Lanjutan Dari Novel Terpaksa Menikah. Sebelum membaca kisah dari Anak - Anak Raka dan Eva beserta sahabatnya. Mohon di baca untuk Season pertamanya.
Sebelum ke sini tolong baca dulu Terpaksa Menikah.
Memilih pasangan yang pas, seperti sang mama adalah keinginginan Rava Atmadja. Banyak keinginan yang ia dasari dari kisah cinta papa dan mamanya, yang bersatu karena sebuah kesalahan. Kesalahan yang menurut sang papa dan juga mamanya, adalah berkat dan kebahagiaan dengan hadirnya, Rava di kehidupan mereka.
.
Karena di Jodohkan oleh sang mama dengan anak sahabatnya, Rava mencoba untuk lari dari kenyataan. Dan berusaha untuk memilih yang terbaik antara pilihan sang mama dan juga pilihannya sendiri. Mari baca dan berikan dukungan kalian. Terima Kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putritritrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu.
Di dalam rumah, Rava dan Defan masih sibuk dengan makanan mereka, tetapi Rava mulai gusar sang adik tak kunjung kembali, “Fan, coba kamu lihat Vara. Kenapa belum kembali?”
“Ok kak,” jawab Defan, saat ia akan beranjak tampak Vara bersama Zayn berjalan bersama ke ruang makan. “Itu, Vara kak.” ucap Defan, langsung saja Rava menoleh dan melihat si Zayn datang ke arahnya.
“Hello bro,” sapa Zayn mendekati Rava.
“Mau apa kau?” jawab Rava datar.
“Astaga, kau ini selalu saja begitu, aku datang hanya untuk berkunjung. Kau sudah beberapa hari di sini, tapi tidak memberitahukanku, Rava.” ucap Zayn seraya duduk di sebelah Rava.
Harsen tak lama masuk, dengan senang Defan menyapa Harsen, karena dia memang sangat dekat dengan Harsen. Bagi Defan, Harsen juga sebagai sosok kakak yang tidak berbedah dengan Rava. Hanya saja, Harsen lebih lembut dibandingkan dengan Rava. Defan memeluk tubuh Harsen dengan girangnya, sedangkan Harsen dengan senang hati membalas pelukan Defan. Vara memajukan bibirnya, melihat keduanya saling berpelukan, dia merasa jijik. Apa lagi dia tidak pernah di perlakukan seperti itu sama Harsen, Vara cemburu.
“Duduklah, Sen. Kalau kau belum sarapan, makanlah.” , mengubah pandangannya ke Rava, lalu berpindah ke Vara yang masih berdiri di dekat Rava, menatapi Harsen dengan bibir yang di kerucutkan.
“Baik, Kak.” balas Harsen berjalan ke arah meja makan, duduk tepat di sebelah Zayn.
“Terus… sampai berpa lama kau di sini, Bro?” tanya Zayn pada Rava.
“Hemmm… mungkin sampai kedua adikku di wisuda,” ucap Rava seraya mengusap bibirnya dengan tisu.
“Agh… masih lama. Terus, kenapa kau itu engak bilang-bilang ke aku sudah tiba di sini? Aku tahu juga dari Harsen, karena saat melewati kediamannya tampak mobilnya, kau itu sesama sahabat sendiri keterlaluan, Va.” Zayn kesal.
“Kau cerewet sekali, sama seperti adikku. Lain kali jangan terlalu dekat dengan adikku, ketularan cerewetnya. Dan kau harus ingat, kau itu bukan kekasihku, Zayn. Kau itu Cuma sahabatku Zayn, jadi aku tidak perlu mengabarkan apapun padamu,” ucap Rava berdiri dan hendak berjalan ke rah ruang santai rumahnya, Rava terhenti saat menatap tatapan tajam sang adik.
Zayn sendiri Cuma santai dan tertawa, karena dia memang tahu sifat dan perlakuan Rava yang dingin, kadang lembut, kadang juga berlebihan.
“Kenapa, denganmu?” tanya Rava pada Vara.
“Kenapa kakak membawa nama Vara? Kan itu sahaabtnya kakak, harusnya mereka berdua itu menurun sifat kakak. Bukan Vara,” omel vara dengan menujuk ke Harsen dan Zayn.
“Ya sudah, terserah kamu. Buatkan mereka minuman,” perintah Rava ke Vara.
“Kakak…,” ucapnya manja.
Mata Rava menoleh pada Defan, Harsen dan Zayn.“Cuma kamu yang bisa di andalkan soal itu,” balas Rava dengan senyuman kecil.
“Baiklah,” jawab Vara dengan lemas dan berjalan ke dapur.
“Ayo… ke ruangan sebelah saja,” ajak Rava pada ketiga pria itu.
Zayn pun beranjak mengikuti Rava diikuti dengan Defan, sedangkan Harsen malahan diam-diam mengikuti Vara kearah dapur. Sesampainya Vara di dapur, ia mengambil panci untuk memasak air panas, berhubung persediaan air galon tidak ada, dengan bingung Vara yang tidak mengerti tata letak rumah sang kakak pun, membongkar semua yang iya butuhkan, sendok, gelas, masih bisa dia dapatkan. Gula, dan bubuk teh masih mengambang dalam pikirannya, membuatnya bingung.
Merasa lelah, ia pun berdiri dengan berkacak pinggang. Tiba-tiba Harsen datang dari arah depan, “Ada yang bisa saya bantu , Nona?” tanya Harsen dengan ramah. Bukannya membalas Vara memasang wajah kesalnya, berbalik badan kembali mencari gula dan bubuk teh..
“Apa ada yang salah denganku? Kenapa dia terus cemberut menatapku?” batin Harsen berkata.
“Aghhhh… aku bisa gila,” ucap Vara sendiri dengan menyentuh kepalanya, mana ada Harsen lagi pikirnya,kenapa manusia kaku ini mengganggu pandangannya saja , pikirnya.
“Anda kenapa nona? Apa ada yang salah?” tanya Harsen yang datang mendekati Vara, tepat di sebelahnya.
Vara menatap tajam ke Harsen, “Kak Harsen, kalau masih memanggil Vara dengan Nona, lebih baik jangan dekat-dekat dengan Vara. Vara enggak suka. Kenapa sama ka Rava di luar kantor kak Harsen bisa memanggil kak Rava dengan sebutan kakak? Apa salah Vara kak?” tanya Vara dengan jujur, rasa yang ia pendam untuk Harsen sangat dalam. Pria ketiga setelah papa dan kakaknya yang ada di dalam hatinya.
Harsen tersenyum, “Maaf Nona. Karena anda adik atasan saya,”
“Hah… aku sangat bosan mendengar jawaban yang itu, itu aja. Sudahlah, lebih baik Kak Harsen pergi dari sini, ketimbang membuat Vara menjadi panas dingin Karena asam urat Vara kambuh!”
Harsen menjadi kaku, dia benaran membuat Vara marah, dia sangat tahu dari tatapan yang Vara berikan untuknya, Dengan cepat Harsen mengubah posisinya dan berpura-pura membantu, mengambil air panas yang barusan mendidih, “Aghh.. ini sudah mendidih, akan saya pindahkan ke gelas.” Ucapnya tanpa menoleh ke Vara dan memutar knob kompor agar mati. Harsen dengan cepat menuangkan air panas dari panci ke gelasnya, lalu Harsen menarik laci dari lemari dapur di dekat waastafel, untuk mengambil gula dan bubuk the, yang memang Harsen simpan saat menyaikan teh pada tamu Rava, terakhir kali sebelum mereka kembali ke Jakarta. Sedari tadi Vara hanya memperhatikan Harsen yang dengan cepat menyajikan minuman di dalam gelas, lalu Harsen mencoba membuka kulkas yang biasanya Rava menyimpan buah lemon sebagai pelengkap tehnya.
Usai semuanya di seduh, Harsen memindahkan gelas ke atas nampan. “Biar saya yang bawa, kamu pergilah dari sini,” akhirnya Harsen memberanikan dirinya agar Vara tidak marah lagi dengannya, Vara pun tersenyum, “jangan mengusirku kak, ini rumah kakakku. Sudah sini Kak, Vara antarkan.” Dengan cepat ia mengambil dari tangan Harsen, Harsen hanya tersenyum.
Vara pun berjalan ke ruang santai, meletakkan gelas yang sudah berisi teh lemon, “Vara, benarkah kau dan kakakmu akan keluar nanti siang?” Zayn tiba-tiba bertanya, membuat Rava menggelengkan kepalanya.
“Benar kak, Vara dan Defan akan menemani kakak untuk berbelanja. Karena besok yang bakalan bekerja di sini sudah mulai bekerja.” Jawab Vara.
“Bagaimana, sen? Apa kau mau ikut dengan kami berbelanja?’ tanya Rava
“Apakah harus kak?” tanya Harsen kembali.
“Ayo dong kak, ikut saja biar ramai,” sambung Defan.
“Apa kita ingin berdemo di supermarket?” Harsen memiringkan kepalanya, sontak semua yang berada di ruangan tertawa terpingkal-pingkal.
“Kau itu sungguh payah, Sen” ucap Zayn menimpali.
“Kak Harsen, memang aneh. Hidupnya hanya di penuhi dengan bisnis dan perusahaan kak Rava,” sambung Defan.
“Kenapa kamu berkata seperi itu, Fan?” tanya Harsen bingung.
“Karena .. Kak Harsen, tulalit.” Celetuk Vara.
“Vara, enggak boleh begitu. Kau tidak tahu, betapa jeniusnya dia.” ucap Rava dengan menatap pada Vara.
“Lagiannya sih…, Kak Harsen memang aneh kak. Masakan ramai-ramai ke supermarket, mikirnya Cuma Demo. Kan mau berbelanja,” Vara mengerucutkan bibirnya lalu menoleh ke Harsen.
Harsen malahan tersenyum dengan menggarukkan kepalanya.
“Ya sudah… kalian saja, aku tidak bisa ikut. Ingat Va, lusa datanglah ke basecamp, anak-anak merindukanmu. Jangan sampai lupa, kau juga Sen, ikutlah.”
“Baik, Kak.” balas Harsen sopan.
Usai menegu teh lemon yang di buat oleh Harsen, Zayn pun beranjak, “Kemarikan kunci mobilku Sen, nanti kau minta Defan mengantarkanmu,” ucap Zayn dengan menatap Defan.
“gampang,” sambung Defan.
“Baiklah,” Harsen memberikan kunci mobil Zayn.
Semuanya berdiri saat Zayn baru melangkahkan kakinya, lalu ia menoleh ke mereka semua.
“Kenapa dengan kalian semua?” Zayn menatap satu persatu.
“kita akan mengantarkan kak Zayn kedepan,” gumam Vara.
“Tidak usah, duduklah. Biar kakak mu Rava saja yang mengantarkan kakak.” tutur Zayn, di sambut dengan gelengan kepala Rava padanya.
“Ayolah bri, kau itu tuan rumah. Pahami situasi,” desak Zayn.
“Kau memang semakin cerewet, sudah pulang sana. Dari tadi ngoceh mulu,” Gerutu Rava, kemudian pandangannya berpindah ke Vara dan yang lainnya, “kalian semua bersiaplah, usai kakak mengantarkan tamu yang tidak di undang ini, kalian sudah bersiap,” ucap Rava pada Defan dan Vara. Dengan cepat Vara dan Defan bersamaan berlari ke arahh tangga.
Kenapa? Karena mereka tahu betul dengan apa yang di bilang Rava. Jika kakaknya sudah berkata seperti itu dan di langgar, jika belum siap, Rava tak segan-segan meninggalkan orang yang tidak mendengarkan apa yang ia katakana, walupun menangis darah sekalipun, Rava akan tetap pada pendiriannya. Terkecuali jika itu terjadi pada mama dan papanya. Dia tidak akan berani bersikap kejam seperti itu. Harsen tertawa kecil melihat keduanya berlari, Rava sendiri mengantarkan Zayn kedepan, untuk membukakan gerbang pagar rumahnya.
terima kasih krn masih mau menulis cerita untuk kami di sini 😍😍