Ketika harga diri seorang wanita tidak lebih dari selembar materai, mampukah ia bertahan di dalam lingkungan keluarga terpandang dan kaya raya.
Hidup dalam garis kemiskinan membuat Virgo harus digadaikan demi membayar hutang kedua orang tuanya. Bertemu dengan Dylan, seorang pemuda yang terkenal dingin dan ringan tangan membuatnya harus berjuang extra demi bisa bertahan hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. TERNYATA KAU MENARIK
Merasa tidak nyaman dengan kondisinya, Milley lebih memilih untuk pulang. Tanpa memperdulikan Dylan dan Rose yang masih bertengkar ia melenggang pergi.
"Cih, begitu saja pakai drama," batin Milley.
Ternyata dari kejauhan ada seseorang lelaki yang sedari tadi memperhatikan mereka. Lelaki itu sepertinya tertarik akan kepribadian Milley. Tanpa Milley sadari ia mengikuti kemana mobilnya melaju. Merasa ada yang mengikuti, Milley melihat ke arah spion mobilnya.
"Kenapa dia mengikutiku?"
"Akh biarin aja, siapa tau satu jurusan."
Milley tak mau banyak pikiran, ada rasa rindu bertemu teman satu geng motornya, sepertinya menyusup keluar akan lebih baik daripada ia merasa terus terpenjara.
Beberapa saat kemudian mobil Milley sudah sampai di kediaman Tuan Chryst.
"Oh, jadi kamu tinggal di sini?" gumam lelaki itu.
Namun mata lelaki itu melihat sosok lain yang baru saja memasuki halaman yang sama dengan Milley. Ternyata Dylan menyusul Milley kembali ke rumah dengan menggunakan ojek online.
"Tunggu!" teriak Dylan sambil melepas helmnya dan membayar ongkos ojek.
Dylan mengejar Milley yang hampir sampai di pintu utama, ia mencekal lengan Milley, tetapi ia mengibaskannya.
"Kenapa lagi?" tanya Milley jengah.
"Kenapa lu ninggalin gue? Harusnya lu terima kasih sama gue."
"Oh."
"Kok cuma oh?"
"Terima kasih Tuan Dylan, tanpa kamu bantu pun ... aku bisa menyelesaikan hal seperti tadi."
"Dasar wanita tidak tau diri!" gertak Dylan.
Milley yang awalnya biasa sedikit kesal karena ucapan Dylan barusan. Namun saat ia hendak membalas ucapannya, pintu terbuka tiba-tiba. Muncul sosok Jo di sana.
"Selamat siang Tuan dan Nona, silakan berbicara di dalam saja, Tuan Besar sudah menunggu kalian," ucap Jo dengan hormat khas kepala pelayan.
Terpaksa Milley harus mengubah mimik wajahnya dengan tersenyum. Lalu mengikuti langkah Jo menuju ruang kerja kakek. Dari kejauhan rupanya lelaki yang mengikuti Milley belum pergi. Ia masih mengamati interaksi mereka dari kejauhan.
"Menarik."
Sesaat kemudian ia menginjak gas mobilnya hingga kendaraannya pergi meninggalkan kediaman Milley.
Di dalam ruang kerja Kakek Chryst.
"Selamat siang Kek," ucap mereka berdua dengan sopan.
Mata kakek terlihat fokus ke arah noda yang membekas di kemeja Milley.
"Itu kenapa?" tanya kakek menunjuk ke arah kemeja yang dikenakan Milley.
"Ini karena ul ...."
Ucapan Milley terputus saat Dylan tiba-tiba saja membekap mulutnya. Sontak saja mata Milley membola akan tingkahnya barusan.
"Apa-apan nih orang, kurang kerjaan banget," gumam Milley.
Sementara itu Dylan mengatakan alasan kenapa kemeja Milley bisa kotor.
"Tadi nggak sengaja pelayan resto menumpahin jus yang aku pesan ke dia, Kek."
Milley menoleh ke arah Dylan.
"Bisa-bisanya berbohong, atau kamu takut ketahuan kalau sudah punya pacar, hah! Oke, ini bisa jadi senjata buat bikin lu tunduk," batin Milley senang.
Bertahan hidup di tengah orang-orang yang tidak ia kenal membuat Milley harus berpikiran cerdas. Apalagi ia tau Kakek Chryst dan Dylan dua sosok yang harus ia waspadai. Ia belum begitu mengenalnya. Di dalam rumah itu yang terlihat baik dan mengetahui segalanya hanyalah Jo asisten kakek. Milley menghormati Jo karena ia selalu bersikap baik.
Karena keasyikan membuat alibi, Dylan tidak melepaskan tangannya dari mulutnya. Mau tak mau ia pun menggigit tangan Dylan.
"Awh ...." rintihnya.
Dylan mengibaskan tangannya yang panas akibat digigit Milley.
"Kira-kira dong gigitnya, asem!" batin Dylan.
Di sisi lain Kakek Chryst bahagia melihat keduanya tidak akur. Ia seperti merasakan kilas balik ke masa-masa lalunya saat Andreas kecil.
Dulu ia sama seperti Dylan. Susah diatur dan seringkali membuat dirinya marah. Namun Andreas masih patuh pada istrinya. Saat itu Kakek Chryst masih berjuang melawan penyakitnya namun sudah lumpuh. Sehingga ia tidak bisa memberikan kasih sayangnya pada Andreas.
Daripada membuat ribut dan semakin membuatnya panas lebih baik Milley pergi. Lagi pula badannya sudah terlalu lengket.
"Maaf Kek, badan Milley nggak enak, boleh ijin buat bersih-bersih dahulu?" ucapnya sambil memegang kemejanya.
"Oh iya maaf-maaf, pergilah, tetapi biarkan Dylan di sini bersamaku dulu ya," pinta kakek.
"Baik, Kek."
Milley menunduk hormat dan segera berlalu. Sementara Dylan ingin membalas perlakuan Milley harus menundanya sekali lagi.
"Lu bisa selamat tetapi tidak untuk lain kali," gumam Dylan melihat kepergian Milley.
Malam harinya, Dylan sudah berpakaian rapi, sementara Milley berpura-pura sudah tidur.
"Mumpung dia tidur, lebih baik aku pergi."
Dylan segera meraih kunci motor dan membawa jaket kulit miliknya ke bawah. Sementara itu, Milley segera pergi ke kamar mandi dan berganti pakaian.
"Loh, Milley mana kok nggak kamu ajak?" tanya Kakek yang entah sejak kapan duduk di kursi depan.
Tentu saja Dylan terkejut, ia mengira kakeknya sudah tertidur karena jam segini biasanya ia sudah tidur. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Jangan bilang kamu mau balap motor lagi!"
"Cuma bentar Kek, ada teman mau tanding."
"Sebelum jam satu pagi kamu harus kembali, mengerti! Jangan membuat Milley khawatir."
"Siap Kek!" ucapnya sambil memberikan hormat.
Saat motor Dylan melaju keluar gerbang, di saat yang sama Milley sudah berhasil melompat keluar dari pagar. Tidak lama kemudian ojek online yang ia pesan sudah datang menjemput.
"Yeay, gue bebas untuk sesaat," teriak Milley setelah naik jok motor ojek.
.
.
Kira-kira Milley bakal ketauan nggak ya? Simak di up selanjutnya ya, semoga hari ini bisa up double.
Oh ya, kali ini othor bawa rekomendasi novel teman lagi. Jangan bosan dengan promosi othor ya.
Blurb
Seoarang mahasiwi polos, cengeng dan juga manja harus menerima perjodohan yang telah di rencanakan oleh kedua orang tuanya dan ternyata pria yang akan di jodohkan dengan dia, tak lain adalah Dosen nya sendiri yang sikapnya teramat dingin. Namun siapa sangka di balik kepolosannya gadis itu menyembunyikan tentang rahasia jati dirinya yang sebenarnya.
Bagaimanakah sikap mereka di kampus?
Akankah mereka saling mencintai?
Apa sang Dosen akan menerima jika dia mengetahui tentang jati diri gadis itu yang sebenarnya?
keegoisan novel ini
1, pemeran utama pria yang selalu salah dan terus salah dan akan dibuat menderita dan berjuang
2, karakter pemeran utama pri dibuat bodoh yang hanya mencintai pemeran utama wanita kayak tidak ada perempuan lain saja
3 pemeran utama tidak pernah salah tapi kenyataan nya dia banyak melakukan kesalahan, selingkuh, kontak fisik dengan pria lain, meninggalkan suami dan tidak dia tidak lebih baik dari wanita lain alias tidak ada spesialjya sama sekali, tidak pernah berjuang sama sekali
4, pria lain yang suka dengan pemeran utama wanita akan dipuja1 dan akhirnya dibuat bahagia
5 sedangkan wanita lain yang suka pada pemeran utama pria akan dicap pelakor dan akan dilaknat dan dibinasakan
6 kalau berpisah pemeran utama pria akan menderita, menyesal, dan sangat rindu, sedangakan pemeran utama wanita biasa saja dan malah hidup tenang dan bahagia dengan pria lain
7 kelakuan pebinor selalu dibenarkan
8 kelakuan pelakor dilaknat san tidak ada baik2 sama sekali
terus bapak si bayi tau gak kl rose kawin?
tp tuan chris gak bodoh 😏🙄🙄
apa yg terjadi dengan nurani kalian? 😢😢
masih muda tp kelakuan seperti mak pro🙄🙄🤬
tetaplah selalu baik yaaa
masih banyak laki-laki lain d luar sana rose🙄🙄
atw kau mau dylan krn hartanya?
palingan cara ampuh ya mencium dylan.. pasti luluh tuh 😁😁