Di pertemukan oleh waktu, di persatukan oleh takdir.
Namun, di pisahkan oleh ketamakkan.
Aishleen Khadijah dan Albiru Adityawarman.
Dua insan berbeda karakter, awal pertemuannya begitu unik.
Diam-diam saling mengagumi dan melangitkan nama masing-masing dalam doa.
Hingga pada akhirnya dipersatukan oleh takdir.
Saat kebahagiaan tengah menyelimuti keduanya, mereka harus terpisah oleh ketamakkan.
Takdir buruk apa yang memaksa mereka harus berpisah?
Akankah takdir baik menyertai keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYSEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khawatir.
...15. Khawatir...
Biru.
Sebelum berangkat, Biru melakukan briefing bersama crew terlebih dahulu. Memastikan mereka akan menangani acara engagement semaksimal mungkin agar tak mengecewakan klien. Ia sendiri mempunyai pekerjaan lain, ia didapuk sebagai fotografer lepas. Pemotretan kali ini untuk majalah daily fashion, brand lokal yang akhir-akhir ini tengah hangat jadi perbincangan dikalangan pasar mode.
“Jangan khawatir. Urusan disini biar gue sama Gentar yang handle, Lo fokus aja sama kerjaan lo.” ujar Fadli menenangkan.
Biru bergegas menuju lokasi pemotretan. Namun diteras ia berpapasan dengan Kha, gadis itu nampak pucat tak bersemangat.
“Kamu sakit, Kha?”
Kha menggeleng, namun melihat tepian hijab yang lembab karena kucuran keringat membuatnya cukup tahu jika Kha sedang tidak baik-baik saja. Biru mengeluarkan tangan dari saku, ingin memeriksa suhu tubuh Kha, namun urung ia lakukan. Seiring berjalannya waktu, Biru paham seperti apa perempuan didepannya. Kha bukan seseorang yang rela disentuh oleh laki-laki yang tidak halal untuknya.
Dan notif pesan masuk membuyarkan lamunannya.
“Kha... Kamu nggak sehat. Sebaiknya biar Dipa yang kontrol team dekor. Kamu cukup pantau dari toko.” ucap Biru.
“Aku nggak apa kok, Mas. Cuma sedikit lelah saja.”
Mendengar suara serak Kha saja sudah jelas jika anak itu sedang sakit. Biru menjadi sedikit khawatir, tapi jarum jam terus berputar. Akhirnya Biru berlarian ke kamar atas, mengambil persediaan obat dan vitamin yang disediakan oleh Mama Senja disana.
Biru melihat banyak macam obat, ia mengambil obat penurun panas dan beberapa kaplet vitamin yang biasa ia konsumsi. Lalu kembali menghampiri Kha.
“Kha!” teriak Biru memanggil Kha yang sudah duduk didalam mobil. “Setidaknya minum obat ini,” ujarnya memberikan obat-obatan tadi. “Kamu sudah sarapan, 'kan?”
Kha mengangguk lemah. Biru semakin tak tega, tapi lagi-lagi waktu mengejarnya, pun ia yang tidak ingin terlambat bekerja. “Langsung minum obatnya! Selama perjalanan kamu gunain buat tidur, sekiranya pusing banget langsung istirahat ya, Kha.” setelah memastikan Kha meminum obatnya. Biru mengambil langkah panjang dan pergi dengan motor sport nya.
...🌼🌼🌼🌼🌼...
Biru menepikan motor diarea parkir pelabuhan muara angke. Ia masih harus melanjutkan perjalanan menuju lokasi dengan menaiki speed boat, dan itu akan memakan waktu lumayan lama.
Sembari menikmati perjalanan, Biru mengarahkan kamera dan membidik apa saja yang ada didepan matanya. Mulai dari pengguna speed boat lain, awan putih yang membentang, hamparan pantai sampai beberapa pengunjung pesisir pantai yang hampir tak terlihat.
Tiba di lokasi, semua crew telah selesai mengatur tempat sesuai Tema. Biru pun mulai menyiapkan diri dengan mengatur benda mati ditangannya. Karena pemotretan outdoor, ia tak membutuhkan banyak reflektor, hanya cahaya matahari yang ia harapkan dapat bekerja sama dengan baik hari ini. Tema yang akan dipakai pada photoshoot kali ini adalah tema summer. Agak tricky sebenarnya, Biru harus benar-benar fokus mengambil gambar agar pas dengan view and feel.
Tiba-tiba, Biru membatu. Mata Biru menemukan sosok perempuan yang ia kenali keluar dari tenda bertuliskan model's room. Ia terkejut bukan main. Bahkan bola matanya membulat sempurna. Lensa ditangannya sampai jatuh, untungnya ia menggunakan strap pada kamera. “Mama....”
Seketika ia membuang pandangan. Biru tahu betul profesi Ibu kandungnya adalah sebagai model. Akan tetapi, ia tidak mengetahui sama sekali jika Sang Mama akan terlibat dalam Photoshoot hari ini.
Kemudian ia berlagak sibuk, sekedar ingin melihat bagaimana reaksi Mama Jihan jika tahu fotografernya adalah anak sendiri.
Tema summer! Pantai?!!
Sekilas Biru melirik kearah Mama Jihan yang belum menyadari keberadaannya.
Jubah mandi?? Hell no, Mama?!
Pikirannya tak karuan, lalu mengingat kembali percakapan antara dirinya dan management perusahaan yang menangani pemotretan ini.
“Bukan majalah dewasa, Pak Biru,” ujar Pak Gerald kala itu. “Hanya majalah fashion tapi diberi label dewasa karena pakaian nya sexy themes for parties.”
Deg!
Nggak! Nggak mungkin Biru memotret Mama Jihan dengan pakaian seperti itu.
Biru mengacak rambutnya, frustasi? Sudah pasti. Satu-satunya hal yang tidak ada dalam pertimbangannya saat ingin terjun kedunia fotografer. Padahal ia sangat paham dengan profesi Mama Jihan.
“Sayang...” Biru memejamkan mata, mengatur pernapasan yang mulai memburu. “Kamu ngapain disini, Nak?” suara Mama Jihan membuat crew disekitar menoleh ke arahnya.
Biru berlagak terkejut. “Loh... Mama disini?” ia masih menerka-nerka apa gerangan yang ada dibalik jubah mandi Mama Jihan. Bagaimana jadinya jika ia harus memotret setiap lekuk tubuh Mamanya sendiri.
“Iya, Sayang... Mama mau pemotretan disi---” Jihan tak meneruskan kalimatnya. “Jangan-jangan kamu yang jadi fotografer hari ini?” Biru mengangguk sekilas.
“Astaga... Lihat, Nak. Ini akibat dari kamu nggak pernah nurutin ucapan Mama. Kamu harus panas-panasan buat cari uang yang hasilnya nggak seberapa. Pantasnya kamu itu cukup duduk manis di kantor buat gantiin Papamu.” ujar Jihan satiris.
Cekrek! Biru memainkan tombol Shutter. Sengaja memalingkan muka tak menanggapi ucapan Jihan yang terus diulang tiap pertemuan mereka.
“Kita sama, Ma. Panas-panasan buat nyari uang.”
“Tapi seharusnya kamu nggak gini, Bi! Kamu itu anak pertama Awan. Kamulah yang berhak mewarisi posisi Papamu!” nada bicara Jihan meninggi. Terpaksa Biru meninggalkan begitu saja dan bergabung dengan crew lain.
Pemotretan dimulai, Biru memotret satu persatu model tersebut. Busana yang mereka kenakan rata rata berupa dress mini. Dengan belahan dada dan lutut selayaknya kekurangan bahan. Biru jengah, berulangkali ia membuang napas kasar ketika mendapat giliran memotret Jihan. Bagaimana tidak?! Ia bahkan bisa melihat dengan jelas setiap inci dari lekukan tubuh Jihan.
Jijik! Memalukan!
Jika semesta memberi pilihan, ia ingin menarik paksa Jihan meninggalkan dunia modeling. Hidup sewajarnya sebagai seorang ibu. Andaikata Biru harus bertanggung jawab sepenuhnya atas Jihan, ia lebih bersedia daripada harus melihat Jihan seperti ini.
Jihan seperti perempuan murahan yang memuaskan nafsu mata para lelaki hidung belang. Sayangnya, Biru yang berhak melarang pun hanya bisa pasrah mengikuti keinginan Jihan yang ingin tetap bertahan menjadi seorang model
“Reflektor! Fokus! Atur pencahayaan yang baik!” teriak Biru pada salah satu crew yang menatap Jihan tak berkedip.
“1...2...3....” cekrek. “Ok, Tahan!” “1...2...3....” instruksi Biru dengan suara lantang.
“Cukup! Next ganti model!”
Semua mata tertuju pada Biru. Jihan model ke 4 dari 6 model yang hanya mendapat beberapa kali take foto.
“Udah, Bi?” tanya Gerald sang desainer.
Biru hanya mendongakkan kepala. Menatap tajam Jihan yang masih diam membisu. Setelahnya, Jihan pergi tanpa kata. Seolah tahu apa yang Biru rasakan.
Biru memeriksa hasil fotonya.
“Keren semua, Bi. Gue yakin bisa kerja sama sama brand ternama Internasional kalo kayak gini hasilnya.”
“Biar aku edit sedikit. ” ia membubuhkan sedikit efek pada foto agar lebih terlihat natural.
Jam tangan menunjukan angka 3 sore, dan semua pekerjaan telah selesai. Hal ini yang membuat ia senang menerima job sebagai fotografer lepas. Karena semua pekerjaan dimulai dan diakhiri ditempat yang sama.
“Fee udah masuk ke rekening kamu, kamu bisa cek.” kata Gerald.
Biru membuka ponsel dan melihat notifikasi pesan masuk, disitu tertera sejumlah uang masuk pada m-banking nya.
“Ok. Thanks, Ge. Gue balik, kabar-kabar kalo ada job lagi.”
Biru dan Gerald mengakhiri dengan adu kepalan tangan.
“Sip, Bi. Thank's for today. I hope you succeed!”
Melewati beberapa jam perjalanan. Biru tiba di ruko saat adzan isya sedang berkumandang. Dari atas motor Biru melihat Gentar dan Barid keluar dari toko bunga. Ia melirik kebelakang, ternyata toko bunga Kha sudah tutup.
Tumben tutup jam segini.
“Pulang lo, Bi! Gue kira lo nyangsang sama model sexy di pulau tidung.” Biru mengabaikan seloroh Gentar. Ekor matanya mengikuti pergerakan Barid yang masuk kedalam mobil tanpa menyapa dirinya sama sekali.
“Dari mana kalian?” tanya Biru.
“Kha... Tadi pingsan di tempat mereka ndekor. Terus dibawa kerumah sakit sama gue, Barid, sama Dipa juga.” terang Gentar.
Sudah ia duga, Kha pasti sakit dari pagi. Tapi yang membuatnya lebih penasaran, keberadaan Barid di acara tersebut.
“Barid?”
“Tadi yang tunangan kawannya dia.” jawab Gentar.
Biru melewati Gentar dan pergi menuju toko bunga. Folding gate hanya tertutup sebagian, ia dorong pintu kaca lalu naik kelantai atas. Mengabaikan tatapan para karyawan Kha yang baru saja tiba.
“Kha mana?” Dipa menunjuk kamar ujung belakang, ia pun segera masuk.
“Kha....”
Tubuh Kha tertutup selimut sebagian, hanya menampilkan kepala, itu saja tertutup oleh hijab.
“Keluar, Mas....”
“Kamu sakit?”
“Jangan masuk, Mas. Keluar tolong....”
Biru memahami situasi, ia memanggil Asti yang sedang berdiri di tangga. Lalu mengajak Asti masuk kedalam kamar Kha.
“Khadijah sudah makan?” Asti menggeleng. “Teteh Kha belum makan dari pagi, Mas. Tadi cuma makan sesuap dirumah sakit” jawab Asti.
“Obatnya?” Asti mengambil obat dilaci nakas. “Belum diminum.”
“Om Abyaz udah dikabarin?”
“Nggak dikasih sama Teteh. Katanya takut mereka khawatir.”
Biru meletakkan helm yang ia jinjing dibelakang pintu, juga menurunkan tas kameranya. Ia mengamati wajah Kha yang bersimpah keringat. Lalu pergi setelah memberi pesan pada Asti untuk menjaga Kha.
Biru kembali dengan membawa puluhan kotak makan untuk dibagikan ke karyawan studio dan toko bunga.
“Tar, bagiin ke anak-anak. Sama yg di toko bunga juga.” titah Biru. Ia sendiri kembali ke kamar Kha menenteng satu bungkus styrofoam berisi bubur ayam.
“As, bangunin Kha nya.” Asti mengangguk. Lalu membangunkan Kha perlahan.
“Makan buburnya dulu, habis itu minum obatnya.” titah Biru. Namun Kha tetap menggeleng dengan mata terpejam.
“Mau aku suapin paksa atau duduk nyender biar Asti yang suapin?!” mendengarnya, Kha akhirnya bergerak, berusaha duduk bersandar pada headboard dibantu oleh Asti.
Biru duduk di kursi krisbow. “Makan yang banyak, habis minum obat baru tidur lagi.” ujar Biru.
“Kamu bisa sendiri 'kan, As?”
“Bisa, Mas,”
“Habis suapin Kha kamu turun, sudah aku belikan makanan dibawah,”
“Baik terima kasih, Mas.”
Biru memindahkan minum lebih dekat dari tempat tidur, lalu mengambil helm dan tasnya kemudian turun. Ia keluar dari toko bunga setelah berbicara pada Dipa, meminta Dipa menginap malam ini di toko untuk menjaga Kha.
habis baca jangan lupa like nya ya bestieeee.
maap kalau ada typo typo. belom sempet repisi karena babnya lumayan panjang.
love you #TimalamBakha (Barid Kha.)
#TimBiKhaAmbon (Biru Kha) nya lagi dibikin seneng dulu sekarang. nggak tahu besok
Kaborrrrrr
🤪🤪🤪
Aku blom sempet balesin komen hiji hiji, maap lagi sibuk dikejar zoombie. ntar kalo libur nulis janji balesin satu satu..
love you bestieeee ❤️😘
baca bab awal,mulai tertarik
baca bab 2,mulai suka
q lanjut baca ya kak author, makasih 🙏😉
karena akan ada tahap yang namanya ta'aruf