tapi bab yang sesungguhnya baru saja dimulai. Kami tidak lagi mencari titik temu dalam pasal-pasal, tapi kami membangun rumah di antara perbedaan, ini adalah perjalanan kami yang sebenarnya.
Abimana masuk ke kamar, melihat istrinya sedang menulis dengan tekun, ia tidak lagi merasa perlu menjaga jarak atau tidur di sofa.
Ia berjalan mendekat dan memeluk bahu Rania, dan menatap masa depan yang kini tampak begitu terang di balik jendela kaca mereka.
Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi ketakutan hanya ada dua jiwa yang akhirnya menemukan pelabuhan yang nyata.
Matahari baru saja menyembul dari balik gedung-gedung pencakar langit Jakarta ketika Rania sudah sibuk di dalam kamar tamunya yang kini ia fungsikan sebagian sebagai ruang belajar pribadi.
Di atas meja kayu yang sederhana, bertumpuk beberapa buku tebal tentang sosiologi pendidikan dan manajemen organisasi.
Tidak ada lagi gaun-gaun sutra yang tergantung di pintu, pagi ini ia menyiapkan sebuah kemeja flanel kotak-kotak dan celana jins yang sudah sedikit memudar warnanya.
Hari ini adalah hari pertamanya mengikuti orientasi di salah satu universitas negeri terkemuka di Jakarta.
Rania tidak mendaftar melalui jalur "khusus" atau menggunakan pengaruh nama besar Sanjaya.
Ia mendaftar secara mandiri, mengikuti ujian masuk kelas karyawan dengan hasil keringat dan otaknya sendiri, menggunakan tabungan yang selama ini ia simpan rapat-rapat dari hasil berjualan cilok dan sisa warisan kecil ayahnya yang tidak ikut ia sumbangkan.
Di ruang makan Abimana sudah menunggu, ia tampak segar dengan setelan jas kerjanya, namun ada gurat kekhawatiran yang ia sembunyikan dengan rapi.
Saat melihat Rania keluar dengan ransel di bahunya, Abimana berdiri menyambut sang istri.
"Rendra sudah menyiapkan mobil di lobi, dia akan mengantarmu sampai depan fakultas," ujar Abimana dengan nada yang biasa ia gunakan untuk mengatur segala sesuatu agar berjalan sempurna.
Rania berhenti di depan meja makan, ia menggeleng pelan dengan senyum yang menenangkan.
"Tidak Abi, terima kasih tawaranmu tapi aku akan pergi naik transportasi umum." ucap Rania.
Alis Abimana bertaut. "Transportasi umum? Rania kamu adalah istri dari CEO S.T.G. Group, bagaimana jka ada yang mengenalimu atau jika terjadi sesuatu di jalan....." ucap Abimana terpotong.
"Di sana aku bukan Nyonya Sanjaya Abi." potong Rania lembut namun tegas.
Ia mendekati suaminya dan merapikan dasi pria itu.
"Aku adalah Rania Kirana, seorang mahasiswi baru yang ingin belajar, jika aku datang dengan mobil mewah dan pengawalan Rendra, aku tidak akan pernah benar-benar belajar tentang realitas yang ingin aku perbaiki nanti. Aku ingin merasakan lagi desak-desakan di bus, mendengar keluhan orang-orang di kereta, itulah energiku." ucap Rania menjelaskan kepada sang suami.
Abimana menatap mata istrinya yang jernih, ia melihat determinasi yang sama yang dulu membuatnya terpesona di awal kontrak mereka.
"Tapi setidaknya biarkan aku membiayai uang semestermu, itu adalah tanggung jawabku sebagai suami." ucap Abimana.
Rania menggenggam tangan Abimana. "Uang semester pertamaku sudah lunas dari tabungan cilokku Abi, aku ingin membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku bisa berdiri di atas kakiku sendiri sebelum aku bersandar sepenuhnya padamu. Aku ingin menjadi pasangan yang seimbang untukmu, bukan sekadar beban yang kau angkut."
Abimana terdiam, ego lelakinya yang ingin selalu melindungi dan menyediakan segalanya merasa tertantang, namun rasa hormatnya pada integritas Rania jauh lebih besar.
Ia menghela napas panjang, lalu mengecup kening Rania.
"Baiklah, tapi berjanjilah jika terjadi sesuatu atau jika kamu butuh bantuan akademis, aku adalah orang pertama yang kau hubungi. Aku tidak ingin menjadi 'investor', tapi aku ingin menjadi suportermu." seru Abimana dan di angguki oleh Rania.
"Janji," bisik Rania.
Perjalanan menuju kampus terasa seperti sebuah perjalanan pulang menuju jati diri yang lama bagi Rania.
Berdesakan di dalam TransJakarta, mencium aroma keringat dan kopi instan dari para pekerja, justru membuatnya merasa "hidup". Ia merasa seperti Rania yang dulu yaitu si gadis pejuang yang tidak takut pada kerasnya dunia.
Sesampainya di kampus, atmosfernya sangat berbeda dengan kemewahan penthouse.
Ada aroma buku tua, rumput yang baru dipotong dan semangat muda yang meluap-luap.
Rania berjalan menyusuri koridor Fakultas Ilmu Sosial, merasa sedikit canggung karena usianya yang terpaut beberapa tahun lebih tua dari mahasiswa reguler lainnya.
Saat ia sedang mencari ruang kelasnya, seorang mahasiswi muda berambut pendek menyapanya.
"Halo! Kamu mahasiswa baru kelas sosiologi juga ya?" sapa salah satu mahasiswi di sana.
Rania tersenyum. "Iya, saya Rania."
"Aku Sari. Wah, keren ya meskipun kelihatannya kamu sudah lebih 'senior', semangat belajarnya luar biasa, tadi aku lihat kamu turun dari busway di depan, perjuangan banget kan?" ujar Sari ramah.
Rania merasa hatinya menghangat. Ia diterima bukan karena siapa suaminya, tapi karena ia adalah sesama pejuang ilmu. "Iya, Sari. Belajar tidak kenal umur, kan?"
Di dalam kelas Rania duduk di barisan tengah, ia membuka buku catatannya dan mulai mendengarkan dosen memberikan kuliah pengantar.
Ada rasa haus yang luar biasa dalam dirinya, setiap kata tentang struktur sosial, ketimpangan ekonomi dan teori perubahan komunitas ia serap seperti spons.
Ia tidak hanya belajar teori tetapi ia sedang mencocokkan teori-teori itu dengan pengalaman hidupnya di gang sempit Karet Kuningan.
Namun kemandirian memiliki harganya sendiri.
Menjelang siang Rania menyadari bahwa sistem administrasi universitas yang sekarang sudah berbasis digital sepenuhnya cukup membingungkan baginya yang sudah lama tidak menyentuh dunia akademik.
Ia harus mengakses portal mahasiswa, mengunduh modul, dan berpartisipasi dalam forum diskusi daring.
Laptop lamanya yang ia gunakan sejak zaman SMK mulai melambat dan sering hang.
Beberapa mahasiswa lain menggunakan perangkat terbaru yang sangat cepat, namun Rania tetap bertahan.
Ia tidak ingin menelepon Abimana hanya untuk mengeluh tentang laptop, ia pergi ke perpustakaan kampus, duduk di depan komputer umum yang tersedia, dan belajar dengan tekun bagaimana cara mengoperasikan sistem tersebut hingga ia benar-benar paham.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
lanjut Thor semangat 💪 salam