Ana mengusap sedih air mata yang mengalir di pipinya kala harus menulis surat perpisahan untuk tunangannya. Ana harus mengembalikan cincin tunangan mereka sebelum benar-benar menghilang tertelan kesedihannya.
Tak jauh dari tempat Ana menulis surat perpisahannya, tergolek seorang pria tampan yang sedang tertidur dengan nyenyaknya seolah tak peduli betapa kacaunya ranjang itu. Ranjang terkutuk tempat pria itu merenggut keperawanannya tepat sebelum Ana akan menikah.
Tak cukup air mata kesedihan menggambarkan betapa sedihnya Ana saat ini. Ana tidak sanggup bmenceritakan apa yang di alaminya pada siapapun. Ana tak sanggup melihat wajah kecewa tunangannya jika ia tahu betapa dirinya telah ternoda, siapa yang mau menerimanya saat ini, meskipun tunangannya menerimanya, bagaimana dengan keluarganya. Apalagi jika sampai media mengetahuinya. Reputasi keluarga kaya itu pasti lebih dari segalanya daripada dirinya yabg bukan siapa siapa.
Ana ingin sekali menyalahkan pria yang tengah tertidur itu. Tapi Ana juga tak sanggup membencinya. Bagaimanapun juga pria itu juga berjasa dalam hidupnya. Kenyataan bahwa pria itu kakak dari sahabatnya, membuat Ana tak bisa menceritakan masalah ini pada sahabatnya. Apa yang membuat Ana berpikir bahwa sahabatnya lebih mendukungnya daripada saudaranya. Seperti ibarat darah lebih kental bukan.
Tapi Ana percaya bahwa jika manusia yang merencanakan, Tuhan lah yang menentukan. Pasti karena rencana Tuhan begitu indah. Ana memilih meyakini bahwa semua kesedihannya akan berubah indah pada waktunya.
Tekat Ana sembari melangkah pergi menyongsong kehidupannya yang lain.
Jika seseorang itu datang seperti embun di tengah padang nan gersang.
Akankah seseorang itu mampu mengentaskan hatinya dari keterpurukan.
Mungkin bisa, tapi bagaimana jika ternyata takdirmu sedemikian buruk. Sehingga meski embun datang ternyata banjir air mata lebih dulu menenggelamkanmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aslolimanis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
🎂🎂🎂
Suara gemrisik ombak dan angin laut terdengar sayup-sayup di telinga Ana. Matanya yang enggan terbuka meresapi damainya suasana di desa kelahirannya. Ana baru tiba di desa saat malam hari dan ia langsung tertidur dengan hanya sempat membersihkan satu bagian rumah. Rasa lelah selama di perjalanan dan rasa lelah karena perasaan hatinya membuat Ana menjadikan tidur sebagai pelampiasannya.
"Jam berapa sekarang." Tak ada jam di rumah ini. Dan Ana teringat telah membuang Satu-satunya handphone jadul ayahnya yang juga sebagai penunjuk jam bagi Ana.
"Sepertinya aku harus membeli handphone baru dan beberapa peralatan untuk membersihkan rumah. Ah ya dan makanan. " Ana belum sempat makan dengan kenyang kecuali roti yang di beri Thomas, kali ini ia sudah sangat kelaparan. Untung listrik masih menyala dan air masih mengalir, ana jadi bisa membersihkan diri sebelum pergi keluar.
Cuaca sudah sangat terik saat Ana kelaur rumah. Rumahnya yang tak terawat terlihat menyedihkan dari luar. Ana butuh beberapa perbaikan mengingat sebentar lagi berganti musim dan cuaca akan semakin dingin.
Ana berharap bertemu beberapa teman lamanya untuk meminta bantuan. Karena saat tiba disini Ana nyaris sendirian. Tak punya kerabat lagi saat neneknya meninggal dunia.
Desa sudah mengalami banyak kemajuan. Bangunan sudah berdiri sangat banyak berdesakan seperti jamur di musim hujan. Ana senang desanya telah bertumbuh dengan bagus.
Ana tengah memilih beberapa merk handphone saat seseorang yang baru datang ke counter menyapanya.
"Ana... " Tebak seorang pria yang baru saja memasuki counter. Nada suaranya terdengar tak yakin namun juga antusias.
Ana menoleh ke arah pria yang memanggilnya. Namun begitu Ana melihat siapa yang menyapanya, senyum Ana mengembang.
"Evan... " Evan adalah teman Ana dari 4 serangakai. Lily, Edward, Evan dan Ana. Lily dan Edward adalah sepasang sahabat yang menjadi kekasih, sedang Evan dan Ana berteman karena orangtua mereka bersahabat. Ana senang bisa bertemu dengan sahabat lamanya.
"Kamu sudah banyak berubah, enak ya hidup di kota." Gurau Evan.
"Dan kamu tetap tidak berubah, enak ya hidup di desa" Ledek Ana.
Evan hanya tertawa garing. Ana tidak tahu bahwa Evan juga sekolah ke kota. Dan sekarang ia kembali ke desa untuk mengembangkan desanya.
"Sedang apa"
"Ini memilih handphone. tolong pilihkan handphone yang bagus untukku" Pinta Ana. Ana tak terlalu paham.
Dengan mahir Evan menjelaskannya pada Ana. Ana sampai teringat saat mereka masih sekolah, dari mereka berempat Evan lah murid terpandai. Yang tentu saja selalu di manfaatkan oleh mereka bertiga. Sampai saat ini Evan masih saja sangat pandai dalam banyak hal.
"Bagiamana kabar lily dan Edward?"
"Mereka sedang menunggu bayi mereka lahir"
"Sungguhlah. Sepetinya kita harus reuni segera."
"Tak masalah. Kapan kamu ada waktu"
"Aku masih harus memperbaiki rumah. Sebentar lagi musim berganti"
"Serahkan saja padaku, aku akan mengurus perbaikan rumahmu."
"Aih, benarkah! Kamu memang selalu bisa di andalkan. Baiklah, aku harus melanjutkan berbelanja, sampai jumpa besok. Jangan lupa menghubungiku. Kamu orang pertama yang punya nomerku. Bye" Kata Ana sembari bersiap untuk pergi.
"Ana... " Panggil Evan sekali lagi.
Ana menoleh sejenak memandang sahabatnya.
"Jangan menangis, kalau ada masalah carilah aku. lihat wajahmu membengkak dan terlihat jelek." Komentar Evan sekaligus meledek bersamaan.
Ana hanya memandang Evan penuh arti sebelum berlalu meneruskan urusannya. Apakah matanya masih sembab. Gumam Ana sembari meraba matanya. Ah sudahlah.
🎂🎂🎂
Bella Dunyan tengah berdiri di balkon kamarnya sambil berjalan mondar mandir tak tenang. Rona kekhawatiran menghiasi wajahnya. Tak henti-hentinya ia melihat handphone di tangannya sambil menatap ke arah gerbang rumahnya, seolah menunggu seseorang datang. Meski usianya sudah menginjak kepala 4 namun kecantikan seolah tak luntur dari wajahnya, meski dengan rambut messy sekalipun.
Bagaimana ia tidak khawatir, putra kesayangannya sudah seminggu tidak pulang ke rumah. Meski terkadang putranya bersenang -senang namun putranya tidak pernah mengabaikan panggilannya dan selalu memberitahunya jika ia tak pulang. Sebagai seorang ibu, Bella seolah memiliki naluri yang tak bisa di jelaskan jika putranya tidak dalam kondisi yang baik, karena perilakunya saat ini tidak seperti Thomas yang biasa di kenalnya.
Ya, Bella Dunyan adalah Mama dari Thomas dan Catherine. Bella semakin jengkel saat melihat suaminya masih asik tiduran dan bermalas-malasan.
"Thomas sudah seninggu tidak pulang ke rumah dan kamu malah tidur dengan nyenyaknya, Arthur" Semprot Bella.
Sedangkan suaminya, Arthur, meskipun dia memiliki banyak hotel dan banyak karyawan, namun ternyata Arthur adalah type-type suami suami takut istri. Arthur segera bangkit meski dengan mata terpejam.
"Sayangku, kasihku, cintaku, Thomas sudah besar, dia sebentar lagi harus menikah. Berhentilah menjadi ibu yang posesif, sikapmu akan menakuti calon menantumu nanti"
"Kali ini berbeda Arthur. Aku merasakan bahwa sedang terjadi sesuatu pada putraku. Bisa di bilang ini seperti naluri seorang ibu. Aish, kamu mana paham. Aku harus mencarinya sendiri di rumah bengkel" Ujar Bella meninggalkan suaminya yang langusng saja kembali meneruskan tidurnya.
🎂🎂🎂
Ny. Bella telah tiba di rumah bengkel putranya. Sekali waktu ketika Thomas mempunyai proyek modifikasi maka setiap harinya Thomas akan menghabiskan waktu disini. Tapi sekarang ny. Bella tahu putranya sedang tidak memiliki proyek apapun. Ny Bella melihat mobil yang biasa dipakai Thomas nampak terparkir di luar rumah.
"Thomas berada disini. Kenapa ia mengabaikan telfon ku" Ujar Ny. Bella sembari melangkahkan kaki ke arah rumah. Langkahnya tetap dan pasti ba seorang model yang melenggang di catwalk, mungkin karena model adalah pekerjaannya dulu dan sampai sekarang ny. Bella masih berkecimpung disana meski bukan sebagai model secara langsung. Rambutnya pirang pucat serupa dengan Thomas. Matanya pun biru terang. Kecantikannya tiada tara, apalagi dengan bakat playgirl yang mampu menyihir banyak pria, tentunya sebelum Ny. Bella bertekuk lutut pada Arthur Dunyan.
Namun sosok itu kini hanya selayaknya seperti ibu kebanyakan saat kekhawatiran tentang anaknya mencuat.
Tak ada bel di rumah ini jadi pilihan Ny. Bella satu-satunya adalah mengetuk pintu dengan cukup keras mengingat rumah ini begitu luas.
"Tok tok... Tok tok..... "
Ny Bella mengetuk dengan kesal karena belum ada respon, namun saat ny. Bella mencoba memutar gagang pintu, dirinya di buat terkejut karena pintu itu ternyata tidak terkunci, tau begitu ia tak perlu capek-capek mengetuk
"Thomas" Panggil Ny. Bella sambil mencari Thomas langsung ke kamarnya saat ia melihat bagian pantry nampak kosong. Ny. Bella nampak lega saat melihat putranya masih bergelung selimut. Sepertinya dirinya yang terlalu khawatir.
"Jangan pergi... Kumohon jangan pergi... Jangan pergi... Hiks.... " Ny. Bella mendengar suara lirih Thomas. Ny Bella bergegas membuka selimut yang menutupi Thomas. Ny Bella nampak terkejut saat melihat Thomas terisak dan menangis dalam tidurnya. Thomas meringkuk sambil bergumam. Badannya berkeringat dan keningnya sangat panas.
Bergegas Ny. Bella membangunkan putranya. Thomas nampak bangun tapi tidak benar-benar bangun.
"Thomas bangun nak" Kata Ny Bella sambil mengguncang tubuh putranya. Karena merasa kesulitan membangunkan Thomas, Ny. Bella lantas menelfon suaminya.
"Arthur, aku di rumah bengkel, cepat kesini. Bawa serta dokter pribadi, Thomas panas tinggi sekarang. Kondisinya tak terlihat baik sama sekali. Cepat cepat."
"Ya ya ya.... " Jawab suaminya dari sambungan telfon.
Ny. Bella segera ke pantry dan mengambil peralatan kompres. Paling tidak ,bisa memberikan sedikit meringankan demam Thomas.
"Jangan pergi... " Thomas masih menggumam.
Ny Bella sangat sedih melihat putranya sakit, ternyata naluri keibuannya telah mengetahui keanehan ini.
🎂🎂🎂
Persis tengah malam Thomas terjaga dari tidurnya, ia mendapati Mamanya duduk tak jauh dari kursinya. Sedangakan handuk basah masih berada di keningnya. Thomas mengingat-ingat lagi apa yang terjadi padanya terakhir kali. Thomas lantas menyadari bahwa ia benar-benar merindukan Ana. Sudah beberapa hari Ana pergi, dan Thomas masih belum bisa merelakannya. Meski Thomas seorang pria, Thomas meyakini dalam beberapa hari ini ia telah menangis lebih banyak dari beberapa tahun di kumpulkan. Sesedih itulah perasaanya saat ini. Saat ini ketika ia sakit, ada orangtuanya menjaganya, bagaiamana dengan Ana, gadis itu bahkan pernah merasakan tinggal di panti asuhan.
Thomas hendak beefikir lagi, tapi rasa lapar telah lebih dulu menghinggapi nya. Beberapa hari ini ia tidak tidur dan makan dengan baik. Ku harap masih ada makanan di dapur, pasti ada makanan karena Mamanya disini. Tapi begitu Thomas bangkit, ia menyadari ada selang infus di tangannya. Sepertinya kali ini Thomas harus minta tolong.
"Ma.... Mama.... " Panggil Thomas pelan, Thomas tidak rela membangunkan Mamanya, apalagi Mamanya terlihat lelah.
Namun ternyata Mamanya langsung merespon cepat. Ny. Bella terbangun dengan cepat dan senyumnya mengembang lebar melihat putranya sudah bangun. Ny Bella berniat memindahkan Thomas ke rumah sakit besok jika kondisinya belum membaik.
"Ada apa nak, kamu butuh sesuatu."
"Aku lapar"
"Ah baiklah, tunggu disini. Mama akan menyiapkan sesuatu."
Thomas hanya mengangguk. Meski Thomas hampir tak peenah melihat Mamanya memasak namun apapun itu jika mengenyangkan tak masalah bagi Thomas.
Setalah beberapa lama, Ny Bella kembali dengan membawa semangkok bubur. Rupanya ia telah mempersiapkannya hanya tinggal menghangatkan nya agar Thomas lebih berselera makan.
"Sayang, apa terjadi sesuatu" Tanya Ny Bella. Meskipun Thomas sedang makan Ny Bella tetap harus menanyainya. Waktu makan adalah salah satu waktu dimana manusia secara alami akan menjawab dengan jujur setiap pertanyaan yang di ajukan.
"Aku.... " Thomas tidak tahu harus mulai darimana. Apakah tidak apa menceritakan pada Mamanya.
'Tidak apa, ceritalah. Mama akan mendengarkan. Tidak perlu menceritakan detail masalahmu jika kamu belum siap, Mama akan tetap mendengarkan apapun ceritamu meski itu tidak begitu penting. Kamu bisa menceritakannya apa pun itu." Pinta Ny Bella.
Thomas memandang Mamanya penuh arti. Thomas masih belum sanggup menceritakannya saat ini. Tapi, permintaan Mamanya mengingatkan Thomas akan satu hal. Thomas ingin membahas ini.
"Ma, aku ingin bekerja, ajari aku berbisnis. Atau apa pun itu, aku ingin menghasilkan uang yang sangat banyak"
"Kalau yang kamu inginkan uang. Mama bisa memberikannya, kamu bisa mendapatkan apapun yang kamu inginkan. Tak ada yang tak bisa kamu beli"
Ada yang tak bisa di beli meski aku punya banyak uang, Ma. Batin Thomas sambil memandang Mamanya penuh arti.
"Aku ingin menghasilkan uangku sendiri. " Ujar Thomas akhirnya. Thomas benar-benar ingin punya uang sendiri jadi ia punya keberanian untuk bertemu Ana suatu hari nanti.
"Baiklah... Mama akan meminta Papamu untuk mengaturnya. Jika ada sesuatu bicaralah. Kamu tahu bagaimana takutnya Mama melihatmu sakit. Untung Mama kesini jika tidak apa yang akan terjadi pada putra kesayanganku"
"Terimakasih, Ma." Kata Thomas sambil menyelesaikan makanannya. Tunggu aku Ana. Aku akan menemuimu segera setelah aku bisa menghasilkan bisnisku sendiri.
🎂🎂🎂
Hingga Tuhan pertemukanku denganmu
Hancurkan diriku
-tanpa rasa bersalah-