Follow ig 👉 @sifa.syafii
Fb 👉 Sifa Syafii
Arka adalah seorang laki - laki anak semata wayang dari pasangan pak Hendro dan bu Widya. Dia tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, hingga akhirnya cintanya berlabuh pada seorang gadis yatim piatu bernama Tia. Perjalanan cinta mereka tidak mudah tentunya lantaran kedua orang tua Arka menentang hubungan mereka.
Bagaimana akhir dari kisah cinta Arka? Dengan siapakah dia akan menikah? Yuk langsung saja simak ceritanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15
Arka POV
Setelah berbicara dengan mama dan papa, aku masuk ke dalam kamarku yang sudah lama tidak kutempati karena aku pindah ke apartemen. Aku melihat ke sekeliling kamarku dan tidak ada yang berubah. Aku duduk di tepi tempat tidurku lalu merebahkan punggungku di sana. Tubuhku sangat lelah sekali, sehingga aku memejamkan mataku hingga aku pun tertidur.
Malam hari aku mendengar pintu kamarku diketuk. Aku pun membuka mataku dan bangkit untuk membukanya. Tampaklah mamaku sedang berdiri di depan pintu kamarku.
“Ayo makan malam Arka,” ajak mamaku.
Aku pun menyetujuinya karena memang perutku sudah sangat lapar. Aku berjalan mengikuti mamaku menuju meja makan. Ketika sampai di meja makan, aku melihat papaku sudah menunggu di sana. Aku mengambil makanan di atas meja makan dan menyuapnya ke dalam mulutku. Dulu makanan di rumah ini rasanya enak, tapi sekarang rasanya biasa saja. Aku pun berpikir mungkin aku terlalu sering makan masakan Tia yang sangat enak menurutku.
Setelah makan malam bersama, papaku memberikan sebuah amplop berwarna coklat. Aku pun membukanya di depan mama dan papa serta mengeluarkan isinya. Isinya berupa paspor, formulir pendaftaran universitas di Amerika, tiket pesawat, dan segala keperluanku untuk pergi ke Amerika. Tidak kusangka papa sudah menyiapkan semua ini jauh hari sebelumnya.
Aku pun pamit pada mama dan papa untuk kembali ke kamarku. Sesampainya di kamarku, aku termenung di tepi tempat tidurku. Aku bingung memikirkan apa yang harus aku katakan pada Tia? Aku yakin dia pasti sedih dan marah kalau tahu aku pergi ke Amerika. Ia pasti akan mengiraku egois karena meninggalkannya untuk waktu yang cukup lama. Aku pun melangkahkan kakiku ke dalam kamar mandi untuk berendam air hangat.
***
Dua Minggu Kemudian
Tia POV
Aku sudah dewasa. Aku tidak ingin menambah beban Bu Fatimah lagi. Sudah cukup beliau merawatku sejak bayi. Dengan aku tinggal di panti asuhan ini, itu akan menambah beban perekonomian mereka.
Aku pun memutuskan untuk keluar dari panti asuhan ini dan mencari kos di dekat kampus di mana aku akan menimba ilmu. Sambil kuliah aku akan bekerja paruh waktu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hariku. Karena sebelumnya aku belum pernah bekerja dan tidak memiliki uang, aku pun berniat meminjam uang pada Arka, tapi ia tidak mau meminjamkannya padaku.
“Kenapa kamu meminjamnya? Uangku adalah uangmu juga. Pakailah sesukamu,” tuturnya padaku.
Aku pun menerima uang pemberian Arka, lelaki yang sangat aku cintai. Aku berharap dia akan menjadi suamiku setelah kita lulus kuliah nanti. Dialah laki-laki pertama yang mencintaiku dengan tulus.
Arka membantuku mencari kos yang nyaman dan aman. Setelah setengah hari, akhirnya kami menemukan kos yang sesuai dengan kemauan Arka. Arka membayar uang kos bulan pertamaku, setelah itu ia mengajakku makan di sebuah café yang kebetulan tidak jauh dari kos dan kampusku.
Café itu sangat nyaman sekali. Menu makanan dan minumannya pun tidak terlalu mahal. Sambil menunggu makanan pesanan kami datang, aku pamit ke toilet sebentar pada Arka. Ketika aku melewati sebuah tiang, aku melihat selembar kertas menempel di sana. Aku pun berhenti sejenak untuk membacanya karena penasaran.
Di kertas itu tertulis sebuah pengumuman lowongan kerja. Aku pun semakin tertarik membacanya dengan seksama hingga selesai. Senyumku mengembang ketika selesai membaca tulisan di kertas itu. Aku pun buru-buru segera ke toilet karena sudah tidak tahan menahan ingin pipis.
Ketika aku kembali, makanan pesanan kami sudah terhidang di atas meja. Kulihat Arka belum menjamahnya. Ia sengaja menungguku datang. Setelah itu kita makan bersama.
***
Author POV
Keesokan harinya Tia berpamitan pada Bu Fatimah dan semua anak panti untuk pindah ke kos barunya. Tidak banyak barang yang ia bawa. Hanya buku sekolah, pakaian, dan beberapa barang yang ia butuhkan nanti. Arka dan Salsa membantunya pindahan. Salsa adalah sahabat terbaik Tia. Mereka bersahabat sejak lama.
Kehidupan Tia yang sesungguhnya baru dimulai sekarang. Sejak bayi kebutuhannya dipenuhi pihak panti asuhan. Sekarang ia harus bekerja untuk menyambung hidupnya. Meskipun biaya kuliahnya gratis sampai lulus, tapi kebutuhan yang lainnya ia harus memenuhinya sendiri.
Ketika sampai di tempat kos yang baru, Arka dan Salsa membantu memasukkan barang bawaan Tia. Sembari Tia dan Salsa membersihkan kamar serta membereskan barang-barang, Arka pergi membeli makanan dan minuman untuk mereka.
Salsa merasa kasihan dengan Tia. Di dunia ini Tia hidup sebatang kara. Tidak punya orang tua, saudara, atau pun sanak family yang bisa dimintai bantuan. Karena itu Salsa mau bersahabat dengan Tia dan akan membantunya sebisanya. Tia gadis yang baik, pintar, dan polos.
Tidak berapa lama Arka datang dengan kantong kresek di tangan kanan dan kirinya. Mereka bertiga pun makan bersama di dalam kamar kos Tia.
Sore hari Salsa dan Arka pamit pulang. Sebenarnya mereka tidak tega meninggalkan Tia sendirian, tapi Tia meyakinkan mereka bahawa dia akan baik-baik saja.
Malam hari Arka menelepon Tia. Ia merasa khawatir dengan Tia yang tinggal di lingkungan luar untuk pertama kalinya sendirian.
“Hallo … “ sapa Tia seraya berbaring di atas tempat tidurnya.
“Apa kamu sudah tidur?” tanya Arka.
“Belum. Ada apa Arka?” tanya Tia.
“Tidak apa-apa. Hanya saja aku merindukanmu,” jawab Arka.
“Hahaha. Kita baru saja bertemu beberapa jam yang lalu Arka,” balas Tia seraya tertawa.
“Iya aku tahu. Tapi rasanya aku tidak bisa jauh-jauh darimu,” ucap Arka dengan lembut.
“Aku mencintaimu,” lontar Tia tiba-tiba.
“Aku juga sangat mencintaimu,”sambung Arka.
“Sudah malam, ayo kita tidur,” ajak Tia.
“Baiklah. Selamat malam. Semoga mimpi indah,” balas Arka.
***
Keesokan harinya Tia mencoba mendatangi café tempat makan dia dan Arka dua hari yang lalu. Ia berharap lowongan kerja itu masih ada. Ia sangat membutuhkan pekerjaan saat ini. Tidak mungkin ia menggantungkan hidupnya pada Arka terus-terusan. Apalagi saat ini mereka belum menikah.
Tia masuk ke dalam café itu dan mencoba bertanya pada kasir.
“Mbak maaf … “ ucap Tia dengan sopan.
“Iya?” sahut wanita penjaga meja kasir itu.
“Apa lowongan kerja di sini masih ada?” tanya Tia dengan ragu-ragu.
“Masih ada kayaknya. Silakan langsung bertanya pada bos kami, Mbak,” ujar wanita itu.
“Di mana saya harus bertanya?” tanya Tia tidak tahu di mana dan siapa pemilik café itu.
“Masuk saja ke pintu yang berwarna coklat itu Mbak,” jawab wanita itu.
“Terima kasih,” ucap Tia seraya tersenyum dan menundukkan kepalanya.
Tia pun melangkahkan kakinya menghampiri pintu itu. Sesampainya di depan pintu itu, Tia menenangkan jantungnya yang berdebar-debar. Ini pertama kalinya ia melamar pekerjaan. Setelah tenang, ia mengetuk pintu itu beberapa kali hingga terdengar suara laki-laki dari dalam ruangan itu.
mending buka hati dan belajar mencintai Jasmin
padahal penasaran gimana respon ibu Widya melihat Tia, yg lebih dulu jadi menantu pak Adam dan Bu Tari.
untung Ibu Tari tak seangkuh ibu Widya, walau awalnya sama tapi akhirnya ia direstui juga
yah Tia kok jadi perempuan juga terima-terima saja, mau dinikahi ia, dicumbui sama pacar LDR juga ia. antara Cinta dan Nyaman yah Tia🤭
lucu aja Thor, penasaran dengan respon Arka🤔