NovelToon NovelToon
Melarikan Diri dari Sang Mafia

Melarikan Diri dari Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:2
Nilai: 5
Nama Author: Meche

Di siang hari, Arkana Baswara adalah pengusaha paling terhormat di kota, sosok tampan berkuasa yang diperebutkan setiap wanita. Namun ketika malam turun, ia berubah menjadi Sang Iblis: penguasa dunia hitam yang paling ditakuti, seorang pria yang tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh hatinya.

Salsabila hanyalah gadis penjual bunga miskin dengan satu mimpi sederhana: menjadi dokter dan mengangkat keluarganya dari kesulitan. Sampai satu malam kelam mengubah seluruh hidupnya, dan meninggalkan sebuah rahasia yang harus ia jaga dengan nyawanya.

Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini sang mafia menemukan apa yang selama ini disembunyikan darinya, dan ia tak akan melepaskannya begitu saja. "Kau dan dia adalah milikku," katanya. Tapi Salsabila punya satu tekad: melarikan diri, sejauh apa pun, berapa kali pun.

Namun bagaimana caranya kabur dari seorang pria yang menguasai seluruh kota? Bagaimana caranya membenci pria yang perlahan meruntuhkan setiap tembok di hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 — Menyenangkan Sang Mafia

Salsabila berlari ke kamar mandi dan meninggalkan Alika dalam pengawasan Arkana. Rasanya seperti keabadian, sebab ia tak pernah berlama-lama sebegini di kamar mandi. Ia lupa berapa kali sudah menyikat gigi dan menyisir rambut, karena ia mengaca setiap detik. Semakin lama ia melakukannya, semakin merah pipinya oleh rasa gugup. Ia ingin merancang apa yang akan ia katakan pada Arkana Baswara si mafia itu.

Ia keluar dengan wajah sudah dicuci bersih dan setelan baru gaya lajang yang seperti seragam, selalu nyaman dan semi-olahraga. Ia ibu tunggal sekaligus mahasiswi. Biasanya ia memakai jins dengan sepatu kets dan sweter. Rambutnya dibiarkan terurai atau diikat. Ia tak punya banyak waktu mengurus dirinya, tapi hari ini ia sengaja mengikat rambutnya tinggi-tinggi, membiarkan poninya menutupi sebagian besar wajahnya.

"Sudah segar seperti baru. Sekarang giliranmu, putri Mama tersayang," ujar Salsabila.

"Mama, biar Om saja yang mendandani aku. Dia berpakaian rapi dan pasti pandai mendandaniku," pinta Alika.

"Kau mau melakukannya?" tanya Arkana. "Aku tak pernah mendandani siapa pun selain diriku sendiri."

Arkana gugup oleh permintaan si kecil, tapi bagi Alika ini pengalaman baru, dan ia melompat-lompat di ranjang dengan gembira.

"Tentu saja bisa! Ayo, beranikan diri. Atau kau pikir kau tak sanggup? Masa pengusaha besar takut cuma menghadapi ganti baju seorang anak kecil," goda Salsabila.

Salsabila tersenyum lebar saat menantang Arkana. Pupil pria itu melebar melihat sepasang mata wanita dengan senyum yang cantik itu. Ia membayangkan pemandangan menggoda bersamanya.

"Baiklah, katakan apa yang harus kulakukan, dengan senang hati kukerjakan," ujar Arkana.

"Hahaha, kau harus belajar kalau memang mau menjalankan peran sesungguhnya. Aku tinggal kalian berdua sementara aku memesan makanan, urus sendiri ya."

Arkana tak tahu harus berbuat apa. Ini kali pertamanya jadi ayah. Ia akan curang dan bertanya saja pada Alika.

"Kasih tahu Om harus bagaimana, bantu Om ya? Ini rahasia kita berdua," bisik Arkana.

"Di laci itu ada setelan-setelan putriku. Om boleh ambil yang mana saja, tapi aku suka yang kuning," jawab Alika.

Arkana membuka laci dan mengeluarkan setelan untuk anak itu. Ia sudah menyuruh orang mendekorasi seluruh kamar, tapi ia tak sempat memesan baju untuk putrinya. Baju yang ada di sana terlihat sudah dicuci berkali-kali dan warnanya pudar. Ia menyerahkan baju itu pada anaknya, dan di tangannya yang besar baju itu tampak seperti secarik kain kecil.

"Sekarang Om berbalik dan pejamkan mata sementara aku ganti baju sendiri, soalnya Om agak ceroboh," ujar Alika.

Arkana menuruti perintah anak itu dan menunggu aba-abanya untuk berbalik lagi.

"Selesai. Sekarang Om harus menyisirku. Di kotak itu ada sisir dan ikat rambutku. Aku mau dua kuncir dengan kepang."

Arkana menggaruk kepalanya dan mengusap hidungnya, memikirkan bagaimana cara mengerjakan tugas itu. Namun ia mulai menyisir rambut anak itu dengan mengandalkan nalurinya. Tangannya terlalu besar untuk memegang kuncir-kuncir mungil itu. Meski begitu, ia berhasil melakukannya dengan cukup baik. Saat Salsabila kembali, ia tak sanggup menahan tawa.

"Hahaha, hahaha, hahaha," Salsabila terpingkal.

"Menurutku itu tidak lucu," sahut Arkana.

Arkana mengernyitkan dahi dengan mata menyipit, mengamati saksama wanita yang menertawakannya.

"Bagiku juga tidak, tapi lihat kau jadikan apa anakku ini," ujar Salsabila.

"Mama, aku suka sekali cara Om menyisir rambutku. Aku bahkan jadi kelihatan seperti orang-orangan sawah," celetuk Alika.

"Hahaha, hahaha."

Salsabila memegangi perutnya karena tertawa. Arkana memang sudah menyisir rambut anaknya, tapi satu kuncir lebih tinggi dari yang lain dan kepangannya berantakan. Alika tak peduli dan tak membiarkan ibunya membetulkannya. Perbuatan Om-nya itu membuatnya senang.

"Sekarang panggil perawat untuk menjaga Alika, karena kau dan aku punya urusan yang belum selesai," ujar Arkana.

Arkana menatap Salsabila dengan wajah serius. Ia bangkit untuk membawa wanita itu keluar kamar, tapi ia tak menyangka ajakan itu keluar dari mulut sang wanita.

"Kau belum sarapan? Mau makan bersama kami?"

Arkana terdiam kaku, sebab ia tak pernah mengira Salsabila akan mengajaknya begitu. Sebenarnya ia sudah sarapan, namun ia takkan menyia-nyiakan momen semenyenangkan ini. Inilah kali pertama ia makan bersama putrinya.

"Aku belum makan. Kita bisa makan bersama sekarang," jawab Arkana.

"Baiklah, aku siapkan mejanya sambil menunggu makanan datang. Duduk yang nyaman, ya," ujar Salsabila.

Arkana merasa tubuhnya menghangat dan menunggu dengan tak sabar. Ia tak keberatan makan lagi asal bisa bersama kedua wanita cantik itu. Ia membantu Alika duduk di kursi anak lalu duduk dengan punggung tegak, menanti pertunjukan dimulai.

Makanan datang, dan Salsabila memulai tariannya. Ia menata tiap sajian untuk masing-masing. Arkana duduk di tengah kedua wanita itu, dan rasa damai yang mereka berikan tak ada tandingannya. Salsabila melayaninya seperti tuan rumah yang baik.

"Mau tambah kue keju lagi?" tanya Salsabila.

Arkana tak terbiasa makan banyak makanan manis, ditambah lagi ia menjalani pola makan yang sangat ketat. Melahap semua porsi makanan itu akan membuat tubuhnya membayar mahal.

"Ya, boleh. Aku mau sedikit lagi," jawab Arkana.

Salsabila tak bodoh. Ia pernah mempelajari mata kuliah gizi dan tahu bahwa agar pria seperti Arkana bisa punya tubuh spektakuler seperti itu, ia harus menjalani diet ketat dan rutinitas olahraga harian. Ia ingin memancing pria itu dan tahu sampai sejauh mana ia mau menyenangkan mereka.

Namun demikian, Arkana melahap setiap porsi dengan penuh kenikmatan, dan sesekali membantu Alika makan.

"Aku mau membersihkan anak ini dulu. Tunggu sebentar, nanti kuberesikan semuanya," ujar Salsabila.

"Baik, aku tunggu," sahut Arkana.

Selama Salsabila di kamar mandi membersihkan anaknya, Arkana membereskan meja. Ia ingin membuktikan bahwa ia layak untuk kedua wanita itu, dan meski ia pria bertubuh besar, ia juga bisa mengurus pekerjaan rumah.

"Sudah? Bagaimana kalau kita minum kopi?" ajak Salsabila.

"Kalian cuma sebentar, tapi rasanya seperti keabadian," ujar Arkana.

"Kau bereskan semuanya sendiri?"

"Kurasa begitu, tak ada yang membantuku."

"Kau tak seharusnya melakukan itu. Kau mau mengobrol sedikit lagi sekarang?"

"Sekarang jangan dulu, lebih baik kita habiskan waktu sebentar dengan anak ini. Begitu kan cara kau memanggilnya?"

"Iya, begitu aku suka memanggilnya. Kau usul kita lakukan apa?"

"Di antara hadiah anak ini ada satu teka-teki dan juga beberapa buku mewarnai. Bagaimana menurut kalian?"

"Aku mau mewarnai. Mama, bisa gambarkan aku unicorn?" pinta Alika.

"Gambar terbaik yang menang," ujar Salsabila.

"Mama curang, aku kan tidak bisa menggambar," protes Alika.

"Tapi kau bisa mewarnai. Mama yang gambar dan kau yang warnai, bagaimana?"

Anak itu mengangguk gembira dan semua mulai mengerjakan karya seni masing-masing. Alika mewarnai unicorn yang lucu, Salsabila menggambar kembang sepatu, dan Arkana tampak begitu tekun pada gambarnya. Ia tak memakai satu warna pun, hanya pensil grafit dan penghapus.

Setelah beberapa waktu, ketika Alika sudah lelah mewarnai, ia memutuskan semua orang harus menyelesaikan gambarnya.

"Ayo lihat siapa yang menang. Tunjukkan gambarmu, Putri," ujar Salsabila.

Alika menunjukkan gambarnya. Warnanya keluar garis di beberapa tempat dan beberapa warna saling bertumpuk.

"Bagus sekali. Kurasa kau akan jadi pemenangnya," puji Salsabila.

"Mama, sekarang giliran Mama," ucap Alika.

Salsabila menunjukkan kembang sepatunya yang bergaris rapi dan berwarna cerah.

"Mama pandai sekali mewarnai, tidak seperti Om yang cuma pakai pensil. Pasti gambarnya sedih sekali," celetuk Alika.

"Jangan begitu. Minta maaf dan biarkan Om menunjukkan gambarnya," tegur Salsabila.

Arkana hanya bisa tertawa oleh celetukan anak itu. Ia membalik gambarnya, dan di sana terpampang sebuah potret yang indah. Ada jendela besar dengan seorang wanita cantik memegang seikat mawar. Wajahnya sempurna dan detailnya jelas. Di mata wanita itu terpancar kilau, dan senyumnya bagai malaikat.

Salsabila merona melihat detail seindah itu. Apakah itu dirinya? Bagaimana pria itu bisa punya imajinasi sedemikian hingga sanggup menciptakan kembali wajahnya di atas kertas tanpa sekali pun mengangkat pandangan? Mungkinkah pria itu mengenal wajahnya lebih dari dirinya sendiri?

"Terima kasih, Arkana. Gambarnya indah sekali, tapi yang menang tetap Alika," ujar Salsabila.

"Ini kompetisi yang adil dan aku puas," sahut Arkana.

"Mama, aku menang apa?" tanya Alika.

"Sebuah ciuman dan pelukan."

"Boleh pelukan beruang?"

"Bagaimana pelukan beruang itu?" tanya Arkana.

"Pelukan kita semua bersama-sama. Mendekatlah dan bantu aku," ujar Salsabila.

Mereka bertiga berpadu dalam satu pelukan. Arkana terpesona oleh perlakuan Salsabila padanya hari ini. Bersama kedua wanita itu ia bisa merasakan kedamaian dan ketenangan. Ia tak ingin melepaskan mereka dari pelukan yang begitu hangat itu. Hari ini ia melangkah sedikit lebih maju dengan Salsabila.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!