Menjadi seorang single parent tak membuat Alleyah berkecil hati. Ia justru semangat dalam usahanya untuk mendapatkan kebahagiaan bagi dirinya dan juga putrinya yang masih berumur enam tahun.
Pekerjaan menjadi seorang sekretaris dari bos yang arogan tak menyurutkan tekadnya untuk terus bekerja. Ia bahkan semakin rajin demi rupiah yang ia harapkan untuk memenuhi kebutuhan dirinya dan juga anaknya.
Namun, perjuangannya menjadi single parent tak semudah bayangannya sebelumnya. Ditengah isu yang merebak di kantornya dan juga imej seorang janda memaksanya menjadi wanita yang lebih kuat.
Belum lagi ujian yang datang dari mantan suaminya, yang kembali muncul dan mengusik hidupnya.
Mampukah, Alleyah bertahan dan mampu memperjuangkan kebahagiaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon annin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.15 Tak Seperti Biasanya
Suasana kantor masih sepi ketika Alle tiba di gedung pencakar langit tersebut. Bukan tanpa alasan dirinya bisa tiba di kantor lebih pagi dari biasanya.
Semua karena sang bos. CEO PT. Bumi Sentosa Damai tersebut mendadak datang ke rumahnya. Alasannya ingin melihat kondisi Chilla, apakah sudah lebih baik ataukah belum. Sekalian ingin tahu apakah Chilla benar-benar menyukai hadiah yang ia berikan atau tidak.
"Bapak? Kok bisa ada di sini?" Mata Alle membelalak ketika melihat sosok yang berdiri di depan pintu rumahnya.
"Aku ingin tahu kabar Chilla, juga melihat apakah dia suka dengan papa yang aku berikan padanya," jawab Aksa enteng.
Alle justru mengerutkan dahi dengan apa yang baru saja terucap dari bibir bosnya.
"Siapa, Ma?" Chilla berteriak dari dalam. "Om Bos," sapa Chilla begitu melihat penampakan Aksa.
"Apa, Om bos?" Aksa sedikit bingung.
"Iya, Om kan bosnya Mama, jadi Chilla panggil Om bos," jawab Chilla dengan polosnya.
Aksa mengerti sekarang. Ia pun langsung bersikap sok Akrab dengan Chilla. Bertanya kabar dan hadiah yang ia berikan. Anak kecil itu pun menanggapi dengan antusias. Namun, keseruan mereka berakhir ketika Alle buru-buru mengajak Aksa untuk pergi setelah Mbak Imas datang.
Demi membawa sang CEO segera keluar dari rumahnya, Alle memutuskan untuk berangkat kerja lebih awal. Sebab ia tak tahu lagi dengan apa yang akan terjadi jika bosnya itu berlama-lama di rumahnya.
Tentu saja, mobil mewah Aksa menarik perhatian tetangga yang melihatnya. Pas, saat Aksa datang bertepatan dengan jadwal ibu-ibu komplek yang sedang berkumpul mengerumuni gerobak sayur Mang Ujang yang berada tak jauh dari rumah Alle. Tatapan-tatapan penuh tanya dan curiga langsung tertuju pada sosok Aksa yang turun dari sedan putih.
Insting detektif para tetangga mendadak menyeruak. Ingin tahu siapa dan ada kepentingan apa pria tampan yang datang ke rumah seorang janda seperti Alle. Di lingkungannya, Alle terkenal sebagai janda yang begitu menggoda. Selain cantik, wanita itu juga mandiri dengan pekerjaan yang mapan.
Meski begitu, banyak pria yang sudah Alle buat patah hati. Pasalnya janda muda itu selalu menolak untuk didekati.
Namun kini, tiba-tiba ada seorang pria tampan yang datang ke rumah Alle. Pasti ada sesuatu antara pria tampan ini dengan si janda muda.
Alle yang menyadari kehadiran Aksa membuat heboh satu komplek, memilih untuk segera mengajak pergi pria itu. Setidaknya agar mulut-mulut penggunjing itu diam.
Dan hasilnya mereka berada di kantor yang sepi ini berdua.
"Ini kopi Anda, Pak." Alle meletakkan kopi yang baru saja ia buat.
"Tunggu!" sergah Aksa ketika Alle hendak keluar dari ruangannya.
"Ada lagi yang bisa saya bantu?"
"Aku belum sarapan, aku yakin kamu juga belum sarapan. Bagaimana kalau kita sarapan bersama saja."
Alle mengernyit. "Maksud, Bapak?" Tentu Alle bertanya, ia baru saja membuat kopi dan sekarang Aksa mengajaknya sarapan bersama. Lalu bagaimana nasib kopi tersebut jika ditinggalkan. Kenapa tidak dari tadi saja mereka mampir ke sebuah restoran atau kedai untuk sarapan.
"Kamu pesan saja, kita makan di sini," usul Aksa.
Alle mengerti. "Bapak mau dipesankan apa?"
"Ehm ... apa saja. Pilihkan menu sarapan untukku."
"Tapi, saya tidak tahu apa yang Anda inginkan pagi ini."
"Terserah, apa pun yang kamu pesan pasti aku makan."
"Western ... Nusantara?"
"Nusantara."
"Baiklah." Alle pun memesan makanan secara online. Sekarang ia hanya tinggal menunggu kurir datang dan membawa pesanannya. Sembari menunggu, Alle mempersiapkan berkas yang akan digunakan Aksa untuk rapat direksi kali ini.
Tak butuh waktu yang terlalu lama, Alle meminta ijin untuk mengambil makanannya ke bawah karena kurir sudah datang. Ia langsung membawa makanan tersenut ke pantry dan menyiapkannya untuk Aksa.
Dengan nampan, Alle membawa semangkuk soto betawi lengkap dengan lauk sate-satean. Tak lupa kerupuk juga Alle pesan.
"Kok cuma satu?" tanya Aksa ketika melihat hanya semangkuk saja yang dibawa Alle ke ruangannya. "Kamu nggak pesen?"
"Ada, Pak. Masih ada di pantry. Saya makan di sana saja."
"Bawa ke sini, kita sarapan bareng!"
Tak bisa menolak, Alle mengambil semangkok soto miliknya dan membawanya ke ruangan Aksa. Mereka pun makan bersama tanpa obrolan sama sekali.
Hal tersebut membuat Aksa merasa ada yang aneh dengan sekretarisnya. Tak biasanya Alle begitu pendiam. Sekretarisnya itu selalu bicara apa saja tantang pekerjaan. Namun kali ini Alle begitu berbeda.
"Apa kamu sedang sakit?" tanya Aksa ketika selesai makan.
"Ya?" Alle nampak kaget dengan pertanyaan Aksa. Padahal Aksa bicara pelan. Sepertinya Alle sedang tidak berkonsentrasi sehingga pertanyaan Aksa dengan nada pelan saja membuat wanita itu kaget.
"Apa kamu sakit?" ulang Aksa.
"Ah ... tidak, Pak. Saya sehat." Mata alle tertuju pada mangkok Aksa yang sudah kosong. "Bapak sudah selesai, saya bereskan ya, Pak."
"Nanti saja kalau makanmu sudah habis," jawab Aksa. Mangkok Alle memang masih ada isinya. Mungkin hanya berkurang beberapa sendok saja. Sepertinya Alle sedang tidak berselera.
"Saya sudah selesai kok Pak."
"Tapi itu belum habis."
"Tapi saya sudah kenyang, pak."
Alle pun membereskan sarapan mereka dan membawanya kembali ke pantry untuk ia cuci. Saat sedang mencuci perlengkapan makannya, muncullah Dewi yang ingin membuat teh.
"Lo sudah datang, All? Tumben pagi banget. Apa lo lembur lagi dan nggak pulang?" Mata Dewi melirik pada dua mangkok di wastafel.
"Ya enggak lah, gue emang datang lebih pagi aja."
"Pak Aksa juga udah datang?"
"Udah."
"Itu mangkok abis dipakai buat apa?"
"Buat sarapannya pak Aksa."
"Kalian sarapan bareng di kantor?" Dewi terus saja bertanya seolah sedang mengintrogasi.
"Hemm." Alle mengangguk. Cepat-cepat Alle selesaikan pekerjaannya karena tak nyaman dengan apa yang Dewi tanyakan. Setelah kemarin ia mendapatkan gosip tak enak, ia tidak mau menambah gosip itu semakin berkembang.
Alle tak ingin menuduh Dewi tukang gosip, tapi berjaga-jaga saja agar apa yang Dewi tanyakan tadi tidak menimbulkan fitnah.
"Gue, duluan, ya." Pamit Alle.
Ia kembali ke tempat kerjanya. Setelah mendapat laporan dari staf yang lain, Alle segera memberi tahu Aksa jika rapat dewan direksi akan dimulai. Wanita itu terus mendampingi Aksa dalam setiap agenda yang sudah tercatat hari ini. Termasuk menemani Aksa pergi ke kantor milik Pak Dirga untuk mengurus perjanjian kontrak proyek pengembangan rumah bersubsidi kemarin.
Waktu sudah hampri magrib ketika Alle dan Aksa keluar dari kantor Pak Dirga.
"Kita makan dulu sebelum kamu pulang," ajak Aksa sembari menyetir. Dua kali ini bosnya memilih untuk menyetir sendiri dan tak menggunakan jasa pak Deden selaku supir.
Alle diam tak menanggapi. Matanya terus menatap keluar jendela dengan pikirannya yang terus mengelana tanpa tujuan.
Aksa yang berada di samping Alle kembali memanggilnya. "All ...."
"I-iya, Pak. Ada apa?" Alle tersentak. Ia menoleh ke arah bosnya yang berada di balik kemudi.
"Ada apa dengan kamu?"
"Saya?" Alle menunjuk dirinya sendiri tak mengerti maksud bosnya.
"Iya, kamu. Sejak pagi aku perhatikan kamu lebih banyak diam. Sikapmu tak seperti biasanya."
"Eh ... itu ... Ehm ... tidak ada apa-apa, Pak. Hanya lelah, jadi tidak ingin banyak bicara saja," elak Alle.
Tak terima dengan jawaban Alle yang tak meyakinkan, mendadak Aksa menepikan mobilnya. Ia menatap sekretarisnya itu dengan serius.
"Kenapa berhenti pak, katanya mau pulang?"
"Kita nggak akan pulang kalau kamu nggak bicara jujur."
"Maksud Bapak, apa?"
"Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu. Cerita saja, itu akan membuatmu lebih baik. Sekalipun itu urusan pribadi, aku akan mendengarkannya."
Alle mengernyit. Bingung akan maksud atasannya. Lebih bingung lagi dengan sikap pria itu. Sejak kapan pria ini jadi perhatian dengannya. Terlebih dengan urusan pribadinya.
harta juga nggak jadi penolong Fadil diakhir hidup nya.