Dira, Luna dan Nisa adalah tiga gadis yang bersahabat, mereka berteman sejak SMA.
Dira adalah seorang gadis yang bar-bar sering berantem dengan teman kampusnya. Tetapi dia gadis yang cukup mandiri walaupun terbilang dari keluarga yang berada.
Luna sejak kecil adalah anak yang paling memprihatinkan, dia tinggal bersama ibunya di rumah yang sangat sederhana, bahkan untuk mencukupi kebutuhannya ibunya harus berjualan makanan. Luna gadis yang pintar bisa masuk kampus terbaik di kota itu dengan bantuan beasiswa.
Nisa adalah gadis yang ceroboh, tukang makan, kalau bicara asal benar.
Buat Nisa yang penting ada makanan semua beres.
Arkan dan Elang siapa ya mereka????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
...Happy Reading ❤❤❤...
Dira akhirnya sudah di perbolehkan untuk pulang ke rumah, Vio sangat senang bisa bertemu dengan kakaknya. Papah Dira juga sudah pulang dari luar kota, mamah Meri juga sudah menceritakan semua kejadian yang menimpa Dira pada suaminya. Mulai sekarang Dira sudah tidak di perbolehkan untuk berkerja, tetapi dia berusaha minta izin kepada papahnya agar tetap di perbolehkan berkerja.
"Dira, apa masih kurang uang jajan kamu?" tanya papah Dira, yang sedang marah.
"Tidak pa, Dira kerja buat ... ucapannya terpotong.
Papah Dira menunjukkan laporan keuangan dari kartu ATM yang di bawa Dira, pengeluaran yang cukup banyak.
"Ini uang kemana? kalau kamu masih kekurangan?" tanya papah Dira.
Dira menjelaskan kepada papah dan mamahnya soal uang yang dia keluarkan untuk apa saja, orang tua Dira juga bisa mengerti setelah di jelaskan.
"Apa Dira masih boleh kerja, pa?" tanya Dira, dengan pelan.
"Boleh, asal kamu bawa kendaraan sendiri," ucap papah Dira.
"Tidak pa! Dira lebih nyaman jalan kaki!" jelas Dira.
"Bahaya Dira, kalau kejadian kemarin terulang lagi bagaimana?" sahut mamah Meri.
"Benar apa kata mamah!" ucap papah Dira.
"Sekarang lebih baik kamu istirahat dulu Dira!" kata mamah Meri.
Setelah papah dan mamahnya keluar dari kamar Dira memikirkan bagaimana cara agar di perbolehkan kerja lagi, tanpa harus membawa kendaraan.
####
Sisil saat ini sangat gelisah dia takut perbuatannya ada yang melihat, di kampus dia mencari informasi tentang keadaan Dira.
"Luna, Dira kemana ya?" tanya Sisil, pura-pura tidak tahu.
"Dira sakit habis jatuh!" jawab Luna dengan ketus.
"Terus keadaannya sekarang bagaimana? apa sudah baikan?" tanya Sisil lagi.
"Sudah baikan kok! kenapa kamu tanya terus?" ucap Luna, kesal dengan Sisil.
"Luna, ayo kita ke ruangan pak Arkan!" ajak Nisa, dia tidak suka melihat Sisil.
"Iya, Nisa!" ucap Luna, berjalan ke arah Nisa dan meninggalkan Sisil yang masih berdiri di tempat itu.
Luna dan Nisa tidak pergi ke ruangan pak Arkan, sebenarnya mereka hanya menghindari Sisil.
Karena penasaran dengan Luna dan Nisa, Sisil pergi ke ruangan pak Arkan. Dia mengetuk pintu lalu pak Arkan menyuruhnya masuk.
"Ada apa Sisil?" tanya pak Arkan, tanpa melihat ke arah Sisil.
"Luna dan Nisa tadi kesini ada perlu apa, pak?" kata Sisil, penasaran.
"Mereka tidak ke sini! ada apa sebenarnya?" tanya pak Arkan, bingung dengan Sisil.
"Kalau begitu permisi, pak!" ucap Sisil lalu meninggalkan ruangan pak Arkan.
Dalam hati dia sangat kesal dengan Luna dan Nisa karena telah membohonginya.
Setelah Sisil pergi dari ruangan pak Arkan, Luna dan Nisa baru masuk ke ruangan pak Arkan.
Mereka hanya menanyakan tugas kampus di luar yang akan segera di adakan.
"Sekarang kalian pilih tugas yang mana? magang di perusahaan atau sosialisasi ke desa terpencil?" tanya pak Arkan.
"Kalau di desa pasti seru, tetapi bagaimana dengan ibu... ucap Luna lirih.
"Kita magang saja Luna, di kantor!" sahut Nisa.
"Tetapi tidak bisa memilih kantor mana, pihak kampus sudah menentukan," ucap pak Arkan.
"Yang penting jangan pisahkan kita bertiga, pak!" kata Nisa, karena mereka sudah saling melengkapi kekurangan satu sama lain.
"Kenapa begitu?" tanya pak Arkan.
"Dira, Luna dan Nisa harus bareng kemanapun pergi!" ucap Luna.
"Kalau salah satu dari kalian ada yang menikah lebih dulu bagaimana? apa kalian juga mau nikah juga?" tanya pak Arkan.
Mereka berdua tidak menjawab pertanyaan pak Arkan, hanya saling bertatapan. Apa yang di bilang pak Arkan ada benarnya.
Karena cacing di dalam perut Nisa sudah berteriak, akhirnya mereka pamit keluar dari ruangan pak Arkan dan menuju kantin.
####
Tiga hari kemudian.
Dira hari ini masuk kerja, dia berangkat di antar oleh sopir lagi karena dia tidak mau membawa kendaraan sendiri.
"Dira, kamu sudah sembuh?" tanya Mimin teman kerja Dira.
"Sudah, Min! ayo kita masuk!" ajak Dira.
"Dira, aku tidak yakin kemarin itu kamu jatuh!" ucap Mimin dengan tiba-tiba.
"Benar kok! aku jatuh saat melewati parkiran!" jelas Dira, berbohong.
"Waktu kamu di temukan pipi kamu memar, Dira! bukan hanya kepala yang luka!" kata Mimin.
"Kok tidak sakit!" ucap Dira, reflek memegang pipinya.
"Kamu kan pingsan Dira, mana terasa!" ucap Mimin, melirik ke arah Dira.
Dira hanya senyum, dia takut kalau di tempat parkir ada yang melihat dan melaporkan ke pak Dhimas.
Sejahat-jahat nya Sisil pasti ada sisi baiknya, menurut Dira pasti ada sebabnya Sisil tidak pernah baik pada dirinya bahkan hampir mencelakainya.
****
"Tante, Dira ada?" tanya Elang, yang saat ini berada di rumah Dira.
"Dira sudah berangkat kerja El," jawab mamah Meri.
"Biar nanti Elang yang jemput Dira tante!" ucap Elang, menawarkan diri untuk menjemput Dira.
"Tadi Arkan bilang mau jemput Dira juga, terus gimana El?" ucap mamah Meri, bingung.
"Kalau gitu ya sudah, tante! Elang pamit pulang dulu ya!" ucap Elang, kecewa karena keduluan kakaknya.
Elang tidak pulang ke rumah, dia pergi ke rumah Luna.
"Kamu kenapa Elang? muka di tekuk gitu?" tanya Luna, heran melihat Elang yang baru datang dengan muka cemberut nya.
"Lagi kesel, Lun!" ucap Elang, sambil mendudukkan diri di teras depan rumah Luna.
"Aku ambil minum dulu Elang!" ucap Luna, lalu masuk ke dalam rumah mengambil minuman dan beberapa cemilan.
"Luna, Dira kira-kira suka gak ya, dengan kak Arkan?" tanya Elang, sambil melihat ke arah Luna.
"Tidak! aku tau Dira kaya gimana!" ucap Luna, membela temannya.
"Kalau beneran suka!" ucap Elang lagi.
"Ya... tidak masalah sih! asalkan mereka saling menyukai," ucap Luna, tersenyum ke arah Elang.
"Kamu malah dukung mereka, Luna! gak asyik kamu!" ucap Elang.
"Pak Arkan sudah dewasa, mapan lagi, putih, ganteng pokoknya lelaki idaman!" kata Luna, yang belum mengetahui kalau Arkan adalah kakak Elang.
"Tapi.... Elang tidak melanjutkan ucapan nya.
"Tapi apa Elang?" tanya Luna, penasaran Elang tidak melanjutkan ucapan nya.
"Kamu tau tidak dia siapa?" Elang balik tanya ke Luna.
"Dosen kita di kampus," jawab Luna.
"Dia kakak ku, Luna!" ucap Elang, membuat Luna kaget.
"Elang, yang aku bilang tadi jangan di sampaikan ya!" ucap Luna, takut Elang ngadu ke kakaknya.
Karena waktu sudah malam, Elang berpamitan untuk pulang ke rumah.
*****
Dira pulang kerja di jemput Arkan, awalnya Dira menolak tapi setelah Arkan bilang kalau mamahnya yang menyuruh Dira mau pulang bareng dengannya.
Ternyata tidak semudah itu mengajak seorang Dira.
"Pak, terimakasih ya! sudah mengantarkan Dira pulang ke rumah!" ucap Dira, pada Arkan.
"Aku masih muda, tolong jangan panggil pak!" protes Arkan. Lalu melajukan mobil nya sedangkan Dira, dia segera masuk ke dalam rumah.
Sambung besok lagi ya❤
Terimakasih buat yang sudah membaca dan mendukung 🤗🤗🥰
.
baik benar jadi teman❣️❣️❣️❣️
masih z suka menyalahkan orang lain 🙄🙄🙄🙄