Warning! 21+
Evellyn seorang gadis muda berusia 17 tahun terpaksa melarikan diri dari rumah. Gadis yang bahkan belum lulus sekolah itu terpaksa melepaskan diri dari jerat sang ibu tiri yang ingin menjual dirinya, karena terlilit hutang judi disebuah pusat perjudian kasino.
Namun kesialan terjadi saat dirinya dalam misi pelarian diri. Gadis itu terjebak dalam situasi yang tidak kalah rumit dan menegangkan. Evelly terjebak diantara orang-orang yang menguasai dunia bawah tanah.
Akankah Evelly berhasil lolos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neti Jalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Dokter Dadakkan
Yansen menoleh ke kanan dan ke kiri, berharap menemukan keberadaan Evellyn. Namun pria itu sama sekali tidak menemukan gadis kecil itu. Yansen segera bangkit dan menyusuri bibir pulau, berharap bisa menemukan gadis yang dia cari. Namun, hingga ujung sebelah kanan bibir pulau, Yansen sama sekali tidak menemukannya.
Yansen kembali kesebelah kiri, dan kembali berharap bisa menemukan keberadaan Evellyn meskipun saat ini dirinya juga dalam keadaan lemah.
"Eve..." ucap Yansen lirih saat melihat seseorang yang tergeletak sekitar 20 meter dari tempatnya berdiri.
Yansen berlari kearah objek, dan benar saja, itu adalah sosok Evellyn yang tidak sadarkan diri. Gadis itu terlihat pucat dengan keadaan luka dipunggungnya yang sudah sedikit membiru.
"Eve, bangunlah! apa kau dengar perintahku? bangunlah pelayan!" teriak Yansen sedikit lebih keras.
Yansen membawa Eve kedalam pelukkannya, saat ini pria itu sedang dilanda ketakutan yang luar biasa. Terlebih dia ingat betul, saat Eve dengan berani menghadang peluru untuknya. Dan senyum terakhir yang Evellyn berikan sebelum jatuh kelaut, membuat Yansen tersiksa.
Yansen memeriksa detak jantung dan nadi Evellyn, dia cukup lega karena gadis itu masih hidup, meskipun semua tanda vital ditubuh gadis itu menunjukkan sisi lemah Evellyn.
Yansen menggendong Evellyn, dan membawa gadis itu duduk dibawah pohon kelapa. Yansen kemudian memeriksa luka Evellyn, dan melihat ada sebuah peluru yang terbenam didalam sana. Tidak terlalu dalam, tapi juga membutuhkan keahlian khusus untuk mendapatkan peluru itu keluar dari sana.
"Bagaimana ini? bagaimana caraku mengeluarkannya? kalau tidak dikeluarkan, maka akan membahayakan nyawanya. Terus bagaimana caraku menjahit lukanya? disini tidak punya peralatan medis sama sekali,"
Yansen meraba-raba sesuatu diseluruh tubuhnya, berharap menemukan sesuatu yang bisa membantunya untuk menolong Evellyn.
"Ckk...geranat, buat apa geranat? aku tidak berniat meledakkan tubuhnya. Seharusnya kuledakkan kepala si codet brengsek itu."
Yansen mengubur benda itu kedalam pasir, sedikit lebih dalam. Dan terakhir Yansen menemukan sebuah pisau dipinggangnya yang dia tatap dengan seksama.
"Hanya ada pisau ini yang memungkinkanku bisa menolong Evellyn. Tapi setelahnya bagaimana?"
"Aku harus mengambil resiko, ini demi kelangsungan hidup gadis ini. Kalau memang gagal apa boleh buat, yang penting aku sudah berusaha."
"Beruntung ini masih pagi, jadi aku bisa mengerjakannya berkat bantuan sinar matahari."
Yansen mulai membuka baju piyama yang Evellyn kenakan. Tubuh gadis itu dia buat sedikit tengkurap di kakinya. Meski kulit Evellyn yang halus mulus cukup mengganggu konsentrasinya, Yansen mencoba profesional. Dia ingin Evellyn selamat, agar dirinya tidak merasa bersalah.
Yansen mulai menorehkan pisau tajamnya dikulit Evellyn. Pria itu memang membuat luka itu sedikit lebih lebar, karena pisaunya tidak cukup mampu mencungkil keluar benda asing yang bersarang didalam daging Evellyn.
Setelah berjuang cukup lama, akhirnya Yansen berhasil mengeluarkan peluru itu dari punggung Evellyn. Karena tidak memiliki benang untuk menjahit, Yansen merobek baju kausnya dan membuat kain itu jadi memanjang.
Yansen dengan keterampilan otodidaknya membelitkan kain panjang itu dan mengikatnya sedikit lebih kencang, agar darah dipunggung Evellyn berhenti keluar.
Glekkkkkkk
Yansen menelan air ludahnya saat melihat bagian dada Evellyn yang membusung. Benda itu benar-benar indah dimata Yansen. Pria itu segera mengenakan piyama Evellyn kembali dan membaringkan Evellyn diatas tumpukkan pasir.
Yansen mendongakkan kepalanya ke atas kelapa dan berpikir untuk mengambil buah yang kaya akan air itu.
"Aku harus memanjat pohon kelapa itu, lagipula kelapanya tidak terlalu tinggi. Kami membutuhkannya untuk bertahan hidup bukan?"
Yansen mulai memanjat pohon kelapa itu dan berhasil menjantuhkan setangkai besar kepala hijau dengan pisaunya. Setelah turun kebawah, pria itu kemudian membuka dua buah kelapa hijau yang salah satunya dia minum hingga tandas airnya.
"Ah...ini lumayan, air kelapa muda ini bisa untuk bertahan hidup meskipun tanpa makanan untuk sementara waktu. Semoga Zavier, Owen, dan Diego tidak berpikir aku mati jatuh kelaut dan tidak mencariku. Kalau sampai mereka tidak mencariku, alamat aku akan mati disini,"
Yansen menoleh kearah Evellyn dan bermaksud ingin memberikan minum pada gadis itu.
"Bagaimana caraku memberikan air kelapa muda ini? dia kan tidak bisa minum sendiri, terlebih disini tidak memiliki gelas atau apapun yang membantu."
Setelah berpikir keras, Yansen memutuskan untuk memberikan Evellyn minum melalui mulutnya.
Glek
Glek
Glek
Setelah berjuang cukup lama, Yansen berhasil memberikan Evellyn minum dengan mulutnya.
"Ah...aku tidak menyangka akan tiba saatnya aku berada disituasi seperti ini. Mengalami ini semua membuatku jadi teringat cerita di film-film petualangan. Benar-Benar mengerikan."
Yansen meraba-raba kembali kantong celananya, dan berharap menemukan benda yang selalu dia bawa kemanapun.
"Ah...syukurlah benda ini tidak ilang. Tapi nggak tahu berfungsi atau tidak,"
Yansen mencoba memantik korek api yang terbuat dari logam itu. Benda yang pernah dia beli ketika berlibur ke Jerman bersama teman-temannya. Pemantik itu mempunyai motif yang sama namun ada huruf inisial nama mereka dibagian depan.
Cheeeesssss
Pemantik itu mengeluarkan api, yang membuat Yansen tersenyum senang.
"Tidak rugi membelinya seharga 5 juta. Pemantik ini masih berfungsi meskipun terendam air laut. Benda ini bisa aku gunakan untuk membuat api malam ini."
Yansen kemudian meninggalkan Evellyn sendiri di bibir pulau, pria itu sedikit memasuki hutan untuk mencari ranting kering dan sesuatu yang bisa dimakan.
Setelah meninggalkan Evellyn cukup lama, Yansen bergegas kembali dengan membawa tumpukan kayu kering dan beberapa buah liar.
Sementara ditempat berbeda Zavier dan tim SAR masih mencari keberadaan Yansen ditiap pesisir pantai.
"Tuan. Sepertinya orang yang anda cari sudah tewas dan dimakan hewan laut. Kita sudah mencarinya sejauh ini, tapi sama sekali tidak menemukan keberadaannya," ucap salah seorang tim SAR yang sudah berputus asa.
"Berani kamu mengatakan hal yang tidak-tidak lagi, aku akan menceburkanmu kelaut untuk jadi makanan hiu, mau?" hardik Zavier.
Pria itu langsung terdiam seketika. Meski dirinya pandai berenang, tapi dia tidak akan mampu menyeberangi lautan tampa alat bantu.
"Kita cari lebih jauh lagi. Kalian tidak usah khawatir, aku sudah membawa persediaan makanan untuk kita selama satu minggu. Aku juga sudah menyiapkan bahan bakar sampai kita bisa menempuh perjalanan ribual mil dari sini. Kalian tenang saja, ketemu ataupun tidak temanku nanti, kalian pasti akan mendapatkan hadiah." ujar Zavier.
"Terima kasih tuan," jawab tim SAR serentak.
"Yansen. Dimana kamu saat ini, entah mengapa aku merasa kamu baik-baik saja dan masih hidup. Aku yakin itu," batin Zavier.
"Go. Apa sudah ada kabar dari Zavier?" tanya Owen yang baru sadarkan diri setelah pasca operasi.
"Belum. Ponselnya tidak bisa dihubungi, mungkin dia berada diluar jangkauan."
"Semoga Yansen segera ketemu dalam keadaan selamat. Aku tidak bisa kehilangan dia," ucap Owen.
Pria itu meneteskan air matanya. Meski Yansen selalu bicara kasar pada semua orang, tapi pria itu cukup berjasa dalam hidup Owen. Itulah sebabnya Owen orang yang paling sedih atas hilangnya Yansen.
"Itu harapan kita bersama. Aku juga berharap Yansen baik-baik saja, tidak terkecuali Evellyn. Entah apa yang terjadi sebenarnya, sehingga Evellyn bisa hilang secara bersamaan dengan Yansen."
"Apa kamar gadis itu mengalami kerusakan?"
"Menurut Ivanka dan gadis-gadis itu, tidak ada kerusakkan sama sekali. Sepertinya Evellyn memang sengaja keluar sendiri dari kamarnya. Atau bisa jadi dia diseret paksa setelah membukakan pintu." Jawab Diego.
"Ya Tuhan...semoga Yansen dan Evellyn baik-baik saja," ujar Owen.
Hari sudah beranjak senja, udara pantai mulai terasa dingin menerpa. Yansen yang tidak mengenakan baju sedikit merasakan dingin, namun Yansen memutuskan untuk membuat api sedikit lebih malam, agar ranting yang dia cari tidak cepat habis. Saat ini yang bisa dia lakukan hanya memeluk Evellyn, untuk mencari sedikit kehangatan disana.
TO BE CONTINUE....🤗🙏
klw Ivanka bukan perawan tua tp kek gadis rasa janda udah bolong semua