Reynand Adam merupakan Adik kelas dari Naura Jovanka. Mereka terlibat cinta, namun Jovanka dijodohkan dengan laki-laki lain dan Rey meneruskan sekolah di sekolah penerbangan untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang pilot. Akankah cita-cita Rey menjadi seorang pilot terlaksana? dan bagaimana ceritanya Rey sampai menikahi seorang Janda?
Ikuti kisahnya dan jangan lupa LIKE/KOMEN/VOTE cerita Gue, ya? Itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis.
Hatur Nuhun,
Boezank Jr. (Darren_Naveen)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15 (Barista)
Hening.
Rey memandang lekat mata kekasihnya. Rey melihat ada kecemburuan di balik mata itu, sampai akhirnya, dengan berat hati Rey menyanggupi permintaan kekasihnya.
“Oke! Gue bersedia. Gue akan mundur sebagai guru les nya Nourma.” Rey meyakinkan Jovanka.
“Bener?” Tatapan Jovanka dengan mata berbinar.
“Iya!” Rey mencubit hidung Jovanka.
Lengkungan indah tercipta di bibir gadis itu. Jovanka kini tampak ceria lagi.
“Ya udah, Kita pulang, ya? Nanti Gue beresin dulu materi sore ini untuk Nourma habis itu Gue pamit gak bisa ngajar lagi,” ucap Reynand.
Rey beranjak dari bangku sekolah yang ia duduki. Dengan cepat, lengan Jovanka meraih lengan Rey, si adik kelas yang telah menjadi pacarnya saat ini.
“Rey?” Jo memanggil dengan tatapan yang entah.
Sebenarnya, Jo senang mendengar keputusan dari Reynand. Tapi, ia juga sedih karena pada akhirnya, kekasihnya itu akan kehilangan pekerjaan untuk membiayai sekolahnya. Jo tahu akan hal itu.
“Kenapa?” ucap Rey sambil menatap wajah Jovanka.
Hening.
Jo menelan ludah, karena hal ini juga berat untuknya.
“Kamu boleh kok, ngajar les Nourma. Tadi, Aku hanya ingin tau, kalau emang Kamu bener-bener gak ada apa-apa sama tanteku,” ucap Jovanka.
“Maksudnya?” Dahi Rey mengernyit.
“Dengan Kamu menyanggupi keputusan yang Aku ajukan, itu menandakan Kamu gak ada apa-apa sama tanteku, Aku percaya sama Kamu, Rey,” ujar Jovanka.
Rey tersenyum.
“Ayok pulang.” Rey meraih lengan kekasihnya.
Rey dan Jo, berjalan berdampingan melewati tiap sudut kelas di sekolahnya. Berjalan dalam koridor sekolah yang mulai sepi.
Tak ada lisan yang terucap dari dua insan ini. Hanya terdengar hentakan sepatu ketika mereka berjalan. Sesampainya di parkiran, mereka berpisah. Rey menaiki motor FU sahabatnya dan Jo masuk dalam mobilnya. Mereka berpisah di pintu gerbang sekolah, karena arah rumah mereka berlawanan.
***
“Lu udah minum obat, Vic?” tanya Rey ketika sudah sampai di kost-nya.
“Udah.” Vicky terlihat sibuk dengan gawainya.
“Keadaan Lu sekarang, gimana?” tanya Rey lagi.
“Baikkan. Lu sendiri udah makan, Rey?” Mata Vicky melihat ke arah Reynand.
“Belum.”
“Makan dulu, nanti Lu sakit! Tuh, ada makanan. Tadi Gue pesan Online.”
“Gampanglah,” jawab Rey santai.
“Makan dulu! Entar Gue kasih tau Nana loh, kalau gak mau makan!” Ancam Vicky.
“Kasih tau aja, sono!” Tantang Rey.
“Gue chat ni, ya?” Vicky memperlihatkan gawainya.
Rey mengernyitkan dahi, “Kok, Lu punya nomor hand phone si Nana?” tanya Rey heran.
“Hehe ... Punya, lah! Makanya, jangan macem-macem! Makan sono!” ujar Vicky.
“Iya, iya! Demennya ngancam!” Rey berlalu.
***
Selepas azan asar, Rey berangkat menuju rumah Emillia untuk memberikan les terakhir untuk Nourma. Walau Jo sudah mengizinkannya untuk kembali memberikan les pada sepupunya. Tapi Rey lebih memilih mundur supaya kekasihnya tidak cemburu lagi padanya.
Motor pun memasuki halaman rumah Emillia. Ia menstandar motor dan melangkahkan kaki menuju pintu rumah Emillia.
Ting ... Tong ....
Rey memencet bel rumah Emillia, tak berselang lama. Pintu pun terbuka.
CKLEK.
Nourma tersenyum ketika pintu terbuka. Ia mengenakan kaos dan bawahan masih mengenakan seragam SMP.
“Masuk, Bang!” Sambil tersenyum dan membuka pintu lebar.
Rey tersenyum dan melangkahkan kaki masuk dalam rumah mini malis itu. Di rumah masih tampak sepi, biasanya Emillia pulang sekitar pukul lima sore.
Rey langsung mengeluarkan buku yang berisi tentang materi soal matematika yang telah ia salin di kost untuk pembelajaran Nourma.
Nourma sudah mulai paham dengan cara pembelajaran yang Rey ajarkan padanya. Di sekolah pun Nourma mendapatkan nilai yang bagus tentang pelajaran matematika yang tadinya selalu mendapatkan nilai rendah.
“Mama belum pulang, Nourma?” tanya Rey ketika Nourma sedang mengerjakan soal.
“Belum, memang kenapa?” Sejenak, Nourma menatap wajah Reynand.
“Ada perlu. Ya udah, dilanjut aja ngerjain soalnya.” Pungkas Reynand.
Rey melihat jam yang melingkar di tangannya telah menunjukkan pukul lima sore. Benar saja, Emillia pulang.
Suara pintu terbuka dan terdengar suara langkah sepatu yang semakin mendekat.
“Selamat sore, Semuanya.” Emillia tersenyum.
Nourma tersenyum, begitu pun dengan Rey. Tersenyum melihat Emillia yang baru datang dari tempat praktik kerjanya. Emillia masuk dalam kamar, ia biasa merebahkan sebentar badannya di kasur untuk meredakan capeknya setelah lama beraktivitas di rumah sakit.
Sekitar lima belas menit kemudian, Nourma menyerahkan hasil kerjanya. Begitu pun dengan Emillia yang ke luar dari dalam kamarnya.
Rey memeriksa hasil pelatihan Nourma. Semuanya pun benar. Rey sedikit lega, karena pada akhirnya Ia harus lepas tangan dari profesinya sebagai guru les matematika Nourma.
“Gimana hasilnya, Bang? Bener gak?” tanya Nourma dengan semangat.
Rey menganggukkan kepala, “He’em, semuanya benar! Nourma makin pinter sekarang!” Rey mengacak lembut rambut gadis yang akan beranjak ABG itu.
“Yey!” Spontan Nourma bersorak ceria.
Rey tersenyum.
Dada Nourma kini berdegup kencang, tatkala melihat lengkungan indah dari bibir guru les gantengnya itu. Ia begitu bahagia, karena di sekolahnya juga mendapatkan nilai yang bagus.
Emillia pun bergabung dengan mereka. Ia tersenyum manis pada pemuda yang berprofesi sebagai guru les dari putrinya.
“Gimana perkembangan Nourma, Rey?” tanya Emillia.
“Bagus, Tan. Nourma telah banyak mengalami peningkatan dalam pelajaran matematikanya,” jawab Rey.
Emillia tersenyum.
“Nourma, Abang ada perlu penting sama Mama. Kami bicara di luar, ya?” ucap Rey.
DEG!
Jantung Emillia berdegup kencang ketika Rey mengatakan ada perlu penting. Apakah Rey akan bilang suka sama Aku, ya? Ucap hati Emillia.
“Kenapa gak di sini aja, Bang?” Dahi Nourma mengernyit, ada kecemburuan pada gadis ini.
“Gak bisa, ini masalah Abang sama Mamanya Nourma,” bantah Reynand.
Untuk yang kedua kalinya, Rey membuat spot jantung Emillia. Wajahnya tambah memerah, ia buru-buru ingin mendengar hal apa yang akan Reynand utarakan.
“Baiklah!” ucap Nourma datar.
***
Rey dan Emillia bangkit dari sofa yang sedang mereka duduki. Keduanya telah berdiri dan melangkahkan kaki ke teras luar depan rumah.
Emillia duduk di kursi, begitu pun dengan Reynand. Menikmati langit malam yang bertabur bintang menambahkan syahdu untuk Emillia, seorang janda yang berprofesi sebagai dokter.
“Tan ....” Rey membuka percakapan.
“Iya,” jawab Emillia malu-malu.
“Rey, mau ngomong sesuatu sama Tante,” ucap Reynand terbata.
“Apa?” Emillia masih merunduk.
Hening.
Tingkah Emillia seperti seorang gadis yang akan ditembak oleh pacarnya. Ia bertingkah malu-malu ketika Rey merasa sulit untuk mengungkapkan perihal yang akan disampaikannya.
Duh ... Rey, Kamu buat Aku deg-degan untuk yang ketiga kalinya pada malam ini! Gerutu hati Emillia.
“Kalau, Rey ....” ucapannya terpotong.
“Apa?” Suara Emillia terdengar lembut walau pandangannya masih tertunduk.
“Rey, Mau ....” Katanya kembali terpotong.
“Rey mau, kalau ....” Masih tepotong.
.
.
.
“Rey mau bilang, kalau Rey mau berenti jadi guru lesnya Nourma.” Rey membuang napas lega.
“APA?” Suara Emillia lantang terdengar karena ia merasa kaget dengan keputusan Rey yang tiba-tiba.
Emillia tidak menduga, kalau yang akan disampaikan oleh laki-laki yang ia cintai adalah pengunduran diri sebagai guru les anaknya. Otomatis, Emillia akan semakin susah bertemu pria yang ia cintai.
“Kenapa?” tanya Emillia dengan tatapan mata sayunya.
“Rey banyak tugas sekolah, Tan,” jawab Rey.
“Tante mohon, teruslah jadi guru lesnya Nourma. Gak papa, kalau Kamu gak bisa datang tiap hari. Kamu bisa datang kapan aja kalau Kamu punya waktu,” ucap Emillia.
“Maaf, Tan. Itu udah jadi keputusan Rey.” Pungkas Reynand.
***
Rey pamit dan bergegas menaiki motor FU.
Dalam hati Rey berkecamuk, bagaimana nasib biaya sekolahnya kelak? Pikirannya semrawut, hingga akhirnya ia memutuskan untuk rehat dan memarkirkan motor tepat disalah satu Cafe.
Tak sengaja, matanya melihat selembar kertas yang di pasang di kaca, tentang lowongan pekerjaan sebagai barista di cafe tersebut.
“Boleh Gue coba, nih!”
Rey bergegas memarkirkan motor dan menuju pintu yang terbuat dari kaca. Ia membaca tentang persyaratan untuk mendaftar lowongan pekerjaan itu.
Rey mengeluarkan gawai yang ada dalam saku celananya. Ia bergegas mencatat persyaratan yang tertulis di selembar kertas putih itu.
“Lagi apa, Mas?” ucap seorang wanita.
Rey tersenyum.
“Lagi mencatat persyaratan untuk ikut daftar lowongan kerja, Mbak,” ucap Rey santai.
“Kamu, bisa bikin kopi yang enak?” tanya wanita itu.
“Bisa. Tapi, Saya belum punya pengalaman kerja sebagai barista, Mbak.”
“Ayok, ikut Saya?” ucap wanita itu.
Wanita itu membuka pintu Cafe. Rey mengekor dari belakang. Beberapa karyawan yang ada di sana menatap Rey dan menganggukkan kepala pada wanita yang mengajak Rey.
“Malam, Mbak Vina ....”
Wanita itu menganggukkan kepalanya. Vina adalah pemilik cafe yang mengutamakan menu kopi yang menjadi andalannya. Vina mulai menunjukkan mesin espresso untuk membuat kopi. Ia memberikan kesempatan kepada Rey untuk membuat kopi yang menjadi andalannya.
“Silakan.” Tangan Vina mempersilakan Rey untuk mencoba membuat kopi.
Rey mulai meracik, kopi, cream, dan yang lainnya. Ia mulai menakar bahan yang akan ia buat untuk membuat kopi nikmat buatannya.
Rey memang belum pernah bekerja sebagai barista. Tapi, waktu ia masih di Jakarta, ia sering diajarkan oleh temannya untuk membuat secangkir kopi yang nikmat. Temannya merupakan anak dari pemilik cafe di Jakarta.
Akhirnya, secangkir kopi nikmat telah siap. Rey memberikannya kepada Vina si pemilik Cafe tersebut untuk mencobanya.
“Silakan, Mba.” Rey memberikan secangkir kopi buatannya.
Vina meraihnya, ia mencium aroma yang ada dalam cangkir dan mulai menyeruputnya pelan.
Hening.
Vina sedang merasakan sensasi kopi yang telah Rey buat. Satu tegukan, dua tegukan, ia memejamkan mata dan menghela napas, tegukan ketiga akhirnya bibir seksi itu mengeluarkan penilaiannya.
“Selamat bergabung di Cafe Kami!” Vina menjulurkan tangannya.
“Maksudnya, Mbak?” Dahi Rey mengernyit.
“Kamu diterima di Cafe ini sebagai Barista. Oh iya, nama Kamu siapa?” tanya Vina.
“Saya Rey, Mbak. Terima kasih.” Rey berjabat tangan.
“Vina,” ucap si pemilik Cafe.
“Iya, udah tau.” Rey tersenyum.
“Tau dari mana?” Mata Vina menyipit.
“Tadi, karyawan Mbak menyapa dengan menyebut nama Vina,” ucap Rey.
“Owalah ....” Vina terkekeh.
Bersambung..
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
JANGAN LUPA LIKE/KOMEN/VOTE Ceritannya, karena itu merupakan hadiah terindah untuk Penulis🙏😁
mending pacaran sm yg dewasa bg Rey 🤭🤭